“Bicara SEX pada Anak?”

Wah… bolehkah?
Kapan ?
Bagaimana caranya?
Seberapa jauh kita harus bicara?

Sahabat-sahabat… melihat perkembangan zaman saat ini.., saya sering merasa ngeri… semua informasi begitu cepat tersebar… dengan semua media yang “sangat mendukung” baik itu TV, telepon, HP, MP4, Radio, Internet, Gambar-gambar… Baik itu informasi yang baik… hingga informasi yang “gak karu-karuan”

Waktu saya ikut pelatihan di Yayasan Kita dan Buah hati… saya dikagetkan oleh.. informasi tentang begitu banyak hal-hal yang memberikan informasi salah tentang sex. Sex dijadikan sebagai “tujuan hidup”. (Bukan lagi sebagai karunia Allah… yang bertujuan mulia… demi kelangsungan umat manusia.)

Karena itu tentu saja orang tua boleh… bahkan harus bicara sex pada anak.

Karena jadi tujuan hidup.., banyak yang menghalalkan segala cara untuk meraihnya… termasuk diantaranya dengan memanipulasi anak-anak yang masih murni. Memberikan informasi dan cara-cara yang keliru dalam “pelaksanaannya”. Seperti… Sodomi adalah jalan keluar apabila… istri sedang berhalangan, sex adalah ungkapan rasa sayang… sehingga dengan siapa saja, asalkan ada rasa sayang.. halal. (Astaghfirullah…)

Dengan demikian ketika orang tua dengan segala kesadaran dan tanggung-jawabnya berbicara tentang sex..anak-anak akan mendapatkan informasi yang tepat dan benar tetang hal ini.

Karena itu… dengan banyak pertimbangan… pengetahuan tentang SEX, sebaiknya telah diberikan ke putra-putri kita, saat mereka berusia 9 tahun.

Saya termasuk orang tua yang beruntung…, karena ketika “kesadaran tentang perlunya” bicara SEX pada anak-anak… disekolah mereka (anak-anak saya sekolah di Sekolah Islam Terpadu sejak Play-Group) setiap hari jum’at untuk siswi-siswi (sambil “menghabiskan waktu” menunggu selesainya Sholat Jum’at) ada pelajaran “keputrian”. Mereka akan berbincang-bincang dengan guru-guru putri mereka tentang seputar kehidupan wanita… Alhamdulillah… Jadi… ketika saya baru mulai bicara, putri sulungku bilang… “Aku sudah tahu kok bu… kan kemarin.. bu Neny… udah cerita…. bla bla bla”

Begitu juga ketika saya baru mau PDKT dengan putraku… dia langsung cerita… bla-bla-bla… Tentang 3 waktu yang tidak diperbolehkan memasuki kamar orang tua, tentang… apa itu… bulu dan rambut.. tentang mandi junub…dsb dsb. Heh… Lega lagi

Saya tidak tahu apa yang terjadi… bila ada anak-anak yang sulit (pada umumnya anak zaman sekarang) berjumpa dan bercerita dengan orang tuanya karena kedua orang tuanya harus bekerja… dan sering kali juga tidak menyadari… bahwa putra-i mereka telah mulai meninggalkan alam kanak-kanak mereka.

Mereka hanya punya pembantu (yang tidak berani membantah ketika mereka meminta/ mengerjakan hal diluar batas)…. teman-teman sepermainan yang sedang sama-sama “mencarI”… TV, Video, MP3, SMS dsbnya… yang tidak bisa menyaring apalagi… memberi penjelasan apa yang mereka lihat.

Hmmm…. Bagaimana caranya….
Begini…Ada banyak media yang dapat digunakan untuk memulai pembicaraan…, misalnya… ketika mengenakan baju… ketika pergi ke Toilet Umum… Dapat dimulai tentang kenapa laki-laki berbeda dengan perempuan.. Dan… bertahap… Saya pernah menjawab pertanyaan anak-anak, ketika mereka melihat binatang-binatang kawin… dengan sekaligus menjelaskan tentang proses reproduksi binantang.

Sedang mengenai “Thaharah”… selain ini ada dalam kurikulum pelajaran.., saya pernah mengadakan praktek kilat… dengan putri sulung. Susahnya… dengan putraku… (heh kami kan beda dunia) saya belum bisa “menembus”… ya… mudah-mudahan suamiku dapat segera mengambil alih tugas ini..

Oya… di sekolah…anak-anak… “HIJAB” sangat diperhatikan… (maaf kadang kala saya malah merasa seolah-olah anak-anak ini “dipaksakan” untuk “menekan” perhatian mereka terhadap lawan jenis).. Saya masih belum sepenuhnya menerima… bila mereka selalu diminta untuk menjaga jarak dengan radius tertentu dengan lawan jenis…, kenapa?.. diluar sekolah.. mereka tidak dapat menerapkan. misalnya dalam Ang-kot.. mereka harus berdesakan. Ini akan menimbulkan “ketimpangan” pemahaman…
Jadi… saya lebih “longgar” dengan batasan… tidak “bersentuhan” yang sengaja, tidak “bicara” berlebih-lebihan”… dan tidak “ketergantungan”… (he he he… masih tetap “galak” dan “kolot” ya… untuk ukuran zaman sekarang…. ya… mudah-mudahan mereka paham)

Disisi lain… saya selalu berusaha untuk selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, mendengarkan cerita mereka seberapapun “anehnya” (kendala si… satu… saya seringkali “terpaksa” mengabaikan anak yang satu… ketika anak yang lainnya lebih membutuhkan saya) Bahkan… saya pernah “ditegur” oleh wali kelasnya… karena anak saya cerita… dia nonton film yang ada adegan mesranya bersama saya… padahal ceritanya… ketika itu… saya meminjam VCD film remaja…, tapi remaja amerika… dan sebagaimana biasanya mereka “bebas”…, hanya kissing.. setelah itu gambar dialihkan.. pada adegan berikutnya…walaupun itu sudah cukup untuk membiarkan “imajinasi” melayang-layang. Lalu sambil nonton (saya hanya ber2 dengan putri sulung) saya menerangkan… bahwa itu begini… bahwa itu sebaiknya… ini dsb-dsbnya. Dan waktu saya ceritakan pada sang bapak (yang sedang bertugas…. nun jauh disana) beliau setuju… asal hati-hati dan tetap berpegang pada niatan mendidik serta tidak lepas dari tuntunanNYA

Prinsip saya… Lebih baik anak-anak tahu tentang SEX dari saya orang tuanya… yang insya Allah berjuang untuk memikul amanah…. daripada dengan siapapun dia… yang tidak tahu apa motivasinya..

Mudah-mudahan yang cuma sedikit dari saya ini bisa bermanfaat ya…

Mudah-mudahan kita semua dijagaNYA.. untuk selalu istiqomah dijalanNYA. Amin

Iklan

1 Komentar

  1. mossavi said

    Assalamualaikum Yanti. Maaf sekadar ingin tahu, kamu berasal dari Indonesia? Punyai anak remaja? And thanks for reading my article(s). Moga Allah bersama kita selalu! Wassalam.

    Waalaikumsalam… iya saya orang asli Indonesia, tinggal di Indonesia… Anak Remaja ya… putri sulungku 15 tahun.. dan seorang anak pra-remaja… putraku.. 11 tahun…
    Insya Allah Jazakillah untuk doanya…
    Jazakillah untuk kebaikan hatimu mengunjungi saya….
    Semoga Allah mengekalkan tali silahturahmi…

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.