“Mandi Matahari”

Baru-baru ini saya baru menyadari bahwa daerah “teritorial” bukan hanya diatas tanah saja.. tapi diambil garis lurus keatas… tepat mulai dari tanah (dengan acuan hak atas tanah yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan he he pusing amat si… yang tercantum di sertifikat) sampai… unlimited…. ke atas.

Heh… ini sebabnya…

Untuk orang-orang seperti saya…, sinar matahari adalah barang yang sangat berharga dan langka…..! bukan barang bebas.. seperti orang-orang kebanyakan. Kenapa? Karena untuk “menikmati mandi matahari” saya harus membuka hijab. Itu artinya saya harus punya tempat-tempat yang terbebas dari pandangan yang bukan “muhrim”. Terus-terang… saya penyuka sinar matahari… (bahkan waktu kecil saya selalu “legam” terpanggang matahari) dan (katanya) sinar matahari sangat baik untuk kesehatan. Bisa mencegah osteoporosis ya????

Karena itu… saya minta izin suami untuk “meninggikan” pagar halaman belakang rumah kami… Ya… belum lagi sempurna rapatnya… (saya suka gak enak-an sama tetangga… jadi rencana saya hanya sebagian pagar yang saya “tembok” sebagian lagi saya tutup dengan tanaman rambat) Tetangga kiri, tetangga kanan, tetangga belakang meninggikan rumah mereka menjadi 2 atau 3 lantai…. Yah….

Hilang sudah harapanku untuk “mandi matahari”…….. hik hik

Hikmahnya… adalah… saya makin tahu bahwa Islam itu Indah.. karena Islam mengajarkan untuk tidak “meninggi-ninggikan” rumah.. (Hukumnya Makruh bila tidak ada hajat)

Ini dikisahkan.. ketika datang seseorang kepada Nabi saw dan bertanya :
“Beritahukan kepadaku tentang tanda-tanda hari kiamat!”.

Rasulullah–Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Budak wanita melahirkan majikannya, engkau lihat orang yang telanjang kaki, telanjang badan, fakir lagi menggembala kambing, saling meninggikan bangunan.”

dan ketika orang tersebut telah berlalu, Nabi saw menjelaskan pada Umar, bahwa orang bertanya tadi adalah Jibril yang sedang mengajarkan Islam kepadanya

dikutip dari : “Beningnya Hati”

Iklan

Komentar ditutup.