“Being Diffrent”

Kemarin ini saya gak buka “rumah”ku…
Hick…sedih juga… saya “kangeennn” dengan rumahku yang makin indah dengan “celoteh” sahabat-sahabatku yang bertambah dari hari ke hari

Masalahnya… Ada beberapa hal yang harus saya lakukan
1. (yang happy dulu ya….)
He he he… alhamdulillah… “ayam goreng kriukku”… lagi laku….
ada yang pesanan untuk syukuran ulang tahun anaknya…. bikin paket dengan nasi putih yang
dibungkus daun dan dibox kertas..(supaya gak kena racun dari streoform dan plastic)
2. Leher mulai lagi pegal… wah… kayaknya gak boleh ditunda dan dianggap enteng lagi ni… harus
segera konsultasi dengan yang ahli…
3. Urusan dengan lingkungan…

Yang ketiga ini… yang bikin saya… “putar otak beraaaat

I’am… too fast…

(mudah-mudahan ini menjadikan saya sebagai orang yang selalu bersyukur… bukan sebaliknya)

I never forget (ini saya ungkapkan bukan dalam kondisi riya’…. insya Allah)saat-saat ketika
1. Ketika saya membujuk bapak-bapak diwilayahku “belajar tilawah”… Hari itu… (setelah mencari guru,… mencari tempat dan pembicaraan beberapa kali) saya pergi mengetuk pintu rumah beberapa tetangga… menagih kesanggupan mereka untuk mulai belajar karena gurunya sudah datang… tapi muridnya belum muncul satupun juga… (*heh… may be… that day… they “angry” with me yach????) Alhamdulillah… hari ini… setelah hampir 4 tahun berlalu… banyak kemajuan para bapak tersebut (yang sudah tinggal sisa-sisa karena tereliminasi sebagian). Every time… I heard.. mereka melantunkan tilawah… I’am crying… (deep in my heart…) for this bleesing. Alhamdulillah ya Allah… Engkau memberiku kesempatan untuk beramal.

2. Ketika saya mengajak bapak dan ibu di lingkunganku untuk membentuk kelompk “Tarbiyah”.. Hmmmm Alhamdulillah… sekarang ibu-ibu dilingkunganku sudah mengikuti Tarbiyah… Bapak-bapak belum… tapi Insya Allah dalam waktu dekat… insya Allah….

3. Ketika saya menawarkan untuk belajar bahasa Arab… “they think…???????” Alhamdulillah… hari ini tadi sudah ada kesepakatan untuk mulai segera belajar.

4.Ketika saya menawarkan untuk bersama-sama mengelola zakat… Alhamdulillah sempat “terlaksana” walaupun sekarang vakum….

Sekarang ini… dengan sedih… (terasa “nyelekit…” dalam dada) tidak ada satupun yang mau jadi pimpinan untuk kelompok pengajian kami… jadi ini tentang konsep kepemimpinan
Hmmm Ya Allah… saya tahu… saya tidak punya hak untuk “memaksakan” kehendak pada siapapun. Yang saya bisa hanyalah… memaksaku… memposisikan diriku sampai pada keadaan orang-orang yang tidak dapat kupaksakan… akan terbuka pintu hatinya… tentang manfaat dari “pemaksaanku”
Yang waktunya, tempatnya dan prosesnya… Allah yang Tahu…

Ya… I’am too fast… dengan kesadaran akan pentingnya sesuatu… tentang how to reach… kepentingan itu, dan ini terulang kembali dengan konsep tentang kepemimpinan ini. Insya Allah… akan tiba waktunya… para bapak ini… menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin adalah kewajiban yang (seringkali) tidak dapat ditolak…, dan dipelajari lebih dahulu (suatu saat orang akan “terjebak” untuk segera menyesesuaikan diri… seperti…menjadi single parent).

Buat saya (mudah-mudahan tidak salah)… kita semua dalam perjalanan… , perjalanan menuju akhir kehidupan… bertemu dengan Sang Khalik. Karena itu… Etika/ Adab tentang “bepergian” dapat diadaptasikan disini

Orang Muslim meyakini bahwa bepergian adalah salah satu kebutuhan hidupnya yang tidak terpisahkan darinya. Sebab, haji, umrah, perang, menuntut ilmu, berbisnis, dan melindungi saudara-saudara seakidahnya, itu semua kewajiban yang menghendaki perjalanan dan bepergian. Oleh karena itulah, Allah Ta‘ala memberi perhatian besar terhadap hukum hukum dan etika-etikanya. Orang Muslim harus mempelajari itu semua dan merealisirnya.

Etika-Etika Perjalanan

Di antara etika-etika perjalanan adalah sebagai berikut:

(Membaca Doa untuk memulai perjalanan terlebih dahulu)

1. Musafir harus mengembalikan barang-barang yang pernah dirampasnya kepada pemiliknya, dan barang-barang titipan kepada pemiliknya, sebab perjalanan itu identik dengan kematian.

2. Musafir menyiapkan perbekalannya dan sumber yang halal dan meninggalkan uang belanja kepada orang yang wajib ia nafkahi seperti istri, anak, dan orang tua.

3. Musafir pamit kepada keluarga, saudara-saudara, dan teman-temannya, dan berdoa dengan berikut kepada orang yang ia pamiti, “Aku titipkan kepada Allah agama kalian, amanah kalian, dan penutup amal perbuatan kalian.”

Kemudian orang-orang yang ia pamiti membalas doanya dengan mengatakan, “Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, dan mengarahkanmu kepada kebaikan dimana saja engkau berjalan.”

Sabda Rasulullah saw.,

“Sesungguhnya Luqman berkata, ‘Sesungguhnya jika Allah dititipi sesuatu, Dia pasti menjaganya’.” (Diriwayatkan An-Nasai dengan sanad yang baik).

Kepada orang-orang yang mengantarkan kepergiannya, Rasulullah saw. bersabda,

“Aku titipkan kepada Allah agama kalian, amanahmu, dan penutup amal perbuatan kalian.” (Ditiwayatkan Abu Daud).

4. Musafir bepergian dengan ditemani empat orang, atau tiqa orang dan orang-orang; yang telah ia seleksi sebelumnya dari orang-orang yang layak bepergian dengannya, karena perjalanan itu membongkar jati diri orang. Dinamakan safar (perjalanan) karena ia memperlihatkan akhlak manusia.

Sabda Rasulullah saw.,

“Satu pengendara (musafir) adalah syetan, dua pengendara (musafir) ialah dua syetan, dan tiga pengendara (musafir) ialah rombongan musafir.” (Diriwayatkan Abu Daud, An-Nasai, dan At-Tirmidzi. Hadits ini shahih)

Sabda Rasulullah saw.,

“Jika manusia mengetahui bahaya yang ada pada pergi sendiri seperti yang aku ketahui, maka tidak ada seorang pun yang berani bepergian sendirian pada satu malam pun.” (Diriwayatkan Al Bukhari).

5. Rombongan musafir harus menunjuk salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan yang memimpin mereka dengan bermusyawarah, karena Rasulullah saw. bersabda,

“Jika tiga orang keluar untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

6. Sebelum musafir berangkat bepergian, ia harus mengerjakan shalat istikharah, karena Rasulullah saw. menganjurkan hal yang demikian. Bahkan shalat istikharah itu beliau kerjakan ketika mengajarkan salah satu surat Al-Qur’an, dan ilmu-ilmu lain kepada para sahabat. (Diriwayatkan Al-Bukhari)

7. Ketika meninggalkan rumahnya, musafir berdoa dengan doa berikut,

“Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah. Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari tersesat dan disesatkan, dari tergelincir atau digelincirkan, dari bodoh atau dibodohi.” (Diriwayatkan Abu Daud. Hadits ini shahih).

Jika ia telah menaiki kendaraannya, ia berdoa,

“Dengan nama Allah, dengan nama Allah, dan Allah Mahabesar. Aku bertawakkal kepada Allah. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung. Apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki Allah itu tidak akan terjadi. Mahasuci Dzat yang menundukkan semua ini bagi kami, padahal sebelumnya tidak mampu menguasainya Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan, ketakwaan, dan amal perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah bagi kami perjalanan kami ini, dan dekatkan jauhnya untuk kami. Ya Allah, Engkau sahabat di dalam pejalanan, dan pengganti di keluarga, dan harta. Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, kegagalan, dan pemandangan buruk pada harta, keluarga, dan anak.” (Diriwayatkan Abu Daud) .

8. Musafir berangkat pada hari Kamis pagi, karena dalil-dalil berikut:

“Ya Allah, berkahilah umatku di pagi harinya.” (Diriwayatkan At Tirmidzi).

Karena diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. biasa keluar bepergian pada hari Kamis.

9. Musafir bertakbir di setiap tempat (dataran) tinggi, berdasarkan hadits Abu Hurairah ra yang berkata,

“Seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku ingin bepergian, maka beri aku nasihat’. Rasulullah saw. bersabda, “Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah, dan bertakbir di setiap tempat (dataran) yang tinggi.” (Diriwayatkan At Tirmidzi dengan sanad yang baik).

10. Jika musafir takut kepada manusia, ia berdoa,

Ya Allah, aku jadikan Engkau di leher-leher mereka dan aku berlindung diri kepada-Mu dari keburukan mereka.”

Rasulullah saw. biasa berbuat seperti itu.

11. Berdoa kepada Allah Ta‘ala dalam perjalanannya, dan meminta kebaikan dunia dan akhirat kepada-Nya, karena doa dalam perjalanan itu dikabulkan. karena Rasulullah saw. bersabda,

“Tiga doa yang mustajab dan tidak ada keragu-raguan di dalamnya, doa orang yang tertindas, doa musafir, dan doa ayah untuk anaknya.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dengan sanad yang baik).

12. Jika singgah di suatu tempat, musafir berkata,

“Aku meminta perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan apa yang Dia ciptakan.”

Jika malam telah tiba, ia berdoa,

“Wahai bumi Tuhanku, Tuhanmu adalah Allah, sesungguhnya aku berlindung diri kepada Allah dari keburukanmu, keburukan apa saja yang ada padamu, dari keburukan apa yang diciptakan padamu, dan dari keburukan apa saja yang berjalan di atasmu. Aku berlindung diri kepada Allah dan keburukan singa, ular besar, ular kecil, kalajengking, penghuni daerah ini, ayah, dan apa yang ia lahirkan.” (Diriwayatkan para pemilik Sunan dan Muslim).

13. Jika ia takut binatang buas, ia berdoa dengan doa,

“Mahasuci Raja Yang Mahasuci, Tuhan para malaikat, ruh (Jibril), langit-langit itu dimuliakan dengan kemuliaan dan kebesaran.”

14. Jika musafir tidur pada awal, ia bentangkan kedua tangannya. Jika ia tidur di akhir malam, ia tegakkan salah satu tangannya, dan meletakkan kepalanya di telapak tangan satunya agar ia tidak kebablasan tidur sehingga ia tidak bisa mengerjakan shalat Shubuh pada waktunya.

15. Jika musafir melihat sebuah kota, ia berdoa,

“Ya Allah, beri ketenangan di dalamnya, dan berilah kami rizki yang halal di dalamnya. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu kebaikan kota ini, dan kebaikan apa saja yang ada di dalamnya. Aku berlindung diri kepada-Mu dari keburukan kota ini, dan keburukan apa saja yang ada di dalamnya.”

Rasulullah saw. terbiasa membaca doa di atas jika beliau melihat salah satu kota dalam perjalanannya.

16. Musafir harus segera kembali kepada keluarga dan negerinya jika ia telah berhasil memenuhi kebutuhan dalam perjalanannya, karena Rasululiah saw. bersabda,

“Perjalanan adalah potongan siksa yang menghalangi salah seorang dari kalian dari makanan, minuman, dan tidur. Jika salah seorang dari kalian telah selesai memenuhi kebutuhan dalam perjalanannya, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.” (Muttafaq Alaih).

17. Jika musafir hendak pulang ke daerahnya, ia bertakbir tiga kali dan berkata,

“Mereka kembali, bertaubat, beribadah kepada Tuhan kita, dan memuji-Nya.”

Ia mengucapkan doa di atas secara berulang-ulang, karena Rasulullah saw. melakukan hal yang demikian.

18. Musafir tidak boleh mengetuk pintu rumah istrinya pada malam hari, namun ia harus mengutus seseorang kepada keluarganya untuk memberi khabar gembira tentang kedatangannya, dan tidak mengejutkan mereka dengan kedatangannya kepada mereka. Inilah petunjuk Rasulullah saw. dalam hal ini.

19. Wanita tidak boleh bepergian selama sehari atau semalam kecuali dengan mahramnya, karena Rasulullah saw. bersabda,

“Wanita tidak halal bepergian selama sehari dan semalam kecuali dengan mahramnya.” (Muttafaq Alaih).

Disunting dari Etika & Hukum bepergian

Jika kita berpedoman pada uraian tulisan diatas jelas bahwa kelompok pengajian kami, tidak boleh tidak memiliki seorang pemimpin dan tidak ada “Konsep kepemimpinan kolektif”… *heh… masih sulit… untukmenyatukan pendapat tentang ini…. *heh. Being diffrent is not easy… apalagi… kalau bedanya… karena berjalan lebih dulu…. Mudah-mudahan saya akan terus maju… tidak pantang menyerah, Amin)

Demikianlah… dengan sedih… dalam simpuh dan sujudku… kembali saya memohon

Ya Allah… sungguh hanya Engkau yang Maha Tahu apa yang terbaik bagiku dan bagi sahabat-sahabatku, (sebelum ini memang Imamku yang “mendapat kehormatan”, sempat vakum dengan tugas ke beda kota selama 2.5 tshun… dan… sekarang ia berharap… ada pergantian kepemimpinan) saya berharap Engkau sudi memberi kami cahayaMU untuk penerang langkah kami, untuk membuka pintu hidayah dariMu, untuk membuat kami semakin hari semakin baik dan siap menjadi Insan-Insan yang Kamil. Amin

1 Komentar

  1. aminnnn

    Jazakallahu khairan katsiran….

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.