Buku cerita

Pernah baca buku cerita yang alurnya kita tentukan sendiri????

Tahun 70 an… buku cerita seperti ini booming.

Baca buku jadi mengasyikkan. Diakhir setiap halamanan, disudut kiri bawah… ada pilihan… 2 pilihan atas lanjutan jalan cerita halaman itu. Misalnya saja… akhir cerita halaman mengisahkan.. tokoh utama akan memilih bertemu A dan B. Nah… pilihan bertemu A ada dihalaman 21 sedang untuk kisah pertemuan tokoh utama dengan B ada dihalaman 10. Tinggal cari halaman yang bersangkutan dan… nikmati lagi kisah petualangan di buku.

Hmmm Asyiiik banget.

Berkali-kali baca buku yang sama juga gak… bosan… karena selalu ada alur baru yang bisa kita pilih.

Buku itu persis kehidupan ini sekarang… setiap kita akan melangkah, selalu ada pilihan-pilihan. Bagaimana kita memilih… tergantung pada alasan dan pertimbangan masing-masing. Akhir ceritapun bervariatif…. Tidak sama pada setiap orang meskipun jalan yang diambil kurang lebih sama.

Hanya saja… tidak seperti buku cerita itu.. kita tidak pernah bisa kembali ke halaman pertama untuk mencari “cerita baru” ataupun mengubah pilihan langkah hidup, yang ternyata setelah kita jalani “kok gak seru” yaaaaa. Terus dan terus… kita harus melangkah.

Dan langkah kita sebagai manusia… baik itu dari jawa, Sumatra, Kalimantan, Amerika, Australia dsb-dsb.. dan dari jaman prasejarah hingga millennium ini.. akan berakhir.. dalam jangka yang kita tidak pernah tahu.. berakhir pada… padang penghisaban.. padang dimana yang benar dan salah sudah tidak ada lagi tedeng aling-aling.

Dihari itu.. orang-orang yang paling menyesal adalah lelaki yang ada peluang menuntut ilmu di dunia tetapi ia tidak mengambil kesempatan menuntutnya, dan lelaki yang mengajar ilmu kepada orang lain; lalu yang beljar darinya mendapat faedah dari ilmu itu sedang ia sendiri tidak mendapat apa-apa..

“Sesungguhnya kami telah menunjukkan jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada yang kafir” (QS Az-Zariyat: 21)

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk manusia dengan membawa kebenaran; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang bertanggung jawab terhadap mereka (QS Al-Zumar : 41)

Komentar ditutup.