Label Haram…

Apa itu halal???
Yang boleh di konsumsi
Apa itu haram???
Yang gak boleh dikonsumsi..
Ini hampir semua orang Islam tahu..

Yang mana yang termasuk halal???
Yang mana yang termasuk haram????
Ini yang hanya “sebagian orang” tahu dan mau tahu….
Loo kok gitu????

Ketika sebuah produk bertuliskan Halal… sering kita semangat dan percaya.. demikian saja mengkonsumsinya.. padahal…Jujur aja deh… apakah.. kita selalu menyempatkan diri.. “membaca”.. bagian dari terbuat dari..  yang tertera dikemasan barang yang kita beli… huff ya.. betul…seriing gak sempat

Dan kata-kata.. “percaya aja lah”.. “kalau gak tau kan gak dosa ya….”.. “ah.. cuman sedikit kok… gak apa-apa”… ini yang lebih sering kita dengar… ketimbang… apa itu gluten.. apa itu lysetin.. apa itu emulsifier.. dsbnya…

Karena itu… saya setuju banget… kalau label dibarang-barang konsumsi itu yang dicantumkan bukan kehalalannya… tapi keharamannya… biar… langsung “ngeh”.. efek psikologisnya.. langsung terasa… kali ya…

Pernah suatu ketika (entah sudah beberapa tahun yang lalu ya… saya lupa.. saat itu saya masih kuli.. Ah) ada seorang dosen dari Unibraw yang sampai bikin penelitian untuk itu…  Hasilnya… Yah… “Gak Awet”.. segera tenggelam.. dengan berbagai kepentingan lain….

Sayapun yang hooobbbiii banget masak,.. jaman-jaman itu… gak luput dari “kebiasaan jahiliyah”..

Saat itu saya suka mempelajari resep-resep masakan baru.. apalagi.. kalau resepnya hasil “ngintip”.. senior dan sesepuh masak didapur.. soalnya.. ditanggung pasti yahud…

Nah ada seorang senior dan sesepuh yang biasa aku panggil budhe… Budhe ini masakannya ueeennnaaak karena untuk memperlajarinya.. beliau gak tanggung-tanggung… bisa sampai kenegeri asalnya (wah.. kalau jaman sekarang.. namanya wisata kuliner kaliii yaaaa) Favoritnya adalah Chinese Food. Yah.. karena beliau juga muslim.. pasti gak ada yang namanya menu dengan bahan-bahan dari B2 (he he he tahu kan….??) Tapi.. beliau gak pernah absen memakai “ang-ciu”.. “penyedap yang beraroma lysetin”..(langsung dibawanya dari negara asal…)

Ang-ciu = arak beras….

Lysetin = adalah bahan penyedap yang biasanya dibuat dari tulang, urat dan kulit hewan. Dan yang paling favorit adalah tulangnya B2, karena tulang ini konon paling empuk dan gurih … kecuali jika disitu tertera Soya Lysiten.. artinya… bahannya dari tumbuhan.

Huffff…

Ini baru dua yang kutahu…. Yang setelah aku tahu.. cukup bikin saya takut makan chinese food.. sekali lagi.. karena memang gak ada bentuk nyata B2… tapi….

Makanan lainpun gak luput dari… beberapa masukkan yang mengkhawatirkan.. seperti

1. Japanese Food.. yang biasanya banyak menggunakan “mirin” dalam mengolah.. karena mirin pada prinsip merupakan minuman beralkohol berwarna kuning, berasa manis, mengandung gula sebanyak 40%-50% dan alkohol sekitar 14%.  Mirin digunakan pada masakan Jepang yang diolah dengan cara nimono (merebus dengan kecap asin dan dashi) dan campuran untuk berbagai macam saus, seperti saus untuk kabayaki (tare), saus untuk soba (soba-tsuyu), saus untuk tempura (tentsuyu) dan saus teriyaki.

2. Korsvet .. untuk bikin roti.. patry… bahasa Inggrisnya FAT… nah masalahnya.. benda satu ini.. biasanya dijual tanpa kemasan… alias.. udah dibungkus.. dalam packing plastik.. yang tidak ada mencantumkan bahan-bahan pembuatnya…

3. Black Fores… Cara buatnya nih… (saya paham… soalnya saya sukaa banget kue satu ini… dan sekarang sudah “kurelakan”…) setelah kue coklat jadi (oh ya.. gak semua coklat ada label “soya lysetinnya”..) kue dibelah jadi 2.. masing-masing di “ciprati.. sampai lembab” dengan “Rumm” didiamkan semalaman agar meresap.. baru di”isi” dengan wheap cream.. yang diselingi oleh.. dark cery (kalau gak ada ganti.. dengan.. kismis yang direndam dalam Rumm semalaman…) sebelum dihias di ciprati lagi dengan Rumm

4. Tiramitsu.. Cake… membuatnya selalu dengan campuran “liquior”… agar begitu menyentuh lidah.. ada sensasi.. “meleleh” dan “menyengat”….

Jadi aneh juga ya… kalau ada restauran jepang dan toko roti pastry….bisa dapat sertifikat Halal. Karena syarat sebuah usaha dapat label halal gak mudah.. harus dilihat bahan-bahannya… alat-alat pembuatnya.. tempat/ lokasi pengolahannya.. packingnya… dsb-dsbnya.. Inipun harus melalui jangka waktu tertentu… plus perjanjian.. sewaktu-waktu akan ada tera ulang…. untuk memastikan… plus.. ada pengulangan pemeriksaan dalam jangka waktu 1 tahun…

Belum lagi… yang sangat tak terduga… misalnya.. kapsul yang digunakan untuk pembungkus obat-obatan berbentuk serbuk, permen yang dijual bebas dan disukai anak-anak, Es Cream…. dsbnya…

Hmm dengan postingan ini saya berharap….. saya hanya bisa menghimbau kita (termasuk saya… untuk lebih teliti dan teliti lagi) semua saling terbuka.. berhati-hati, mengingatkan dan berpegangan pada apa yang Hak.. jika tidak…… Ya Allah saya hanya dapat mengharapkan ampunanMU…

Oya.. sering-sering buka website Halal-Guide.Info ya….

7 Komentar

  1. fisha17 said

    lah.. japaneese food katut juga yah?? kalo ada label halal gimana neh

    Maaf sahabat… Insya Allah benar…
    Kalau ada label halal.. hanya ada 2 kemungkinannya :
    1. Label Halal yang… (maaf) Gak Halal
    2. Atau memang tidak memakai “mirin” dan kawan-kawannya, sehingga… kalau kita coba.. pasti gak jepang-jepang amat rasanya… contohnya… teriyakinya.. jadi lebih mirip semur rasanya…

  2. heruyaheru said

    ah, label halal bikin repot…

    Begitukah menurut anda????
    Just for your information… jika seseorang membuat sebuah benda… misalnya mesin cuci, ia pasti akan sangat tahu kelebihan dan kekurangan dari mesinnya. Untuk membantu orang lain mengoperasikan mesin cuci tersebut dengan baik.. ia akan membuat “manual operation” dan jika ia jujur… (tidak mau orang lain bermasalah dengan barang ciptaannya) ia akan sertakan juga.. hal-hal yang boleh dan tidak dilakukan pada saat maupun setelah penggunaan.
    Oppsss… saya tidak berminat untuk menyamakan Allah yang Maha Pencipta dengan seorang pembuat mesin cuci… (terlalu tidak seimbang).. karena sungguh ciptaanNYA tidak hanya sebuah tapi tak terhitung… diantaranya kita ini sebagai manusia… Sungguh DIA pasti Maha Tahu.. apa yang baik dan tidak bagi kita… Diantaranya makanan tidak halal ini… (maaf saya hanya “sekedar” mengajak anda teringat pelajaran disekolah duuulllluuuu)

    Jadi itu sebabnya… halal bukan hal merepotkan.. tapi.. kita justru harus merepotkan diri dengan halal dan haram ini.

  3. heru said

    Yang saya maksud merepota adalah jika kita—umat islam—msti meminta negara untuk melakukan kategorisasi halal-haram ityu. Tugas negara, bagi saya adalah menjamin makanan sehat dan layak. Buikan halal-atau haram menurut agama tertentu. Labelisasi halal hanya akan menmbah biaya yang ujungnya merugikan konsumen.
    Lagi pula, dalam islam, jika kita tidak tahu makanan itu haram, kita boleh saja memakannya bukan?kenapa repot?

    Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih atas kesediaan anda kembali merespon disini… hmmm ini menunjukkan anda adalah manusia yang sangat terbuka dan selalu berusaha mencari tahu hingga tuntas yaaa…. subhanallah…

    Hmmm betul mas… sungguh saya juga setuju… jika sebetulnya hal ini adalah negara. Sayangnya.. negara kita adalah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang didalamnya terlalu banyak unsur.. ya unsur budaya,.. ya unsur agama,.. ya unsur adat istiadat.., dsbnya.. Lalu.. jika dikenakan aturan kelayakan makanan… Aturan siapa yang akan dipakai????

    Yang kedua… Memang saya pun setuju… bahwa jika kita tidak tahu… kita boleh saja memakan makanan tersebut bahkan adapula ketentuan bahwa makanan tersebut dihalalkan walau jelas haram, jika hanya “itu” satu-satunya obat/ kemungkinan kita terhindar dari bahaya besar.
    Pertanyaannya adalah… apakah kita mau berada dalam keadaan tidak tahu terus menerus???? apakah mau kita tidak pernah bertambah ilmu???
    Hmmm?????

  4. heruyaheru said

    kenapa sayang jika negara kita NKRI? saya ga setjuju negara islam. saya setuju negara sekuler. mengenai aturan yang pakai saja akal sehat. soal makanan sehat, ada yang namanya ilmu kedokteran bukan?yang terpnting adalah masyarakat tahu apa kandungan makanan yang dijual ke tengah masyarakat.dan masyarakat sendiri yang memilih mau makan itu atau tidak.
    kalau misalnya, umat islam mau melabeli makanan, saya sih, sebagai orang islam lebih setuuju ada label haram saja, bukan label halal. setau saya, dalam qoidah fiqh mengenai makanan, yang harus dicari adalah mana yang haram, bukan mana yang halal. sebab: semua makanan adalah halal, kcuali yang dilarang. jadi kita cari saja mana yang dilarang. gitu mbak…
    tapi saya sih lebih setuju kalau ndak usah pakai labl \-lablan segala. saya merasa itu adalah kebutuhan produsen makanan (biar laku) ketimbang kebutuhan konsumen.atau jangan2 labelisasi halal adalah bisnis juga? bisnis bagi lembaga tukang stempel label hala itu ya? hehe…
    soal menimba ilmu, saya jelas setuju. dan saya percaya kok, tanpa label halal, masyarakat islam di indonesia sudah cukup pintar meniulai makanan yang toyib dan mana yang tidak…

    Begitu ya???
    Iya… memang hanya Islam kan yang… punya aturan makanan yang “halal” dan “haram”…
    Terus-terang mas… saya harus jujur mengakui.. belum semua dari umat Islam ini cukup tahu tentang kandungan makanan yang dimakannya. Contohnya.. adalah apa yang membuat sang dosen dari UniBraw mengadakan riset dari kehalalan makanan (tahun berapa ya lupaa deh.. sekitar 80-an kayaknya) adalah ketika ia melihat temannya makan “BACON”.. (daging b2 asap).. dan sama sekali tidak tahu ini makanan haram… ini seseorang yang cukup terpelajar.. hidup dilingkungan perkotaan dan makanan yang di makannya jelas bentuk b2nya… apalagi yang tidak nyata… seperti halnya kapsul pembungkus obat???
    Yah.. sekali lagi.. hidup memang penuh pilihan.. bagaimana kita memilih… dan apa yang kita pilih adalah pertanggungjawaban kita masing-masing….

    BTW… sangat senang.. membaca komentar-komentar anda… wahai sahabat.

  5. smokey said

    maaf kalo boleh pgn ikutan, saya baca komen2 yang diatas, pendapat saya adalah begini :
    pada bagian “kalo setiap makanan dan minuman yang akan kita nikmati harus diteliti dulu setiap detil kandungannya tentu repot juga, malah bisa2 kita gak makan2” sementara,
    “kalo labelisasi itu sama sekali dihilangkan”, wah gak kebayang jg apa jadinya, soalnya saya orang ekonomi yang sama sekali istilah kimia atau nama (komposisi kandungan) apapun itu yang tercantum dalam kemasan produk adalah sejatinya apa.
    toh menurut saya orang2 yang bertugas di bidang labelisasi itu juga punya dasar keilmuan, bahan2 referensi dll yang intinya gak mungkin lah pemerintah sembarangan ataupun tanpa maksud menggaji orang2 yang bertugas melabeli halal/haram itu. jadi sementara karena itu yang tersedia, kita niatkan aja dalam hati dan InsyaAllah percaya pada label itu.
    sementara ilmu yang mas/mbak posting di atas juga saya rasa sangat2 berguna, minimal buat yang punya hobby masak sendiri sedapat mungkin bisa menghindari penggunaan barang2 diatas, sementara saya yang nge-kost dan tiap hari makan diluar, apa iya harus tiap kali mo makan nanya2 dulu masakan ini pake produk apa aja? kemudian saya teliti dulu daftar2 setiap kandungan sekecil apapun yang terkandung di dalamnya, bisa2 niat makan siang ini baru dapat keputusan makanan itu totally halal or kecampur zat haramnya seminggu kemudian.
    saya pernah baca cupilkan kisah seperti ini ;

    Setelah melewati 3 bukit dan ngarai, sang petani tiba di rumah kyai. Kyai menanyakan maksud kedatangannya.
    Petani (P) : Saya ingin bertanya, apakah kepiting sawah itu halal atau haram ?
    Kyai (K) Sebelum menjawab pertanyaan kamu saya ingin dulu bertanya, apakah kamu punya sawah ?
    P: Punya , Kyai
    K: Apakah di sawah yang kamu sedang tanami itu kamu suka memancing belut?
    P: Iya, kyai, sering
    K: Apakah kamu punya empang ?
    P: Punya, Kyai
    K: Apakah di empangmu dipelihara aneka ragam ikan, sperti mujair, tawes, mas, nila, gurame ?
    P : Iya , Kyai
    K: Apakah kamu juga beternak ayam atau bebek seperti petani di sini?
    P Iya, Kyai
    K: Nah , kalau begitu, makan dulu saja itu semua, janganlah dulu kamu persoalkan kepiting sawah. ayam, itik, ikan itu
    pun mungkin tak habis kamu makan, jangan kau susahkan hidupmu dengan persoalan kepiting sawah.

    maksud saya adalah, kadang kita sendiri koq yang membuat repot urusan yang seharusnya mudah. Alhamdulillah selera saya selama ini lumayan mudah, makanan2 tradisional kyk sate kambing, goreng ayam, pokoknya asal ada unsur dagingnya, jadi kayak makanan2 jepang, chinese food dll yang namanya aneh2 saya biasanya gak mau nyoba, takut gak cocok ma selera,(maklum emang bakat lidah kampung susah dirubah:) bahkan makanan sesimple itu pun kalo saya penganut harus 100% halal bukannya tanpa resiko, toh saya tiap pesen sate misalnya, saya jg gak mungkin nanya2 ini kecapnya merk apa mas? kemudian saya teliti smw kandungan yang ada di kecap merk itu, walaupun tanpa menghilangkan dambaan setiap yang masuk ke aliran darah ini adalah 100% halal, tapi kondisinya saya rasa gak memungkinkan.
    sekarang saya buka wacana baru ; masalah fatwa bunga bank haram, pendapat saya begini, kalo itu digeneralisir, setiap pribadi maupun lembaga apapun kyknya gak mungkin d, gak berhubungan dengan Bank, ok lah sekarang banyak bank syari’ah, tapi apa yakin mekanisme yang diterapkan bank2 syariah itu sesuai syari’ah dalam Islam yang sebenarnya? kyknya nggak d, perhitungannya masih berdasarkan bunga koq.
    satu lagi, di dalam mekanisme pajak (yang konon katanya penyumbang sekitar 70% sisi penerimaan APBN) juga terdapat unsur bunga koq yaitu bunga atas sanksi atas keterlambatan bayar. sementara seluruh penerimaan itu langsung masuk ke negara secara total tanpa dipisahkna yang mengandung bunga atau gak, nah kalo mekanisme bunga diharamkan, berarti setiap jalan dan fasilitas umum lainnya yang ada adalah haram, gaji PNS semuanya dalah haram, bahkan yang memfatwakan nya pun mendapat penghasilan yang ada unsur haramnya juga.
    saya lebih setuju pendapat salah satu pakar ekonomi muslim Indonesia (lupa lagi siapa) yang haram atw merupakan riba itu adalah bunga / kelebihan pembayaran ke pribadi (bukan lembaga)
    terakhir masalah mau difatwakan tentang rokok = haram, yang ini komen saya jelas subyektif (dari nickname aja dah cukup jelas kalo saya berada di pihak yang mana🙂 cuma logika saya yg awam dan faktor sedikitnya ilmu pengetahuan yang saya miliki tersirat pertanyaan seperti ini ; kan dari dulu juga kandungan rokok mah sama, kalo tiba2 ada perubahan status dari makruh ke haram, jangan2 nanti ada barang yang bisa berubah statusnya dari haram ke makruh juga, kalo dasar pemikirannya keprihatinan akan kebiasaan para perokok di sembarang tempat or para perokok usia dini, kenapa gak tegaskan aja law enforcement yang sudah ada (perasaan ada peringatan di setiap bungkus rokok bahwa dilarang dijual kepada orang yang lom dewasa kan?)

    anyway makasi buat postingan dan koment2nya yang telah menambah pengetahuan saya.

    Alhamdulillah…satu lagi sahabat yang baik hati… bergabung disini…
    Subhanallah… benar-benar bagus uraian anda… dan benar semua yang anda tulis… ada kalanya kita melakukan dengan sangat hati-hati mempertimbangkan segala aspek… (prefeksionis… gitulah.. namanya ilmiahnya… yaaa????) adakalanya… kita memang harus mengambil langkah praktis untuk percaya… dan berpasrah padaNYA,.. ketika keadaan mengharuskan…
    Benar bahwa Allah tidak akan meminta pertanggungjawaban apa yang kita tidak mampu… dan sebagai orang yang dipercayaNYA.. kita pastinya selalu dan selalu berusaha memperbaiki diri…. Insya Allah

    Alhamdulillah… Jazakallahu khairan katsiran.. wahai sahabat…

  6. smokey said

    saya bisa dibilang orang yang tersesat di dunia maya, yang mana semuanya masih harus melalui Google, untung juga dulu ada temen yang baik mau bikinin FS, jadi mentok2nya artikel yg saya dapet ataupun saya tulis cm lewat buletin di FS (maklum kena penyakit gaptek kronis) padahal udah diajarin cara bikin blog atau gabung ke suatu forum diskusi, tapi tetep aja susah padahal saya sangat suka baca – copy – paste – koment – forward artikel2 seperti ini

    kalo boleh minta tolong dong dikirimin link2 alamat weblog atau apapun yang isinya artikel2 ringan seperti ini ke alamat email saya

    tetap semangat postingnya ya, mudah2an bisa bermanfaat buat pribadi dan orang lain yang membacanya, Amien,, makasih sebelumnya ya …

  7. anonim said

    ngambil dri wikipedia nyak?
    maap bwt informasi aj, tolong klo nulis sesuatu yg bkan dr sumber sendiri tolong dcantumin sumbernya, jgn lgsg “copast” aj. jd kita bsa tw validitas artikel ini. jd kan ‘g fitnah 1 sama lain.

    Yup… Thx sudah diingetin.., sebetulnya udah dikasih tanda kok… kan kata mirin bisa nge-link..
    memang tidak saya cantumkan sumbernya, dengan pertimbangan.. hanya satu paragraf itu yang mengacu kesana…
    Thx ya… untuk kebaikkan hatimu… semoga.. tidak akan ada fitnah disini,.. insya ALLAH

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.