Laki-laki, Perempuan & Pernikahan

Laki-laki dan Perempuan… sama-sama makhluk Allah jenis… “HOMOSAPIENS”
Diciptakan ditempat yang sama… “Rahim” seorang Perempuan
Dengan bahan dasar yang sama…”Spema” dan “Ovum”
Keluar lewat pintu yang sama… “Sulbi” seorang Perempuan

Begitu ada di dunia… semuanya jadi tidak sama…
Setiap pasangan ayah dan ibu punya cara sendiri untuk mendidik putra/inya
Lingkungan dan adat istiadat… punya aturan dan penanganan sendiri untuk laki-laki dan perempuan.

Ada daerah… dengan hukum.. “laki-laki” sebagai penentu.. tapi ada juga yang menggunakan “perempuan” sebagai pemegang kendali. Islam… jelas-jelas… memberi keistimewaan… pada kaum laki-laki… untuk memjadi pemimpin.

Its simple…..

Tapi… bila kita masuk ke “dunia” nyata… tidak semudah itu…

Saya kutipkan cerita ini… dari ” Personality Plus”

Sebelum kawin dengan Fred saya tidak pernah tahu bahwa ada “Peraturan Anggur”. Saya tidak tahu bahwa setiap kesenangan yang sederhana dalam kehidupan punya apa yang disebut cara yang benar
Fred mula-mula mengungkapkan Peraturan Anggur ketika saya duduk-duduk di teras di luar pondok kami di Pantai Cambridge di Bermuda, memandangi laut dengan sambil lalu memetik buah anggur dari rangkaian yang besar. Saya baru menyadari bahwa Fred menganalisa cara saya makan buah anggur yang tidak sistematis setelah ia bertanya, “Kau suka buah anggur?”
“Oh, saya suka sekali buah anggur!”
“Kalau begitu kurasa kau ingin tahu bagaimana cara memakannya dengan benar?”
Mendengar perkataan itu saya tersentak dari lamunan saya yang romantis (mereka masih berbulan madu) dan mengajukan pertanyaan yang kemudian menjadi kebiasaan yang rutin :”Apa yang salah kulakukan?”
“Ini bukan bahwa kau salah melakukannya; kau hanya tidak melakukannya dengan benar.” Saya tidak banyak melihat perbedaan arti dari 2 kalimat tersebut, tapi saya ikuti kata-katanya.
“Apa yang tidak kulakukan dengan benar?”
“Setiap orang tahu caranya makan buah anggur yang semestinya, orang memetik rangkaian sedikit demi sedikit, seperti ini.”

Fred mengeluarkan pemotong kuku dan memotong rangkaian kecil buah anggur, yang diletakkannya di hadapan saya.

Sementara itu dia berdiri dengan bangga melihat kebawah, pada saya, saya bertanya,
“Apakah ini membuat anggurnya terasa lebih lebih lezat?”
“Itu bukan karena rasanya. Ini supaya rangkaian yang besar akan mempertahan bentuknya lebih lama. Cara kau memakannya-hanya meraih buah anggur disana-sini- merusak rangkaian. Lihat apa yang kau lakukan kepada buah itui, mencuat dimana-mana! itu merusak bentuk seluruh rangkaian. “Saya memandang berkeliling teras yang terasing untuk melihat kalau-kalau ada sekelompok penilai anggur yang bersembunyi menunggu untuk memasukkan rangkaian buah anggur saya dalam kontes, tetapi saya tidak melihat siapapun… maka saya berkata “Siapa peduli, sih?”

Saat itu saya belum mengetahui bahawa kalimat “siapa peduli sih” bukanlah pernyataan yang pantas diajukan kepada Fred, sebab hal itu menyebabkan mukanya berubah menjadi merah dan dia menghela nafas panjang sambil berkata “Aku peduli, dan itu seharusnya sudah cukup”

Saya tidak tahu… apa yang ada di dalam hati anda ketika membacanya..
Yang terpikirkan oleh saya adalah…
1. Bagaimana bila cerita itu terbalik… Fred yang makan anggur sembarangan dan saya adalah orang yang sangat teratur… maukah Fred “mendengarkan” kata-kata saya, bercerita tentang peraturan makan anggur? dan berkompromi dengan peraturan makan anggur tesebut????

2. Bagaimana jika sikap dan kata-kata tersebut dilakukan dengan lebih “manusiawi”… apalagi… masih dalam suasana… bulan madu.

3. Bagaimana dengan kata peduli… (I care)… cukupkah itu… menandakan bahwa saya “menghargai” dan “peduli” dengan apa yang fred lakukan?? Apakah Fred juga peduli padaku ketika “mengajarkan Perturan Anngur” ???

Yah… begitulah… kita memang tidak pernah “dipersiapkan” untuk menjadi laki-laki yang berstatus suami atau bapak demikian juga para perempuan tidak pernah “persiapkan” menjadi istri atau ibu (ketika kecil selalu “dikudhang” dengan kata-kata… “Cepet gedhe.. ndang iso dadi dokter” gak penah saya dengar… ada ang bilang…, ndakgedhe… bencepet kawin… trus dhuwe anak sing akeh… ha ha ha ) Ditambah dengan “pola asuh” dan bentukan dari masyarakat…. tambah.. tajamlah… beda laki-laki dan perempuan.

Sehingga ketika dua jenis makhluk ini bersatu dalam mahligai pernikahan… cerita di atas… akan sering berulang…diaplikasikan pada hal yang paling remeh.. hingga prinsip-prinsip hidup. Bila tiba di ujung kejenuhan…

Hmmm….. perkawinan memang perjalanan panjang dan dinamis… kita tidak pernah tahu apa yang ada didepan kita…, kita seringkali tidak lagi mengenali pasangan hidup kita sebagai orang yang menyebabkan kita memutuskan untuk menikah. (Kayaknya… salah ya… saya kawin dulu… atau saya sungguh menyesal telah menikahinya… dsb)

Pertanyaannya adalah :
1. Apakah saya juga “berubah” sampai dia tidak lagi mengenali saya?
Seperti apa yang saya katakan bahwa saya tidak lagi mengenalinya
2. Apakah benar bila “hidup penuh berdebatan” yang saya inginkan?
3. Benarkah sudah tidak ada lagi hal-hal baik yang mengingatkanku kepadanya.?
4. Bila saya masih mampu menghitung… kejelekannya.. apakah saya juga mampu menghitung kebaikkannya??

Just answer that questions pls….

PS:… Kado For Happy Anniversary… untuk seseorang.

Iklan

1 Komentar

  1. jookut said

    I’m not married yet. So for those muslim who want to know the marriage things just follow how Muhammad saw carried out his life within his family. Muhammad saw is the best answer for you.

    Yes… I am 100% agree with your comment.

    I hope… Who have probrems.. with their family life… such as “the matching of couple” like what I posted… turn around and see how Islam’s way…Insya Allah.

    Jazakallahu kh kn… for your comming and comment…
    I hope I will see your new comment soon

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.