Satu Lagi Pasangan Mulia….

Pada suatu ketika ada seorang laki-laki yang bernama Muhammad..

Ia adalah putra dari seorang ulama besar yang bernama Al-Mukaddas Al Ardibily.

Ia tinggal di desa Nayar-Ardibily (salah-satu kota di Iran)

Suatu ketika… saat Muhammad sedang menyirami ladangnya…, ia melihat sebuah apel terbawa air sungai… Diambilnya apel tersebut dan dimakannya, hingga habis. Tak berapa lama… timbul sesalnya, beliau merasa menyesal karena telah memakan apel yang terbawa air sungai tersebut, tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada sang pemilik. Demi menghilangkan rasa sesal tersebut.., beliau berjalan menyusuri… aliran sungai mencari pohon apel, sebagai sumber adanya buah apel.

Letih yang menderanya… akhirnya terjawab, tibalah ia disebuah ladang apel, yang pohon-pohonnya menjulur diatas sungai. Beliau segera menemui pemilik ladang dan memohon kerelaannya.
Pemilik apel berkata: “Aku merelakannya, namun pohon apel ini milik aku dan saudaraku. Sementara aku tidak tahu apakah ia merelakannya atau tidak? Dan sekarang ia tinggal di
kota Najaf (Irak)”.
Mendengar hal itu Muhamad Ardibily merasa sedih. Dengan masih memikirkan rasa sesalnya, akhirnya beliau berangkat ke kota Najaf. Sesampainya di kota Najaf, beliau menemui adik pemilik kebun apel dan menceritakan semua peristiwa yang telah terjadi serta memohon kerelaan darinya.

Begitu mendengar tutur kata pemuda Muhammad ini, sang pemilik pemohon apel tersebut merasa kagum… dan berkesimpulan pemuda yang menghadap kepadanya pasti bukanlah pemuda sembarangan. Karena itu iapun akhirnya mau menerima permohonan kerelaannya dengan syarat ia harus menikah dengan putrinya. Dalam memperkenalkan keadaan putrinya beliau berkata: “Ia buta, tuli, bisu dan lumpuh”.

Demi rasa takutnya akan azab Allah dan sesalnya telah melanggar perintah Allah, maka pemuda Muhammad tersebut menerima syarat yang ditentukan oleh pemilik pohon apel. Tak lama kemudian, upacara pernikahanpun dilaksanakan. Pada malam pengantin Muhamad sangat kaget karena tidak mendapatkan istrinya sebagaimana yang telah disifati oleh ayahnya. Bahkan ia mendapatkan istri yang cantik dan tidak cacat. Dengan penuh keheranan ia menanyakan sebab perkataan ayah istrinya kepadanya, dalam menjawab pertanyaan suaminya ia berkata: “Maksud ayahku, bahwa aku buta karena aku tidak pernah melihat laki-laki yang bukan muhrim. Aku tuli karena aku tidak pernah mendengar perkataan buruk. Aku bisu karena aku tidak pernah menggunjing orang dan mengatakan perkataan buruk, serta aku lumpuh karena aku tidak pernah melangkahkan kakiku menuju tempat-tempat maksiat”.

Demikianlah dari pernikahan kedua orang yang sangat mulia ini… (seorang laki-laki yang sangat menjaga apa-apa yang menjadi haknya dan tidak mau melanggar apa-apa yang bukan haknya, dengan seorang wanita yang buta, tuli, bisu dan lumpuh dalam hal yang berkaitan dengan hal-hal yang dilarangNYA)  lahirlah seorang ulama besar yang bernama Ahmad yang kemudian dikenal dengan Syeikh Al-Mukaddas Al-Ardibily.

3 Komentar

  1. Zulmasri said

    kisah yg luar biasa. andai saja masih ada banyak orang yg bertindak spt pemuda itu. kayaknya korupsi bisa dituntaskan

    Hmmm…. tugas orang tua… mendidik anak-anak se”kelas” mereka…
    Insya Allah bisa… Insya Allah

  2. nenyok said

    Salam
    Subhanalloh, kisah yang sangat luar biasa.

    Salam kembali…
    Ya… suri teladan utama… sayapun… terpacu… untuk bisa mendidik anak-anak seperti itu….(hasil akhir… bukan milik kita kan???.. yang penting berusaha… terus tidak berhenti) Makasi ya…sudah mampir lagi…

  3. subhanallah

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.