Muslimah…. Nusaibah bin Ka’ad

Hmmmm ini adalah kata yang sangat komplek….

Dulu…. saya “takut” dengan pengakuan sebagai muslimah…

Dalam “gambaran” di kepala saya, seorang muslimah identik dengan seorang wanita yang sangat lembut, penyabar, ikhlas, tidak pernah marah, keibuan, selalu penuh kasih sayang….harum tubuhnya terpancar, lemah gemulai, sekaligus cerdas dan penuh tanggung jawab…

(he he he untuk saya yang “hyper-aktif”… itu mah… impossible)

Terus-terang saya sudah… “minder” dan gak “PD” untuk bercita-cita jadi muslimah yang kaffah. Alhamdulillah… saya dapat informasi tentang yang satu ini… “Nusaibah Binti Ka’ab Al Maziniyyah” atau “Ummu ‘Umarah”… simak ya….

Ia bernama Nusaibah Binti Ka’ab Al Maziniyyah atau Ummu ‘Umarah adalah seorang wanita yang berperan penting d

alam perang Uhud. Beliau disunting oleh Zaid bin Ashim dan dikarunia 2 putra, Abdullah dan Habib (Keduanya menjadi sahabat Nabi saw dan menyertai beliau dimedan perang). Setelah suaminya meninggal, ia menikah dengan Ghaziyah bin Amin, dari pernikahan mereka lahirlah Tamim dan Khaulah.

Di awal perang, beliau bertugas untuk membawakan air dan mengobati pejuang yang luka-luka bersama wanita-wanita muslimah lainnya. Tetapi ketika perang mulai berpihak pada kaum muslimin, para pemanah tidak mematuhi perintah Nabi Muhammad SAW, sehingga kemenangan yang hampir ditangan kembali berpihak pada kaum musyrikin. Hal ini ditegaskan dalam AlQuran surat Aali ‘Imraan ayat 153ali-imran-153.jpg

“Dan ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seorang pun, sedang Rasul memanggil kamu dari belakangmu, lalu Allah menimpakan kepadamu kesedihan atas kesedihan supaya kamu jangan bersedih hati (lagi) atas sesuatu yang luput dari kamu dan terhadap musibah yang menimpa kamu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan(3:153)”


Pada saat itu, Nusaibah memutuskan untuk ikut bertempur.Dengan pedang dan panah ditangan, beliau dengan pasti
melangkah menuju Nabi Muhammad SAW yang dikelilingi muslimin-muslimin yang berperan sebagai tameng manusia untuk melindungi Rasulullah dari panah-panah kaum musyrikin. Setiap kali ada yang menyerang Rasulullah,Nusaibah dengan berani melawannya. Kemanapun Rasulullah berpaling, ada Nusaibah yang berdiri di depan Rasulullah untuk melindunginya. Bersama suami dan 2 putranya, ia melindungi Rasul saw dengan segenap kemampuannya. Tanpa perisai ia melindungi rasul, sementara sebagian besar pasukan Muslim kocar-kacir. Di antara orang-orang yang berlarian menjauh, ada seorang yang lari membawa perisai, iapun berseru : “Berikan perisaimu pada orang yang sedang berperang!”. Orang itupun melempar perisainya dan segera diambil oleh Ummu ‘Umarah. Sementara lawan mereka adalah pasukan berkuda Kum Musyrik.

Tiba-tiba datang seorang penunggang kuda memacu kudanya sambil menyabetkan pedang ke arah Ummu ‘Umarah. Ia menangkis tebasan itu dengan perisainya. Ummu ‘Umarahpun menebas kaki kudanya hingga penunggang kuda terjatuh.

Menyaksikan hal itu Rasul segera memanggil salah seorang putra Ummu ‘Umarah : “Ibumu! Ibumu!”

Dengan cepat putra Ummu ‘umarah datang membantu ibunya sehingga bisa melumpuhkan musuhnya itu.

Ditengah berkecamuknya perang, abdullah bin Zaid terluka di lengan kirinya, ditebas oleh seseorang yang sangat cepat datangnya dan berlalunya begitu saja, tanpa sempat dikenali. Melihat hal itu Rasulullah berkata “Balut Lukamu!”. Ummu ‘Umarah pun datang untuk membalut luka-luka anaknya. Usai mengikat luka, Ummu ‘Umarah berkata kepada anakny, “Bangkitlah! Perangilah orang-orang itu!:

Mendengar ucapannya, Rasul mengatakan, “Siapa yang mampu melakukan seperti apa yang kau lakukan, wahai Ummu ‘Umarah?”.

Kemudian datanglah orang yang melukai Abdullah. Rasulpun berkata,”Itu orang yang menebas putramu!”

Ummu ‘Umarah segera menghadangnya dan menebas bestisnya hingga orang tersebut terjatuh. Rasulullah SAW tersenyum hingga terlihat gigi belakangnya. Dalam perang ini , Ummu ‘Umarah menderita banyak luka-luka. Ketika itu Rasulullah SAW memanggil anaknya ‘Umarah dan berkata “Ibumu, ibumu, lihat luka-lukanya, semoga Allah memberkati keluargamu! Ibumu telah berperang lebih berani daripada yang lain”. Rasulullah mengatakan bahwa telah dijanjikan surga bagi Ummu ‘Umarah.

Keberanian Nusaibah tidak hanya ditunjukkan pada perang uhud, tetapi juga perjanjian Al-Aqabah, perang hudaybiyah, khaibar, dan hunain. Pada zaman khalifah Abu Bakar shiddiq, Nusaibah ikut dalam perang Al-Yamamah, dan berperang dengan berani sehingga akhirnya kehilangan salah satu tangannya. Semua ini berimbalan dengan janji Surga bagi Nusaibah.
Nusaibah juga dipuji oleh khalifah
Umar ibn al-Khattab, khalifah Abu Bakar Al-Siddiq dan panglimanya Khalid Ibn Al-Walid untuk keberaniannya.

(diambil dari buku 99 tokoh muslim dunia by Salman Iskandar)

Hmmm…. Begitulah… ternyata “srikandi” juga ada ya.. dalam sejarah Islam… gak semuanya… jadi muslimah “woro sembrada”….. bangkitlah “PD”ku.. bahwa… saya tidak  harus “merubah aliran jiwa” untuk mengaku sebagai muslimah…,  Apapun saya…Islam tetap “menerimaku”. Islam is the best…

semoga cerita ini bisa jadi inspirasi untuk kita semua…..inspirasi ttg semangat menjadi muslimah.. semangat untuk berjuang… dengan “gaya” kita masing-masing. Juga tentang semangat menjadi ibu yang mengasihi dan melindungi anaknya, sekaligus sebagai ibu yang akan selalu mendukung anaknya untuk berjuang dijalan Allah walaupun sakit dan luka….

Iklan

Komentar ditutup.