Aku…. dan Kereta Perjuangan

Harga Elpiji naik lagi….
Minyak tanah makin… makin… tidak dapat dicari
Pendidikan gratis…. tidak berjalan sesuai aturan
Sembako.. melambung
Obat-obatan dan dokter.. jadi kebutuhan mewah..
Kartu askeskin.. ditolak penggunaannya dibeberapa RS umum
Bahan Bakar untuk Transportasi… tak terjangkau…

AAAAAHHHHHH…
Apa jadinya negaraku ini…
Apa yang bisa kulakukan, Apa yang bisa kukerjakan…
Apa yang bisa kukatakan…
AAAHHHHHHH…..
AAAAHHHHHH…..

saya jadi sering termangu…
Pening…
Sesak…
AAAAHHHHHHHH

Tiba-tiba…
saya melihat sebuah gambar kereta api….

Hmmmmm…. lalu… akupun terinspirasi
(mungkin… )jika negara ini diibartkan sebagai sebuah kereta api… kereta api perjuangan..
yang sedang.. “tergeletak”…  belum.. belum bergerak
saya hanyalah sebuah “sekrup kecil”… berada diantara begitu banyak komponen Kereta Api.

Jujur…Mana mungkin sebuah sekrup kecil mampu membuat kereta berjalan..
Mana mungkin suara yang sudah sekuat tenaga dikeluarkan oleh sang sekrup terdengar oleh sang masinis diruang kemudi…
Mana mungkin sang sekrup sanggup mengelinding sendiri mencapai tujuan kereta api perjuangan.

Mana mungkin?????? Ya… saya juga mesti jujur dan tau dimana sebenarnya diri ini…

Lalu???? its unfair….

karena saya ikut merasa akibat dari tergelataknya sang kereta.. tapi kenapa aku begitu tanpa daya… untuk keluar dari situasi… untuk tidak “terlibat lebih jauh lagi” AAAAAHHHHHH

Saya mulai berfikir… apa yang bisa saya lakukan sesuai kodratku…
Hmm ya…
1. Saya bisa menjaga diri ini untuk tetap “kinclong” dengan menghindari karat (segala macam hal dari dalam diriku yang akan menghancurkan kemampuanku sebagai sebuah sekrup : mis riya, sombong, takabur, iri, dengki, serakah, malas, ujub, dsb) dan juga debu-debu dari luar (pandangan yang tidak pada tempatnya, gibah, namimah, menggunakan barang-barang yang tidak halal)

2. Saya akan terus melakukan latihan “memutar-mutar tubuh sekrupku” agar lentur dan mampu berguna dengan baik ketika kereta perjuangan bergerak (dengan selalu mengasah diri, menambah ilmu, membuka wawasan, membuka hati agar selalu lapang dan mau bekerja keras)

3. dengan saya terus “bergerak” pasti akan berpengaruh juga pada benda-benda disekelilingku… mis “mur” yang pasti akan ikut berputar ketika aku berputar (saya dapat menjadi motivasi pada orang-orang disekelilingku… untuk terus melangkah… sebagai bagian dari tugasku dalam dunia fana)

4. Suaraku memang lirih… (walaupun sebetulnya aku seudah berteriak sekuat tenaga ya…) tapi jika saya tak pernah berhenti bersuara.., kelak… masinis juga akan berusaha mencari dari mana asal suara aneh tersebut (insya Allah) dan akan “memperhatikan” apa yang aku katakan kemudian akan “melakukan perbaikan” (insya Allah)

5. Yang terakhir dan terpenting… walaupun aku hanya sebuah sekrup kecil… Allah tidak pernah melupakanku… dimataNYA aku sama dengan tuas kemudi kereta api, aku sama dengan kursi duduk dalam gerbong, bahkan sama dengan gerbong kereta api perjuangan yang cukup besar.
Karena itu.. aku tidak malu dan rendah diri untuk selalu berdoa dan memohon kepadaNYA agar kereta api perjuangan ini… segera berjalan kembali… melangkah dengan suaranya yang bergemuruh dalam langkah-langkah panjang… bergegas… menembus waktu-waktu terbuang.. menuju semua cita-cita dan harapan…
“Negara Indonesia yang gemah ripah loh jinawi… dengan cahayaNYA”

Jadi… saya tidak akan mau berhenti… walaupun hanya sekejap… untuk terus bekerja dan berjuang…

At least.. ada yang bisa aku lakukan… ada yang bisa aku kerjakan.. dan dalam mengerjakan itu… aku juga yakin… bahwa ini masih bagian dari upaya “menjalankan” kereta api kembali….

Mungkin sang kereta tak merasa… mungkin yang kulakukan benar-benar tak berarti… (heh… cemohan datang bertubi-tubi… karena aku sang sekrup bermimpi terlalu tinggi).

Sekali lagi… hanya keyakinanku padaNYA,.. Dia yang Maha segalaNYA.. pasti tidak akan pernah memandang sebelah mata padaku… dan menjadikan apa yang kukerjakan ini sebuah kesia-siaan… kelak… ketika.. upayaku “memutar diri”.. telah menjadi efek pengerak berkesinambungan hingga mengenai bagian motor pengerak kereta….. Kereta pasti akan berjalan… Haqul Yakin… Insya Allah…

Tapi kapan itu????? Sampai kapan???? ya… sampai akhirnya… saya harus mengakui ada takdir umur yang membatasiku untuk bergerak lagi…

Fuih… Alhamdulillah…
Sekarang aku lega… aku sudah tahu jawaban dari kegelisahan dan kemarahanku akan ketidakpastian negaraku tercinta ini…dan aku tidak ingin mengatakan “AAAAAHHHHHH” lagi…

Alhamdulillah… berjuang lebih baik daripada mengeluh

“Dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung bahaya, maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNYA, semata-mata (mereka berkata) Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami termasuk orang-orang yang bersyukur” (QS Yunus : 22)

1 Komentar

  1. burhan said

    pening sesak trus larinya ke kereta api? Awalnya ga nyambung, tapi lumayan nyambung juga ternyata. Jazakillah ibu…

    He he he… (“aku banget”… gitu lo… suka “meloncat-loncat” pikiran dengan cepat)
    Maaf ya… maaf kalau bikin sulit….
    Waiyyakum Akhifillah

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.