Ketika Kasih Ibu Menjelma Surya yang Sinari Dunia


(saya kutipkan tulisan ini dari “Majalah Anak Special”)

Kasih ibu sepanjang masa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Lirik lagu yang sering didengar di masa kecil itu terus bertuah. Perjuangan dan pengorbanan para ibu selalu menjadi pelajaran penting dan paling berharga dalam hidup ini. Cinta kasih yang dihembuskannya menjadi modal dan dorongan utama dalam menjadikan seorang anak mandiri dan berdaya guna dalam hidupnya. Cinta kasih orangtua terhadap anaknya bak mata air yang menjadi pelepas dahaga di tengah padang gurun yang panas dan tandus. Begitu besarkah cinta dan kasih sayang ibu sampai mampu menundukkan ketidaksempurnaan yang dialami seorang anak spesial?

Dua kisah heroik
Kecemasan Woo Kap Sun (51) sebenarnya telah meruyak sejak Hee Ah Lee (22) masih berupa jabang bayi. Saat itu, para dokter mengatakan jika bayi yang ada dalam rahim Woo Kap Sun akan lahir kurang sempurna. Dokter, dan juga didukung sanak keluarga Woo Kap Sun menyarankan agar ia rela menggugurkan kandungannya. Tapi Woo Kap Sun memilih keputusan yang berseberangan. Dengan berani ia menyatakan ketidaksetujuannya menggugurkan si jabang bayi. Sepenuh semangat dan keberanian, Woo Kap Sun menegaskan akan tetap merawat dan memelihara si jabang bayi kelak, meskipun secara medis sudah dipastikan mengalami kecacatan akibat lobster claw syndrom (sindrom capit lobster).

Keputusan Woo Kap Sun terbukti tak salah. Berbekal cinta dan kasih sayang yang dihembuskannya, si bayi yang dinamainya Hee Ah Lee, tumbuh layaknya anak-anak lainnya. Yang membedakan, tentu saja, Hee Ah Lee memiliki kekurangan pada kedua lengan dan kakinya serta keterbelakangan mental. Tapi dengan cinta dan kasih sayang Woo Kap Sun, kekurangan itu tak menghalangi Hee Ah Lee untuk terus melaju menyongsong derasnya kehidupan.

Tak heran jika kemudian Hee Ah Lee tetap menjadi gadis periang dan selalu semangat dalam menjalani aktifitasnya. Bersama kecacatan dan bekal cinta kasih ibunya, Hee Ah Lee mengubah ketidakmungkinan dirinya menjadi seorang pianis handal sebagai sesuatu yang niscaya. Padahal, pada mulanya, Woo Kap Sun mengajari Hee Ah Lee belajar piano hanya bermaksud melatih otot-otot motorik untuk memperkuat jemarinya, yang ketika itu untuk memegang pensil saja tidak kuat. Namun, belakangan piano malah menjadi sumber inspirasi dan sahabatnya. Bersama piano dia mendapatkan kepercayaan diri. Dan dari pianolah Hee Ah Lee bertemu, berkenalan, dan berteman dengan banyak orang di berbagai belahan dunia.

Kepada dunia, Hee Ah Lee membuktikan bahwa sekalipun dirinya cacat, tapi masih bisa berprestasi. Hee Ah Lee akhirnya melanglang buana ke berbagai belahan dunia untuk menunjukkan kebolehannya memainkan tuts-tuts piano dengan empat jemari tangannya, sebab hanya sejumlah itulah jemari tangan yang ia punyai. Kini, sederet penghargaan atas keterampilan bermain piano telah pula diterimanya. Ia juga telah mempunyai album musik sendiri berjudul Hee Ah Lee, Pianist with Four Finger.

Kesuksesan Hee Ah Lee menaklukan piano dan merebut perhatian dunia tidaklah diperoleh dengan mudah. Woo Kap Sun mengajarinya sejak Hee Ah Lee berusia tujuh tahun. Adalah perjuangan berat dan air mata yang selalu menemani Woo Kap Sun mengajarkan anaknya berlatih piano. Sebagai gambaran; untuk menguasai Fantasie Impromptu karya Chopin, Hee Ah Lee membutuhkan waktu sepuluh tahun dengan menghabiskan latihan rata-rata lima jam sehari!. Karenanya, untuk menjadi seperti sekarang ini, Hee Ah Lee membutuhkan segalanya; waktu, kerja keras serta keuletan yang luar biasa demi melatih jari-jemarinya agar bisa lentur. Tetapi ibunya juga harus bekerja keras demi memotivasi dia untuk terus berlatih dan juga dalam mengenalkan not balok, karena Hee Ah Lee juga mempunyai keterbelakangan mental dan ketidaksukaan terhadap matematika.

Tak heran, jika terhadap kesuksesan yang telah diraihnya itu, Hee Ah Lee menyebut ibunyalah yang paling berjasa, karena telah menggembleng dirinya agar tumbuh mandiri, percaya diri, dan bersemangat baja dalam menghadapi hidup. Gemblengan ibunya itu telah mengalahkan kebosanan dan sikap patah semangat yang selalu menghampirinya.
Kesuksesan Hee Ah Lee menjadi pianis merupakan bukti dari keputusan Woo Kap Sun dahulu yang menolak menggugurkan kandungan. Keputusan Woo Kap Sun yang dilandasi naluri kasih sayang dan cinta seorang ibu seperti itulah yang dibutuhkan Hee Ah Lee, sebagai anak cacat, bisa melenggang menggapai cita-citanya. Woo Kap Sun bahkan melakukannya di tengah derita kanker payudara yang menderanya.

Maka siapa pun sepakat, membesarkan seorang anak yang hanya dikaruniai empat jari tangan dan kaki sebatas lutut memang bukanlah perkara mudah. Namun, Woo Kap Sun membalut kesulitannya dengan ketabahan dan kesabaran sebagai seorang ibu. Dan kini, hasil kerja kerasnya telah membuahkan hasil. Hee Ah Lee tumbuh menjadi pianis kondang di Korea dan dikenal dunia. Hee Ah Lee pun diangkat sebagai warga kehormatan di negaranya.

Cerita Woo Kap Sun dan anaknya, Hee Ah Lee, sama heroiknya dengan pengorbanan Michiyo Inoue yang tanpa lelah mendampingi puterinya, Miyuki Inoue. Pada saat dilahirkan ke dunia ini pada 21 Agustus 1984, berat Miyuki sungguh sangat ringan, yakni 500 gram. Ringannya bobot tubuh Miyuki sebenarnya cukup beralasan sebab Michiyo melahirkannya saat usia kandungannya masih berumur 20 minggu. Kenyataan ini membuat Miyuki berkata kepada Tsutomu, suaminya yang sudah meninggal dunia pada musim panas 1984 atau kurang dari satu bulan sebelum Miyuki lahir.  “Suamiku, tolong jangan bawa pergi anak ini. Setelah kau tidak ada, anak inilah yang akan menemaniku. Aku mohon! Jangan bawa anak ini”.

Dalam bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Michiyo melukiskan kondisi anaknya tersebut. “Kepalanya sebesar telur, tubuhnya hanya sepanjang pena seperti yang ditaruh di luar inkubator. Pinggulnya sebesar ibu jari orang dewasa dan jari-jemarinya sekurus tusuk gigi. Tubuhnya berwarna cokelat, tidak seperti warna bayi pada umumnya”. Rasa penyesalan dan bersalah yang ada dalam diri Michiyo karena melahirkan Miyuki sebelum waktunya, semakin bertambah tatkala pada usia lima bulan bayi mungil Miyuki divonis tidak bisa melihat. Kenyataan ini membuat Michiyo ingin bunuh diri dan membunuh anaknya.

Setelah berpikir panjang, akhirnya Michiyo berjanji tidak akan pernah menyerah untuk membesarkan puterinya. Michiyo selalu berusaha mencari informasi tentang bagaimana cara merawat anak yang buta dan ia tidak pernah mengeluh akan hal ini serta tidak perlu menyesali kelahiran puterinya, karena Michiyo yakin Tuhan memiliki rencana yang sangat indah pada anaknya.

Sejak saat itu dia mulai mendidik puterinya supaya menjadi orang yang berguna dan tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain. Karena itu, dalam hal mendidik anak, Michiyo terbilang sangat keras dan kasar; ia bahkan sempat dijuluki setan dan yakuza oleh sang puteri. Berkat didikan yang penuh kedisiplinan itulah, Miyuki tumbuh menjadi anak yang pintar dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar.
Dalam bukunya, Miyuki menulis. “Hari-hari kulalui bersama ibuku hingga akhirnya aku lulus SD. Lalu, aku masuk SMP. Di SMP, aku mempunyai wali kelas yang juga tunanetra, namanya Pak Shohei Kono, sarjana hukum dari Universitas Kyushu. Pak Kono langsung menyuruhku mengikuti lomba mengarang pada semester pertamaku. Aku melaksanakannya”.
“Karangan selesai kutulis dalam dua hari, karangan tentang bagaimana aku lahir dan bagaimana ibu menyayangiku namun membesarkanku dengan keras. Lalu aku mengarang juga tentang bagaimana aku dan ibuku sekarang. Hasilnya, lima sampai enam halaman dengan huruf Braille. Aku harus menceritakan karangan ini di depan orang banyak. Karena itu, aku harus menghafalnya”.


Hari perlombaan pun tiba. Miyuki gugup. Ketika tiba giliran, ia berbicara dengan cepat dan tepat, karena pertimbangan waktu yang diberikan. Miyuki bercerita sepenuh hati, tentang ibunya dan dirinya. Ketika selesai bercerita, untuk sejenak suasana terasa hening. Lalu, gemuruh tepuk tangan menyambutnya. Setelah semua peserta menceritakan karangannya, tiba waktunya pengumuman pemenang.
Lalu ia mendengar namanya disebut. “Selangkah impianku tercapai. Kelak aku harus bisa mencapainya lebih tinggi lagi. Tuhan ternyata mengabulkan tekadku. Dalam lomba di tingkat Kyushu, aku juga menang. Puncaknya, saat mengikuti lomba yang sama di tingkat nasional, aku pun meraih juara. Kemenangan ini kupersembahkan untuk ibuku. Tanpanya, aku bukan siapa-siapa”.


Dua kisah nyata yang terjadi di Korea Selatan dan Jepang itu kiranya dapat menjadi inspirasi yang sangat berarti bagi para ibu anak spesial di tanah air. Kiranya, sebesar apa pun beratnya beban yang harus dipikul karena memiliki anak spesial, tetaplah harus bersyukur. Sebab di balik kekurangan itu pasti terdapat kelebihan.

Anak cacat juga anugerah Tuhan
Kisah Woo Kap Sun dan Michiyo Inoue bisa menjadi cermin bagi para orangtua yang merasa bersalah dan bahkan malu mempunyai anak spesial, seperti autis, down syndrome, atau cacat fisik dan psikis sebagainya.
Keduanya memberikan pelajaran berharga; manusia tak selalu harus mengharap lebih setiap pemberian Tuhan.
Sebab apa pun keputusan yang telah dihadirkan adalah karena kuasa Tuhan. Woo Kap Sun dan Michiyo telah membuktikan jika mempunyai anak cacat bukanlah kiamat dan akhir dari segalanya. Sejatinya, apakah anak yang dianugerahkan Tuhan itu cacat atau tidak, manusia tidak mempunyai hak untuk menolaknya.
Kita mungkin sepakat dengan syair yang ditulis pujangga besar Lebanon, Kahlil Gibran tentang anak.

Anakmu bukanlah anakmu

Mereka adalah putera-putera dan puteri-puteri kerinduan

sang Hidup itu sendiri

Mereka datang melaluimu tapi bukan darimu

Dan walau mereka bersamamu, tapi mereka bukanlah milikmu

Kau boleh memberikan seluruh hatimu pada mereka

tapi jangan sodorkan buah pikiranmu

Karena mereka memiliki alam pikiran sendiri

Kau boleh melindungi tubuhnya tapi jangan rohnya

Karena roh mereka menduduki rumah masa depan,

yang tak mungkin dapat kau kunjungi,

walau hanya dalam mimpi-mimpimu

Kau boleh berusaha keras menjadi seperti mereka, tapi

jangan cari cara membuat mereka menjadi seperti dirimu.


Sebuah lirik yang seharusnya membangunkan para orangtua dari mimpi buruknya karena menyesali pemberian Tuhan.


Dan simaklah juga apa yang dikatakan Lissa Weinstein atas kondisi David (7) anaknya yang terkena disleksia. Dalam bukunya Living with Disleksia, Lissa menulis, ”Akulah ibunya. Akan kulakukan semuanya untuk membantu David.
Seandainya aku bisa “mengerti” disleksia, mungkin aku bisa menyingkirkannya dari David. Saat David sakit selagi masih bayi, biasanya aku menciumnya, berharap penyakitnya akan pindah ke tubuhku yang lebih kuat”.


“Bagi orang lain, susah sekali memahami apa yang dikatakan David. Kurasa, kesulitan itu membuatnya frustasi. Disleksia mempengaruhi bagaimana perasaan David tentang dirinya sendiri, bagaimana interaksinya dengan orang lain, bagaimana dia mengelola amarahnya, dan bagaimana dia menentukan minatnya. Aku tahu, banyak tokoh yang dulunya menyandang disleksia kini termasyhur. Dan aku akan membantu David menjadi besar seperti mereka”.


Dalam edisi sebelumnya, majalah ini pun kerap mengangkat cerita keberhasilan anak-anak spesial yang berhasil dibangunkan dari tidurnya oleh semangat, cinta dan kasih sayang orangtuanya. Dari yang pernah ditulis majalah ini terdapat nama Oscar Dompas dan Osha. Mereka merupakan anak-anak autis yang berhasil mengatasi kekurangannya berkat “terapi kasih sayang” yang diberikan orangtuanya.
Oscar menjadi anak autis yang berhasil menjadi penulis buku. Dua buah bukunya telah berhasil diterbitkan. Ia juga menjadi salah satu anak autis yang berhasil mengatasi rintangan ujian dan berbagai tugas di bangku kuliah sehingga berhak memakai gelar sarjana pendidikan.


Sementara Osha merupakan anak autis yang jago bermain musik, terutama biola. Kepiawaiannya sering ia tunjukkan di berbagai kesempatan. Sebagai anak autis, kecemerlangan Osha patut diacungi jempol. Seperti juga Hee Ah Lee, perjuangan Osha meraih impiannya tak lepas dari dukungan orangtuanya, terutama ibunya.


Fakta-fakta tadi semakin menegaskan bahwa cinta dan kasih sayang merupakan modal utama dalam membimbing anak berkebutuhan khusus meraih impiannya. Mengesampingkan cinta dan kasih sayang orangtua ibarat membiarkan anak spesial berjalan sendirian di tengah malam buta. Ia memang dibekali senter dan peta, tapi tak pernah tahu tujuan sebenarnya. Orangtualah yang seharusnya menjadi penunjuk jalan tersebut.


Jika cinta dan kasih sayang ternyata memegang peranan besar bagi tumbuh dan berkembangnya seorang anak spesial, dipastikan pula akan berdampak besar bagi peradaban. Lihatlah betapa tema cinta dan kasih sayang yang tulus telah membuat novel Andrea Hirata sukses meraih sambutan khalayak dengan menjadi best seller. Tapi bukan itu yang penting. Yang utama adalah mengapakah Bu Mus, guru Laskar Pelangi di mana Andrea menjadi salah satu anggotanya, tanpa henti menumbuhkan semangat anak-anak itu dengan siraman cinta dan kasih sayangnya?
“Kami adalah sepuluh umpan nasib dan kami seumpama kerang-kerang halus yang melekat erat satu sama lain dihantam deburan ombak ilmu. Kami seperti anak-anak bebek. Tak terpisahkan dalam susah dan senang. Induknya adalah Bu Mus,” demikian Andrea melukiskannya.
Melalui cinta yang disodorkan Bu Mus, ke sembilan anak Belitong yang bersekolah di SD Muhammadiyah itu menjadi anak-anak ajaib yang bersekolah bukan karena membutuhkan ijazah, tetapi lebih karena pendidikan diyakini mampu menjadi penerang bagi jalan menuju masa depan. Anak-anak Laskar Pelangi yang hidup dalam keterbatasan dan kesederhanaan tersebut bisa menemukan pencapaian-pencapaian puncak dan petualangan-petualangan seru di masa kanak-kanak hingga remajanya. Kesederhanaan memang membatasi mereka, dan kadang membuat mereka sedih dan minder. Tapi mereka tidak tenggelam dalam keluhan dan tangisan. Anak-anak itu tetap berjuang hingga batas terakhir kemampuannya.


Bu Mus bahkan melakukannya tanpa pamrih. Sebagai guru ia hanya digaji sebanyak 15 kilogram beras per bulan dan harus membanting tulang sebagai penjahit hingga larut malam. Berkat siraman cinta dan kasih sayang dari Bu Mus pula, Andrea berhasil menembus ketatnya masuk Universitas Indonesia dan mendapatkan beasiswa ke Sorbonne, Prancis. Atas jasanya itu, pada Hari Pahlawan tahun lalu, Bu Mus yang bernama lengkap NA Muslimah Hafsari mendapat Award Aisyiyah. Penghargaan ini diberikan kepada Bu Mus sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan pejuang pendidikan di daerah terpencil.

Kesimpulan
Pemberian kasih sayang amatlah penting bagi perkembangan anak. Rasa kasih sayang yang dicurahkan oleh orang-orang di sekeliling anak merupakan dasar pembentukan watak si anak kelak. Ungkapan kasih sayang bukanlah hal yang boleh diremehkan. Seorang anak dilahirkan ke dunia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pada awalnya tidak memiliki pengetahuan barang sedikit pun dan memiliki kondisi fisik yang lemah untuk melakukan tindakan, bahkan untuk dirinya sendiri.


Namun dalam tubuhnya yang lemah itulah Tuhan memberikan kepadanya “potensi besar” yang dalam perkembangannya nanti akan sangat mempengaruhi kehidupannya. Potensi-potensi itu berupa kemampuan untuk mendengar, melihat dan merasakan sesuatu yang menyenangkan atau menyedihkan, menilai sesuatu yang indah atau jelek dan bahkan pada tingkat yang lebih tinggi mampu membedakan yang benar dan salah. Dan potensi inilah yang akan membedakan manusia dengan makhluk lainnya.


Potensi yang sangat berharga itu tentu saja tak akan berkembang dengan sendirinya. la memerlukan penanganan secara langsung dan terus-menerus agar potensi itu dapat berkembang secara alami dan sesuai dengan masanya. Karena posisi inilah, seorang ibu memiliki peran strategis untuk menentukan cepat atau lambatnya pertumbuhan tersebut.


Seorang ibu yang baik tentu saja akan memberikan perhatian yang intensif terhadap pertumbuhan potensi tersebut. Semakin besar diberikan maka semakin cepatlah tingkat pengalaman, pemahaman dan emosi seorang anak. Belaian seorang ibu terhadap anaknya akan membawa arti yang sangat dalam bagi pertumbuhan jiwa anak. Anak akan merasakan kehangatan dan perlindungan dari seseorang yang dekat dengannya. Apalagi jika seorang bayi mendapat respon khusus dan cepat dari kedua orangtuanya, maka kedekatan dirinya dengan sumber kehangatan akan semakin meningkat yang pada akhirnya menumbuhkan rasa cinta dan perhatian.


Apalagi jika kasih sayang itu tidak hanya diwujudkan dengan sentuhan semata, melainkan dengan keikhlasan yang mendalam ketika merawatnya dan memberikan perhatian psikologis yang besar dan mendasar, maka interaksi kasih sayang itu tidak akan hilang ditelan usia. Ironisnya, banyak orangtua yang mengeluh lantaran anak-anak mereka lebih akrab dan dekat dengan pembantu daripada dengan dirinya. Bahkan terkadang anak lebih merasa aman dan tergantung pada pembantu.


Hal di atas dapat terjadi karena tak utuhnya rasa kasih sayang yang diberikan orangtua kepada putera-puterinya. Orangtua terlalu sibuk dengan dunianya yang banyak menyita waktu dan tenaga. Padahal di sisi lain, seorang anak membutuhkan kehadiran orangtua secara utuh baik fisik maupun psikisnya. Kesibukan orangtua berkarier di luar rumah perlahan-lahan membuat jarak orangtua dengan anak, sehingga intensitas perhatian dan sentuhan lambat laun makin memperbesar jurang kasih sayang yang seharusnya tidak perlu terjadi itu.


Kehadiran orangtua di tengah-tengah anak spesialnya, jelas dokter spesialis anak RS Permata Cibubur, Adrizal Dahlan, sangat diperlukan agar penanganan seorang anak spesial dapat mencapai hasil yang lebih baik. Menurutnya, kekuatan cinta dan kasih sayang orangtua dihadapan anak spesial turut mempercepat pemulihan si anak.
Sebenarnya, kata Adrizal, seorang anak spesial, seperti autis, semakin dewasa akan semakin baik kemampuannya jika mendapatkan kekuatan cinta dan kasih sayang orangtuanya. “Percayalah, terdapat satu titik tertentu di mana seorang anak spesial akan tumbuh lebih baik dari waktu ke waktu. Tentu saja, harapan itu harus dibarengi keikhlasan dan kesabaran orangtua dalam merawatnya,” jelasnya.


Sementara psikolog dari Universitas Indonesia, Adriana S Ginanjar, menjelaskan interaksi yang baik antara orangtua dengan anaknya yang dilandasi cinta kasih akan mampu membuka jalan bagi ditemukannya kebahagiaan. Untuk itu orangtua perlu memahami keterbatasan anak dan menemukan hal-hal positifnya. Lalu menetapkan target-target sesuai dengan kondisi anak. Cinta kasih yang diberikan orangtua bagi penanganan anaknya, diyakini Adriana, bisa menjadi awal dari sebuah harapan yang lebih baik.
(Dari berbagai sumber/diolah).

Komentar ditutup.