“Hidup di Jalanan”

Semalam…. saya pergi dengan sang Imam….
(Hmmm sudah lama nih… gak “berdua-an”…. he he he… selalu dengan “bala kurawa”)

Diperempatan… lampu merah… leherku serasa dicekik…
Malam sudah larut… anak-anak kecil masih mondar-mandir…
Dengan gelas plastik ditangan
Beredar dari satu kendaraan ke kendaraan lain yang sedang berhenti di lampu merah.
Meminta uluran tangan memberikan lembaran rupiah

Hmmm mereka memang terlihat “baik-baik” saja…
Tertawa… , bercanda…..
Bahkan saling mendukung…
Ketika seorang anak mendapatkan uang pemberian…
Ia segera memberi tahu kawan-kawan lain yang ada juga disana…
Kawan-kawan sang bocahpun… mendatangi kendaran tersebut..
Berharap mendapatkan jatah yang sama.

Hmmmm hatiku kembali teriris… dan disiram air jeruk limau… pedih sekali…

Saya teringat ketiga anakku yang saat ini ada dirumah…
Hangat bergelung didalam kamar masing-masing.
Sudah makan malam…
Sudah minum susu dan vitamin
Pakaian merekapun bersih dan wangi…
Badan merekapun bersih sudah bebenah untuk pergi tidur.

Dengan membandingkan anak-anakku dirumah dengan anak-anak yang hidup dijalanan ini…
Saya menjerit… merasakan betapa pedih perjuangan anak-anak ini
Hidup dijalanan (saya tidak melihat adanya orang dewasa disekeliling…, mungkin sembunyi ya…)
Tanpa alas kaki
Dengan resiko cukup tinggi… berkelit diantara… kendaraan
Tanpa ada sebuah perusahaan asuransipun yang akan menanggung bila terjadi apa-apa..
(*heh… benarkan??? Ataukah ada yang mau????)

Saya tahu ini satu lagi… penyakit masyarakat…
Yang harusnya ditanggulangi bersama….
Keluaga dekat (bapak, ibu, kakek, nenek, paman, om dsb dsb)
Tetangga dekat
Sahabat dekat
dan… Abdi negara….

Jangan biarkan… anak-anak ini… akan menjadi generasi yang “keras”
Tidak lagi berhati nurani… karena mereka hanya tahu bagaimana “bisa bertahan hidup” dan tidak mengerti tentang “kehidupan”

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain” QS At Taubah (9) : 71

(Jujur…Sayapun sering dilema… untuk berderma… karena tahu… lembaran rupiah yang saya ulurkan tidak pernah menyelesaikan masalah…. bahkan bisa jadi… bikin anak-anak ini makin getol “bekerja”… Tapi tidak memberipun juga jadi pilihan yang tidak baik… karena pernah terekam ditelingaku, bocah-bocah yang mendapat amarah karena tidak memberikan “setoran” sejumlah tertentu pada orang tuanya)

Komentar ditutup.