Minyak Tanah

Senin pagi, 24 maret 2008, kebetulan saya keluar rumah jam 04.30.

2 ibu membawa jirigen melintas didepanku.

1 anak membawa jirigen terlewati motorku

3 perempuan membawa jirigen berpapasan.

Ada apa? Kemana mereka dipagi yang sangat gelap ini?

dari jauh saya melihat ada sekerumunan orang. Ada apa?

Ya Allah… ternyata mereka sedang “mencari” minyak tanah!!! Kemana saja saya selama ini??? sampai-sampai saya gak tahu “perjuangan” ibu-ibu disekelilingku. Hmmm…saya memang, cukup “beruntung”, gak pernah ribut dengan minyak tanah. Dirumah, saya menggunakan gas elpiji. Tinggal angkat telepon… tabung gas sudah ada didepan pintu.

Ya Allah… . Tapi apa yang sebenarnya terjadi dengan negaraku tercinta? Maafkan saya, Saya memang gak bisa berbuat banyak untukmu Indonesia. Saya hanya seorang ibu Rumah Tangga, yang kerjaku urus anak, suami dan rumah. Saya pernah coba SMS ke nomer yang (katanya) milik bp Presiden kita tercinta. Tapi… kok gak ada perubahan. Saya gak berani datang dan ngadu ke pejabat negara, la wong ngadu ke pejabat RT aja, seringkali susah ketemu dan gak didengar….

Tapi ya Allah….saya gak mau anak-anak dan cucu-cucuku “menderita” (naudzu billa min dzalik)

Menderita karena gak ada tempe dan tahu, menderita karena mesti pake lampu “teplok” karena listrik mahal, menderita karena gak bisa beli obat, menderita karena gak bisa sekolahin anak…. (itu semua bisa saja terjadi di rakyat Indonesia…. wong sekarang aja sudah ada yang bernasib seperti itu)

ya Allah disisi lain…. sajian di TV sangat “menggugah”. Group Agung Sedayu…, dengan promosi “rumah berkelas”. Matahari group dengan sale, sale dan sale. Wisata Kuliner…. hmmmm segala rupa masakan tersaji…

Ya Allah, biarkan harta-harta kami hanya ada didalam genggaman dan tidak masuk kedalam batin. Ya Allah jadikan generasi-generasi setelah kami sebagai generasi yang berakhlaq mulia dan dengan sungguh-sungguh membangun negara tercinta ini.

Iklan

2 Komentar

  1. emma said

    Amiien,..(untuk doanya,..)

  2. jookut said

    I often feel what you feel. And I’m powerless and can only grumble about this matter. Whereas in fact I always feel my mother’s complaint. I see.

    Hmmm Indonesia… your people.. waiting for your attention…, your solving problem… please please…

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.