“GO Green”

Apa sih???
Go Green = Pergi Hijau… (??????)

Ya… maklum namanya juga ibu-ibu rumahan.. saya kan cuma “ngelutek” dirumah…gitu deh…Kadang kurang gaul dan kurang baca… bisa jadi “masalah” (ok… searching dulu….)

Hmmm berkaitan dengan hal itu, (lumayan… habis search… uda rada nyambung) di salah satu saluran TV.. sering di tayangkan.. antara dua acara utama “save the world…” “Go green…” Hmmm bagus juga ya ide-idenya…sudah jauh lebih maju dibandingkan dengan zamannya saya kuliah dulu… (he he he… saya ini cita-citanya jadi “tukang sampah profesional”… tapi gak “klakon”…(author: terlaksana) saya…daripada kerja kantoran … lebih milih… “klutekan” dirumah….)

Ini ya…salah satunya yang saya ambil dari sampah
Baca ya… siapa tahu bisa jadi pintu rezeki juga…
Hai… Bapak-bapak Ibu-ibu RT, RW coba yuk…. siapa tahu bisa nambah kas dan membantu meringankan bagi masyarakat sekitar yang kurang mampu dengan melibatkan mereka pada pengolahan sampah ini…

“Dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kami ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar bagimu”
QS An Nisa (4) : 113

“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidakdisangka-sangka”
QS Ath-Thalaq (65) : 3

Keranjang Ajaib Takakura

Dewasa ini pengelolaan sampah mandiri di Surabaya banyak menggunakan keranjang “sakti” Takakura. Keranjang sakti Takakura adalah suatu alat pengomposan sampah organik untuk skala rumah tangga. Yang menarik dari keranjang Takakura adalah bentuknya yang praktis, bersih dan tidak berbau, sehingga sangat aman digunakan di rumah. Keranjang ini disebut masyarakat sebagai keranjang sakti karena kemampuannya mengolah sampah organik sangat baik.

Keranjang Takakura dirancang untuk mengolah sampah organik di rumah tangga. Sampah organik setelah dipisahkan dari sampah lainnya, diolah dengan memasukkan sampah organik tersebut ke dalam keranjang sakti Takakura. Bakteri yang terdapat dalam starter kit pada keranjang Takakura akan menguraikan sampah menjadi kompos, tanpa menimbulkan bau dan tidak mengeluarkan cairan. Inilah keunggulan pengomposan dengan keranjang Takakura. Karena itulah keranjang Takakura disukai oleh ibu-ibu rumah tangga.

Keranjang kompos Takakura adalah hasil penelitian dari seorang ahli Mr. Koji TAKAKURA dari Jepang. Mr. Takakura melakukan penelitian di Surabaya untuk mencari sistim pengolahan sampah organik. Selama kurang lebih setahun Mr. Takakura bekererja mengolah sampah dengan membiakkan bakteri tertentu yang “memakan” sampah organik tanpa menimbulkan bau dan tidak menimbulkan cairan. Dalam pelaksanaan penelitiannya, Mr. Takakura mengambil sampah rumah tangga, kemudian sampah dipilah dan dibuat beberapa percobaan untuk menemukan bakteri yang sesuai untuk pengomposan tak berbau dan kering. Jenis bakteri yang deikembang biakkan oleh Takakura inilah yang kemudian dijadikan starter kit bagi keranjang Takakura. Hasil percobaan itu, Mr. Takakura menemukan keranjang yang disebut “Takakura Home Method” yang dilingkungan masyarakat lebih dikenal dengan nama keranjang sakti Takakura.

Selain Sistim Takakura Home Method, Mr. Takakura juga menemukan bentuk-bentuk lain ada yang berbentuk “Takakura Susun Method”, atau modifikasi yang berbentuk tas atau kontainer. Penelitian lain yang dilakukan Takakura adalah pengolahan sampah pasar menjadi kompos. Akan tetapi Takakura Home Method adalah sistim pengomposan yang paling dikenal dan disukai masyarakat karena kepraktisannya.

Mr. Takakura, melakukan penelitian di Surabaya sebagai bagian dari kerjasama antara Kota Surabaya dan Kota Kitakyushu di Jepang. Kerjasama antar kedua kota difokuskan pada pengelolaan lingkungan hidup. Kota Kitakyushu terkenal sebagai kota yang sangat berhasil dalam pengelolaan lingkungan hidup. Keberhasilan kota Kitakyushu sudah diakui secara internasional. Karena keberhasilan kota Kitakyushu itulah kota Surabaya melakukan kerjasama pengelolaan lingkungan hidup. Bentuk kerjasama berupa pemberian bantuan teknis kepada kota Surabaya.

Bantuan teknis yang diberikan Pemerintah Jepang adalah dengan menugaskan sejumlah tenaga ahli untuk melakukan penelitian tentang pengolahan sampah yang paling sesuai dengan kondisi Surabaya. Mr. Takakura adalah salah satu ahli yang ditugaskan itu. Sehari-harinya Mr. Takakura bekerja di perusahaan JPec, anak perusahaan dari J-Power Group. Suatu perusahaan yang sesungguhnya bergerak di bidang pengelolaan energi. Mr. Takakura adalah expert yang mengkhususkan diri dalam riset mencari energi alternatif.

Kerjasama Kitakyushu-Surabaya untuk mengelola sampah dimulai dari tahun 2001 sampai 2006. Takakura menjadi peneliti kompos selama kerjasama tersebut sekaligus sebagai ahli pemberdayaan masyarakat. Selama itu Takakura dan timnya secara berkala datang ke Surabaya untuk melakukan penelitian dan melaksanakan hasil penelitian itu. Kadang-kadang Takakura datang ke Surabaya sampai enam kali dalam setahun. Selama penelitian kompos biasanya bisa mencapai 3 minggu ia harus mengamati perkembangan bakteri kompos. Yang unik dari Mr. Takakura adalah bahwa selama ia berada di Surabaya ia senantiasa memakai baju batik. Padahal dalam keadaan sehari-harinya di Jepang, biasanya Mr. Takakura memakai setelan jas lengkap ke kantor sebagaimana orang Jepang lainnya.

Sumbangsih Mr. Takakura terhadap upaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Surabaya sangatlah besar. Keberhasilan itu malah diapresiasi oleh lembaga internasional IGES (Institut for Global Environment and Strategy). Pada bulan Februari 2007, IGES mensponsori studi banding 10 kota dari 10 negara untuk melihat pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Surabaya. Kota-kota itu ingin mencontoh sistem pengomposan yang dikembangkan oleh Surabaya dengan bantuan Takakura Composting System.

Keberhasilan Mr. Takakura menemukan sistim kompos yang praktis tidak saja memberikan sumbangsih bagi teknologi penguraian sampah organik, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pengelolaan sampah berbasis komunitas. Mr. Takakura jauh-jauh datang dari Jepang meneliti dan melakukan pengomposan di Surabaya. Kalau seseorang yang datang dari jauh, yang tadinya “saudara bukan, teman juga tidak” begitu peduli mengurangi sampah Surabaya. Apakah warga Surabaya sendiri tidak lebih peduli dengan sampahnya. Prinsip inilah yang terus dikembangkan di Surabaya. Dengan didukung oleh sejumlah tenaga sukarela (volunteer) termasuk MTV Surabaya, maka pengurangan sampah organik di sumbernya, kini sangat membanggakan Surabaya. http://www.togarsilaban.com/2007/05/09/takakura/

Untuk info dan bantuan lebih lanjut bisa kontak di alamat berikut ini:

1. Pusdakota Ubaya, Jl Rungkut Lor III/87 Surabaya.
Telp: 031 8474325 atau email: office@pusdakota. org.
Alpha Savitri – Public Affairs

2. Bapak dan Ibu Djamaludin, Mantan Mentri Kehutanan
Taman Karinda, Bandung, Jl. Alfa 92 Cigadung,
Kebun Karinda, Bumi Karang Indah Blok C2 No. 28, Lebak Bulus, Jakarta
Pelatihan daur ulang 2 x seminggu Selasa pk. 9.00-11.00 dan Sabtu pk. 08.100. Kelas terbuka, muat untuk 40 orang. Peserta harus daftar dulu, perorangan atau kelompok. Melalui telp. 021-75909167.
Dapat diperoleh Keranjang Takakura dan VCD Cara Pengolahan Sampah Organik.

3. Yayasan BINTARI di (024) 70 777 220 – Semarang

Iklan

1 Komentar

  1. bener… seperti kampanye saya, ummi… Go Green!!! Save Earth!!!

    ya… ini tanggung jawab kita sebagai khalifah di bumi… ya sahabat…

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.