Cinta Suci Pendamping

Tulisan ini… saya copykan dari “Mutiara Amaly” dan saya persembahan untuk para pahlawan keluarga….

Tak ingin segera melepaskan pelukan. Erat dan semakin kuat merengkuh. Lalu dielusnya dengan lembut wajah teduh yang dihiasi jilbab berwarna pudar itu. Kedua pasang mata saling menatap mesra, penuh cinta. Tanganpun perlahan takzim diciumnya, berharap kelak merengkuh surga. Kemudian kaki tegap melangkah dengan iringan senyum serta doa istri. Sosok tubuh itu tampak semakin menjauh, namun hati akan selalu memautkan butir-butir rindu.

Lelaki biasa itu sesungguhnya sosok yang begitu sederhana. Dirinya hadir untuk mengisi rongga jiwa yang dahaga setelah tiba pertemuan yang ditentukan Sang Pemilik Cinta. Kala itu, memang tidak ada mahar intan permata atau janji sebuah istana nan megah. Ikatan suci hanya diikrarkan dengan bingkai keserhanaan dimata manusia. Penuh harapan, menyulam keridhaan Sang Pencipta.

Sosok tegarnya memang tak pernah ragu mencari rezeki walau hanya sekedar sesuap nasi. Hatinya teguh, bahkan ketika cahaya mentari pagi belum sempurna karena sang surya masih meringkun di perduan. Demi keluarga, jiwa serta raga rela digalang dengan kerasnya kehidupan. Meniti hari dan waktu, dibelahnya langit serta samudra.

Sungguh teramat indah kehidupan dua manusia yang saling mencintai. Dan bukankah dengan cinta itu telah menjadikan sepasang manusia rela bersatu?

Selalu… Penantian kekasih dirumah akan membangkitkan sejuta harapan. Sehingga lahirah dua hati yang saling merindui. Karenanya pula semangat semakin meluap dan sekujur tubuh terasa lebih bergelora. Impianpun menyelimuti jiwa hingga menggerakkan raga untuk menjadikan sebuah kenyataan. Kerinduan memang senantiasa melahirkan kebahagiaan.

Kembali dipatrinya di lubuk hati, lelaki perkasa adalah seorang yang mendapatkan harta dengan cucuran keringat sendiri. Kemudian dengan itu diberikannya makanan dan pakaian untuk dirinya serta orang-orang tersayang. Wanita dan anak-anak belahan jiwa yang senantiasa menunggu kepulangannya dirumah, juga tak pernah meminta lebih. Sabar menerima apa saja yang diberikan, apa lagi itu semua adalah tanda cinta sang belahan jiwa

Ketegarannya mencari nafkah sungguh menerbitkan bangga. Keikhlasan membanting tulang demi keluarga, bahkan walau dengan bergenang air mata darah menunjukkan jati dirinya sebagai pahlawan keluarga… Bahkan tidak heranlah, bau keringatnya setelah seharian mencari nafkah selalu menebarkan aroma kerinduan.

Duhai Pemilik Cinta… Betapa sujud panjang dan tetesan air mata kesyukuran seakan tidak ada artinya dengan apa yang selama ini Engkau Berikan. Lelaki itu sesungguhnya bukanlah Nabi Daud AS yang juga senantiasa mencari makan dari hasil usahanya sendiri. Namun semoga pula jerih payahnya menuai pahala tiada henti

Dan ketika untuk kesekian kalinya bola mata sang istri menyorotkan tanya di saat sosok itu pulang di malam yang larut. Bahkan jemarinya belum lagi sempat menyambut jemari keras sosok itu, sang suami pun menjawab dengan lembut, “Karena kau cintaku…..”

Komentar ditutup.