Surat untuk Ukhtifillah

Ukhtifillah.

Pagi-pagi di hari ini.. saya sudah menangis.. larut dalam cerita seorang sahabat..

Cerita dukanya tentang putri-putri kesayangan, tentang rasa kesalnya pada orang-orang kepercayaan, yang tidak mampu diamanati untuk “menjaga” putri-putrinya… tega melakukan pelecehan seksual.

Saya jadi tercenung…

Dalam Islam.. keluarga sangat diajarkan untuk tahu hijab. Ini peraturan (tertulis.. dalam An-Nisa) yang tidak boleh tidak harus dijalankan. Sejak dini anak-anak harus diajarkan dan mengamalkan ini dengan baik. Siapa-siapa yang menjadi muhrim, siapa-siapa yang bukan muhrim.

Jika kemudian.. seorang anak belia.. mendapat pelecehan seksual…..

Media yang digunakanpun saat ini demikian “inovatif”.. dengan HP (sifatnya begitu pribadi kan…), atau VCD/ DVD yang biasanya ditambahkan dalam mobil seseorang dapat memberikan rangsangan yang tidak semestinya.

saya tidak ingin mengatakan ini salah orang tua atau salah masyarakat atau salah sistem yang sangat longgar dengan undang-undang atau salah media yang menyiarkan terlalu banyak siaran yang tidak mendidik… saya justru ingin kita melihat ini adalah bagian dan tanggung jawab kita bersama.. mari kita bersama-sama menciptakan keadaan yang tidak memungkinkan terjadinya..

Beberapa tips (yang kami temukan) setelah acara menangis usai adalah :

1. Jangan pernah membiarkan anak.. terlihat memancing dengan menggunakan baju yang terbuka aurat walaupun didalam rumah

2. Jangan pernah membiarkan seorang anak hanya berdua dengan sopir baik itu sopir pribadi ataupun sopir dalam kendaraan antar jemput sekolah. (biasanya ini rentan pada anak yang di jemput paling pagi dan diantarkan paling akhir)

3. Biasakan meluangkan waktu dengan anak untuk bercerita dan mendengarkan ceritanya.

4. Jika anak menanyakan tentang hal-hal berhubungan dengan sex. Jangan ragu untuk menjawabnya.. secara terbuka dan informasi yang benar menurut bahasa anak. Agar anak tidak bertanya pada sumber-sumber lain yang mungkin justru akan menjerumuskan.

5. Ajarkan anak untuk selalu berada ditempat yang “ramai”. Paling tidak bertiga, sehingga selalu ada “saksi” pada setiap kejadian.

6. Ajarkan anak tentang lingkaran sosial
Lingkaran sosial adalah beberapa lingkaran yang bertingkat-tingkat. Lingkaran terdalam berisikan … (nama anak) dan apa saja yang boleh/ harus dilakukannya secara sendiri, misalnya istinjak. Berikutnya adalah lingkaran yang berisikan nama orang tua dan apa saja yang boleh harus dilakukan pada interaksi dengan orang tua.. misalnya menghormati orang tua, mengadukan kesehatannya. Lingkaran ketiga berisikan saudara-saudara yang juga ada aturan boleh dan harus misalnya.. tidak boleh membuka pintu disaat saudara yang tidak sejenis ganti baju lingkaran berikutnya adalah keluarga besar terdiri dari nenek, kakek, om, sepupu dsbnya… yang semuhrim.. lingkaran kedua untuk keluarga besar yang tidak semuhrim setelah itu baru orang-orang terdekat yang bukan keluarga, misalnya guru, sopir, pembantu, tetangga dekat dsbnya. Dan lingkaran terakhir adalah masyarakat luas.
Ini terbukti sangat efektif dan dapat mudah dipahami.. serta dapat diatur sesuai dengan pemahaman yang sejalan usia anak

7. Membiasakan anak untuk dapat tegas mengatakan “TIDAK”

8. Selalu jaga komunikasi dengan saling memberi tahukan posisi masing-masing, baik itu antara ibu dengan anak atau anak dengan anak, ataupun ayah dengan anak.

9. Sebaiknya anak punya kemampuan untuk membela diri sendiri, paling tidak ajarkan anak cara praktis untuk membela diri, misalnya menggunakan semprotan parfum kearah mata pelaku.

10. Dengan adanya media internet yang ada didalam HP, ataupun chatting.. sebaiknya selalu dikontrol dan digunakan sebagai sarana untuk mendidik anak agar bertanggungjawab dunia akhirat

Saya sampaikan ini karena ternyata justru 90% pelecehan seksual dilakukan oleh orang-orang terdekat yang sangat kita percayai untuk mengurus anak-anak dikala kita menemui halangan.

Semoga kita semua dapat saling menjaga.. keluarga kita dari api neraka. Dan selalu diberi kesempatan untuk berbagi kebaikan, menjauhi kebatilan.

2 Komentar

  1. jookut said

    Saya belum punya anak. Tapi saya punya adik perempuan. Alhamdulillah dia mau kalo saya suruh pake jilbab. Bahkan dia pernah bercerita pada ibunya, “Ma, kalo ada si kakak, kemana-mana harus pake jilbab dong”. Kira-kira gitu bahasanya. Jadi bingung. Dia emang rada keras-kepala. Maklum seumuran ABG emang kayak gitu kalee. Dia belum punya kesadaran sendiri. Kesini-kesini dia malah keliatan ‘bangga’ sendiri. Karena sering dipuji ama tetangga: “Tuch lihat dong si … kemana-mana pake jilbab.” Syuhhh…(kayak Georgio)

    Permasalahan utama sekarang ini yang saya lihat adalah, terutama, ketidakpedulian seorang ibu kepada kondisi sosial yang melingkupi si anak. Sehingga membiarkan sang anak beradaptasi dan mengelola dirinya untuk sesuai dengan lingkungan. Woo.. saya keliatan agak keren nih bahasanya.

    Saya juga sadar sepenuhnya bahwa kebanyakan seorang ayah (mungkin hanya ayah saya) tidak mau peduli terhadap persoalan yang menimpa anaknya. Mungkin menurut mereka, yang jarang dirumah, anak tidak perlu dipersulit. Biasanya ayah hanya sibuk mengurusi hal-hal ‘besar’.

    Huff… memang jadi bapak/ ibu relatif gampang.. cukup ngandelin naluri. Jadi orang tua… itu yang perlu ilmu.

  2. achoey said

    Bagaimana bisa sosok-sosok yang coba dipercaya mengkhianati amanah
    Bagaimana bisa hal yang tidak lumrah dilakukan begitu mudah
    Ya Allah jangan jadikan aku bagian dari itu
    Ya Allah, berikan kesabaran pada sosok yang telah dikhianati itu

    Amin Ya Rabbil Alamin… Kabulkan Ya Allah

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.