Lutfiana Ulfa… akan meniru jejak Aisyah RA???
Lutfiana… putri kecil dari daerah jawa tengah. Usianya baru 12 tahun… (gak beda jauh dengan putraku dan masih jauh berumur putrid sulungku).. Tapi hidupnya sudah bergaris lain.. Dia harus berada di area manusia dewasa… bukan lagi area kanak-kanak.
Sang Kyai… dengan (maaf ya… buat saya kok kedengarannya kayak…) bangga (Maafkan aku ya Allah telah berani menilai pada hambaMU) berkata bahwa tidak ada masalah dengan perkawinannya… bahwa sang putri , Lutfiana… melakukan dengan suka, orang tua dari Lutfiana pun mengijinkan. Bahkan istri pertama dari sang Kyai.. cukup mendukung dan memberi dukungan atas pernikahan ini. Lalu… dengan wajah yang cukup sumringah… sang kyai tertawa dan menunjukkan sebuah buku yang berjudul “Aisyah pun menikah dini”
Saya gak tahu mesti bilang apa… tapi menurutku… sebagai seorang ibu… (maafkan aku ya Allah jika aku salah mengambil sebuah kesimpulan) saya belum dapat menerima jika putriku diusia yang ke 12, harus menikah dengan seseorang.
Memang jika berkaca pada Aisyah RA… sepertinya ini bukan masalah… (Ennnnn) Setahuku yang sangat bodoh ini, banyak manuskrip-manuskrip Islam yang hilang ketika Iskandaria jatuh.. bahkan ada sebagian pula yang jatuh ketangan musuh dan masih disimpan hingga kini di perputakaan mereka. Karena itulah… jika banyak orang yang menggunakan alasan usia Asyiah RA sebagai patokan untuk memperbolehkan pernikahan.. saya gak mudah menerima. Ya.. cerita tentang ini masih sangat simpang siur… banyak pro dan kontra mewarnai kisah ini. Untuk memastikan juga sulit.. karena alasan sejarah diatas…
Karena itu ijinkan saya… berpegang pada hal yang lain untuk melihat masalah ini.sebagai “second opinion” (bukankah Allah meminta kita melihat segala yang ada di alam ini sebagai salah satu pertimbangan akan kebesaran Allah) Dan tanpa sekalipun, saya beranjak dari percaya saya… akan ALLAH yang tidak pernah salah dalam membuat scenario.
Pertimbangan Psikolog.
Usia 12 tahun… setahu saya…dalam Islampun masih dianggap sebagai usia kanak-kanak dan belum boleh menanggung sebuah tanggung jawab. Buktinya… adalah.. ketika sahabat nabi yang masih sangat muda… ingin berperang… Nabi tidak mengijinkan. Buktinya adalah… seseorang diajarkan untuk mendidik anak-anak dengan cara kekeluargaan (sampai diartikan sebagai mendidik seorang raja) hingga usia 15 tahun.. baru setelah itu… memberikan pendidikan yang terarah (ada yang mengatakan ini adalah usianya menjadi seorang “tentara”)
Secara pertimbangan biologispun…
Anak-anak perempuan yang mendapatkan haid pertamanya… masih perlu beradapasi… (menurut ilmu kesehatan, paling tidak hingga 1 tahun). Disaat itu.. siklus haidnya (biasanya) belum stabil… artinya.. rahimnya… belum berkembang secara sempurna. Demikian juga dengan payudara, pola pikirnya… tak jarang… seorang anak perempuan masih saja… berlari-larian atau bermain bebas…ketika berada dimasa adaptasi tersebut. (saat sekarang anak-anak perempuan biasanya mulai mendapat siklus menstruasi dikelas 5 atau 6 SD artinya masih berumur 9 s/d 12 tahun) Jadi senggama di usia ini bisa dibilang belum saatnya. Bahkan dapat membahayakan kesehatannya (dan bisa jadi anak-anaknya kelak)
Yah… memang selalu ada perkecualian… ada anak-anak yang lebih cepat dewasa an ada yang tidak.. tapi tetap saja… memikul tanggung jawab sebagai seorang istri.. bukan hal yang mudah.. dan dapat dilakukan sambil lalu..
Bagaimana dengan Lutfiah… apakah memang tubuhnya telah sempurna berkembang? Apakah.. tanggungjawab dan pribadinya telah cukup untuk memasuki gerbang pernikahan?
HuFFFF……Buat saya… saya percaya tidak ada yang bertentangan apa yang ada di alam ini dengan skenario Allah. Jika saya belum “paham” artinya… pasti karena saya belum “nyampe” dengan pelajaran ALLAH. (paham dengan kenapa pak Kyai milih putri munggil ini sebagai istrinya)
Bagaimana dengan Lufiana????
Apakah masa depan yang direncanakan Allah untuknya???
Apakah menjadi seorang pemegang kekuasaan di sebuah perusahaan sang Kyai adalah takdir hidupnya???
Saya masih percaya Perkawinan adalah sebuah kemurnian… hanya berpegang pada Ridho Allah…bukan duniawi… bukan untuk mempunyai seorang pegawai yang pandai dan loyal…
Dan sebagai seorang pemimpin… sang kyai akan bertanggungjawab atas.. kehidupan lutfiah. Dunia dan Akhiratnya… Harus terus mendidiknya… harus trus menjaganya.. harus terus melindunginya… harus terus menjaga hatinya dsb-dsbnya… yang saya yakin sang kyai pasti sudah sangat “ngelonthok” teori soal ini… (walaupun kadang kala tapi…Kenyataan dan teori kadang kala gak sejalan… )
Dulu saya sempat “gemes” dengan bapak “restoran Wong Solo”… yang sangat bangga dengan teori poligaminya… mengambil 4 orang istri untuk membantunya menjalankan perusahaan… dan menciptakan sebuah “AWARD” untuk memancing minat bapak-bapak berpoligami.Karena buat saya bukan poligaminya tapi… tujuannya,… yang kurang pas dengan aturan Islam. Menjadikan perkawinan sebuah kontrak kerja.. bukan untuk sakinah mawadah dan warhmah.
Sekarangpun saya juga ngerasa “nyut-nyut”an dengan kyai satu ini. Melihat caranya menyampaikan dengan penuh kepongahan dan ide “memperkerjakan” (idem sama pak puspoyo si warung poligami) istri….
Saya tidak menentang apa itu poligami… yang saya sesalkan adalah cara berpoligaminya…
Terakhir..untuk ananda Lutfiana… yang demikian.. cantik… saya tidak tahu sesungguhnya harus bilang apa… (setelah nulis ngalor-ngidul diatas… huff) saya tidak banyak tahu… “cerita” sebelum penihkahan ini terjadi… Saya hanya dapat berdoa… agar apapun yang terjadi dimasa depan… ini adalah sebuah perjalanan hidup yang telah DIA gariskan padamu.. Yang semoga akan membawa sejuta kebaikan dan juga barakah hingga ke sudut-sudut relung hatimu dan sudut-sudut rumah tinggalmu. Engkaupun dapat merasakan bahagia itu… bahagia dalam dunia dan akhirat. Amin

bangyos31 berkata
Betul… dari zaman duuuullluuuu pernikahan dini sudah banyak dilakukan.. RA Kartini adalah salah seorang pemerhati dari zamannya. Herannya… gak ada tindakan nyata untuk ini… Apa karena sudah dianggap sebagai hal yang jadi bagian dari budaya ya?????
Cewek Horny berkata
Hmmm pendapat anda baik sekali… mudah-mudahan kebaikan ini tidak berhenti disini saja.. tapi terus dan terus berlanjut hingga apapun yang anda akan lakukan kini maupun akan datang selalu mempertimbangkan kata “ITTAKILLAH”.. (takutlah pada Allah) sebagaimana Abu Bakar…
bayu200687 berkata
Ya… betul betul
651671 berkata
Begitu?… Apakah anda kenal dengan mereka?
topan berkata
Hmmm memang ada beberapa… silahkan saja anda cetak… jika memang itu akan membawa kebaikan bagi semua… tapi… kok gak ada alamat mailnya mas…. kemana saya mau kirim?
(PS : kadang kala manusia suka rada aneh.. (termasuk saya) kalau di “sorong-sorong” apalagi dengan “pendapat perempuan/laki-laki lain”… suka malah tersinggung… he he he.. “buka kartu”.. tapi kalau dengan ajakan suami/istri yang lemah lembut.. biasanya “nyambung” apalagi kalo sambil bercanda)
Datyo berkata
Hmmm… Akhlaqtul Kharimah….
Heri wuryanto berkata
Yah… memang “bahasa tubuh”.. bisa menjadi kita mengambil kesimpulan yang berbeda…
Ya.. terima kasih sudah mengingatkan… karena kebetulan.. sayajuga pernah menaruh berita tentang “ketidak benaran usia Aisyah” dalam postingan saya.. “ISUE… yang menjatuhkan Nabi Muhammad SAW”
Subhanallah… saya pasti lupa… jika anda tidak menulis komentar disini… Jazakallahu khairan katsiran
xxx berkata
ayo.. siapa nih.. identitas yang jelas dooonnng
suparmana berkata
Yah.. karena itu.. sekarang ini banyak pasangan-pasangan tua yang “mengulang” pernikahan mereka agar mendapatkan surat nikah dari KUA
asep berkata
Betul.. setuju.. Yup.. do something…yuk..
milanisty berkata
Setiap manusia dilahirkan untuk membawa “misi”.. untuk berarti bagi seluruh umat.. kadang apa yang ia lakukan.. seperti hal yang tak berarti.. kadang perbuatan ini kelihatannya seperti hal yang membahayakan .. kadang seperti sebuah kesengsaraan… Biarkan semua ini mengalir seperti beningnya mata air menuju muara,.. tidak ada satupun yang mampu menghentikannya.. membawa kebaikan bagi seluruh isi alam
Bawor berkata
Hmmm… Cinta kepada makhluk…
Tetragus berkata
Sahabat…, saya berharap… cerita ttg ulfa sudah berakhir… negara telah mengambil sikap.., ulfa telah “kembali”.. Sang Kyaipun telah.. menjalani kehidupan normalnya… biarlah semua akan terjawab dengan waktu yang bergulir… jangan lagi kita mundur kebelakang… setuju??? Jazakallahu khairan katsiran untuk kebaikan hatimu…
garistengah berkata
hmmm…