Maaini.wordpress.com Pindah Ke Cahayamuslimah.com/blog

Assalammualaikum warrahmatullaahi wabarakaatuh
Alhamdulillah…
Rumah baruku… selesai renovasi….

Alhamdulillah… sekarang saya bisa “menetap” disana

Mudah-mudahan Allah meringankan langkahmu, sahabat untuk mampir ke

cahayamuslimah

“CAHAYA MUSLIMAH”

http://cahayamuslimah.com/blog/

Jazakumullahu khairan katsiran.. untuk kesediaannya…
Maaf jika ini jadi merepotkanmu… sahabat…

Kutunggu ya…..
Wa’alaikumsalam warrahmatullaahi wabarakaatuh



Komentar dimatikan

Sahabat-sahabat yang di Rahmati Allah

Assalaammualaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Dalam perjalanan hidup seorang mencari “cahaya” Allah, banyak hal-hal yang dihadapi, ditemui dan dirasakannya. Saya hanya 1 dari sekian banyak muslimah yang menghadapinya. Kadang kala dalam pencarian itu, kita seolah “terbuang” dan “tersesat”. Mungkin ada baiknya bila kita dapat berbagi, anda dengan cerita anda, dan saya dengan cerita saya, saling menguatkan, bergandengan tangan melangkah bersama. Suatu kehormatan bagi saya bila anda bersedia bergabung dalam tulisan-tulisan ini.

Semoga Rahmat Allah akan ada bagi kita semua. Amin

Wasalammualaikum warrahamatullahi wabarakatuh

Yanti sutikno

Comments (28)

Three cup of tea

tree-cup-of-tea1 Sebuah buku yang luar biasa….

Sahabat… apakah pernah terpikir.. manusia dapat menjadi    begitu mulia…. jika ia melakukan perbuatan bajik… yang tulus.. yang tanpa membawa niatan terselubung???

Buku ini mengangkat cerita seorang anak manusia.. yang berasal dari kehidupan modern Amerika.. dapat meleburkan diri.. dalam tindakan berlandaskan keinginan memberi…

Ia Berjuang… sendiri.. dan tidak mengatas namakan suatu golongan ataupun… dengan tidak mengusung misi kelompok agama tertentu..  berhasil membuktikan… kekuatan dan kemampuan seorang manusia untuk bersikap dengan sikap terpuji adalah segalanya.. .Mengalahkan.. kekuatan segolongan besar manusia..  Mengalahkan.. sejumlah uang..

Sekolah demi sekolah… dibangung… persoalan-persoalan umat.. dapat terpecahkan satu demi satu…

Ya.. hanya karena rasa terima kasih yang tulus… Rasa syukur yang tak ternilai… Rasa ingin berarti bagi umat manusia… terbukti dapat menembus dinding pembatas.. yang dibangun dengan menggunakan.. bahan bangunan… agama, suku, golongan, warga negara.. politik.. batasan negara..dsbnya.

Semakin indah… ketika kalimat Allah ditegakkan….

Tiada rasa saling tersinggung… ketika sang pemeran utama… di beri julukan “Kafir yang berhati lembut”.. karena ucapnya dengan dibarengi pujian.., terucap dari bibir-bibir muslim merupakan ungkapan rasa syukur dan terima kasih terhadap sang kafir.  Dan tindakan sang Kafir untuk meningkatkan kesejahteraan  yang merupakan ungkapan terima kasih pada kaum muslimpun diterima dengan demikian indahnya… tanpa ada syak wasangka.

Buku ini juga mengungkap kisah tenggang rasa saling menghargai… antara 2 agama. Yang selama ini sudah dianggap sebagai hal yang tidak akan pernah mungkin terjadi. Membuat orang beropini baru… tentang pola hidup bermasuarakat,… berdampingan… saling hargai.. diantara umat beragma.

Sayapun setuju jika buku ini menjadi buku “BEST SELLER” dari New York Times.

Comments (3)

Mahasiswa Bunuh Diri

Innalillaahi wa inna illaihi rojiun

Betapa mudahnya orang terfikirkan untuk bunuh diri….

Berapa banyak orang melakukan tindakan bunuh diri….

Ini dilakukan juga oleh kaum muda… kaum intelektual…

Ada apa sebenarnya????

Baru-baru ini 2 buah kejadian bunuh diri yang dilakukan oleh 2 orang mahasiswa/i di Jakarta.

Apa yang tercantum dalam media tentang hal ini?

Keduanya depresi.. karena nilai dibawah standrat… dan tidak juga kunjung lulus…

Saya adalah seorang ibu…

Sayapun sering “bermasalah” dengan anak-anakku….

Ketika saya merasa mereka tidak mematuhiku…

Ketika saya merasa mereka tidak memenuhi harapan-harapanku..

Buatku…

Ketika kasus ini terjadi… saya pun merasa terpukul….

Beberapa hal yang menurutku menjadi sebab terjadinya (dari kacamataku…) adalah :

1. Sang Ortu… dan Sang anak… pastilah tidak ada komunikasi yang lancar…. sebabnya bisa jadi sang Ortu yang tidak mau “down to erath”… menyadari… potensi… kekurangan… minat sang anak… Dia sibuk dengan pendapatnya sendiri.. keinginannya sendiri… yang (mungkin) terpaku pada pola hidup di lingkungan sekelilingnya. Bisa jadi… sang anak.. yang dengan motivasi tersendiri… (sayang yang berlebihan pada orang tua) tidak berani/ mau mengungkapkan persoalannya pada orang tua..

Ini dapat terjadi… pada masyarakat kalangan bawah… yang untuk hidup saja pas-pasan… berkeinginan… memiliki anak dengan title… tertentu… demikian semangatnya… sehingga sang ortu akan berjuang mati-matian agar keinginan tercapai… mengabaikan dan mengorbankan dirinya… untuk keberhasilan sang anak… pada akhirnya… timbul obsesi yang berlebihan… Sang anak… melihat dan merasakan perjuangan orang tua.. terpacu untuk membuktikan dan menghadirkan impian tersebut menjadi nyata. Apa daya… ternyata.. sang anak kemampuannya pas-pasan…  Sang anak menjadi terpuruk dan depresi… tetapi tidak punya kemampuan untuk menjelaskan situasi ini pada orang tua.

Atau jika pada kalangan kelas atas dan menengah… seringkali.. yang menjadi pijakannya adalah “gengsi”… Status sosial.. tidak memungkinkan adanya… keadaan yang “lebih rendah” dari expectation lingkungan… Akhirnya kembali tekanan berlebihan akan diluncurkan pada sang anak. Dan.. karena status sosial ini pulalah… tidak banyak kesempatan bagi orang-orang yang ada dalam lingkaran ini.. untuk menunjukkan rasa.. kesulitan… persoalan… (karena dipandang sebagai aib) ditambah… kesibukan-kesibukan dari orang tua.. yang membuat waktu terbatas untuk berbicara apalagi bermanja-manja untuk sang anak.

2. Kurang pemahaman akan tingkatan pencapaian dalam hidup. Untuk sebagian orang… tingkat pencapaian tertinggi adalah jika.. telah mencapai kedudukan hebat… punya penghasilan besar… Status sosial.. tinggi dsbnya…  Ada yang dilupakan… dan justru menjadi yang terpenting… adalah… manjadi manusia seutuhnya… Utuh dalam artian… mencapai standrat “perjanjian” sebagai makhluk Allah…

Jika saya boleh mengutip… seorang ustadz sempat menyampaikan… perumpamaan manusia hidup didunia ini bagaikan.. perjalanan kita antara waktu ashar.. hingga maghrib…(+/- 3 jam)  Sangat singkat. Kita sering mengabaikan waktu yang singkat tersebut untuk mengisi dengan hal bermanfaat karena kita beranggapan kita masih punya 21 jam lain untuk digunakan mengejar target.

Bayangkan… jika ternyata yang hanya 3 jam tersebut… ternyata merupakan penentu dari yang 21 jam… Pastilah… kita akan sangat serius melewatinya… bahkan… kalau boleh kita akan menunda tidur, mandi bahkan makan… Fokus pada pencapaian di 3 jam.

Hmmm jika boleh saya kembalikan lagi… jika hidup kita yang hanya sebentar ini… kita lewati dengan melakukan kesalahan sangat-sangat besar…. bunuh diri… pastilah… sisa lain dari kehidupan yang lain akan menjadi sesuatu yang sangat mengerikan…

Allah sangat mengutuk dan tidak memberikan ampunan pada orang-orang yang melakukan bunuh diri…

Bayangkan kemarahan orang tua… kekecewaan karena putus cinta… depresi karena tidak naik pangkat… yang dijadikan sebab untuk bunuh diri… jika dibandingkan dengan apa yang menjadi ketentuan Allah… bukanlah apa-apa.

Lalu… maukah kita menukar kasih sayang Allah… kehidupan akhirat, yang tidak pernah ada akhirnya… berapapun usia kita kelak… (dimana satu hari akhirat dinyatakan sebanding dengan 50 tahun kehidupan didunia fana).. dengan ketegaran… menghadapi kemarahan orang tua… kesulitan karena hutang.. bermasalah dengan kekasih hati.. kebangkrutan financial dsb dsbnya yang lamanya proses pemulihannya mungkin hanya 1 hari atau mungkin 10 tahun… dunia??? Sungguh-sungguh naif… kalau itu kita lakukan….

Itu artinya… kita sungguh-sungguh tidak paham tentang skala prioritas pencapaian…. Yang mestinya sebagai bagian dari kaum intelektual, anak-anak muda pelaku bunuh diri… mencanangkannya.

3. Adanya.. pergeseran.. pola hidup dari masyarakat Indonesia.  Ada masanya… ketika sebuah komunitas… sangat menyatu… Persoalan yang dimiliki oleh sebuah keluarga… dirasakan oleh keluarga-keluarga yang lain… Tidak ada gengsi… yang ada hanyalah.. kasih sayang dan kekeluargaan. Ini yang sekarang jadi hal langka…

Saya terus-terang masih sangat ingat.. saat-saat… tetangga.. dengan baik hati menawarkan… bantuan, melihatku kerepotan mengurus putri sulung… (waktu itu ia masih berumur setahunan)… atau saat berbagi makanan.. karena bau masakan menerbitkan air liur.. atau ketika saya pulang dari bepergian ditengah hujan deras…  cucian bajuku sudah terlipat rapi diteras rumah… selamat dari cucuran air hujan.

Masa-masa itu berlalu sudah…

Sekarang… seringkali… saya tidak pernah melihat wajah tetangga sebelah rumahku… untuk waktu yang cukup lama (heh… saya juga sama… meninggalkan rumah sebelum jam 6 pagi… sampai dirumah lagi sudah lewat adzan Isya)…  saya yakin mereka juga merasakan hal yang sama.

“Kekosongan”… merasa “sendiri”… tidak ada teman untuk berbagi cerita… itu bukan lagi cerita baru

(Alhamdulillahnya… saya dan para tetangga sebelah rumah… masih sering bersilahturahmi melalui SMS… jadi masih saling tahu… apa-apa yang terjadi diantara kami… Fuh.. walaupun begitu tetap saja… yang namanya pesan  singkat… beritanya ya singkat-singkat saja…. )

4. Kecepatan dan perubahan dunia mencapai kemajuan…. Orang menjadi begitu.. tertantang dan terfokus pada pencapaian-pencapaian cepat… sangat berbeda dengan saat zaman orang tua kita dulu… Saya masih juga ingat… bagaimana senangnya… duduk-duduk disore hari… dengan para sesepuh… menikmati teh hangat… kue kecil.. bercerita, bercengkrama… dengan suasana penuh.. kekeluargaan…. Sekarang???? Mana sempat!!!

Jika dulu… pergi ke surau… disore hari… adalah untuk bermain dan belajar…  Saya tuliskan bermain lebih dulu… karena memang itu tujuan kesana… untuk bermain… baru setelah itu (jika sempat) belajar… Sekarang pergi ke TPA adalah untuk belajar dan bermain…. Belajar lebih utama… karena jika tidak sesegera mungkin menguasai pelajaran di TPA…  bertumpuk-tumpuk target lain… (bahasa Inggris, matematika, menggambar, main musik dsb-dsbnya) akan mengejar… sehingga ilmu TPA akan terlewat. Main???? nanti dulu…

5. Satu hal lagi… ketika “percepatan” menjadi gaya hidup… orang mengabaikan… arti perjuangan…  Orang-orang yang “smart” mendapat hasil lebih cepat… lebih dihargai dari orang-orang yang berjalan… perlahan… tekun.. dalam meraih asa.  Saya sering mengartikan dengan budaya “MIE INSTAN”.  Orang lupa… bahwa… memang mie instan enak…, lebih menarik dari segi tampilan…  Tetapi lebih enak… sama mengenyangkan… lebih sehat… lebih memancing selera… jika menggunakan mie.. yang diolah sendiri… walaupun sama-sama mengenyangkan.

Yah… orang tidak lagi punya kesadaran… kesabaran… untuk menikmati lebih dengan usaha lebih.

Ini juga yang menjadikan… anak-anak generasi.. sekarang… kurang punya daya juang. Cepat putus asa…. menghadapi masalah sedikit… mereka sudah cepat “menguncup” dan berteriak-teriak minta tolong…. Tidak mengenal… untuk makan nasi.. prosesnya bisa sangat panjang… dari merebus air, “mengaru”.. kemudian mengukus.. dan mendinginkan dalam tampah beralas daun… hanya “klik” menggunakan rice cooker yang mereka tahu..

Apakah itu begitu buruk???

Tentu saja tidak… ada saatnya memang kita harus berpacu waktu… melakukan trobosan singkat… tetapi… ada saatnya kita harus melakukan proses panjang…. Tergantung dari situasi dan hasil akhir yang diinginkan. Yang terpenting adalah… mereka memahami setiap proses ini… cepat atau lambat… instan atau bertahap…

Jadi????

Menurut hemat saya….  Memang situasi kini… begitu sangat kompleks… menyebabkan… orang begitu mudah mencari jalan pintas…

Lalu???

Sebagai ibu… sebagai orang tua… saya mencoba menekankan pada anak-anakku… saya hanya menuntut mereka berjuang tanpa henti… Dalam  perjuangan… walaupun perjuangan mereka (haruslah) sangat keras.. mereka tetap harus memperhatikan kebutuhan diri… untuk istirahat… untuk sehat… untuk berbahagia Oleh karena itu yang menjadi Landasan perjuangan mereka adalah untuk mencapai target utama yaitu… “Standrat manusia Utama sebagai Hamba Allah”…  Bukan Duniawi…   Satu hal lagi… apapun hasil pencapaian… (setelah berjuang keras) bukanlah… sesuatu yang perlu disedihkan, dibanggakan, dipamerkan, diagungkan…

Jadi… anak-anakku paham…

Ketika ibunya marah besar… karena waktu ujian… santaaaiiiii… gak belajar… duduk-duduk nonton TV.., sibuk dengan HP… atau bermalas-malasan.

Dan anak-anakku paham…

Ketika… mereka gagal pada sebuah ujian… ibunya… tetap akan menyambut kepulangan mereka dalam pelukan hangat, usapan dirambut dan kecupan penghapus airmata kesedihan….

Dan anak-anakku juga sangat paham…

ada masanya… ujian bukan hal penting… karena saat itu… mereka sedang sakit…. Lebih Utama beristirahat… dan menebus ujian disaat yang lain.

Yah… I Love them… so much…

Saya berharap… saya berdoa… saya memohon… agar Allah senantiasa memberi mereka pemahaman untuk tidak melakukan hal-hal tidak sesuai dengan urutan prioritas mereka dalam upaya pencapaian manusia utama… HAMBA ALLAH AZZA WA JALLA… Dan Allah senantiasa akan menjaga mereka tetap dalam koridorNYA. Amin

Comments (2)

Doa Nur

Sebuah Doa mengharapkan Cahaya Allah

(untuk sahabat-sahabatku terutama sahabat hermanvarella yang sedang mencari jalan untuk dapat kembali pada Fitrah Islami)

Allaahummaj’al fii qalbi nuuran

Ya Allah berilah cahaya pada hatiku

wa fii nafsii nuuran

Dan cahaya pada jiwaku

wa fii lisaanii nuuran

Dan cahaya pada lisanku

wa fii basharii nuuran

Dan cahaya pada pengelihatanku

wa fii samaii nuuran

Dan cahaya pada pendengaranku

wa fii amaamii nuuran

Dan cahaya dari arah depanku

wa fii khalfii nuuran

Dan cahaya dari arah belakangku

wa fii fauqii nuuran

Dan cahaya dari atasku

wa fii tahtii nuuran

Dan cahaya dari bawahku

wa’an yamiinii nuuran

Dan cahaya di kananku

wa ‘an syimaalii nuuran

Dan cahaya dari kiriku

wa fii damii nuuran

Dan cahaya didalam darahku

wa fii lahmii nuuran

Dan cahaya dalam dagingku

waj ‘allii nuuran

Jadikanlah seluruh tubuhku bercahaya

wa’zhimii nuuran

Dan besarkanlah cahaya itu bagiku.

Dari “SHALAT, Shalawat dan Doa”… oleh Agus Wirahadikusumah Jakarta hal 270 -271

Komentar dimatikan

Permata bunda

permata-bunda

Akhirnya… rangkaian film “PERMATA BUNDA”  ini berakhir sudah….  Ceritanya.. yang mengungkapkan tentang kisah nyata anak autis.. sejak awal kelahiran hingga.. dapat mandiri.. sangat menyentuh hati. Keterlibatan total seorang ibu.. dalam kisah ini.. sungguh-sungguh bikin saya punya perasaan :

Film ini… bikin aku kuat…
Film ini… bikin aku semangat
Film ini … bikin aku mengevaluasi diri
Film ini.. bikin aku punya pengharapan
Film ini… bikin aku berusaha makin berarti bagi anak-anak + suamiku
Film ini… bikin aku makin yakin Aini bisa mandiri dan bertanggungjawab kelak
Film ini… masuk dalam daftar film favoritku…

Ini adalah sountrack lagunya…

Ibunda punya sebuah mimpi

Sebuah hasrat sederhana

Semoga ananda selalu sehat dan bahagia

Kamu buah hati ku

Tak peduli angin dan badai

Kita akan tetap

Kamu buah hati ku

Benih kasih sayang menyebar perlahan-lahan

Kamu buah hati ku

Benih kasih sayang menyebar perlahan-lahan

Ada kami semua

Komentar dimatikan

Diri….

Alhamdulillah… kemarin saya mendapat beberapa komentar yang cukup berbeda…Terang-terangan sang penulis komentar menyerang saya pribadi… Hmmm sungguh saya sangat senang dan bersyukur dengan komentar tersebut. (maaf komentar tersebut tidak lagi saya tampilkan karena… masalah etika)

Syukur saya.. adalah karena

1. Alhamdulillah… akhirnya ada juga yag melihat saya apa adanya… sebagai pribadi yang (jujur…, sebagaimana sering saya sampaikan selama ini)  tidak punya kelebihan malahan terlalu amat sangat kekurangan.

Yang ke 2 saya terpacu untuk lebih memacu semangat belajar.. semangat memperbaiki diri… semangat untuk segera menjadikan impian-impian saya terlaksana.

Yang ke 3.. saya diingatkan… sewaktu-waktu.. ‘Time limit”.. saya habis… jika saat ini…tiba dan ketika apa yang dikatakan sang komentator (astaghfirullah… ) masih saya lakukan…. Bagaimana mungkin saya berani menghadap sang Khalik…

Jujur… saya sering merenungi… diri ini…

Makhluk apakah saya????

Allah telah menyampaikan betapa hinanya… saya sebagai manusia… berasal dari segumpal tanah… disirami oleh air yang kotor dalam proses penjadiannya… dan ketika terlahir kedunia.. sayapun melewati tempat yang kotor… Huff…

Diduniapun… saya tidak terlepas dari hal-hal yang kotor… didalam tubuh ini (seandainya Allah berkeinginan untuk mempermalukanku… dengan mudah.. dibukakan isi perut ini…transparant… terpampang.. betapa diri ini sangat kotor) demikian kotornya tubuh ini… sehingga ketika sebagian dari kotoran ini dapat dibuang dari tubuh… bau.. rupa.. tampilannya… tidak ingin kita lihat… (bayangkan yang “keluar” hanya sebagian dari yang masih ada didalam tubuh… yang lain… yang kotor, yang bau, yang bentuknya bikin mual, yang 24 jam bersama kita)

Jadi… memang benar… jika ada orang yang bicara kita ini sebagai manusia “sebenarnya apalah….” Sungguh sebagai manusia, gak pantas bilang saya sudah bener… gak pantas bilang saya  sudah baik… gak pantas…ngerasa  paling tahu sendiri… gak pantas tersinggung jika ada orang yang bilang.. dengan kata-kata (maaf) kasar tentang kita… Itu benar semua kok….

Apalagi jika kemudian kita mencoba menutup semua  hal-hal yang “gak pantas”dengan sikap-sikap atau percaya diri dengan topangan,  karena kita punya kedudukan.. karena kita punya harta… karena kita punya kepopuleran.. karena kita punya kepandaian… dsbnya.

Kenapa???? Jujur… itu bukan topangan yang baik.

Yah.. demikian mudahnya Allah… dapat membalikkan segalanya… yang kaya dapat langsung miskin (lihat kasus… hancurnya bursa saham).. yang sehat dapat langsung tak berdaya (kasus stroke) yang populer dapat terhina (kasus narkoba oleh selebritis)… juga sebaliknya… yang miskin dapat sekejap kaya raya.., yang sakit dan tak berharap… dapat sehat dan berkarya.. yang terhina dapat dengan cepat disegani. Subhanallah…

Saya memang hanya satu dari sekian banyak manusia yang pernah, sedang dan akan ada didunia ini… tidak lebih…

Jika saya berbuat salah… itu lumrah… jika saya tidak berarti itu… sunatullah… jika saya punya banyak kekurangan… itu biasa… Saya sungguh-sungguh menyadari itu… sebagai hal-hal (+ berjuta hal buruk lainnya)  yang tidak dapat tidak memang harus saya miliki…

Jika saya berusaha menjadi lebih baik… dengan banyak belajar… bertanya… latihan… mendekatkan diri pada sang Khalik… berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi laranganNYA, melaksanakan perintahNYA.  Tapi.. sekali lagi itu adalah hanya sebuah upayaku untuk menjadi lebih baik… dengan kata lain.. saya berusaha untuk menjadi lebih baik… dengan bertopang padaNYA…

Apakah akan berhasil???  Insya Allah… saya optimis

Apakah akan maksimal??? Insya Allah… saya optimis..

Apakah.. akan menjadikan saya lebih baik??? Insya Alah… sayapun optimis

Kapan tercapainya??? Wallahu alam…

Sekarang??? Wallahu alam… (maksa ya….)

Yah… dalam perjalananku… selama saya masih ada didunia ini… proses apakah kita akan menjadi lebih baik ataukah.. hanya “berjalan ditempat” ataukah malah… mundur.. dari posisi awal saat pembelajaran mulai. Yah… ini adalah proses yang sangat panjang… dan…masih akan terus berlangsung… bisa jadi kegagalan… (Astagfirullah….Jauhkan aku ya Allah) bisa jadi keberhasilan yang ada diakhir nanti (Insya Allah… Ya Rabb… hanya kepadaMU aku berharap) Yah.. jujur…  tidak ada satupun manusia yang tahu. Siapapun dia… seorang kepala negara, seorang wanita mulia, seorang anak, bahkan orang-orang yang merasa dirinya telah mencapai tahap suci. Tiap detik… apa yang telah dicapai seolah… berada diujung tanduk… siap terpuruk dalam rayuan syaitan.

Yup…

Pada prinsipnya… sekali lagi saya sangat berterima kasih dan bersyukur… dengan adanya komentar-komentar pedas.. maupun kasar… Hanya mungkin kalau boleh saya meminta (yah… kalau dikabulkan…) tolong… jaga diri anda juga dalam berbicara… dan berkomentar (terbukti kan… anda yang menyampaikan komentar pedas serta kasar… pada umumnya.. tidak berani menampilkan jati diri.. !!)

Terima kasih….

Comments (3)

Older Posts »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.