Ibunda Amrozi dkk

Beberapa kali tayangan di layar kaca.. menggambarkan… sosok wanita-wanita usia lanjut. Mereka adalah Ibu Tariyem dan Ibu Embay Badriyah, Ibunda Amrozi dan Ibunda Imam Samudra, terpidana Hukuman Mati. Dalam usia yang sudah renta… mereka akan menghadapi.. kenyataan putra-putra mereka harus melepaskan nyawa dihadapan aparat hukum.

Saya memang tidak banyak mengikuti bertita tentang Amrozi dkk. Jadi kalau orang bertanya apakah menurut mereka bersalah? Apakah benar mereka teroris?.. Saya hanya bisa katakan Wallahu Alam….

Saya hanya.. selalu memperhatikan adanya sebuah semangat yang luar biasa, mereka perlihatkan, setiap kali mereka “muncul” dilayar kaca… Saat itu ada rasa keingin tahuan dalam diri ini, apa yang menyebabkan mereka begitu “membara”… Betulkah… Iman ataukah hal yang lain.

Hmmm saya sekali lagi harus tetap dalam ketidak tahuan… karena memang Iman hanya urusan masing-masing manusia dengan Allah sang Pencipta, sang Penguasa, sang Pengatur… segalanya.

Subhanallah rupanya Allah tak hendak membuatku termangu terlalu lama.. sebagian tirai itu tersibak… wajah perempuan usia lanjut yang tidak lepas dari ingatanku.. wajah-wajah ibu-ibu yang mulia.. yang dengan tenang mengucapkan “Saya Pasrahkan segalanya hanya pada Allah”. Subhanallah.. Rupanya ini sebagian kekuatan yang menjadikan mereka (amrozi dkk) demikian bersemangat. Kasih sayang Ibunda… Doa ibu untuk putra-putranya… Harapan mulia sang Ibu pada putranya.. pemicu semangat membara.. dan membuat seorang anak.. mampu tetap teguh dalam keyakinannya…, tidak gentar melangkah dan meraih cita-citanya.  Subhanallah

Tidak ada sumpah serapah… (mungkin ya… karena mereka (bisa jadi) dianggap membawa keluarga dalam keadaan sulit… seperti yang pernah dipertontonkan oleh seorang ibunda selebritis) Tidak ada kegundahan (mungkin awal-awal ya… beberapa media pernah mengekspose ya… tapi.. ini telah sirna… subhanallah). Tidak ada kekhawatiran… Ya… tidak ada apapun.. Malah.. Ibu Embay.. berucap… saya cukup bersyukur, selalu mendoakan siang dan malam.. dan saya tidak merasakan takut sedikitpun dalam dada ini… Subhanallah…. Hatiku.. yang mendengarnya… bagaikan.. ikut.. berdegup keras.. merasakan semangat yang membara dalam setiap kata wanita tua ini.

Apakah kita mampu menirunya???

Ini adalah sebuah kejadian yang “biasa”. Anak-anak kita… buah hati kita.. dalam hidupnyapun menghadapi banyak masalah.. banyak tantangan.. Lalu.. apa yang mereka lakukan dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah tersebut, belum tentu dapat sejalan dengan cara kita memandang dan menyelesaikan masalah. Betul bukan????

Reaksi kita….?????

Lalu… saya bandingkan diriku dengan ibu-ibu yang mulia tersebut.. apakah tidak pernah dalam diri mereka mempertanyakan tindakan sang putra? Apakah ada dalam diri mereka menyesali.. telah melakukan sebuah tindakan (mungkin) yang mengakibatkan putra-putra mereka “berada” dijalan seperti sekarang? Apakah tidak ada penolakan dalam batin…mereka???? Ini yang sangat luar biasa buatku…

Apakah kita mampu bersikap arif seperti mereka…???

Apakah kita mampu menunjukkan besarnya iman ketika menghadapi persoalan anak-anak seperti mereka???

Saya… saya sendiri.. dengan jujur mengakui… saya belum sanggup melakukan. Saya sering belum tahu.. batasan yang harus saya “pasang”.. ketika saya harus “meminta” (atau lebih tepatnya… memaksa… ya hufff) anak-anak mengikuti apa mauku.. karena saya “menganggap” apa yang saya kerjakan sudah benar… (astaghfirullah) Ataukah sebaiknya saya… “mengikuti” apa yang jadi kemauan mereka dengan pertimbangan Allah pasti akan menentukan jalan hidup mereka.. sebagai sebuah perjalanan yang akan menjadikan mereka manusia-manusia penuh iman.. (akhir hidupnya…) sehingga saya tidak perlu khawatir apalagi campur tangan terlalu jauh…  (huff) apalagi dengan meletakkan cita-cita untuk mereka… cita-cita yang seharusnya mereka pilih sendiri.. mereka gantung sendiri… dan mereka upayakan pencapaiannya dengan segala daya.

Saya tidak sanggup berdiri bersebelahan dengan ibu-ibu yang begitu mulia…..

2 Komentar

  1. Meneketehe said

    Yah, seorang ibu yang telah melahirkan sejumlah teroris. Apakah Allah akan menerima perbuatan terkutuk ketiga manusia setengah iblis ini disisiNya? Wallahu Alam….

    Sahabat, saya bisa memahami pendapatmu. Memang seandainya boleh memilih pasti tidak ada seorang ibupun yg mau punya ‘anak bermasalah’. Apalagi jika sang anak menyebabkan dunia mencibir pd ibunda. Yah.. kalau boleh memilih…. pasti anak sehat, pintar, ringan tangan, penurut dan sederet kriteria sempurna lain akan dijadikan syarat sebelum melahirkan. Sayangnya tidak demikian… Orang tua hanya bisa berpasrah pdNYA, seperti ibu2 ini.

  2. h a b i b said

    aku ingat kisah seorang ibu yang tersenyum ketika mendengar anaknya mati di medan perang. dia puas karena telah berhasil mengantarkan anaknya ke jannah…..
    aku ingat kisah ibu seorang sniper yang menembak mati seorang penguasa dlolim di mesir, dia tersenyum bangga di depan jasad anaknya yang mati ditembak para algojo negeri. dia bagi-bagikan roti kepada orang-orang sambil berkata, aku rayakan walimatul ‘ursyi anakku dengan bidadari surga…

    Jannah… milik Allah..
    Jannah… hanya DIA yang dapat menentukan siapa yang berhak berada didalamnya..
    Jannah… sebuah kata yang bagai magnet… membuat manusia bisa “lupa”… Lupa.. bahwa landasan utama yang menjadikan sebuah.. perbuatan bernilai dimataNYA adalah keikhlasan.
    Satu ucapan.. bahkan satu “kerentek” dihati.. bahkan tanpa diucapkan.. dapat menurunkan ataupun menghilangkan nilai keikhlasan itu sendiri….
    Jannah… seandainya saja tidak ada kata Jannah dan Neraka… masihkah ada manusia yang mau beribadah kepada Allah????

    Sebagai ibu… seorang manusia hanya bisa berharap… berdoa dan berpasrah… pada Allah swt.. anak-anaknya menempati surga…

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.