“10 Hari Berhijab”

 

“10 Hari Berhijab”

Ass wr wb

Hari-hariku ketika menjalankan hijab.

Hari 1.

Dengan bismillah dan niatan (insya Allah) ikhlas, saya mulai mengantar putra-putriku ketempat mereka menuntut ilmu. Hari ini memang beda dengan hari hari lainnya, hari ini saya mulai menjalankan hijabku secara maksimal, yang Allah ijinkan.

Pertama pertanyaan terlontar dari putraku, “Ibu, apa yang ibu pakai? Kenapa?” Dengan penjelasan bahwa ibu ingin lebih menjaga mulut dan hati ibu, iapun terdiam.

Reaksi “mulai” terasa lebih tajam ditempat putri bungsuku menjalani terapi. Tidak ada pertanyaan langsung, hanya ekpresi kaget dari teman-teman yang biasa menunggu terapi. Alhamdulillah dengan penuh rasa ikhlas saya terima. Saypun tidak ingin menjelaskan apa-apa.
Sesuai dengan jadwal yang sudah saya rencanakan, hari ini saya meninggalkan putriku, menuju ke sebuah sekolah Islam yang akan, insya Allah, mendidik putri bungsuku awal tahun ajaran 2008. Sekali lagi ekspresi kaget, (hmmm saya merasa seolah saya adalah makhluk ET yang muncul dari negeri antah berantah). Alhamdulillah sekali lagi saya masih diijinkanNYA untuk menerima.

Tiba dirumah dengan putri bungsuku, putri sulungku menyambutku dan tertawa, “Ibu apa yang ibu pakai?, Ah ibu seperti teman-temanku saja” (maklum putri sulungku ini aktif dipengajian disekolahnya). Dan ia diam ketika saya beri penjelasan yang sama dengan penjelasan pada putraku.

Hari ke2.

Bismillah, saya bersiap lagi menghadapi. Setelah mengantar putraku, saya menuju tempat terapi putri bungsu. Ditengah jalan saya menerima sms, seorang sahabat mengundangku ke toko bukunya, karena pesanan buku-buku dariku sudah ada.

Pengalaman hari pertama yang cukup menbuatku merasa “deg-deg”an, meragukan langkahku untuk pergi kesana. Alhamdulillah ada kekuatan yang mendorongku untuk “terus” maju. Setelah memastikan putriku masuk ruang terapi, sayapun menuju ke kawasan pondok gede.

Allah menentukan lain!!, saya tidak berjumpa dengan sahabatku (krn ada halangan ia tidak dapat hadir). Alhamdulillah sekali lagi saya “merasa” saya melewati ujian Allah atas niatanku berhijab, krn saya tidak jadi mengurungkan niatan untuk mengujungi sahabat.

Belum hilang “deg-deg”an. Tetangga menelpon, mengajakku menengok putri sahabat yang dirawat di RS. Ya Allah, sekali lagi saya tahu saya tidak boleh mundur. Ini adalah hal yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW, menjenguk orang sakit. Bismillah dengan berketetapan hati untuk menjalaninya, saya melaju dengan motorku. Subhanallah, lagi-lagi Allah menentukan lain, walaupun saya sudah sampai di rumah sakit, rencana dibatalkan, karena pasien sedang dalam pemeriksaan medis.

Sampai dirumah, dengan putri bungsuku, saya memutuskan untuk mampir dirumah tetangga. Ada beberapa orang tetangga disana, Lagi-lagi ekspresi kaget dan menarik diri, spontan mereka tunjukkan. Ya Allah saya tidak tahu darimana kekuatan itu, tanpa ragu dan salah tingkah saya mencoba menjelaskan kedatanganku, yaitu menanyakan ttg keadaan putri sahabat dan kapan kami akan menjenguknya.

Oya ada satu pertanyaan yang terlontar, tentang apakah saya sudah “serius” ataukah hanya untuk menahan debu. Hmmm saya memang sering “perpakaian rapat” ketika mengantar jemput putra’iku, maklum naik motor. Insya Allah Insya Allah.

Ya Allah akhirnya saya pulang dengan hati yang penuh rasa syukur, Engkau, dengan kasihMU masih memberiku kekuatan untuk menerima “reaksi-reaksi” dengan lapang dada.

Hari ke 3

Dihari ini, seperti biasa, saya “mengajar” putri bungsuku berenang. Didekat rumah ada sebuah kolam renang yang buka khusus untuk wanita dihari rabu dan jum’at.

Setelah itu, saya menjenguk putri sahabat. Alhamdulillah, ananda sudah membaik insya Allah akan segera pulang.

Hmmm mungkin karena sudah lebih “kebal” hari ini, saya tidak begitu banyak peka lagi dengan keadaan sekeliling. Tapi.. tetap saja saya merasa bersyukur dapat melewati satu hari lagi dengan “lebih baik”. Sungguh ada banyak hal yang memicuku menggunakan “hijab”, diantaranya wajah damai almarhum penyanyi Roker “gito rollies”. Wajah terakhir yang membikin saya iri, ingin bisa seperti beliau, dan “ketakutan” apakah masih ada kesempatan untuk saya “berjuang”, karena sungguh saya tidak tahu hidupku untuk detik berikutnya.

Hari ke 4

Lagi-lagi. Ekspresi kaget, curiga dan menarik diri, dari teman-teman yang menunggu kursus putra/inya. Jadwal hari ini, saya menunggu putra saya les bahasa Inggris dan matematika. Alhamdulillah hari ini, saya mulai “santai” dan menikmati reaksi tersebut. Alhamdulillah buku yang saya bawa habis saya baca (biasanya selalu diselingi ngobrol… ya komentar ya… (masyaAllah) ghibah dengan teman-teman). Inilah manis hikmah yang Allah janjikan. Insya Allah saya tidak akan menyesali keputusan saya.

Ada yang menarik hari ini, putri sulungku dan putraku kembali bertanya. Pertanyaan mereka lebih “berbobot”. Mereka menanyakan kriteria aurat bagi muslimah. Hmmm I proud of them. Saya bersyukur bahwa saya diberi Allah anak-anak yang cerdas dan berpikiran islami. Alhamdulillah ya Allah. Sekali lagi saya jelaskan, bahwa dengan kondisi seperti sekarang ini, saya menjadi lebih nyaman, dan merasa “terjaga”. Saya bisa melihat ada raut kebingungan diwajah mereka. Ya… Saya tidak akan memaksakan mereka menerima saya, perlu proses.

Hari ke 5.

Swimming day. Diantara “keberkahan” yang saya rasakan hari ini adalah, putriku masuk ke tahap3 dari pelajaran renang, mengayunkan tangan bergantian. Sudah lama saya kesulitan menentukan metoda yang tepat untuk itu. Sungguh Allah, MahaBesar dan Pemurah, dengan bimbingan seorang pelatih renang yang hari itu berada disana, terbukalah jalannya. Ibu pelatih yang baik, insya Allah saya tidak akan pernah melupakanmu.

Buatku ini adalah cara Allah menunjukkan kasih sayangNYA, sebagai “balasan” atas kepatuhanku.

‘BOOM”. Akhirnya datang juga reaksi yang sebetulnya sudah saya perkirakan, tapi masyaAllah not this big. Orang yang paling saya kasihi, paling saya “puja” dan “guru besar” untukku, suamiku tercinta, “Prinsipnya saya belum bisa menerima, bila adik lakukan”, waktu saya ceritakan “perkembangan” hijabku. I’am schock. Hmmm kumat deh.. “sesak napas”ku.

Lepas maghrib hingga menjelang tengah malam, saya “berjuang” mengikhlaskan semua “ketentuan” Allah. Kasihan juga anak-anak, hanya Allah yang tahu apa yang ada dihati mereka melihat saya “megap-megap” dengan berurai airmata. Dengan patuh mereka saling mengurus diri. Lalu berangkat tidur. Di heningnya malam saya berusaha menelaah dan menerima, sebagaimana dijelaskan dalam “literatur2″ bukan masalah yang utama tentang perbedaan pengertian hijab. Karena dari setiap paham, sebetulnya ada firmanNYA yang digunakan sebagai acuan. Alhamdulillah waktu kubersimpuh dan bersujud, ketakutanku untuk tidak mendapatkan kasihNYA, lebih besar dari ketakutanku tidak mendapatkan kasih suamiku. Ya Allah saya pasrah pada kehendakMU. Alhamdulillah”megap-megapku” hilang.

Hari ke 6

Life must go on. Hari ini saya lebih banyak di rumah. Pertama karena secara mental saya belum pulih benar, Kedua memang dihari sabtu, saya tidak punya jadwal rutin. Saya habiskan waktu dengan “belajar” bersama putri bungsu, mengatur file-file dalam komputer. Oya.. saya juga “berselancar” mencari bahan-bahan pengisi relung hatiku.

Hari ke 7

Kemarin suamiku(kami terpisah kota) minta dicarikan buku “Semesta Alam Mendukung”. Ya Allah saya deg-degan lagi, krn harus ke”Mall”. Lucu juga, karena selama ini, saya yang dikenal dengan “travelwati”, karena selalu pergi dan pergi.. Gak berani ke Mall. Saya ajak anak-anak untuk menemani. Awalnya mereka bersemangat, tiba-tiba saya melihat ada yang berubah diwajah putri sulungku. Muram. Saya tanyakan dan beri dia kesempatan untuk menentukan pilihan, kalau tidak berniat ikut saya mengijinkannya untuk tetap. Tidak,katanya, saya ingin ikut bu. Alhamdulillah pergilah kami bersama-sama

Mula-mula saya berpikiran, putri sulungku kesal dengan adik-adiknya, ya… maklum anak-anak ada saja “cerita” diantara mereka. Tapi.. dia menjaga jarak ketika kami berjalan diselasar mall (biasanya dia paling suka menempel disisiku, sambil berkomentar dan berdiskusi tentang barang-barang pajangan ditoko-toko). Puncaknya mata indah itu basah oleh airmata, saya masih berpikiran bahwa dia adalah masalah dengan kawan-kawannya, karena selama ditoko dia tidak berhenti sms. Saya tanya dia hanya menggeleng dan diam.

Dirumah, sekali lagi saya dekati dan bertanya, tetap diam. Saya peluk dia, dan dia menangis terisak-isak dipelukanku.

Kehabisan akal, saya telpon suami, saya ceritakan tentang putri cantik kami. Lalu… “BOOM”. Rupanya ia sudah terlebih dahulu sms bapaknya. And..She’s shame on me. She cant except what i did. Ya Allah

Sekali lagi, suamiku “menyuarakan” isi hatinya. Tentang apa yang harus suami dan anak-anakku hadapi, dengan tindakkan ‘berhijab” ini. Hmm maybe he’s right. Saya tidak boleh “egois”. So…????

Suamiku bicara tentang beban berat yang akan segera dia tanggung sebagai konskwensi beristrikan perempuan yang ingin”berjalan lurus”. Dia akan terdorong pada level yang “tinggi” sebagai pengayomku. Akan ada hal-hal yang mengharuskannya bekerja, dan berjuang 2x mungkin lebih……………….. Hmmm I’am sad. I love him. Saya sebetulnya membayangkan iapun akan meningkat “derajat”nya dengan apa yang sudah saya lakukan, karena bukankah seorang pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Kalau hasil kepemimpinanya bagus….. insya Allah…

Untuk putri sulungku dan putraku tercinta (saya tidak sebutkan putri bungsuku, karena dengan “kondisinya”, apa yang saya kerjakan tidak terlalu “berpengaruh”) Ibu tahu betapa berat tekanan dari sekelilingmu. Diusiamu yang sedang “peka”, ini pasti “pukulan” yang telak. Ya Allah sekali lagi saya hanya bisa pasrah dan berharap tebaran kasihMU akan mengobati luka-luka dihati kami… I don’t have anyword to say … (ps… ada surat untukputri sulungku yang saya muat disini)

Kisah-kisah perjuangan muslimah terbayang satu demi satu.

Bukankan yang dikasihi Allah, Maysitoh, rela kehilangan suami dan anak-anaknya dalam kobaran api, dibunuh oleh Fir’aun, karena beliau tidak mau murtad? apalah artinya ini bila hanya sekedar ekspresi kaget dan hinaan kata-kata?

Bukankah ketika pertamakali orang mengenakan jilbab, mereka terusir dari keluarga dari dunia pendidikan? Alhamdulillah sekarang para muslimah dapat leluasa menggunakan jilbab.

Apa yang saya kerjakan bukan apa-apa. dibandingkan, Masitoh, dibandingkan dengan para perintis jilbab. Ya Allah hanya kepadaMU saya berserah. Sungguh yang benar pasti benar.

Lalu,… Bismillah I decided, saya akan “menghindar” sementara dari kehidupan suami dan anak-anakku. Saya hanya akan dirumah dan ada bila di”butuh”kan. Saya akan biarkan mereka “berjalan” tanpa saya dampingi kemana-mana seperti selama ini saya lakukan. Saya sadar saya bukanlah “kebenaran” mutlak, saya tidak ada di pertandingan “salah-benar” atau “kalah-menang”.

Islam adalah agama yang penuh cinta, saya tidak ingin “menyakiti” anak-anak dan suami. I love them. Hijab inipun saya lakukan karena cinta saya pada mereka. Ini cara saya juga menyatakan cinta saya pada mereka dan salah satu sebab saya berhijab. Ini cerita “behind the scene”….

Suatu hari ditempat terapi putri bungsuku, saya bertemu seorang bapak dan istrinya, menunggu putranya terapi. Saya saat itu, sudah “menutup” diri, mengenakan gamis, berkerudung panjang, dan tidak bermake-up. Ya Allah hanya Engkau yang Maha Tahu, apa yang bergejolak dalam hatiku, menyadari tatapan nanar bapak tersebut (dengan istri disebelahnya) yang tidak berkedip kearahku. Dalam keadaan yang sangat “haru biru”, itulah kesadaran muncul dari dalam hati, bahwa apa yang saya kenakan belumlah cukup jadi hijab untukku. Dan sebab timbul nafsu bervariasi. Tidak semua yang cantik atau muda atau sexy saja yang akan “menarik”, kadang yang “biasa”pun bisa memicu. Kewajiban sebagi seorang muslimah, sebagai seorang istri, sebagai seorang ibu, untuk selalu menjaga “cahaya muslimah” bercahaya didalam diri, terlindung dari segala bentuk yang dapat memudarkan cahaya itu.

Dan Alhamdulillah ya Allah, bersamaan dengan saya menutup diri, kebaikan-kebaikan dan proses untuk “berlari” mendekatiMu kian lancar. Apa yang kukira sudah tak mungkin berubah (dengan sifat asli saya yang sangat tidak sabaran, emosional, meledak-ledak) jadi “terhentak”. Saya tahu langkah-langkah saya masih jauh dari gambaran muslimah sejati, saya masih harus banyak belajar, berjuang dan melangkah. Mudah-mudahan Allah sudi menjaga apa yang sudah kuraih, dan mau memberiku kesempatan untuk terus melangkah.

Ya Allah yang Maha Agung… Aku pasrah pada kehendakMU

PS: Ada banyak “BOOM” lagi, dari keluarga suami, keluargaku, kawan-kawanku, tetangga, kerabat jauh, kawan-kawan suami, kawan-kawan anak-anakku… dsb-dsb Hmmm saya harus bertanya pada Almarhumah Lady Di, bagaimana menguatkan azam berjalan dilapangan ranjau…… (Hmmm suamiku protes dengan memasang nama Lady Di disini, katanya beliau bukan “panutan” untuk muslimah…. Hmmmm saya hanya teringat bagaimana hebohnya keluarga kerajaan dan rakyat Inggris ketika beliau dengan gagah berjalan diantara ranjau-ranjau di arena medan perang, its like me now… I face with “another boms”…, and i pray Allah will give me the “spirit” to walk)

Hari ke 8

Pagi-pagi putraku mengeluh sakit mata,… Mata kanannya sedikit berwarna merah. Padahal besok ia akan pergi studiwisata, sesuatu yang sudah lamaaa ditunggu-tunggunya. Agar tidak “menjadi” saya ajak ia berobat.

Hmmm disaat-saat kami menunggu antrian dokter di salah satu rumah sakit, adalah saat-saat yang membahagiakan untukku. Kami berbincang-bincang banyak, matanya berbinar-binar ketika itu, sesekali ketika ia merasakan “ketidak nyamanan” diletakkannya kepalanya dipangkuanku. Alhamdulillah putraku tidak lagi “menghiraukan” tatapan mata disekeliling kami, alhamdulillah sungguh Engkau selalu memberiku cahaya disaat-saat kuterpuruk. Dengan berjalannya waktu putraku mulai belajar “menerima”ku. Ini adalah karunia Allah tak ternilai hari ini.

Hijab hari ke 9

Ada pelajaran menarik tentang “keikhlasan”.

Sepulang dari dokter kemarin, putraku uring-uringan, dokter menyarankan untuk “istirahat” dirumah selama satu minggu. Saya paham betapa kecewa hati putraku tersayang. Sudah terbayang ia tidak dapat mengikuti studiwisata. Bapaknya, suamiku tercinta, memintanya untuk bersabar dan ikhlas. Ya.. bagaimanalagi ini adalah musibah yang tidak diminta ataupun direncanakan datangnya. Putraku mendengarkan petuah bapaknya dengan linangan air mata. Hmmm saya tidak tahu apa yang ada didalam pikirannya, yang terang setelah sholat ashar, putraku kelihatan lebih “tenang”. Ya Allah ringankan hati putaku, berilah kepahaman untuk apa-apa yang dianggapnya “sulit”. Tiba-tiba…..Subhanallah, sore kemarin… kawan sekelas putraku menelpon, menyampaikan berita dari walikelasnya, bahwa putraku diijinkan untuk ikut studi wisata dengan syarat menggunakan kacamata hitam. Wah-wah… (tidak ada kata-kata yang cukup mengambarkan reaksinya saat itu) Alhamdulillah ya Allah

Jadilah pagi ini putraku… pergi dengan kawan-kawannya. Wajahnya… sungguh tampan dengan kebahagiaan yang sempurna.

Sungguh hanya Allah yang dapat menjawab doa-doa kami… Hanya Dia Yang Berkehendak, dapat merubah apapun dalam sekejap mata. Alhamdulillah wa syukurillah.

8.30.. “BOOM” my mom….. ada didepan pintu rumahku, beliau tinggal di kota lain yang cukup jauh….

Ya Allah saya tidak akan melawan apapun kehendakMU. Saya hanya tahu Engkau adalah Dzat yang sangat sempurna, Yang Sangat Penyayang dan Pengasih, yang memberikan perintah karena kasih dan sayangMU. Sungguh tidak ada yang lebih tahu arti kebaikan untukku selain Engkau.

Hari ke 10.

Sampai hari ini, my mom belum bicara apa-apa. Hanya wajahnya yang segera “berubah” ketika, ia melihatku menggunakan perlengkapan hijabku. Ya Allah….. saya tidak ingin juga memulai pembicaraan ini, biarlah semuanya mengalir seperti air, saya percaya, Haqul Yakin, bila saya tetap”berjalan” seperti saat ini, Allah akan selalu menuntunku, membimbingku ke arah yang IA mau.

Kemarin ketika kami (saya dan suamiku) berbincang, kami memang dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh, tapi alhamdulillah komunikasi diantara kami cukup lancar, beliau menyampaikan. Pada dasarnya beliau tidak melarangku menggunakan cadar, karena saya tidak menyalahi aturan Islam, malahan ada “dasar-dasar” hukum yang cukup jelas. Hanya saja, beliau belum siap menerima. Dan harapan indah terdengar di telingaku, Mudah-mudahan ketika kami bersatu kembali (tinggal sebulan lagi habis masa tugas suamiku dikota itu,insya Allah) “keIslaman” kami sekeluarga akanlebih baik. Ini adalah kata-kata manis yang terasa demikian sejuk menyusup dalam relung kalbuku. Alhamdulillah ya Allah, pagiku sudah kau isi dengan kebahagiaan.

Hmmm memang si…saya cukup paham dengan apa-apa yang dirasakan oleh suami dan anak-anak tercintaku. Saya saja yang memang berniat dan cukup mempersiapkan diri, ( terutama dengan adanya kemungkinan-kemungkinan penolakan, baik itu dari diri sendiri, suami, anak-anak, keluarga suami, keluargaku, lingkungan tetangga, lingkungan bisnis dsbnya), merasakan banyak “kejutan” dan “boom”, apalagi mereka. Maafkan ibu nak. Maafkan istrimu, suamiku.

Memang sebelum saya kenakanpun saya sudah “sosialisasikan” dengan menunjukkan cadarnya, dan mengenakan didepan mereka, bahkan kami sempat bercanda saat itu. Tapi rupanya antara “melihat” dan “mengalami” memberikan pengalaman batin yang berbeda

Alhamdulillah putri sulungku sudah mulai “mencairkan kebisuan” diantara kami. Terima kasih sayangku. Terima kasih untuk kebaikan hatimu membuka pintu pemahaman. Buatku.. that’s enough now… Buat saya ini sudah sangat berarti. Apa-apa yang anak-anak lakukan saat ini, walaupun hanya sebuah tindakan yang kecil membuatku seperti “bergelas-gelas madu” mengalir ke tenggorokanku. Nikmat sekali…. Ya Allah sungguh selama ini saya kurang “mensyukuri” nikmatMu menjadi seorang ibu dan menjadi seorang istri. Ampuni saya ya Allah.

Penutup

Ternyata, apa yang saya lakukan juga “menarik” perhatian orang-orang disekelilingku.

Hari ini, saya mengunjungi sebuah bakery yang ada didekat rumah, saya sering membeli disana, karena rasa kue-kuenya yang cukup enak dan terjangkau harganya. Waktu akan membeli, sang penjual, mengatakan kalau kue yang saya mau itu diberi “rum”…. saya beralih ke kue yang lain… jawabannya sama kue inipun diberi “rum” dan (katanya lagi) hanya roti yang tidak mereka tambahkan “rum” dalam pembuatanya. Ya Allah saya tidak tahu harus bicara apa lagi. Ampuni saya ya Allah, entah sudah berapa banyak kue yang saya, keuargaku, teman-temanku makan. Karena sebelum saya datang dengan bercadar, mereka mengatakan hanya menambahkan “essence” ke dalam kue-kue mereka. Sungguh saya salut dengan “keberanian” sang penjual menyampaikan hal ini padaku. Semoga Allah akan memberikan juga “cahaya” baginya dan diampuni semua kesalahannya.

Saya tidak akan berputus asa dengan kasih dan sayang Allah. Sampai kapanpun saya akan terus berjuang. Ya Allah hanya padaMulah kami menggantungkan harapan, bimbinglah kami Ya Allah. TanpaMu tidak akan mampu kami menghadapi. Amin ya Rabbil Alamin

Iklan

Komentar ditutup.