Autis.. Sharing Treatment Bersaudara

Saya banyak belajar dari ibu mertua saya untuk soal yang satu ini.

Ibu Mertua… meminta saya untuk selalu berlaku adil dalam mendidik dan melayani ke 3 anak saya. Tidak ada kata si A lebih mendapat kemudahan karena punya kekurangan ataupun kelebihan.

Ibu Mertua selalu mengingatkan saya… agar anak-anak saya… selalu punya “waktu bersama”… sehingga mereka dapat “saling mengenal”

Ibu Mertua mengajarkan saya… untuk menyediakan waktu “for explaination”.. bila salah satu diantara anak ada yang “di-paksa” mengalah untuk saudaranya yang lain..

Ibu Mertua minta saya selalu mendahulukan memberikan pendidikan kepada anak-anak, sebelum memberikan kebutuhan yang lain.

Ya… Alhamdulillah… Anak-anak saya tumbuh dengan saling mencintai.., perhatian dan berusaha memberi… walaupun… tentu saja namanya juga anak-anak… suatu saat egois mereka demikian besarnya… sehingga “pecah perang”… (ha ha ha) Dan… kecintaan mereka terhadap ilmu begitu besar… kalau dulu… saya yang selalu bujuk untuk tidak pernah bolos les… sekarang… kalau saya minta mereka untuk tidak les.. karena sesuatu hal.., Hmmm… mereka akan protes keras.. ingin tetap berangkat.

Saya juga jarang punya pembantu… pertama karena ini adalah “cost” yang lumayan besar untuk balance keuangan. Kedua.. susah… punya pembantu yang mau… telaten… dengan kehidupan kami yang sering berpindah (waktu anak-anak belum sekolah saya “ikut” kemana suami bertugas) juga… dengan “aroma emosi” yang sangat tajam dalam keseharian.

Jadi… (sungguh Allah Maha Perencana).. inipun akhirnya mnjadi “Lem” diantara kami… Rasa bahwa… kami “tidak punya siapa-siapa”… menjadikan kami terus belajar dengan gigih untuk bisa saling menyesuaikan. Kami juga belajar untuk bekerja sama… mengurus rumah… Aini juga sangat senang bila dilibatkan… misalnya… ketika ganti sprei.. dia selau dengan sigap… berusaha membantu sambil bilang… “Aku bisa bantu… aku bisa bantu… aku pintar…”

Saat mengantarkan anak yang satu… 2 yang lain selalu saya bawa… Jadwal sekolah, les dan terapi mereka juga saya “susun” sedemikian rupa… agar tidak ada “overleap” dalam mengantar dan menjemput mereka..
Kalau diingat… ada lucunya juga… seperti “Rombongan Sirkus” yang pindah-pindah tempat. ha ha ha (Kami cuma punya motor yang jadi “gak kelihatan” karena tertutup manusia dan barang-barang kalau sedang dijalanan)

Alhamdulillah… kami sudah semakin diberi Allah kemudahan sekarang… Putri sulung sudah SMA, sudah bisa mengendarai motor sendiri… untuk aktifitasnya… Sang putra… kalau pulang sekolah tidak ada les minta ke sekolahnya naik sepeda sendiri… Alhamdulillah dengan demikian… saya tidak perlu lagi.. seharian jadi “tukang Ojeg” Waktu saya makin banyak bisa saya gunakan untuk mempersiapkan Aini… my little princess…. menyongsong masa depannya.

Yang terus tertinggal dari “sejarah” itu… adalah rasa sayang diantara mereka… sangat besar.., saling membutuhkan, saling mencari… tetap berusaha berbagi dan mendahulukan kepentingan saudaranya…
Insya Allah ini akan terus terjaga

Hmmm Dibalik kesulitan selalu ada kemudahan… Allah sungguh Maha Mengetahui….semua “cerita” hamba-hambaNYA

Iklan

1 Komentar

  1. hendraaceh08 said

    salam kenal dengan rasyid aceh.email hendra_akbar2000@yahoo.com

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.