Dari Hari Kartini… tentang “Pemimpin Perempuan”

Hari Kartini… 21 April 2008

Disalah satu stasiun TV swasta… saya lihat ada Ustadz Wafiudin.. dengan Ibu Marisa Haq…
Bicara tentang pemimpin wanita…..
Hmmm dengan sangat “hati-hati” pembicaraan ini mengalir….

Yang saya tangkap adalah :
1. Laki-laki dijadikan pemimpin bagi perempuan karena laki-laki diberi kelebihan secara fisik dan kewajiban untuk bershodaqoh kepada kaum perempuan.
2. Perempuan boleh “keluar rumah” jika… “urusan rumah” sudah selesai
3. Perempun tidak boleh keluar bila tidak ada “ijin” suami…..

Ok… saya mau ngomong dulu… saya tidak menganut paham feminisme… karena buat saya feminisme ciptaan manusia.. yang pasti “kalah” dengan aturan-aturanNYA.

Ada yang menarik dari ulasan diatas…, Pak Ustadz… membicarakan… tentang… keseimbangan alam.. Bila terjadi.. unbalance… secara otomatis… bagian yang lain akan menutup kekurangan dari bagian yang lain. Hmmm

Demikian juga… hubungan antara pria dan wanita…, akhir-akhir ini (menurut pak Ustadz) posisi kaum laki-laki… “terjepit”… secara otomatis.. wanita.. bergerak.. mengambil posisi-posisi yang semula ditempati oleh para laki-laki…(Kata beliau juga) dari hasil diskusi dengan bapak Arief Rahman Hakim… bila di data.. peringkat-peringkat murid tertinggi dari lembaga pendidikan, banyak diambil oleh perempuan.

Hmmm saya tertegun…. Bagaimana bisa???? (he he kata yang dipakai beda tapi tetap saja..kalimatnya berarti sama)

Saya juga ingat dengan “Ramalan Joyoboyo” (ups maaf… sisa-sisa pengetahuan jahiliyah dari zaman kecilku) pada akhir zaman… pria akan ada ada didalam kereta kuda sedangkan para wanitanya yang akan mengendalikan kuda. (???????)

Hmmm saya jadi ingat dengan putraku…, memang beda ya… mendidik anak laki-laki dan mendidik anak perempuan. Anak laki-laki cenderung lebih lihai.. untuk menghindari tugas…, melalaikan kewajiban yang rutin, lebih senang berargumentasi panjang lebar, kurang suka berpayah-payah… dan yang paling hebat… sangat pintar “membaca” situasi” sehingga… gampang “mengalahkan” saya, ibunya….ketika sedang ada negosiasi tugas….
Ini juga yang seringkali… bikin putraku “kalah set” dibandingkan kakak dan adiknya… (padahal secara IQ.. lebih tinggi putraku)

Jika… sudah demikian wajar bila… akan banyak perempuan “lebih bersinar” dari kaum laki-laki. (heh… menyedihkan)

Pernyataan kedua dan ketiga…
Ada yang bikin saya ngerasa… “ngilu” disini… Tidak semua perempuan pintar punya suami yang mengerti dan mau mendorong istrinya…. So… apa jadinya dengan muslimah-muslimah cerdas…yang tidak punya kesempatan untuk membagikan karunia Allah….. karena (masih) punya urusan rumah dan karena tidak dapat ijin suami.

(pls… saya bukan penganut paham feminis)

Maaf… sekali lagi maaf..,. seringkali ego laki-laki sangat besar…, tidak dapat menerima jika istrinya “lebih” dari dirinya… sehingga haknya untuk “tidak mengijinkan” istrinya… sering diperpanjang dan digunakan untuk memaksimalkan istri menjadi tidak “berkembang” (maaf ini saya kutip dari sebuah pernyataan… contoh ttg.. “kekesalan seorang laki-laki terhadap istrinya”… Kan saya sedang marah dengan istri saya,.. saya tidak memberinya nafkah (uang maksudnya) biar dia kapok dan kembali pada saya. lo.. kok ada yang memberinya pekerjaan. Ini kan namanya kurang……… he he he … dia lupa istrinya… juga makhluk Allah yang dijamin rezekinya oleh Allah.. suami hanya perantara sampainya rezeki dari Allah itu kepada istri…ketika perantara yang satu sudah tidak berfungsi…, Allah pasti akan menciptakan perantara-perantara yang lain. Lalu ketika semakin lama si istri makin “bersinar” dengan kiprah kemampuannya….. diapun makin “sewot”… dan memojokkan sang istri.. hilanglah sudah cintanya… yang tinggal hanya nafsu untuk berperang dan saling mengalahkan)

Jadi bila ada pernyataan Muslimah “harus” selangkah dibelakang para muslimat. Hmmmm…..mungkin untuk urusan kepemimpinan… IYA. Harus.. Muslimah harus tunduk pada pemimpinnya (muslimin). Tapi kecerdasan, kepandaian, itu “give” dari Allah…, tidak sepantasnya…”ditekan”. Heh… ini yang menyebabkan kadangkala… muslimah menjadi bagian dari program “pembodohan umat”

Bagian terakhir…
Maaf kalau saya salah… dari pembicaraan dilayar kaca tersebut… saya mengambil kesimpulan…
Allah menciptakan manusia itu berpasang-pasangan…
Hawa diciptakan dari tulang rusuk pria…
Ada takdir yang tidak bisa diubah.
Tulang rusuk tetap akan berada diantara dada dan tangan.
Tidak akan ada tulang rusuk yang dapat berganti posisi mengantikan kedudukan kepala.

Jadi… kalau tulang rusuknya… hebat… pasti tubuh tempat (semula) tulang rusuk… lebih hebat lagi…
Haqul Yakin.Kalau seorang istri berpotensi menjadi muslimah yang hebat.., pasti suaminya… Imamnya… jauh lebih hebat lagi sebagai muslimat. Haqul Yakin.

Tapi.. pernyataan diatas jadi tidak “matching”… ketika ada nafsu yang ikut andil. Nafsu yang membuat tubuh itu menjadi lemah… tidak mampu “meng-handle” tulang rusuk… Nafsu yang membuat tubuh… ingin “membuang” atau “mengkerdilkan” tulang rusuk. (padahal ini akhirnya juga akan menyakiti tubuh itu sendiri) Nafsu yang membuat tubuh itu menjadi tidak percaya diri akan kemampuannya.

Atau juga nafsu dari sang rusuk… untuk bercita-cita dan berusaha menjadi kepala…. sampai melupakan kodratnya sebagai rusuk yang punya tugas penting melindungi organ dalam tubuh..

Akhir kata… di hari Kartini..saya ingin menyampaikan harapan saya, kepada para muslimah untuk terus berkarya… karena keberhasilan generasi penerus ada ditangan muslimah… Muslimah harus pandai… dalam hal apapun… ilmu Al-Qur’an, Ilmu Hadist.. Ilmu Teknologi, Ilmu Kesehatan dsbnya…Muslimah harus bisa mengaktualisasikan dirinya… sedemikian hingga akan menjadi… lampu pijar bagi generasi bangsa… Sedangkan para muslimin… akan selalu terus… melangkah dengan langkah yang lebih lebar dan lebih cepat dari kaum muslimah agar selalu ada didepan, menjadi imam bagi para muslimah.

“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita disebabkan Allah telah melebihkan sebagian mereka (kaum pria) di atas sebagian yang lain (kaum wanita) dan disebabkan kaum pria telah membelanjakan sebagian dari harta mereka…”. (An-Nisa: 34)

1 Komentar

  1. yang memimpin wanita bukan akal tapi hatinya..

    Ya… saya setuju… itu salah satu sebab Allah tidak memberikan tugas itu kepada para wanita….

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.