Sekolahan + guru + murid Autis + wali murid =……………

Hah?????

kayak rumus matematika ya.

Sebenarnya jika kita mau jujur… dalam mengenyam pendidikan formal.., anak-anak (termasuk anak-anak autis) faktor-faktor diatas sangat menentukan keberhasilannya.

(PS : sebelum saya lanjutkan… pada suatu hari….Saya sempat diingatkan seorang teman… katanya,.. Saya banyak mengeluh dan ter”seret-seret” dalam duka, ditulisan-tulisan saya… Heh???? Iya??? betul begitu??? Maaf maaf maaf …..

Walah… sebenarnya… saya tidak bermaksud demikian… saya hanya ingin jujur pada diri sendiri dan juga pada masyarakat tentang… apa yang ada “dibalik panggung” pertunjukkan kehidupan seorang anak Autistic (walaupun tulisan ini jauh dari sempurna)

Untuk apa???

Saya ingin orang tahu… apa itu Autistic… tidak hanya dari tulisan-tulisan ilmiah…

Tapi… aspek lain yang (mungkin) belum banyak digali…

“Bahwa… ini lo… kehidupan seorang Austistic sesungguhnya… Bahwa… mereka harus berjuang,… Bahwa mereka butuh bantuan kita sebagai orang-orang yang ada disekeliling mereka, Bahwa….ini bukan hal yang mudah…. Bahwa.. kami para penyandang autistic tidak pernah akan menyerah… Bahwa… dibalik setiap tahapan kesulitan selalu ada sebuah “pembelajaran”…. Bahwa… kami juga manusia yang punya rasa lelah.. sedih.. kecewa.. tersisihkan dsbnya… yang walaupun itu kami rasakan… kami tidak akan mau menyerah”

Hmmm sayapun tahu… bahwa.. setiap manusia didunia ini punya “cerita sedihnya” masing-masing… Lalu.. saya berharap… meskipun “cerita sedih” ini berbeda… kita bisa saling belajar… dan berjuang keluar dari lingkaran “cerita sedih” itu… dan (insya Allah) keluar sebagai pemenang… seorang yang punya sifat sebagai “INSAN KAMIL”Tidak dan  tidak akan pernah bikin kita menjadi berlarut-larut… apalagi samapi tenggelam dalam lingkaran cerita sedih… Atau bahkan menjadikan cerita sedih ini sebagai sebuah alasan perbuatan yang tidak sesuai norma.

Sedang jika saya ingin jujur pada diri sendiri, itu karena .. memang benar ada masanya saya sedih, memang benar ada saatnya saya merasa putus asa, memang benar sayapun pernah terpuruk…

Lalu???

justru dengan melewati masa-masa itu…, saat dimana hanya Allahlah yang dapat jadi gantungan dan curahan tangisan saya dimalam hari…saya jadi lebih bersemangat, saya berusaha bangkit dan melangkah… dan tidak sekali sekali membuatku “patah”.. Insya Allah… (YA Allah kabulkan ya Allah…)

Ya…Bukankah.. obat paling mujarab untuk mencapai “tingkat tertinggi” adalah justru ketika kita mampu menyadari siapa diri kita sesungguhnya. kita mau jujur dan menyadari saat-saat kita sebagai manusia tanpa daya…, hanya bisa menanti belas kasih dan uluran tangannya???? Disaat inilah… (sebetulnya bahagiapun bisa juga mengkondisikan kita demikian) Allah dengan segala kasihNYA.. dengan segala RahmatNYA dengan segala kekuasaan yang DIA miliki akan memudahkan apa yang sulit bagi kita dan akan mengadakan apa-apa yang mustahil bagi kita… hambaNYA.

Begitu…

Maaf kalau ternyata kalau ada yang menangkap inti tulisanku begitu…)

Oke… kembali lagi ya…

Ada 3 kondisi yang “biasanya” dihadapi oleh seorang autistic didalam masyarakat, dalam hal ini saya menggunakan sekolah sebagai contoh sebuah komunitas masyarakat.

1. Ketika ia sama sekali tidak dapat diterima…

Pada beberapa kasus… yang biasanya terjadi karena.. sikap anak yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial (lebih dikarenakan sifat agresifnya…) misalnya… marah, mengamuk….merusak barang teman-temannya, tidak mau mengalah.. kadangkala dengan melakukan tindakan kekerasan kepada anak-anak/ guru yang ada disekitar tempatnya berada.

Sekolah seringkali “kerepotan”.. apalagi jika sudah ada desakan keras dari para orang tua lainnya… ya…. akhirnya… jika bukan ortu yang “sadar diri” segera menghentikan masa belajarnya disekolah tersebut, sekolah yang akan mengajukan permintaan agar si anak autistic mencari sekolah lain, yang lebih mampu mendidik.

(Heh…. miris ya……)

2. Jika si anak 1/2 hati diterima…

Biasanya… anak autistic ini… lebih banyak dibiarkan.. sendiri… dengan prinsip selama tidak menganggu kegiatan belajar mengajar..

Lho… masa iya si????

Iya… banyak kejadian anak-anak ini yang dibiarkan saja “dengan dunianya”.. guru yang mengajar.. tidak banyak menstimulasinya dengan pelajaran yang sama yang dipelajari teman-temannya sekelas… Akibatnya… tentu saja… keberhasilan anak sangat diragukan… Jika pada dasarnya ia anak autistic sekaligus anak gifted… ia akan berkembang dibagian-bagian yang ia sukai saja… misalnya matematika sedangkan dibidang lain… bisa jadi ia akan “terseok seok”

Lah ya… sekarang ada batu sandungannya untuk jalan keluar no 2 ini… UAN (Ujian Akhir Nasional)… Gak sedikit ada cerita anak-anak yang gak bisa lulus.. padahal sebetulnya ia sangat cerdas dan berbakat untuk sebuah mata pelajaran…

3. Ini adalah… anak-anak yang alhamdulillah… mendapatkan penanganan yang tepat…, bantuan yang cukup dari keluarga, guru, kebijaksanaan dari sekolah, juga teman-temannya…(seperti rumus matematika diatas ya….???) sehingga ia.. dapat melewati semua rintangan. Ya.. ini yang jadi dambaan dan harapan setipa orang tua anak penyandang Autis…

Sayangnya ini tidak mudah… sangat sangat dibutuhkan kesabaran, tekad kuat, fisik dan mental baja, juga dukungan finansial yang tidak sedikit. Tidak banyak anak-anak autistic ini yang cukup beruntung mendapatkan itu semua.

At least…. sebetulnya… dalam posting ini saya ingin menghimbau agar semua pihak mau belajar bersama-sama, berbesar hati, bersabar hati, tidak meletakkan sang anak autistic pada posisi yang tidak tepat apalagi yang tak mampu ditahannya (terlalu berlebihan atau terlalu meng-acuh-kan).. biarkan anak-anak ini mendapatkan hal yang sama dengan teman-temannya. Hanya letakkan standrat penilaian “sedikit lebih rendah” dibandingkan anak normal. Misalnya… ketika ada pelajaran matematika… biarkan sianak mengerjakan pekerjaan yang sama, (dan jangan ia diberikan pelajaran “mewarnai” hanya agar ia sibuk dan tidak mengganggu temannya.) Keistimewaan yang diberikan padanya adalah jika temannya mendapat nilai 10, guru memberikan pujian dan penghargaan.. berikan pujian dan penghargaan yang sama ketika ia mencapai nilai 7. Kenapa???? karena sebetulnya… perjuangan kedua anak ini untuk mencapai nilai yang berbeda tersebut… sama keras dan gigihnya….

Ya.. kalau mau bicara dasar hukumnya… jelas bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama atas pendidikan dan kehidupan yang layak. Kalau bicara hati nurani… jelas.. bahwa anak-anak autistic ini memang anak-anak yang membutuhkan perlakuan khusus.

Hmmm… jika ternyata… hal ini sulit… sangat sulit… dicapai…sebagai orang tua saya percaya … (seringkali ada “bisikan” lembut yang mengingatkanku selalu…) seandainya seorang anak autistic.. tidak dilengkapi Allah dengan semua prasarat tentang “kenyamanan bersekolah” seperti yang saya sebutkan diatas… itu bukan sebuah “kesalahan”. Ini adalah sebuah skenario dari Allah yang sangat sempurna… (walaupun mata manusia mengatakan tidak)… Karena dia, si anak autistic ini hanyalah sebuah bagian dari “universe”… yang akan memberikan arti penting pada bagian yang lain… yang sesungguhnya… itu adalah tugas mulia yang diberikan Allah pada dirinya dan tidak dapat digantikan oleh orang lain…

Seperti kisah tentang seorang anak kecil penderita kanker… yang ketika ia meninggal…, membuat ibundanya menjadi seorang aktivis.. yang mengabadikan seluruh akhir hidupnya untuk menjadi relawan diantara para penderita kanker… Demikianlah… begitu besar arti hidup anak penderita kanker ini.. walaupun ia hanya sebentar berada diantara kita. Subhanallah….

So… untuk semua orang tua yang pernah mengalami masa-masa sulit… mendampingi putra/i autisticnya… bermasyarakat… ini bukan akhir dari kehidupan… justru ini adalah awal dari kemenangan… never stop to try… (Thomas Alfa Edison… menemukan bohlam lampu setelah percobaan yang beribu-ribu kali…. bayangkan jika ia menyerah waktu itu…. kayaknya kita masih dalam kegelapan ya sekarang???)

“Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah sebaik-baik pelindung” QS Ali Imran :173

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu” QS Al Baqarah 216

“Berdoalah kepada-Ku niscaya akan Kuperkenankan bagimu” QS Al-Mu’min : 60

2 Komentar

  1. Subhanallah Bunda
    ini adalah pencerahan🙂

    Alhamdulillah… sungguh Allah yang memberi yang menyinarkan kecerahan itu… Subhanallah

  2. Irsan said

    Ass..
    Sungguh sy terharu membaca tulisan ukhti…
    apalagi di bulan puasa ini..
    sy sebagai salah-seorang yg diberikan amanah oleh Alloh SWT memiliki anak autis begitu tersentak membaca tulisan ukhti diatas. Semoga Alloh SWT memberikan kekuatan dan kesabaran kepada kita semua hambanya yg beriman, amin ya robbal alamin.
    Jazakumullah kk
    wass,
    iRs@N

    Waalaikumsalam warrahmatullaahi wabarakaatuh
    Ya… jika kita bicara dengan “sesama”… pasti rasa itu lebih nyambung ya…. bagaimanapun juga.. ini pasti karena pengalaman nyata hari demi hari.. jadi referensinya..
    Kata Imamku… “jika bukan karena keinginan untuk Ikhlas padaNYA,.. pasti kita tidak akan pernah dapat melalui seharipun dalam hidup ini, karena.. sangat beratnya….” Subhanallah…
    Yok… tetap semangat… yok….

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.