Wibawa sebuah Jilbab…

sebagai seorang muslimah.. seharusnya aku merasa senang… Senang… karena.. untuk saat sekarang ini, paling tidak sudah ada sebuah keselarasan walaupun baru tahapan awal… antara pendapat dalam Islam dan negara… dengan berusaha “menengakkan” aturan pornografi. Ini mengingatkanku pada  masa… para jilbaber.. menjadi “makhluk tertuduh”.. dianggap sebagai.. bahaya laten.. karena busananya…

Masa-masa itu, tidak sedikit para muslimah yang harus.. rela keluar dari rumah.. untuk mempertahankan idealismenya dalam mentaati perintah Allah. Tidak sedikit dari para jibabber ini yang harus bersitegang dengan pihak sekolah demi tetap eksis mengenakan busana tertutupnya.

Suasananya mungkin tidak sama… tapi perjuangannya… tekanannya… aromanya hampir sama, dengan perjuangan men”goal”kan Undang-undang Pornografi kemarin.

Sayangnya… setelah lewat hampir 25 tahuan (awal tahun 80 an ya… masa-masa tekanan terhadap jibaber ini)  Wibawa sebuah Jilbab.. terkikis disana-sini.

Mereka para jilbaber ini.. sebagian sudah melupakan perjuang untuk mengenakannya. Mereka sudah lupa pada apa yang menjadi “nyawa” dari baju jilbab. Jilbab tidak lagi sebuah kekuatan untuk membuktikan keimanan tapi lebih banyak sebagai ungkapan mode baju….

Model Baju (yang katanya) Islami dan mengambil kata Jilbab sebagai penegasnya… banyak yang tidak lagi memenuhi syariat.. celana panjang ketat… kaos ketat dan potongannya diatas pusar.. kerudung hanya sebatas leher.. yang kesemuanya tidak lagi mampu menutupi aurat. Belum sikap dari para pengguna… yang seringkali sangat lugas mengundang…. nafsu lawan jenis…

Sering saya mencoba ber”prangsaka baik” bahwa para pengguna adalah “pemain baru” yang baru belajar menggunakan Jilbab sehingga belum banyak merasakan wibawa dari jilbab merasuk kedalam jiwanya…

Tapi.. ketika saya melihat… para tokoh selebritis.. yang telah menjadi “ikon”.. dari tahun ke tahun masih saja mengenakan busana yang kurang lebih sama bahkan ada yang semakin jauh meleceng… saya hanya bisa merasakan “sesak”… bUkan apa-apa… akhirnya… karena mereka selalu ada didepan… menjadikan masyarakat menganggap mereka-mereka ini yang jadi panutan.. bahwa memang begitulah sebaiknya… sebetulnya… aturan pemakaian Jilbab.

Mode baru… bergulir… tapi tetap saja sulit.. mencari  baju yang benar-benar sesuai syariah. Harus ketempat-tempat tertentu… yang pelanggan-pelanggannyapun sangat terbatas. Kapan.. para perancang busana muslim.. dapat bersaing masuk ke dunia nyata… membuat semua mata terkagum-kagum dan mau memilih busana muslim yang syar-i… dengan bangga…

Sekarangpun… banyak acara-acara yang sifatnya sudah sangat jauh dari nafas Islami… para pemainnya (sebagian adalah para “pemegang ikon” ini)  menggunakan busana jilbab…. “bergoyang” mengikuti irama… sama keras dan lincahnya dengan yang lainnya…. Yah.. ataukah… tinggal menanti.. masanya… jilbab masuk diskotik????

Saya hanya bisa bilang bahwa… Wibawa sebuah Jilbab yang sudah diperjuangkan dengan banyak pengorbanan.. sekarang “harus mengalah”.. oleh gilasan mode….

Iklan

4 Komentar

  1. bangzenk said

    mari kita mulai dari diri dan keluarga kita mbak.. sama-sama..

    bismillah..

    Amin… Laa haula walaa quwataa illaa billaah

  2. isfiya said

    wouwww……

    sahabatku… maaf jika postingan ini ‘mengejutkanmu’ memang tidak selamanya perkataan jujur menyenangkan.. Bagaimanapun jg saya cukup berterima kasih, engkau mau jujur dgn komentarmu. Semoga Allah memudahkan urusanmu. Amin

  3. h a b i b said

    aku ingat betapa adikku harus dirumahkan oleh sekolah ketika ngotot berjilbab. aku ingat betapa adikku tak pernah punya sim karena menolak difoto tampak kuping. aku ingat ketika adikku harus menangis ketika oleh dosennya dilecehkan karena jilbabnya. iya…saat itu…
    saat ini? hah….
    kemana jilbab itu bersembunyi? atau mereka disembunyikan? lalu yang berkeliaran adalah para perusak zaman dengan ‘jilbab’ penggoda iman.
    Ya Allah, berilah petunjuk mereka yang tak memahami aturanMu itu….lapangkanlah dada mereka untuk merasai hembusan kasihMu. amien…

    Amin… Amin… Hanya Dia yang mampu “meninggikan” ataupun “merendahkan” derajat.

  4. sandeee said

    Berjilbab tapi tidak menutup diri. Mereka menggunakan jilbabnya untuk berhias dan mempercantik diri di hadapan yang bukan mahram mereka…

    Jauh…jauh…jauh sekali dari hakekat jilbab sesungguhnya.

    Mereka telah ber-TABARRUJ, yang telah dilarang oleh Allah.

    Ya Allah.. hanya Engkau yang mampu membolak-balikkan hati,.. yang mampu menuntun setiap hati menuju cahayaMU

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.