“Apakah Engkau mau menolongku, sahabat???”

Sahabat…

Ini saya… yang seringkali… punya pikiran-pikiran “dahsyat” tapi… gak tau jalan keluarnya…  (walaaaahhhh… apapun tuh??? )

Seperti kemarin (seharian kemarin karena saya merasa lelah… sekali.. akhirnya… saya dan putri cantik, aini, menghabiskan waktu seharian dirumah… dengan “berlayar di pulau kapuk”.. alias tidur) ketika saya leyeh-leyeh… tiba-tiba saya terinspirasi… tentang betapa kuatnya hak preogratif Allah pada seluruh alam semesta ini.

Allah adalah pemilik semesta Alam

Allah adalah pencipta semesta Alam

Allah adalah pengatur semesta Alam

Allah adalah penjaga apapun yang ada di seluruh semesta Alam

Bisakah ini dibayangkan??? Subhanallah sangat luar biasa bukan??? saya, anda, kita… atau apapun yang ada didalam universe ini… hanyalah sebuah bagian kecil.. sangat kecil bahkan…

Lalu… apakah kita berani bilang… kita “pasti” akan mendapat nilai bagus jika sudah belajar keras??? Ataukah apakah kita berani bilang anak-anak kita “pasti” akan jadi anak yang sholeh/ sholehah, jika sudah kita didik dengan baik berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist? Atau… apakah kita “pasti” akan kaya jika kita sudah bekerja dengan penghasilan 100 juta perbulan (misalnya lo…. tapi… kayaknya itu pasti kaya ya???? he he he… saya mimpi deh….. ) Yang lain… apakah pasti kita akan mendapatkan si A sebagai pasangan hidup kita, jika pesta pernikahan dan ijab kabul tinggal 1 jam lagi?????

Hmmmm… itu yang “menohokku”… keras dan keras… hingga sakit dada ini.

Apa sih… susahnya bagi Allah… untuk menghilangkan “memori” pelajaran yang sudah kita tanam berhari-hari, bermalam-malam bahkan berminggu-minggu ketika kita akan ujian?

Apa sih susahnya… Allah mengijinkan Syaitan… untuk membelokkan hati kita (bukankah… hati manusia sangat mudah berbolak-balik seperti halnya telapak tangan kita????), hati anak-anak kita, hati orang tua kita, hati pasangan hidup kita????

Apa sih… susahnya… jika Allah mau memberikan kita penyakit yang pengobatannya membutuhkan 101 juta rupiah perbulan??? ketika penghasilan kita mencapai 100 juta perbulan.

Apa sih susahnya… Allah membuat hati calon pasangan hidup kita… didetik terakhir ijab kabul… terpesona dan jatuh cinta pada seseorang yang lain… kemudian memutuskan ia lebih baik dari diri ini sebagai pasangan hidup….

Ya Allah…… Its.. make me… can’t take a breath….

Lalu… apakah saya masih berani bilang… “saya sudah mencapai ini karena kerja kerasku… karena… bla-bla bla”  yang lebih dikenal dengan sebutan “SEBAB AKIBAT”  Hih…. betapa sombongnya diri ini…

Ya… memang saya melakukan beberapa tindakan untuk mencapai sebuah tujuan… (misalnya belajar keras agar dapat nilai baik saat ujian) tapi… keberhasilanku semata-mata hanya karena Kasih Allah padaku, karena Allah ridho pada apa yang ku kerjakan, karena memang Allah tahu apa yang kulakukan adalah terbaik untukku dan baik juga untuk universe….

Ehmmm tapi… jika begitu apakah saya sebaiknya diam…. saja.  Diam tidak melakukan apapun karena toh… Allah yang mengatur dan menjalankan semuanya?????????????

Weh…. ??? (nih… mulai ngawur ya….????)

Pasti Tidak…. benar-benar Tidak…. (saya kutip ini dari sebuah ceramah di sebuah stasiun TV) Karena

1. Allah tidak akan merubah nasib seseorang jika ternyata kita tidak sungguh-sungguh untuk berusaha (saya selalu ingat sang penemu Bohlam lampu, Thomas Alfa Edison, yang melakukan ribuan kali percobaan sebelum akhirnya Allah dengan kasih sayangNYA.., mengijinkan lampu lahir dari kedua belah tangannya)

2. Salah satu kewajiban yang harus kita lakukan didunia ini adalah mensyukuri….  Cara bersyukur.. diantaranya selalu menjaga dan meningkatkan apa-apa yang sudah Allah “pinjamkan” pada kita…. termasuk anggota tubuh kita, termasuk seluruh universe, termasuk apa-apa yang sudah dihasilkan 0leh kedua tangan kita.  misalnya Ya… cara mensyukuri otak….. dengan mengasahnya belajar… memberinya kemampuan untuk dapat menganalisa lebih baik.. sehingga hasil analisa kita bermanfaat untuk orang lain dan universe.

Yang masih jadi tanda-tanya pada diriku… adalah… Apa batasannya… kita mensyukuri.. dan mengakui kebesaran hak preogratif Allah dengan tindakan yang berlandaskan “nafsu”….

Kenapa begitu????

Seringkali… saya kelelahan…. teramat sangat…. (seperti kemarin) Saya bayangkan… imamku pasti lelah juga, anak-anakku … soooo pasti lelah… dengan rutinitas yang kami jalankan sehari-hari… Coba bayangkan… aktifitasku setiap hari mulai berjalan pada pukul… 3 pagi, saya mulai dengan menyiapkan keperluan serumah…., dan “mendekatkan diri pada Allah”… kira-kira jam 6.30 pagi… saya mulai mengantarkan   ke tempat masing-masing, belajar dan bekerja… dan baru kembali kerumah (saya+anak-anak) antara maghrib atau isya… jam 8.00 malam biasanya anak-anak berangkat tidur, Sang Imam 8,30 malam… kurang lebih baru pulang… Tengah malam… barulah aku dan Imam berangkat tidur..Anak-anak… biasanya bangun sekitar subuh… terus… ya… mempersiapkan pergi sekolah setelah sekolah mereka ada jadwal les, dan berakhir sekitar maghrib. Sang Imam… Paginya diawali hampir sama denganku… jam 3 pagi…, sedikit bercengkrama dengan anak-anak…, berangkat bekerja… pulang malam.. dan gitulah… sekitar tengah malam ia baru tidur…

Hmmm its busy… busy days… yap????

Itulah… seringkali jadi pertanyaan dalam benakku… Apakah aku berlebih-lebihan dalam mendidik anak-anakku???? (kalau kulihat tetangga dan teman-temanku… “sepertinya” tidak ada yang sekeras aku dan anak-anak dalam mengisi hari-harinya.)

Sebetulnya jika aku mau “menganalisa” dengan akalku… apa yang aku kerjakan saat ini “hanya” sekedar mencapai… Anak-anak punya… bekal sekolah, agama, kemampuan berkomunikasi, menganalisa sebuah masalah.  Ya… anak-anakku “hanya” sekolah disekolah IT, les bahasa Inggris, dan “KUMON”. Subhanallah… alhamdulillah… meskipun lelah… kulihat… anak-anakku… sangat menikmati proses ini, apalagi jika kemudian mereka membuktikan adanya “kenikmatan” dari kebisaan mereka. Misalnya…. bisa memahami buku-buku pelajaran atau kata-kata dalam bahasa Inggris. (Apakah ini seperti “membela diri” yach?????)

Tapi… jika ku”analisa” dengan hatiku… dengan analisaku diatas… bahwa apapun rencana kita.. apapun yang kita kerjakan… tidak akan pernah lepas dari Hak preogratif Allah. Dan Allah tidak suka sesuatu yang berlebih-lebihan… dan bagaimana kisah Thomas Alfa Edison…… juga menginspirasiku….. Dan… mungkin ada yang pernah baca kisah seorang tabi-‘i.. yang ketika ditinggalkan ayahnya pergi berjihad.. masih demikian kecilnya… Sang ayah menginggalkan uang +/- 5 milyard (konversi kerupiah) untuk biaya hidup dan pendidikan kepada sang Ibu.  24 tahun kemudian… ketika sang ayah pulang…, dia kaget karena uang tersebut telah habis… sedangkan kehidupannya keluarganya memprihatinkan… Apa yang terjadi???? Ternyata sang ibu… menghabiskan seluruh uangnya untuk menjadikan putranya… seorang yang sangat berilmu, dan cukup disegani dikalangan masyarakat Islam, diusia yang muda… Subhanallah…… saat itu juga sang ayah sangat bersyukur… dan berterima kasih pada sang ibu yang telah “berinventasi” dengan tepat pada uang yang ditinggalkannya. (Subhanaallah… ini berarti +/- 5 juta/ bulan dia habiskan untuk sang putra… bandingkan dengan kita???? berapa banyak anggaran pendidikan untuk setiap putra/i kita)

Disisi lain… ada juga cerita tentang Imam Syafi’i yang demikian sederhananya.. hingga untuk membeli sabak dan kapur tulispun tidak sanggup. Tapi beliau mampu menghapalkan setiap kata yang sang guru ajarkan detik itu juga… , tanpa harus menulis dan mengulang lagi. Subhanallah iapun menjadi murid kesayangan sang guru karena kepandaiannya.

Sekali lagi ya… keberhasilan seseorang seringkali tidak berkaitan dengan “HUKUM SEBAB AKIBAT”

Sahabat… beri aku masukkan… apakah yang kulakukan ini telah “melanggar” aturanNYA???? dengan berlebih-lebihan mendidik anak-anakku???? apakah saya menggunakan “nafsu” ketika mendidik anak-anakku????? Dimana aku harus meletakkan rasa tundukku pada Hak preogratif Allah???? Bukankah jika DIA menghendaki… tanpa usaha sekeras inipun… (insya Allah) jika Allah ridho…, anak-anakku juga akan jadi muslimin yang mumpuni, seperti halnya Imam Syafi’i sehingga aku tak perlu khawatir akan  meninggalkan… generasi Islam yang lemah sepeninggalku nanti…..

Jazakumullah kahiran katsiran….

Subhanallaah.. Sungguh Allah Besar…

HE answer my question..

3 hari yang lalu… ketika saya sedang mendengarkan Quray Shihaab… beliau menjawab, ketika ditanya tentang JIHAD. Katanya “, menurut saya… untuk zaman modern seperti sekarang ini.., Jihad adalah sebuah tindakan untuk melawan kaum kafir melalui “diplomasi”, “pendidikan tinggi” dan “penguasaan ekonomi global”… Subhanallah… jadi ketika saya mendidik anak-anakku saat ini untuk berjuang keras dengan segala daya upaya.. dalam menuntut Ilmu… adalah masih dalam konteks… JIHAD…

Subhanallah… memang benar kalau ini tidak mudah… karena dalam Jihad perjuangan pasti hingga cucuran keringat, airmata dan darah…. Subhanallah…

Jadi… saya tidak akan tidak…pernah berhenti dan akan kembali bersemangat untuk tetap menjaga anak-anak berlajar dan berjuang tanpa henti… Amin

6 Komentar

  1. Bunda, saya sebenarnya tidak berani memberikan saran. Toh saya jauh lebih sedikit ilmu dan pengalamannya. Apalagi masalah ini.
    Menuru saya, jalani yang Bunda yakini. Sesuaikan perbuatan dengan tujuan (penyempurnaan ikhtiar). Dan tetap menggantungkan harapan pada Alloh untuk cinta kasih-Nya yang kan menjadikan keadaan berjalan sebagaimana mestinya.🙂

    Subhanallah… Jazakallahu khairan katsiran….
    Iya… memang betul katamu sahabat…, bahwa kita harus yakin atas apa yang kita lakukan…, hmmm memang seperti saat sekarang ini…, bunda goyah keyakinan… memang ini adalah sebuah resiko ketika kita harus berjalan sendiri.., tiada tempat untuk saling berbagi… (dalam kehidupan nyata sehari-hari apa yang bunda lakukan adalah hal yang “tidak lumrah”).. banyak komentar miring… banyak tantangan..
    Sungguh saya berterima kasih… atas apa yang telah engkau tulisan.., membuat bunda.. merasa lebih tenang… (that’s friends are for….)

  2. Didta said

    Saya tidak tau

    Tidak apa-apa sahabat… saya berterima kasih.. engkau sudah jujur padaku…
    Ini lebih berharga dari apapun.., dan buat saya sadar… bahwa.. Allah demikian sayangNYA padaku.., sehingga tidak semua orang dapat “ujian” seperti ini.
    jazakillah khairan katsiran

  3. Rs said

    Assalamu’alaikum,

    Mba Yanti sudah menjawab apa yang yang mba tanyakan. Saat ini mba Yanti hanya perlu konfirmasi dari pihak luar. Mba, renungin lagi tulisan mba di artikel ini…mba tidak perlu gelisah mencari jawaban dari orang lain.

    “HUKUM SEBAB AKIBAT” yg mba katakan, bagi saya yg penting adalah ikhtiar kita sebagai manusia, dan soal hasilnya saya sudah dari awal sadari dan insya Allah ikhlaskan apapun yang ternyata Allah tentukan untuk kita. Itu lebih nyaman buat saya🙂 . Do something then let it go with the flow… Don’t worry about what tomorrow may bring…Be happy no matter what (but don’t be happy with our sins…🙂 ). ( lho lho…kok jadi kata2 mutiara …he he…maaf ya jgn serius banget…)

    Have a spiritual Ramadan !

    Jazak Allahu Khairan.

    Wassalam

    Waalaikumsalam warrahmatullaahi wabarakaatuh
    Waiyyakum…
    Jazakillah ukhtifillah… Jazakillah…
    You are the smart one…
    Komentarmu sangat tepat…
    Betul… saya kadang kala… suka goyah…(ini kerjaan syaiton kali ya,… yang suka “meniup-niupkan” keraguan dalam hati)
    Jazakillah

  4. arifrahmanlubis said

    jalan terus mbak. Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelum kaum itu merubah dirinya. keras nggaknya, saya kira mbak yg paling mengerti kadar kesanggupan diri, suami dan anak mbak.

    setelah bersungguh-sungguh berusaha, setelah itu bertawakkal pada Allah.

    *maaf kalau nggak pas. hanya menjalankan kewajiban memberi nasihat bagi yg meminta.

    Jazakallahu sahabat….
    Ini komentar yang ‘menghiburku’… membuat apa yang ragu… menjadi tegak dan semangat lagi berjalan… Jazakallahu

  5. Assalamu’alaikum..
    maaf kalo lancang, saya sendiri kurang percaya dengan unsur “Sebab Akibat” karna bila Allah telah berkata ‘terciptalah’ maka semua pasti akan tercipta, walaupun usaha yang kita lakukan sudah sangat sempurna.
    yang saya yakini, bahwa ikhtiar beriringan dengan doa, tapi saya yakin mba sendiri udah tahu jawabannya, n paling mengetahui tentang hal tersebut, karna saya belajar di blog ini, walau memang saya baru menemukan blog ini.
    maafkan kalo dalam tulisan saya ini, mengecewakan..

    Ganbatte.. Caiyo..

    Waalaikumsalam warrahmatullaahi wabarakaatuh.
    Emmm.. indahnya komentarmu sahabat…
    Sungguh apa yang kau tulisan memang membuatku tersadar kembali. Kadang tanpa sadar.. dalam melangkah, kita berjalan dalam lingkaran… tidak maju… hanya berputar-putar… dan ini seringkali tidak kita sadari.. “tepukan” dipundakku darimu sahabat… membuatku tersadar.. dan bersemangat untuk berjakan lurus kembali…
    Ya… Gambate…
    Jazakillah kashiran katsiran

  6. Nyongsinau said

    permisi Mba’..”sebab akibat” memang ada benernya namun tentu dalam kontek apa dan dimana serta kepada siapa, Alloh menggelar banyak ilmu dan cara adalah utk porsi masing2, begitupun kasih Alloh utk mahluk2nya namun sayang Alloh tentu utk pori tertentu,cb cermati gaya dan cara hidup org barat-mirip spt Mbak dan memang banyak berhasil duniawinya dan sedikit nilai syareatnya,namun alangkah sedihnya cara spt itu membuat pshikhologi org2 yg didalamnya sangat sensitif,ego,percaya hanya pd dirinya dan sering merasa pintar shg org tsb sulit menerima hal2 yg sesungguhnya lebih benar terutama dalam hal spiritual,percayalah Mbak-boleh disiplin namun jng terlalu mengikat sesungguhnya kebebasan adalah cikal bakal kreatifitas mencapai dunia dan rahasia2 Alloh yg terpenting,inilah hasil dr dominasi syareat yg kian menutupi hakekatnya , bagiku hanya Alloh dan Rasulnya yg benar……mk hanya DIA lah yg dapat menyelamatkan org2 yg berfikir-maaf inilah bualanku-abaikan dan lupakan saja terimakasih.

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.