“Yang tersisa dari Pilkada Jabar”

Ada yang tertinggal dari Pilkada ini…, cerita tentang “GOLPUT”… (termasuk saya he he he)

Dari hasil penghitungan… ternyata jumlah golput… lebih besar dari jumlah pemilih Ha-De…
So??? Mestinya… wakil Golput dong yang jadi… Gubernur dan Wakil Gubernur….
(ha ha ha ha ha)

Ini jadi lucu dan juga gak lucu…. Lucu… karena kok bisa (tu… kan keluar lagi kata-kata favoritku) yang tidak memilih “menang”… !!!! (walah walah…)
Gak lucu… karena… ini menunjukkan betapa.. rendahnya… kualitas administrasi negara dan kesadaran berpolitik warga negara Indonesia… (termasuk saya…. hik hik hik)

Sekali lagi saya jadi ingat sama Mr Ijima … Beliau adalah atasan saya ketika saya sempat bekerja dulu… Beliau sangat-sangat tertib… waktu itu,… terus-terang saya sebal… karena untuk saya banyak hal gak penting yang musti dipikirkan.dan dikerjakan.. misalnya… File surat keluar.. File surat masuk… File keuangan… File pegawai… sampai file tentang inventaris kantor… mesti warnanya mapnya beda. Belum lagi… check check and re-checknya… membuat saya seperti tidak dipercaya….
Dan “On-time”nya itu lo… walah… membuat saya benar-benar gulung koming… (saya bersyukur bisa “lulus” dari training beliau… bahkan ketika saya re-sign…, beliau mengatakan… saya sudah seperti anaknya… kenang-kenangan dari beliau adalah diktat kimia…”asli”, yang dibeli dan ditentengya sendiri ketika liburan ke kampung halaman, he he he….karena saya pamit mau nerusin kuliah yang saya tinggal untuk cari pengalaman kerja,… saya dapat diktat… So sweet…)

Sekarang… saya baru tahu… bahwa memang begitu cara “pengelolaan” yang benar… dalam hal apapun… Dan itu… “Islam baaannnngggeeeet” Jika ingin berhasil… disiplin diri….., tertib, istiqomah.., jujur, gak pantang menyerah… mau terus belajar dsb-dsbnya…. harus terus dipegang dan dikembangkan. Thanks Mr Iijima…..

Kembali ke Pilkada Jabar… Seringkali… saat eforia.. Pilkada… orang bersemangat mendukung si A dan si B… Ketika sudah berlalu, A+B sudah menjabat… ceritanya jadi berubah. Orang banyak ribut.. menghujat kepemimpinan mereka. Sebab utamanya… karena harapan mereka yang disampaikan saat Pilkada tidak terlaksana. Heh….

Wejangan suami untukku… “Dek… jangan pernah berharap pada manusia… siapapun dia karena pasti akan kecewa… berharaplah hanya pada Allah…Insya Allah akan dikabulkan”.

Ya… Siapapun yang jadi pemimpin.. baik itu Ketua RT, Ketua RW… Bupati, Camat…. dsb -dsb sampai Gubernur bahkan Presiden… hanyalah manusia biasa…. punya keterbatasan… Apalagi nyata ya… bila…tidak ditunjang 100% oleh aparatnya (masih banyak koropsi…, masih banyak yang belum tahu kewajiban – tahunya baru nuntut hak- bekerja tidak dibagian yang sesuai dengan keahliannnya…, sistim administrasi… belum rapi… dsb dsbnya…..)

Tapi sebaliknya saya begitu yakin… Haqul yakin… jika Allah sudah berkehendak… apapun itu…siapapun itu… “Kun fa ya kun”…. Tidak ada kata yang tidak mungkin… Indonesia akan mencapai kejayaannya. Insya Allah.

Hmmm saya hanya seorang rakyat kecil…, “Golput”…dan… “perempuan” pula… yang tidak terdengar suaranya..di arena negara… Tapi… saya yakin… doa lirih saya cukup kuat menembus… 7 lapis langit… langsung terdengar didepan Singasana Allah ketika saya mengadu, ketika saya memohon agar… negaraku negara Indonesia… segera bangkit…siapapun pemimpinnya. Amin

Hmmm saya tuliskan ini… karena simpati saya pada orang-orang yang sudah bersedia dan dipilih untuk menjadi pemimpin…(pemimpin apa saja) tapi… nyatanya… dibalik dukungan itu.. mereka di”ontang-anting”…, dijadikan “tumbal” untuk keinginan-keinginan pribadi….para pendukungnya (Dan kadang kala ini diperburuk lagi dengan “ketidak istiqomahan” pemimpin terpilih tersebut untuk menjalankan kemudi… nafsu pribadi, kepentingan golongan, hilang kewibawaan, tidak paham aturan dasar….dsb-dsbnya adalah sebab-sebabnya)

Iklan

3 Komentar

  1. qqq said

    Golput aja sok mikirin pemimpin, mana tanggung jawab sebagai warga negara yang baik yang ikut bertanggung jawab dalam memilih pemimpin yang didapat bertanggung jawab dunia dan akhirat? Kalo ditanya pilihan surga atau neraka masak sampeyan bisa bilang … saya pilh gak mati aja….

    he he he… iya jujur saya golput.. Tapi golputku bukan saya sengaja lo…
    saya sudah “gedor-gedor” rumah bu RT minta kartu pemilih… walah gak dapat… dan KTP juga gak bisa dipake milih kalau namanya gak tercantum dipapan daftar pemilih disebelah TPS.
    Calon dihati si ada (he he he RHS lo) tapi gak kesampaian… nyoblos…
    Mudah-mudahan… pemilihan tingkat berikutnya… bank data pemerintah udah di up-date ya… Amin

  2. rofiq said

    Kalok di suruh Milih Tahi Sama Air Comberan , Milih mana hayoo…
    2 Tahun untuk mengembalikan Modal
    2 Tahun untuk Memperkaya diri
    1 tahun untuk kampanye
    Kapan untuk Rakyatnya????

  3. joni said

    kayaknya hampir di semua PILKADA angka golput cukup banyak, bahkan di DKI pun yg dibilang kesadaran politiknya cukup tinggi, angka golput cukup banyak. kalau golputnya krna tidak di data oleh petugas KPU,maka tuk yg akan datang KPU harus lebih profesional lg dlm bekerja dan mengusahakan agar semua pihak yg punya hak pilih mendapatkan haknya.sedangkan kalo golputnya krna pilihan pribadi masing2 individu, kita harus menghormati pilihannya.
    tetapi yg jelas,dlm hidup ini kita harus berpihak dan menentukan dukungan.

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.