“Celana Bergembok dari Kota Batu”

Heboh… kota batu…
Kota yang terkenal sebagai kota pariwisata ini… disinyalir… juga banyak menyediakan tempat-tempat meseum.
Jadi… untuk mengatasi hal itu pemkot mewajibkan setiap tukang pijat menggunakan celana bergembok.

Hmmm
Saya memang gak setuju dengan prostitusi apalagi prostitusi terselubung.
Tapi… saya juga sedih membaca berita tersebut diatas…
Kok… sampai begitu ya?
Saya “berprasangka baik” saja, bahwa memang mungkin pemkotnya.. sudah mencoba berbagai macam cara… untuk “melawan” prostitusi dan sudah “mentoK” jadi akhirnya… diambil ide baru ini. Ya Allah….

Ingin tahu… saya coba cari informasi tentang “ide orisinil celana bergembong”


Awal terkuaknya “kekejaman” celana dalam alias badong, yang dulu juga disebut Pita Venus, ini bermula di Pulau Falster, Denmark. Seorang dokter, sejarawan sekaligus penemu, Ole Worm (1588 – 1654) mengungkapkan, begitu ketatnya celana dalam logam ini, sampai ujung jari pun tidak bisa masuk ke celah antara bahan besi dan tubuh! Jika seorang istri yang malang mengenakannya ingin buang air, dia harus merengek dulu pada suami agar celana dalamnya dibuka. Pasalnya, untuk membukanya diperlukan kunci, dan kunci itu hanya dipegang suami.

Makna dan tujuan peralatan ini simpel, yakni hanya suami yang boleh menyentuh istrinya, karena istri dianggap sebagai “benda” milik pribadi suami. Itulah sebabnya wanita yang dinikahi sah saja “disimpan” dalam pelindung yang terbuat dari besi. Fantasi para suami ala Renaisans tidak hanya sebatas masalah hak milik, melainkan juga untuk menjaga penampilan. Wanita dianggap sebagai makhluk sembrono dan tidak baik, sehingga pria harus berjaga diri.

Rupanya, sabuk kesetiaan yang menyedihkan ini tidak hanya terdengar di Venesia, Padua, Como, dan Bergamo, tapi juga dari seluruh daratan Eropa. Wanita-wanita Romawi maupun istri orang-orang kaya di Milano juga mengenakan alat ini. Hebatnya, mereka membuatnya dari emas dan perak, dihiasi pula dengan batu-batu permata mahal.

Kekejaman kepada istri digambarkan pula dalam roman percintaan karya pengacara Nicolas Chorier dari Grenoble. Alkisah, Juliane tak lama setelah malam perkawinannya, dipaksa oleh suaminya, Jacondus, untuk mengenakan celana dalam khusus.

“Apa itu yang kau pegang? Kok saya seperti melihat emas yang berkilauan! Apa yang harus saya lakukan dengan itu?” tanya Juliane. Ternyata, suaminya memaksa dia memakai badong, dan mengunci “celana dalam kesetiaan” itu. Alat yang terdiri atas tiga lapis lempeng besi itu menempel begitu ketat, sampai ujung jari pun tidak bisa masuk antara celah besi dan tubuh.

“Sekarang sudah aman!” kata si suami puas. Padahal, dengan sabuk itu, istri mengalami kesulitan berjalan. Karena untuk itu, kedua kakinya harus dalam posisi berjauhan, agar tidak lecet. Komentar si suami cuma, “Mula-mula memang begitu. Lama-lama kamu akan biasa!”.

Hmmm…
setelah membaca sejarahnya… saya cukup bisa menerima… alasan para feminis “menentang” pemakaian celana ini.

Bagaimana dengan Islam?

Setahu saya… yang namanya zina… itu jelas hukumnya

1. Firman-Nya, “Dan janganlah mendekati zina; itu sesungguhnya suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk” (17:32). Lupakanlah saja keinginan untuk melakukan zina! (ini warning tahap I)

2.Firman-Nya, “Katakanlah kepada orang-orang mukmin supaya mereka menundukkan pandangan mereka, dan menjaga kemaluan mereka” (24:30). Pandangan dan aurat yang tidak dijaga adalah puncak awal terjadinya perzinaan. (hmmm warning tahap 2)

3.(untuk yang belum menikah) “Lelaki dan perempuan yang berzina, setelah adanya kesaksian dan keterangan empat orang saksi, dihukum dengan seratus pukulan tiap-tiap orang” (24:2). (ini sudah masuk ke hukuman nyata). Yang perlu diperhatikan adalah : bila yang menuduhkan berzina tidak dapat mendatangkan empat saksi, akan menerima sangsi juga dengan delapan puluh pukulan, selain itu dia tidak akan dipercaya ucapan-ucapannya untuk selama-lamanya (24:4)

4.(untuk yang sudah menikah) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ambillah dariku, ambillah dariku. Sesungguhnya Allah telah memberi jalan yang lain kepada mereka, yaitu orang yang belum menikah (berzina) dengan orang yang belum menikah, (hukumnya) dera 100 kali dan diasingkan setahun. Adapun orang yang sudah menikah (berzina) dengan orang yang sudah menikah (hukumnya) dera 100 kali dan rajam” Hadits Riwayat Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ubadah bin Ash-Shamit

Diluar itu… Islam sangat menjunjung tinggi harkat kaum wanita
Diberinya hak sama antara pria dan wanita… Dalam berumah tangga, wanita juga diperhatikan hak-haknya… termasuk hak untuk mengajukan cerai, bila ternyata ia tidak lagi merasakan “damai” dikehidupan rumah tangganya.
Wanita juga punya hak atas dirinya…

Kesimpulan saya… celana dalam bergembok..,memang tidak menghargai hak seorang muslimah (hak untuk hidup sebagaimana manusia normal yang membutuhkan BAB & BAK,tanpa harus menunggu izin suami). tetapi sebagai muslimah… kita juga harus belajar untuk menghargai kepercayaan dan harga diri keluarga dengan selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dengan selalu memperhatikan adab pergaulan Islami dan menjauhi zina.
(apalagi… berprofesi sebagai tukang pijat lawan jenis dan bukan mahramnya ya…..hmmmmm)

Apa yang benar datangnya dari Allah, apa yang salah itu karena pemahaman yang kurang dalam diri saya….

Iklan

10 Komentar

  1. Kris said

    Sepaham…sepaham…. Kenapa bukan yang kali saja yang digembok yak? BTW terima kasih atas kunjungannya. Salam kenal.

    Yanti :
    Salam kenal juga… (untuk istri dan si “imut” yang lucu juga ya…) Mudah-mudahan bisa langeng ya… silahturahminya

  2. Jems said

    Wanita.. dari dulu saya tidak pernah bisa memahami dunia wanita. Ada kalanya wanita berlaku sangat lembut. Tapi disisi lain, kadang wanita memanfaatkan kelembutannya itu untuk memperdaya. Sering saya melihat wanita menangis. Ada rasa iba dan kasihan. Namun, kadang dibalik tangisannya itu menyimpan muslihat. Aaahh… saya nggak ngerti dunia wanita.. 😀

  3. yanti said

    Ha ha ha… kita senasib ya…
    Saya juga suka bigung dengan laki-laki… kadang mereka sangat sibuk mempertahankan “harga diri” dan “kebanggaan”… padahal… seringkali itu semu… dan tidak berdasarkan pada realita kehidupan.

    Ya… memang Allah sengaja kali ya… untuk menciptakan “kebingungan” itu… biar ada “daya tarik” lawan jenis….
    (eh… mana pernah ya.. Allah bermain-main!!! apa yang diciptakan dan dikondisikan pasti ada tujuannya…)

    Lihat aja… lelaki yang begitu PD jauh lebih “menarik” dari laki-laki yang “gampang diarahkan”.
    Wanita.. yang sepertinya… penuh dengan “ketidak berdayaan” bisa memancing “antrian” pengagum…

    Ha ha ha…. “tipu daya dunia”

    “Hanya orang-orang yang berpegang teguh pada Islam yang akan selamat duinia dan akhirat”

    (Ngomong-ngomong… terima kasih untuk kunjungan dan komentarnya… situs ini… jadi “lebih hidup”, saya berharap… silahturahmi ini akan selalu terjaga….)

  4. erander said

    Hebatnya, mereka membuatnya dari emas dan perak, dihiasi pula dengan batu-batu permata mahal.

    Wah .. biasanya, barang-barang yang terbuat dari permata kalo sedang dipakai, tentunya sering diperlihatkan / dipamerkan .. seperti gelang, anting, kalung, bros dlsbnya .. nah kalo celana dalam menggunakan permata .. hmmm apakah juga dipamerkan ya?? 👿

    Yanti:
    Kayaknya engga’ tu pak.. kan ini dibuat agar “hak” suami tidak “terganggu”.
    mungkin… itu untuk “mengobati” sakit hati para perempuan yang terpaksa memakai. (biasanya kan perempuan suka “barang2 berkilau”)
    Untung kebiasaan “sakit” itu bukan hal “modis” lagi…
    Alhamdulillah.

    Terima kasih untuk kunjungannya…..

  5. norie said

    setuju. Memang tak sepantasnya celana bergembok itu diterapkan. Penerapan hal demikian itu seperti menghukum orang yang tak bersalah sedangkan pelakunya bebas.
    Mending fokusnya pada pem-bumihangus-an tempat-tempat mesum.

    Yanti:
    Kita tunggu saja… kerja sama aparat negara jujur yang cinta negara Makasi ya… sudah mampir….

  6. ade putra said

    betul bumi hanguskan tempat2 mesum…. buka lapangan kerja untuk para mantan pekerja tempat2 mesum

  7. pratikto said

    ternyata gembok yang dipakai kuncinya lebih dari satu, reception nyimpen 1 kunci saja, 1 lagi untuk disimpan mami/germonya….
    teryata masih ada satu yang di pegang tukang pijetnya, belom lagi langganan yang dikasih kunci duplikat…
    tolong kebijakan yang sudah ada dikaji lagi apa benar sudah efektif….
    gemboknya cuma jadi simbol aja, malah jadi kekuatan bagi pemijat utk menawarkan jasa plus2 dengan harga lebih tinggi dengan alasan ini itu, alias birokrasinya nambah aja….

    Betulll.
    Itu yang saya sampaikan pada postingan “Sensor situs porno diwarnet”
    perlu cara dan langkah-langkah yang “jitu”.. untuk… bisa “membasmi” hal-hal seperti ini..
    Jika tidak…. yang namanya “prostitusi”… pasti sudah bisa “dibasmi” sejak dulu…. Buktinya….

  8. Dhista said

    yang agak ganjil dari pemberitaan ini, ternyata peraturan nyeleneh itu malah diluar pengetahuan Walikota Batu yg baru saja menjabat.

    Di sisi lain, aroma politis bolehjadi jadi biang keanehan ini.

    Saya sendiri kaget, istri pak Eddy R. yg dosen dan sangat peka dengan isu-isu gender itu kok tidak buka suara atas fenomena ini…?

    Politik itu kejam. Bagian paling privat juga bisa jadi bahan permainan 😦

    Gitu ya… saya memang gak sampai jauh… “menyelidiki” kasus ini…
    saya bisanya… cuman “mengangkat” dan menyampaikan pandangan Islami tentang kasus-kasus yang “kebetulan” saya temui.

    Saya berharap… ada orang-orang yang punya “power” sempat mampir dan “terbaca” tulisan saya… ya… lalu… bersedia “mendengarkan” kata-kata rakyat kecil ini… Syukur alhamdulillah… kalo… akhirnya… ada yang mau menjawabnya dengan tindakan nyata.

    Ya “prasangka baik saja”… mudah-mudahan… bu Edy… belum “mendengar” tentang kasus ini…, atau mungkin ada hal lain yang sangat membutuhkan kehadiran beliau…

  9. ibu didin said

    saya lahir dan besar di Batu, hingga tahun 96 mungkin tinggal disana, tapi belum pernah dengar berita ini… memprihatikan jg kalau begitu..

    Wow… gitu ya… kalau tidak salah ini dimuat di koran kota Batu…, bulan mei 2008 kemarin…
    Makasi ya…mau singgah ke sini….

  10. vee said

    salam kenal,…..
    baru tau tuh cerita itu,padahal walikotanya om saya…hihihihi

    Salam kenal kembali…
    Wah… iya begitu?
    Mudah-mudahan ada langkah nyata dari pak wali ya….

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.