“Pelajaran Baru dari Dunia Aini”

Allah mempertemukanku dengan seorang ibu…, Ibu dari seorang putri penyandang Autis.
Saat ini putri tersebut telah sekolah kelas V SD. SD reguler.

I never forget… the way she.. open our first confersation.
“Wah… Aini sudah banyak ya… kemajuannya…, terakhir ketemu… Aini belum sebanyak ini bicaranya…”

Subhanallah… Saya benar-benar terkejut… Rupanya ia selalu mengamati Aini….
Ya… kami satu kolam renang…, tiap rabu dan jum’at. Saya “tidak sempat” menyadari kehadirannya… Hmmm saya terlalu “sibuk dengan dunia saya dan dunia Aini”…, terkonsentrasi hanya pada Aini…, Bagaimana agar Aini dapat berenang…. sampai kehadiran orang lain dikolam renang itu tidak ada artinya….. (Ampuni saya ya Allah) Saya juga tidakmenyadari kalau sudah beberapa bulan dia absent karena sakit…. (Ya Allah… bagaimana mungkin saya begitu egois)

Ibu yang baik hati itu…, akhirnya… jadi salah-seorang “dosen” saya… Dosen yang mengajarkan bagaimana mendidik anak-anak Autis… Tidak marah ketika saya banyak bertanya atau protes…. Tidak mudah tersinggung dan sakit hati… bila saya banyak bertanya dengan “blak-blakan”

Kalimat yang “tertancap” kuat dalam benakku adalah… “Mempunyai anak autis.., kita mesti harus sabar dan “nrimo”… apapun yang orang katakan, apapun yang orang lakukan… terhadap anak-anak kita… jangan bersikap keras… Itu bukan salah mereka ketika mereka bersikap seperti itu…, Itu adalah nasib kita yang harus kita terima….”
(Ya Allah… mendengar itu… hati saya seolah diiris dan sedih tidak terkira)
Karena… (lanjutnya).. Jika kita bersikap keras… yang rugi kita sendiri… Anak-anak kita akan makin tidak mendapat tempat… bahkan mungkin mereka akan dintimidasi….. (Airmataku mengucur….)
Jadi sekalipun kita sanggup membayar… berlipat-lipat agar mereka mendapat hal yang “equal” dengan teman sebaya… tetap kita tidak boleh menuntut “ke-equal-an” itu….

Ya Allah sedemikian “hina” dan “tidak berartikah” putra/putri kami dimata dunia???????

My little princess…, bagaimana mungkin… ibu harus membiarkanmu ada diposisi seperti itu…, tanpa boleh menolongmu… membantumu tegak… memperjuangkan harga dirimu??????

Ya Allah…. ya Allah… hanya padaMU aku mengadukan…..

Memang… apa yang beliau kerjakan…nyata hasilnya… Putrinya..begitu bersemangat…, punya teman-teman yang baik, dapat beradaptasi disekolahnya (hmmm saya sempat ngintip… kesekolahnya… dalam rangka cari sekolahan untuk Aini) aktif dikegiatan-kegiatan sekolah… Pelajarannya juga mampu diikuti.

Sebagai seorang ibu…, saya selalu “melindungi” dan “menjaga” anak-anakku dengan sangat hati-hati. (Sedemikian rupa sehingga suamiku suka bilang… saya over protective) I don’t know… apakah ini karena saya sering jadi “single parent”… Dalam kesendirian (ketika suami nun jauh disana) saya sering merasa beban itu saya “pikul sendiri”… saya sering ketakutan untuk dimintai pertanggungjawaban hal-hal yang tidak saya sengaja… atau diluar jangkauan saya seperti anak jatuh…, anak sakit…, anak nilainya kurang dsbnya….
Jadi… saya selalu berusaha “meletakkan” anak-anak di dalam “radius jangkauan” saya….

Hmmm hmmm hmmmm saya pun “melepaskan mereka” tapi……

Ada tahapan yang saya buat sendiri… untuk “melepaskan” anak-anak. Misalnya… SD klas 3 hanya boleh naik sepeda disekitar rumah…, SD klas 4 batas sepeda sampai.. batas kompleks… baru SD kelas 5 anak-anak boleh bersepeda ke sekolah (+ harus sudah menyandang “sabuk warna” tertentu dari suatu olah raga beladiri)… Dan ini sudah saya “terapkan” di kedua anakku…

Lalu bagaimana mungkin… saya harus “melepaskan” Aini… dengan segala kelebihan dan kekurangannya… sekarang???? Diusianya yang masih sangat muda???????? hik hik hik
Seperti apa yang ibu tersebut lakukan pada anaknya????

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah sebagai ketetapan yang tertentu waktunya” QS Ali Imran (3) : 145

“Plak”…. Seperti tamparan… ketika ayat itu terbaca…

Ya… apakah saya begitu yakin… saya dapat mendampingi Aini… sampai “tahapan” yang kakak-kakaknya capai sekarang???? Bukankah… ketetapan Allah itu sesuatu yang sulit dipastikan kapan datangnya???? hmmm saya bicara tentang kematian…..

Saya gak pernah tahu… kapan ajal ini sampai…
Karena itu… saya gak boleh menuntun anak-anakku (terutama Aini) sesuai kemauanku…
Harusnya… yang saya persiapkan adalah “Life skill” sesuai tingkatan usia mereka…. Agar sewaktu-waktu… sudah sampai saatku… anak-anakku gak “kebingungan” mencari dan membaca “peta kehidupan” (karena “sherpa”nya… gak ada lagi disamping)
Harusnya… saya membiarkan mereka untuk merasakan benturan-benturan lingkungan.., dengan demikian mereka akan juga belajar… bagaimana membuat pelindung dan strategi menghadapainya….

Saya salut… pada sahabatku tadi…Beliau sudah berhasil… mendidik putrinya menjadi seorang “prajurit tangguh” untuk terus berjuang disemesta ini… dan Beliau berhasil juga… me-manage- dirinya sedemikian rupa… sehingga begitu ikhlas dan percaya pada kebaikkan-kebaikkanNYA.. (Hmmm saya harus lebih sering ketemu, nanya… minta nasehat pada beliau…..)

Mudah-mudahan kita semua termasuk orang yang besyukur…, benar-benar dapat memikul amanah Allah (anak-anak)… menjadikan mereka muslimat tangguh… Amin

Iklan

Komentar ditutup.