“Maafkan saya…. bila Durhaka”

Waktu ku kecil…..

Maafkan saya ibu… jika saya terlahir sebagai perempuan.. padahal yang engkau dan bapak inginkan adalah seorang anak- laki-laki.

Maafkan saya ibu.., jika saya menyesalimu… karena tidak ada air susumu untukku karena kau ingin selalu sexy

Maafkan saya ibu… jika saya tidak bisa diam… dan selalu ingin tahu sehingga membuatmu kewalahan

Maafkan saya ibu… jika saya lebih suka membaca dirumah bila kau ajak untuk belanja.

Maafkan saya ibu… jika saya lebih suka “bergaul” dengan anak tukang ketika kau suruh aku untuk berteman dengan tetangga sebelah.

Maafkan saya ibu… jika saya merasa tertekan… karena engkau malu “membawaku” dengan kulitku yang legam, tersengat matahari

Maafkan saya ibu.. jika badanku penuh dengan goresan dan berbau anyir.. bukannya putri cantik seperti harapanmu.

Maafkan saya ibu… jika saya selalu minta kau belikan buku,… karena rumah kita jadi penuh buku… dan ini menyesakkan mu… membuatmu marah dan tidak ada lagi buku baru untukku.

Maafkan saya ibu… ketika saya kehilangan dan kesepian disaat engkau sibuk ke salon, shopping, dan bergaul dengan orang-orang penting

Sekarang

Maafkan saya ibu… jika saya merasa kau beda-bedakan… karena kau lebih suka berlama-lama dirumah saudaraku dan “berjalan-jalan”.. ketimbang menenggokku yang hanya bisa mengajakmu nonton tv dirumah

Maafkan saya ibu… jika saya merasa sedih ketika… engkau lebih mendahulukan saudara -saudaraku… sedangkan saya lebih membutuhkan uluran tangan

Maafkan saya ibu… jika saya merasa marah… ketika kau ingin saya mengalah untuk saudaraku yang salah dalam tuntunan Islam

Maafkan saya ibu… jika saya hingga sekarang tidak dapat kau banggakan.. dengan kondisiku yang pas-pasan… beda dengan saudaraku yang bisa “menikmati dunia”

Maafkan saya ibu… karena sulit rasanya untukku… merasakan hubungan yang tulus denganmu dari dalam batinku

Maafkan saya ibu… saya tidak ingin jadi anak durhaka

Maafkan saya ibu .. saya sungguh ingin berbakti dan membahagiakanmu dihari tua dan Sungguh saya takut akan “teguran” Allah bila saya tidak mentaati perintahNYa… Tapi… tetap saja… maafkan saya ibu….

PS :… Dalam buku “Agar Anak Tidak Durhaka”… memberi kita wawasan… mendidik anak adalah hal yang utama… jangan harap anak-anak akan berbakti tulus… pada kita… bila kita tidak membuat “jembatan” dengan mereka sejak awal mereka ada dalam kandungan.

Semoga kita dianugrahi… kehidupan keluarga yang sakinah mawadah warahman dan saling tolong menolong menuju rido Allah.

“Akan tiba masanya… dimana setiap manusia akan menjadi demikian egoisnya… saling tuduh dan menyalahkan…(ayah dengan anak, ibu dengan anak, anak dengan anak, suami dengan istrinya… dsbnya) ketika diminta pertanggungan jawab di hari akhir…

Tulisan terkait :

http://www.dakwatuna.com/2008/empat-kejahatan-orang-tua-terhadap-anak/

Iklan

11 Komentar

  1. Susi said

    Baca ini deh:

    http://www.dakwatuna.com/2008/empat-kejahatan-orang-tua-terhadap-anak/

    yanti :
    Alhamdulillah… saya udah baca…
    Postingan yang bagus… Boleh kan.. saya pajang di postinganku???
    Jazakillah

    Saya sangat prihatin dan sedih dengan banyaknya orang tua yang gak paham tentang ini….

    Semoga Allah selalu memberimu lebih banyak “kecerahan”

  2. emma said

    MaAini,.. aku mau sedikit tanya,..
    apakah seorang ibu boleh menghabiskan harta suaminya (peninggalan dari ayah anak-2 , krn sang ayah sdh meninggal) untuk “keperluannya” sendiri,..dan sang ibu lebih baik meminta bantuan saudara lain untuk biaya-i anak-2 tsb?
    (iihh,..curhat niihh…)

  3. yanti said

    Bismillahirrahmanirrahim…

    Setahu saya… begitu seseorang meninggal dunia…, harta peninggalannya harus segera dibagikan menurut kaidah “waris” yang ada di dalam Al-Quran. Bila tidak mampu (karena masih dalam keadaan berkabung atau ketidak tahuan tentang ilmu ini) ada badan-badan hisab yang dapat dimintai bantuan.

    Kenapa harus segera dibagi.., karena dikhawatirkan… dengan berjalannya waktu… harta ini akan bertambah atau berkurang… sehingga “tanggung jawab” untuk perubahan harta tersebut akan memberatkan “yang ketitipan harta waris”.

    Setelah itu… bagian dari masing-masing anak dapat digunakan untuk “membiaya” kehidupan mereka sampai anak-anak ini cukup dewasa “mengelola” harta warisan tersebut.

    Oya kecuali… bila setelah dibagi… orang-orang yang mempunyai hak atas waris (misalnya orang tua atau saudara-saudara kandung, kakek si bapak dsbnya tergantung ketentuan) mengembalikan pada si ibu untuk digunakan dalam merawat anak-anak… Wah…Alhamdulillah…

    Begitulah Islam… sangat indah dan selalu memperhatikan keseimbangan kehidupan bermasyarakat…

    Subhanallah

    Saya berlindung kepada Allah dengan ketidak tahuan saya… yang benar milik Allah…yang salah itu karena ketidak tahuan saya.

  4. dsusetyo said

    Sedikit nambah, kalau yang dimaksud mba Emma uang warisan bagian anaknya dihabiskan untuk “sang ibu sendiri”, kayaknya ga boleh ya. Kan masing-masing sudah dapat bagiannya, termasuk istri. Jadi kalau yang dihabiskan adalah bagiannya sendiri boleh, tapi kalo bagian anaknya tidak boleh, karena sekali lagi ini melanggar hukum waris.

    Kalau saudara mau bantu untuk kebutuhan anak-anak ya silakan saja, itu lebih baik. Dalam Islam… bila menyantuni anak yatim….
    Rasulullah Saw bersabda barang siapa yang memuliakan anak yatim, maka ia akan berdampingan dengan beliau di surga, laksana berdampingannya dua jari dari tangan kita, yaitu jari telunjuk dan jari tengah.

    Demikian. Wallahu a’lam.

  5. adikhresna said

    Assalamu’alaikum

    Bunda (ijinkan ana panggil begitu), terus terang ana jadi ingat Ibu ana di kampung (Pamekasan, Madura). Ana malah merasa, bahwa hingga detik ini belum dapat membahagiakan Beliau. Ibu, maafkan anakmu.

    Syukron Bunda, wassalamu’alaikum

  6. yanti said

    waalaykumsalam.. ananda

    Mudah-mudahan ini…, jadi pembuka… sehingga ananda.. akan mendapatkan kemudahan Allah membahagiakan ibu… (berdoa ya… insya Allah… insya Allah)

    Jazakallahu untuk commentnya…

    Mudah-mudahan silahturahmi akan terus berjalan….

  7. emma said

    Maaini, mas dsusetyo, tapi itulah yang terjadi “harta warisan” tak anak-2 itu rasakan..sudah tak ada. tersisa 1 rumah yg mnjd naungan mereka. bersyukur sekarang 2 dari 3 anak-2 itu sudah punya penghasilan dan dapat membantu adik mereka kuliah. terimakasih atas waktunya untuk curhat saya,..Maaini mampir ke “halamanku” doong,..

  8. yanti said

    ya… kadang kala karena ketidak tahuan… ada hal-hal tidak sesuai dengan tuntunanNYA yang dikerjakan.
    Hmmm mau apa lagi…

    Mungkin… sebaiknya.. hal ini “dibicarakan” antara si ibu dan putra-putri. yah.. meminta mereka mengerti (saya kira anak-anak bisa memahami, bila tujuan ibu memang baik)… agar di hari yaumil akhir nanti… tidak akan ada salih menyalahkan.

    Memang… kasus ini banyak terjadi dikalangan Islam.., karena ketidak tahuan dan ilmu yang dipakai sebagai pedoman adalah ilmu turun menurun… (kata-kata : yah… memang ibu, kakek, bapak dari kakek, kakek dari kakek dst dst … juga menyelesaikan masalah dengan jalan yang saya lakukan ini…, sudah biasa terdengar dimana-mana)

    Mudah-mudahan kita dimasukkan dalam kategori orang-orang yang mau terus belajar dan tidak bergantung pada adat istiadat ya… Insya Allah

  9. emma said

    Maaini..trim’s atas kunjungan dan oleh-olehnya
    senang sekali menerimanya,..

    he he he… terima kasih kembali…
    mudah-mudahan cocok ya… oleh-olehnya..
    maklum… belum pengalaman cari oleh-oleh.
    Mbak emma mana ceritanya… bagi ya…..

  10. miko said

    nikah yuuk, mungkin lebih baik

  11. miko said

    nikah aja yuuk munkin lebih bagus

    Semestinya begitu…
    tapi ini juga tidak boleh gegabah…

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.