Proses Belajar Aini

Sungguh semakin saya memperhatikan Aini, semakin kagumku pada Allah azza wa jalla.

Ketika kedua anakku yang terdahulu lahir dan tumbuh.., tidak hal yang sempat tertinggal dibenakku, selain catatan-catatan singkat tanggal pencapaian perkembangan. Tidak demikian dengan Aini…, setiap kemajuan yang ia raih…, merupakan sebuah penantian panjang… dan melewati proses-proses perjuangan.

Ini saatnya saya membicarakan tentang perkembangan akademiknya.

Dasar-dasar dari terbukanya dunia ilmu pengetahuan bagi seorang anak manusia adalah kemampuan untuk membaca, berhitung dan menulis.

Untuk bisa sampai kepada tahapan tersebut.., (saya mencoba menuangkan apa yang telah, sedang dan akan saya hadapi….) sebagai orang tua atau guru… kita harus memperhatikan kesiapan anak. Cara yang saya lakukan adalah dengan evaluasi dari pengamatan “letupan-letupan” tingkah laku anak.

I. Untuk membaca…,
Ada beberapa metode cara pembelajaran membaca ini. Yang kebetulan cocok dengan Aini adalah gabungan antara metode “Bunnayan” dan “IQRO”

Metode Bunayan..
Metode ini mengutamakan rangsang pada visualisasi dan audio.
Penitik beratannya adalah dengan permainan warna, ukuran, bentuk, dan benda. Alat yang digunakan sebagai alat bantunya adalah kaset VCD.
Keistimewaannya adalah… huruf yang sama, yang ditampilkan dalam VCD ini berubah-ubah ukurannya, warnanya, jumlahnya.. dengan diimbangi suara yang berubah juga intonasinya.

Metode “IQRO”
Metode ini mengajarkan anak untuk langsung mengenal huruf dan kata yang seirama. Misalnya a, ba, ca.

Metode kartu-kartu.
Saya menggunakan kartu-kartu kecil untuk mengenalkan huruf-huruf dan kata. Awalnya… saya mengenalkan dengan cara “label” (sebuah huruf saya perlihatkan dan sampaikan) kemudian masuk ke tahap “samakan” (kartu-kartu saya buat masing-masing berpasangan, aini saya minta untuk mencari masing-masing pasangannya) kemudian tahapan “identifikasi” (Aini saya minta untuk mencari huruf tersebut dalam beberapa kata)
Misalnya…
• Saya mengenalkan huruf a, maka saya perlihatkan kartu (seperti dibawah ini) dengan mengatakan “a” ini diulang-ulang beberapa kali dalam satu hari.
• Kartu berpasangan dengan berisikan huruf vokal (maks 3) saya letakkan diatas meja dan aini saya minta untuk mencari pasangan kartu huruf “a” dengan huruf “a”.
• Berbagai macam kartu (maks tiap kali 5 buah) bergambar dengan nama benda saya letakkan didepannya.., dan saya minta ia untuk mencari huruf a disetiap kata yang tertera dikartu tersebut. Misalnya dalam kata “mata”.., saya minta aini untuk menunjukkan dan menyebutkan yang mana dari bagian kata “mata” tersebut yang berarti a

Metode label
Benda-benda di rumah, saya berikan label sesuai bendanya… misalnya lemari baju saya tempel dengan kata “lemari”, kursi dengan tulisan “kursi” dsbnya.
dengan demikian saya mengharap aini mengerti apa yang dibacanya dengan melihat benda dimana kata tersebut diletakkan.

II Belajar Menulis

Aini, kebetulan motorik halusnya belum dapat berkembang dengan baik… jari-jarinya masih kaku ketika memegang alat tulis.. ataupun untuk menunjukkan salah-satu jarinya.
Oleh karena itu… awal-awal yang harus dilakukan adalah memberikan stimulasi sebanyak-banyaknya pada syaraf ditelapak tangan. Caranya dengan membiarkan aini semaksimal mungkin bereksplorasi dengan jari-jemarinya.

Aini saya ajak untuk merasakan bentukan-bentukan kecil, seperti butiran beras, butiran kacang hijau, butiran pasir, bermain dengan play dough, merobek tisu, merobek kertas koran, merobek kain, membuka dan menutup tutup botol air mineral, menggunting (dari menggunting kertas jadi 2 bagian, hingga menggunting dengan bentukan yang makin rumit) dsbnya, prinsip utamanya adalah.. membiarkan aini “meremas”, “menggiling”, “memutar” “mengambil dengan 5 jari” “mengambil dengan 3 jari” “mengambil dengan 2 jari”. “merobek dengan 5 jari” “merobek dengan 3 jari” dan “merobek dengan 2 jari”

Bersamaan dengan itu, saya mengenalkan pada tahapan menulis.. yaitu :
1. Mencoret (asal menggerakkan alat tulis)
2. Mewarnai (belajar mengarahkan alat tulis)
3. Menghubungankan titik-titik (membentuk sebuah tarikan garis)
4. Menghubungkan 2 buah titik (lebih terkonsentrasi membuat garis)
5. Membuat bentuk-bentuk dasar (garis, segitiga, kotak, bulat)
6. Menjiplak (menggunakan kertas kalkir sebagai kertas penjiplak)
7. Imitasi atau menirukan (dengan contoh menirukan berulang kali)
8. Dikte (mengandalkan kemampuan audio dan koordinasi tangan)

Dibawah ini.., saya perlihatkan form-form yang saya gunakan.

Dalam 1 hari pembelajaran, saya menggunakan beberapa metode dan alat peraga, agar ia tidak menjadi jenuh, sekaligus agar aini tidak terpaku pada sebuah alat dan metode saja.

III Belajar berhitung.
Tahapannya hampir sama dengan tahapan untuk membaca, jadi melewati labeling, samakan juga identifikasi. Hanya saja ada beberapa bagian lain yang juga termasuk dlm kategori pelajaran berhitung, seperti, mencari pasangannya (kaos kaki dan sepatu), mengurutkan angka maju ( dari 1 s/d 10) mengurutkan angka mundur (dari 10 ke 1)
Metode Gleen dooman yang menggunakan kartu-kartu dot, untuk sementara saya abaikan (dulu saya memilih menggunakan metode ini) karena dari hasil kesepakatan dengan guru sekolah maupun terapis sebaiknya aini dikenalkan dengan hal-hal yang bersifat konkrit dulu.

Dibawah ini sayapun tampilkan form-form yang saya gunakan.

Mengenalkan fungsi pancaindra

Mengenalkan hubungan beberapa benda (dasar matematika)

Mengenal bentuk-bentuk dasar

Kemudian untuk melihat sejauh mana penguasaan Aini akan setiap materi yang ada, saya menggunakan form-form (tergambar). Sampai saat ini, walaupun saya belum begitu sepakat (dengan terapis yang menggunakan metode ABBA) tentang  kemampuan untuk melakukan sebuah kegiatan hingga 10 x berturut-turut (jika sekali melakukan kesalahan, maka “paket” belajar akan diulangi kembali) adalah sebuah nilai yang disetujui bersama. Dan setiap 4 bulan.., cara belajar serta perncapaiannya akan dievaluasi kembali, untuk membuat program empat bulan dimuka.

Hmmm mudah-mudahan tidak membuat anda menjadi “shock” ya… membacanya.. (seperti yang pernah saya alami… “shock” karena kok “njelimet”).. karena ternyata… apa yang sangat mudah untuk Allah (saya melihat pada 2 anakku (anak normal) yang lain.. mereka melewati tahapan-tahapan ini dalam “sekejap mata” dan “otomatis”, tanpa harus dibantu. Sedangkan kita sebagai manusia biasa… mengkondisikan dan membantu anak-anak berkebutuhan khusus.. hmmm subhanallah… harus dengan perjuangan keras dan kesabaran luar biasa.

Saya berharap dengan membaca dan mempelajari ini.., para orang tua anak-anak berkebutuhan khusus dapat saling menunjang, menerima dan membuka diri untuk kemajuan anak-anak. (mudah-mudahan ada yang mau sharing dengan pengalamannya… biar saya juga bisa belajar lagi…. mau kan??????)

Komentar ditutup.