Menanggapi komentar dari seorang sahabat yang telah menuliskannya disini… yaitu apakah kata-kata kafir dapat diartikan melecehkan sebuah golongan. marilah kita simak dulu bacaan dibawah ini, yang telah saya
sunting dari : sebuah artikel yang ditulis oleg Dr Yusuf Qardhawi, yang pernah dimuat di sebuah media.isnet.org
Kafir, berasal dari kata dasar yang terdiri dari huruf kaf, fa’ dan ra’. Arti dasarnya adalah “tertutup” atau “terhalang”. Secara istilah, kafir berarti “terhalang dari petunjuk Allah”. Orang kafir adalah orang yang tidak mengikuti pentunjuk Allah SWT karena petunjuk tsb terhalang darinya. Kafir adalah lawan dari iman. Dalam Quran terutama surah an-Nuur, Allah SWT menganalogikan kekafiran dengan kegelapan, dan keimanan dengan terang benderang, serta petunjuk (huda) sebagai cahaya.
Kategorisasi manusia dalam hal mensikapi petunjuk dari Allah SWT memang hanya dua: Bertaqwa dan Kafir (lihat surah Al-Baqarah ayat 2 sd 6). Dan kelompok kafir sendiri ada beberapa macam lagi, misalnya menurut sikap terhadap kitab-kitab yang pernah diturunkan: ada “Ahli Kitab” dan ada “Musyrikin” (lihat surah Al-Bayyinah). Sementara dalam hal kesadaran mereka terhadap kebenaran adapula kategori “fasik”, yaitu mereka yang sudah faham mana yang benar dan mana yang salah tapi tetap saja melakukan kerusakan (Al-Baqarah ayat 26 dan 27).
Diantara orang yang mengaku beriman sendiripun ada orang-orang yang ingin menipu Allah dan ingin menipu orang-orang beriman lainnya, yaitu mereka pura-pura iman padahal mereka ingkar … mereka disebut kaum “munafik” (Al-Baqarah ayat 8 sd 20).
Bagaimana menyikapi orang-orang kafir tsb? Mari ikuti lagi tuntunan Quran:
1. Berusaha menghilangkan “penutup” yang menyebabkan mereka kafir, dengan cara mendakwahi mereka.
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS.16:125)
“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka…” (QS.42:15)
2. Tetap berbuat baik terhadap mereka, terutama yang memiliki hubungan kekerabatan.
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, …” (QS.31:15)
keterangan: ayat ini berbicara tentang orangtua yang kafir, dan kita tetap diperintah untuk memperlakukan mereka dengan baik.
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS.76:8)
keterangan: adapun “orang yang ditawan” dalam ayat ini juga tiada lain adalah orang-orang kafir.
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS.60:8)
3. Tidak memaksa mereka untuk menjadi muslim.
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…” (QS.2:256)
“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir…” (QS.18:29)
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya…” (QS.2:272)
4. Berbuat adil dan tidak mendzalimi mereka, selama mereka tidak memerangi muslimin.
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS.60:8)
“…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” (QS.5:8)
“Doa seorang yang teraniaya (diperlakukan tidak adil), meskipun ia orang kafir, tidak ada tirai yang menutupinya (untuk dikabulkan).” (HR. Ahmad dalam “musnad”nya).
5. Memerangi mereka, tatkala mereka memerangi muslimin.
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu; dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.
Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (QS.2:190-193)
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah…” (QS.22:39-40)
6. Tidak menjadikan mereka sebagai kawan, pemimpin atau penolong, kalau mereka memerangi muslimin.
“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS.60:9) “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (QS.3:28)
keterangan: “wali” bentuk jamaknya adalah “auliyaa” yang artinya teman yang akrab, pemimpin, penolong atau pelindung.
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,” (QS.4:89)
7. Menyambut tawaran damai dari mereka setelah terlibat peperangan.
“tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu (menyerah) maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.” (QS.4:90)
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.8:61)
Mengenai hubungan dengan non-muslim, Quran telah secara jelas membedakannya, dan membagi kaum kafir itu menjadi dua golongan:
A. Golongan “Muharribin” (yang memerangi)
Yaitu kafirin yang memerangi umat Islam karena agama mereka, yang mengusir muslimin dari kampung-kampung halaman mereka, dan yang membantu pihak-pihak yang mengusir atau mendlzalimi ummat Islam. Termasuk disini juga mereka yang menghalangi muslimin dari melaksanakan kewajiban syari’at.
Terhadap golongan ini, ummat Islam wajib memberlakukan point no.5, 6 dan 7.
B. Golongan “Musalim” (yang berdamai) atau Golongan “Mu’ahidin” (yang membuat perjanjian).
Adalah kaum kafirin yang tidak terlbat pada setiap usaha yang ada di penjelasan point.B, dan sama sekali tidak turut andil dalam konspirasi apapun untuk memusuhi muslimin. (Lihat lagi Surah Al-Mumtanah ayat 8-9).
Terhadap golongan ini, ummat Islam harus melaksaknakan point.1 sd 4.
Golongan ini,juga dibagi dua klasifikasi lagi, yaitu:
1. Mereka yang mempunyai perjanjian damai sementara. maka terhadap mereka diwajibkan untuk menjaga perdamaian itu dan melindungi mereka sampai batas waktu perjanjiannya habis.
2. Mereka yang mempunyai perjanjian tetap selama-lamanya. Merekalah yang disebut sebagai “Ahlu Dzimmah”, yaitu orang-orang yang mendapat jaminan Allah SWT, jaminan Rasul SAW, dan jaminan dari komunitas muslimin.Dalam level negara/pemerintahan, Ahlu Dzimmah memiliki hak sebagaimana hak kaum muslimin (termasuk politik), dan memiliki kewajiban sebagaimana kewajiban muslimin (kecuali dalam hal yang menyangkut konsekuensi syari’at masing2). Ahlu Dzimmah wajib dibela dan dilindungi sebagaimana muslimin membela dan melindungi saudaranya sesama muslim.
Amirul Mukminin ‘Umar ibnul Khattab pernah menghapus istilah “Jizyah” bagi Ahlu Dzimmah dari nasrani arab Bani Taghlib, ketika mereka keberatan pungutannya disebut demikian. Dan pungutan tsb oleh ‘Umar disebut sebagai “zakat” sesuai permohonan mereka agar tidak dibedakan dari kaum muslimin. Khalifah ‘Umar menyetujui permohonan ini sambil mengatakan “Mereka itu orang yang dungu, mereka rela muatan artinya, dan menolak namanya.” (Fiqhuz Zakat II/708).
Imam Al-Auza’i mendukung dan bersama Ahlu Dzimmah di Libanon yang bersikap menentang seorang gubernur dari kerabat dinasti Abasiyah yang berlaku tidak adil.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menghadap Kaisar Mongol Timur Leng dan meminta pembebasan tawanan. Ketika Timur Leng menawarkan hanya membebaskan tawanan yang muslim, Ibnu Taimiyah menolak hal itu, kecuali Timur Leng mau membebaskan juga Ahlu Dzimmah yang ditawan bersama kaum muslimin.
Dengan demikian menurut hemat saya… jika tercetus kata-kata “mengkafirkan seseorang”… mestinya kita harus arif untuk melihat apa yang ada dibalik situasi ini…
1. Apakah memang benar yang mengucapkan bertujuan melecehkan… yang bisa saja terjadi misalnya karena kemarahan yang luar biasa (seperti yang terjadi ketika komik bergambar nabi Muhammad saw… sebagai orang yang dicintai dan diagung-agungkan dalam agama Islam di lecehkan)??
2. Ataukah… ini hanya sebuah panggilan yang sebenarnya.. hanya menjelaskan apa yang benar dan nyata. Sama dengan kita memanggil teman yang (maaf) buta dengan kata-kata “hai… buta, apa kabarmu?” (tentunya beda artinya jika kita jelas-jelas memanggil teman kita yang mampu melihat dengan kata-kata “hai… buta.”.. ini pasti sudah terang pelecehan)
Memang ada sebuah aturan tak tertulis dalam dunia bermasyarakat.. untuk tidak memanggil seseorang dengan sebutan yang artinya adalah memperjelas “kekurangan” dari seseorang. Sebagai seseorang yang menjujung tinggi nilai budi luhur… serta tenggang rasa.. mestinya kita mematuhi itu.. Karena… disamping tidak semua orang dapat lega lila… punya kesadaran cukup tinggi jika kekurangannya di sampaikan secara terbuka dan dimuka umum… kitapun… (jujur) pasti tidak ingin hal yang sama terjadi pada diri ini bukan?
Jadi kembali lagi apakah ini… merupakan sebuah pelecehan dan dapat diajukan dalam pelanggaran serta dituntut secara hukum negara.. ??? memang semuanya tidaklah sesederhana itu… pasti akan ada proses panjang untuk mencari kebenaran dengan mendengarkan banyak pihak sebagai saksi maupun bukti-bukti nyata saat kejadian.
Perlu dijadikan perhatian bagi kita… sebagaimana yang tertera diatas.. untuk kaum kafir yang terlibat dalam urusan memerangi maupun yang tidak memerangi… ada sebuah landasan yang harus selalu dijadikan tolak ukur… bahwa kita tidak hidup dalam negara yang berlandaskan hukum-hukum Islam. Sehingga setiap kejadian yang berkaitan dengan perselisihan diantara golongan-golongan yang ada di Indonesia ini.. tetap harus dikembalikan penyelesaiannya pada negara sebagai pengayom. Negara sendiri harus berusaha menegakkan keadilan yang seadil-adilnya bagi seluruh warga negara… INI ADALAH SEBUAH ATURAN BAKU YANG HARUS DI PATUHI OLEH SETIAP KOMPONEN BANGSA. Jika ternyata ada satu golongan yang merasa tidak diperlakukan dengan adil ketika terjadi konflik… sekali lagi tetap ada jalur penyelsaian yang harus dilewati mulai dari banding atas keputusan hingga pengaduan kebadan-badan terkait.. misalnya MUI, Mahkamah Konstitusi dsb-dsbnya… Jangan jadikan tindakan main hakim sendiri sebagai sebuah penyelesaian masalah. Sungguh Islam itu selalu berusaha menjadi “YANG MENEPATI KOMITMEN”
Sekali lagi yang penting… kita harus berusaha menyikapi setiap kejadian, terutama yang bersinggungan dengan kepercayaan ataupun golongan lain, dengan selalu bertujuan meningkatkan akhlaqtul kharimah (hick hick hick saya tahu ini hal yang gak mudah… ) menjadi manusia yang mulia… sehingga kita dapat mempertanggung jawabkan… martabat kita dihadapanNYA kelak…
(SEE POSTINGAN BERIKUTNYA : “Siapa sih… kafir???”

Emanuel Setio Dewo berkata
He he he (sambil nyengir) mohon maaf jika ditafsirkan demikian.
Sebetulnya komentar anda telah saya jawab… memang kesannya saya “samarkan”.. agar tidak terlalu vulgar. Yah.. kalau anda ingin jawaban saya yang jujur.. adalah “Bisa jadi Ya..” (melecehkan dan terkena pasal dalam KUHP tersebut) jika niatannya memang untuk tujuan pelecehan… dan ini harus dibuktikan dengan proses peradilan dengan dukungan data maupun saksi.dan “bisa jadi tidak…” jika memang hal ini diucapkan sebagai penegasan atas keadaan dari orang yang dikenai ucapan tersebut.. bukan untuk maksud pelecehan. Oleh karena itu.. dalam penjelasan yang panjang lebar… saya ingin mengajak sahabat-sahabat disini memahami dulu.. istilah kafir..(murni berdasarkan petunjukNYA.. DIA Yang Maha Mengetahui) dan sekaligus bagaimana bersikap menghadapi kaum kafir.. menurut Islam agar tidak ada sikap atau pemikiran yang hanya semata-mata berdasarkan nafsu manusia.. dan nafsu iblis.
Kalo masi boleh sy bicara, saya tambahkan disini ‘Bukankah tidak ada 1 agamapun yg tidak mengkotakkan diri. Untuk itulah Islam mendirikan dakwah. Untuk itu ada istilah zending juga misionaris. Ya jujur tujuan kegiatan-kegiatan tersebut untuk mengajak masuk ’ke dalam kotak’.
sedangkan ‘kotak’ yg lain dlm Islam sendiri , yaitu fasis, munafik dsb, sungguh hanya org tsb dan Allah yg tahu, sehingga tidak mungkin manusia bisa ‘melabel’ org lain, menyatakan orang lain tersebut dalam kotak-kotak yang mana, apalagi sampai melakukan pelecehkan, (jujur, jangan pernah ada yg berani memberikan label-label tersebut.. Sungguh berat sangsi Allah.. )
Mohon dapat dipahami… Sebelumnya terima kasih untuk kesediaan anda berkomentar disini.
namakuananda berkata
Itulah sahabat… mangkanya saya lebih suka untuk kembali mengacu.. pada Yang Menciptakan… kata “kafir” itu… yaitu Allah swt.. Yang dapat kita baca dari Firman-firmanNYA yang saya cantumkan dalam postingan diatas… apa artinya…, siapa mereka dan bagaimana sebaiknya kita memberlakukan mereka.
Sungguh saya sangat takut… untuk bersikap sewenang-wenang dan mengakibatkan seseorang terdzholimi.. jika saya sempat mengucapkan kata itu… Biarlah.. semua itu Allah yang berfirman… kita sebagai hambaNYA.. hanya melakukan sesuai apa yang menjadi ketentuanNYA.
Emanuel Setio Dewo berkata
Subhanallah… Sayapun demikian adanya, dalam hal ini sepakat dengan pendapat anda.. dan sesungguhnya prinsip dalam Islampun demikian adanya. Tidak akan pernah rela Allah sebagai pemilik Islam.. jika ada hamba-hambaNYA.. baik itu yang “mengaku” Islam maupun yang tidak.. saling mendzholimi sebagaimana saya kutipkan diatas…
“Doa seorang yang teraniaya (diperlakukan tidak adil), meskipun ia orang kafir, tidak ada tirai yang menutupinya (untuk dikabulkan).” (HR. Ahmad dalam “musnad”nya).
Ini adalah sebuah kutipan yang nyata… bagaimana azas keadilan itu akan diterapkan. yah.. azas keadilan.. sangat-sangat dijunjung tinggi dalam Islam.
Sebaliknya… dengan pengetahuan yang anda milikipun… saya yakin anda cukup paham.. gejolak-gejolak yang timbul dibanyak bagian dunia saat ini.. karena tuntutan.. kaum muslim untuk mendapat keadilan… seperti dalam postingan “Surat dari seorang sahabat bernama Fatimah”
Yah.. Fatimah tidak hanya menanggung tudingan kata-kata tapi… jauh jauh lebih berat dari itu.
Mudah-mudahan anda.. dengan kemampuan analisa dan pengetahuan yang anda miliki dapat lebih bersikap arif… bersama menjalin hubungan keagamaan yang baik.. dengan saling menyadari.. bahwa ada tengang rasa.. ada saling menghargai.. ada saatnya untuk memberikan ruang pada sebuah golongan untuk melakukan ritualnya… dan tidak saling “usil” satu sama lain… tidak saling memaksakan kehendak.. dsb-dsbnya.. baik untuk hal yang sangat kecil..(seperti memanggil dengan sebutan tertentu seperti yang anda tuliskan) hingga yang sangat krusial.. (pertumpahan darah maupun antar negara)… Jujur… didepan maupun dibelakang.. dihati maupun disikap…
Semoga Allah akan memberikan Hidayah pada kita semua.
Emanuel Setio Dewo berkata
Dgn sangat menyesal sy tidak dpt sependapat dgn anda untuk soal ini. Karena kata dan arti kafir tidak dr manusia. Tp langsung dr Allah, (tidak mungkin ada manusia yg lebih tahu daripadaNYA) bagian pemahaman atas Islam yg dijadikan ‘way of life’ dan ‘life style’ seorang muslim. Maaf sekali lg.
Dan sy sungguh tidak berani berandai andai sebagai Allah. Sy tak berarti dibandingkan DIA yg Maha Agung. Ilmuku tak sebanding dgn ilmuNYA, bagaikan setetes air dgn seluruh samudra di dunia. Ada hak preogratif Allah yg tidak pernah dpt sy uraikan dgn analisaku. Jadi jelas label kekafiran adalah label darINYA, DIA pasti tidak salah sungguh kesalahan ada pada umat manusia dlm hal ini adalah dgn mengekploitasi menjadi komoditas perpecahan.
Emanuel Setio Dewo berkata
Saya kira anda sudah mulai memasuki area “TOO MUCH”… 3 komentar terakhir anda mulai bernada pelecehan dengan cara yang halus…
Sekali lagi saya sampaikan bahwa :
1. Sebagai seorang beragama.. kita punya keyakinan yang berbeda baik dari cara kita memahami, menjalankan dan menjadikan itu sebagai jalan hidup kita. (Ini sebuah kenyataan yang jelas dan jujur…)
2. Sebagai seorang warga negara dari sebuah negara.. yang sama dimana saling toleransi terhadap setiap pemeluk agama dinegara Indonesia ini sangat dijunjung. Dengan sikap anda yang…..(gituuuu) yaitu berusaha menyampaikan pendapat dengan “pemaksaan” dari berbagai macam sudut kepada pemeluk agama lain.. dan sikap anda yang…. (gituuu) walaupun saya sudah coba jelaskan dengan sangat hati-hati dan penuh penghargaan kepada anda sebagai “sesama manusia” bahwa pemikiran anda “TIDAK AKAN PERNAH MASUK” kepada saya (Insya Allah.. karena hanya kepada DIA aku bergantung) telah anda abaikan.
3. Postingan yang saya tulis.. adalah jawaban pertanyaan anda tentang kafir.. cukup jelas adanya dari sudut pandang saya. Siapapun dia orangnya pasti akan jelas memahami tulisan saya.. bahkan telah diperjelas lagi dalam jawaban atas komentar anda.(Yang anda tuntut.. adalah jawaban saya berdasarkan pandangan saya ataukah jawaban berdasarkan pandangan anda???)
Maaf kalau akhirnya saya menilai anda sebagai orang yang ternyata… tidak mampu bersikap dewasa dan mampu menghargai pendapat orang lain.. bahkan cenderung memancing emosi pembaca…
Oleh karena itu.. mempertimbangkan ini adalah forum terbuka.. dimana berbagai macam tingkat pemahaman dan kedewasaan terlibat didalam sini.. saya akan menutup seluruh komentar yang berkaitan dengan ini.. (kecuali komentar-komentar yang tahu unggah-ungguh… tata krama.. tepa slira… sebagai manusia yang bermasyarakat, warga negara Indonesia yang baik juga sebagai umat agama..) Agar.. postingan ini tidak digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab… sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu.
Jika anda tetap merasa tidak terpuaskan dengan apa yang telah saya tulis… dan masiiihhh saja penasaran. tolong baca tulisan saya dibawah ini, begitulah pandangan saya terhadap agama dan pola pikir anda.:
1. Bagimu adalah agamamu dan bagiku adalah agamaku.
2. Kebenaran hanya dapat dibuktikan nanti… Sebaiknya kita bersabar dan menunggu hari pengadilan itu tiba untuk membuktikan sesungguhnya kebenaran itu.
3. Ada sebuah kaum.. yang bagaimanapun engkau berikan pengertian kepada mereka.. itu tidak berarti apa-apa.. karena Allah telah tutupkan mata. telinga dan hati mereka dari kebenaran… Bahkan mereka dengan sewenang-wenang akan merubah kebenaran itu sesuka hati mereka.
Sungguh siksa Allah sangat lah pedih.
Semoga.. setiap muslim.. akan selalu dijaga dan berada dalam jalan illahi
Emanuel Setio Dewo berkata
Hmmmm….dimaafkan..
Emanuel Setio Dewo berkata
Hmmmm.. sebaiknya.. andapun meletakkan kalimat “MOHON DIRENUNGI” dalam pemikiran anda juga… sehingga kita dapat sama-sama “break”.. dan kembali ke”track” awal… dalam hubungan saling menghargai dari 2 golongan agama yang berbeda…
OK????
Emanuel Setio Dewo berkata
Oke, Bu.
Tuhan memberkati.
LareOsing berkata
Subhanallah…. Ini adalah sebuah penjelasan yang “ces-pleng”…. Jazakallahu khairan katsiran
LareOsing berkata
Hmmm… jazakallahu untuk sudah mengingatkan… insya Allah saya akan ingat ini selalu
abu fuad berkata
wa’alaikumsalam warrahmatullaahi wabarakaatuh
Jazakallahu khairan katsiran…
Ini satu lagi pencerahan… yang luar biasa…
LareOsing berkata
Hmmm komentar ini untuk Abu Fuad??
Mudah-mudahan Allah berkenan… menyampaikan pesan ini… insya Allah
donzee berkata
Sahabat.. maaf saya kurang memahami isi komentar ini.. ada 2 perafsiran yang saya tangkap
1. Anda menambahkan bahwa selain apa yang saya tulis… masih ada satu golongan lagi umat yang ber”label” kafir???
2. Ataukah… maaf… anda tidak setuju dengan apa yang saya tulis… dan menganggap saya telah menaruh ayat-ayat Allah disini… sebagai hal yang murahan??? Dengan demikian anda mencoba mengingatkan saya???
(Atau.. apakah saya penafsiran saya malah gak ada yang benar ya???? )
Maaf… saya benar-benar tidak paham… mana yang anda maksud???
Ah… bagaimanapun… (apapun persepsi yang anda pilihkan untuk saya) saya tetap berterima kasih.. dengan demikian saya dapat memperbaiki diri.
yanti berkata
Kepada seluruh sahabat yang telah berkenan menuliskan ataupun membaca komentar dipostingan ini….
1. Pertama saya sampaikan Terima kasih… untuk yang non muslim dan Jazakumullahu khairan katsiran… bagi sesama muslim… untuk mau meluangkan waktu datang ke sini
2. Kedua Sebenarnya.. antara saya dan saudara dewo.. telah dicapai kesepakatan… (maaf… kami tidak menggunakan media ini lagi untuk berdiskusi… tetapi menggunakan e-mail dengan mempertimbangkan kebaikan semata) yaitu.. untuk tidak memperpanjang masalah ini lagi. 3. Ketiga Saya mempunyai kewajiban untuk menghargai saudara dewo yang telah mau datang ke rumah saya dan berbicara panjang lebar dengan saya.
4. Ke-empat. Saya mohon.. agar sahabat-sahabat yang meluangkan waktu untuk hadir disini… juga… memperlakukan saudara dewo dengan baik… dan tidak menyudutkan beliau… apalagi jika sampai menghakimi… Saya sangat percaya.. bahwa.. kebenaran bisa datang kapan saja darimana saja dan dimana saja… Sungguh kita tidak pernah tahu rencana Allah pada masing-masing orang… (maaf ya mas dewo… maaf… jika ada yang membuatmu gusar disini… saya percaya… engkau memang diciptakanNYA sebagai manusia yang baik dan mampu memilah-milah.. yang terbaik untuk anda)
5. Ke-lima Jika saya sempat “marah”… sebenarnya… saya bukan “kemarahan yang seperti itu” padanya… tetapi lebih pada… ketidak sukaan saya atas tindakannya kepada saya, yang berkesan memaksa-maksa saya… Yah.. setelah tidak ada lagi pemaksaan… ya sudah…
6.Ke-enam.. Tugas saya dan juga anda… adalah… “menyampaikan”… dipakai.. dibuang… disimpan.. diabaikan… ataukan di”pending”.. oleh orang yang menerima penyampaian… bukanlah.. urusan kita lagi… Dan saya percaya… Allah selalu punya rencana sendiri pada setiap makhluk.
abu fuad berkata
Yah… ini juga benar… subhanallah… Jazakallahu khairan katsiran
LareOsing berkata
He he he… maaf pengumunannya kurang gede.. ya… Maaf nanti aku pasang lagi…
Yah… jujur… “sahabat”… seperti mas dewo tidak sedikit..
mereka kadang juga bikin hati ini merasa tidak nyaman dengan celetukan-celetukannya…
Tapi…
Saya sering mengandaikan begini…
Ada satu jenis buah… yang sangat enaaak….
dengan berjalannya waktu… ternyata si-buah ini tak lagi seenak dulu… bisa jadi karena adanya penyakit tanaman atau juga karena “perawatan” pada sang pohon yang menghasilkan buah itu tidak lagi sebaik pada awal-awalnya…atau yah… apapun itulah…
Lalu… diketemukan.. buah jenis yang sama tapi… dengan varietas yang baru…
lebih manis… lebih sedap… lebih… menyehatkan.. lebih murah dan lebih mudah dijumpai dimana saja.
Yang “tergerak” untuk mencoba buah baru ini… pasti dapat langsung mendiksripsikan dengan tepat.. apa-apa yang menjadi keunggulan buah yang baru (Dan yang pasti jauh lebih baik dari varietas lama karena telah melalui “laboratorium Allah”)
Tetapi… ada saja.. orang-orang yang… bersikeras untuk tidak menerima varietas baru tersebut… tetap bersikukuh dengan yang buah lama… (apapun alasannya apakah karena turun temurun ataukah karena sentimen pribadi).. alih-alih mau memakan buah baru eh… mereka malahan mencoba mendiskripsikan buah tersebut hanya berdasarkan pandangan saja.
Apa yang terjadi…???
Tentu saja setiap apa yang dikatakan tidak dapat dipertanggungjawabkan… bukankah begitu???
Sikap kita???? sebagai orang-orang yang telah menggunakan dan merasakan manfaat buah varietas baru???
boleh kita marah??? boleh kita menghinakan mereka??? bolehkan kita menjauhi mereka???
(padahal di sisi lain… kita tahu pasti bahwa mengkomsumsi varietas buah lama… justru dapat mengakibatkan kerusakan dalam tubuh dan mengakibatkan kematian… fuih)
Yah… itulah yang saya rasakan….
Apapun yang mereka lakukan… apapun yang mereka katakan… saya mencoba untuk “bersimpati” dengan mereka…. (tentu saja batasannya… jangan jadikan simpati saya sebagai hal yang dapat membiarkan.. mereka menindas saya…)
Itu juga sebabnya… saya sangat hati-hati dalam memilih kata-kata dan contoh-contoh pada mereka..
Kembali pada komentar anda… saya percaya.. (jujur dan tulus) andapun berniat sama dengan saya.. tetapi jika dalam menulis komentar dianalogkan dengan beberapa status.. orang2 yang berbuat nista seperti koruptor, perampok, pencuri dsbnya……
saya hanya bilang…. please dong ah…..
(anda pernah bilang saya orangnya meledak-ledak… itu betul… tapi sayapun dapat jadi orang yang sangat-sangat sabar dan pengertian… jika dibutuhkan….. insya Allah.. selama itu membuat Allah akan ridho padaku… saya akan kerjakan… Anything… Ya Allah… Anything… I’ll do for YOU… *please bimbing aku ya Allah untuk selalu tetap dalam hati seperti ini kepadaMU.. tanpaMU… saya tak akan sanggup*)
donzee berkata
O gitu… jazakallahu ya…
Gak papa kan kalau saya nanya… biar jelas… dan gak ada “komunikasi salah”…
Subhanallah… sungguh mulia apa yang anda kerjakan… dan pasti anda juga mulia dengan melihat pengislaman tidak hanya berhenti saat berikrar… tetapi juga (subhanallah) mau terus membimbingnya… Semoga Rahmat Allah selalu ada dalam diri Anda. Amin
(Ada sahabat kita yang seorang mualaf,.. yang subhanallah telah jauh-jauh.. bersinar… jika ada waktu silahkan.. kunjungi “mualaf menggugat”.. she’s a great woman…)
abu fuad berkata
saya setuju kalau diskusi ini dilanjutkan meskipun sifatnya internal saja (muslim), karena konsep kufur ini perlu juga difahami ummat Islam agar mereka terhindar dari kekafiran.
Siapa sih….Kafiirrr???? « Maaini’s Weblog berkata
[...] Dari postingan ku sebelumnya… “KAFIIRR????” saya banyak menulis… (panjang lebaar kali yaaaaa) tentang definisi “kafir… [...]
yanti berkata
Para Sahabat dirahamati Allah… saya setuju dengan pendapat dari sahabat kita Abu Fuad…
Hanya jika tidak keberatan… kita bikin postingan baru ya… Siapa sih… kafir???karena postingan ini awalnya saya tulis.. untuk menanggapi seorang sahabat non muslim…
Tujuan dibuat posting baru adalah untuk menghindari adanya salah pengertian dari sahabat non muslim….
Terima kasih untuk pengertiannya…
Dan untuk sahabat non muslim… mohon.. jika anda tidak melanggar.. apa yang saya minta.. dan hargai dari anda…
Terima kasih
yanti berkata
DENGAN SEGALA HORMAT DAN TERIMA KASIH… KEPADA SEMUA SAHABAT YANG TELAH MEMBACA DAN MENULISKAN KOMENTAR DISINI… SAYA MENUTUP FORM KOMENTAR DISINI. JIKA MASIH DIANTARA SAHABAT MASIH BERKENAN UNTUK MENERUSKAN DISKUSI INI… SILAHKAN KLIK DI
Siapa sih… kafir???
JAZAKUMULLAHU KHAIRAN KATSIRAN