Kartini sebuah ungkapan dari sudut pandangku

Pertama kali saya baca buku “Gelap Terbitlah Terang”…ketika saya masih duduk di kelas 4 SD…Saya terpesona dengan lembar demi lembar kertas di buku itu… Waaahhhh… tulisan tangan seorang perempuan bernama “R A Kartini”…

yah.. memang manusia itu.. pemahamannya sangat terbatas.. ya.. hanya sejauh yang mampu dijangkaunya.. jadi.. ketika itu.. yang melekat erat dalam benakku adalah… kehidupan seorang kartini kecil.. yang merasa tidak nyaman.. karena tinggal dengan “IBU UTAMA” .. karena ibunya.. harus pergi sebagaimana selir-selir yang lain… yang punya saudara dari lain ibu.. berjumlah 6 orang.. yang jiwa pemberontaknya sudah kelihatan.. yang gak suka jika harus.. “laku ndhodok” (jalan dengan posisi jongkok.. badan tegak.. sesuai tradisi jawa) yang gak suka jika harus jalan… pelan-pelan.. padahal dia begitu pecicilan.. yang suka bikin.. guru-gurunya kalang kabut bahkan marah karena pertanyaan-pertanyaan yang aneh….

He he he.. saya bisa bayangkan… pasti kartini kecil ini dapat panggilan “troble maker”.. apalagi di jaman itu… fuih…. he he he…

Disisi lain.. para tetua pasti juga gak sanngup berlama-lama marah padanya.. karena hatinya sangat baik.. penuh welas asih.. pikiran sangat cerdas.. dibuktikan dengan kemampuan untuk berbahasa dan menulis dalam Bahasa Belanda di usia belia… Juga kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut mungil itu.. penuh keingin tahuan….

Kali kedua.. saya membacanya.. ketika saya mulai beranjak remaja.., Kalau tidak keliru.. saat saya SMP
Yah.. saya terfokus pada kehidupan percintaan dan pernikahannya… bagaimana seorang kartini.. yang begitu bergelora… terkurung.. dalam “belenggu” pernikahan… heh.. saya memang katakan terbelenggu.. karena sepertinya.. (dari tulisannya) pernikahan itu dilakoni karena adat… seorang laki-laki yang tidak pernah ia bayangkan menjadi suaminya.. hadir sudah.. dengan membawa berbagai macam “kebenciannya” pada laki-laki.. Poligami.. dan meletakkan istri sebagai “kanca wingking”… (teman yang berada dibelakang.. selalu) Memang sebetulnya ada sebuah sisi positif.. ketika ia akhirnya menjadi seorang istri… kesempatannya untuk “mendunia”.. sedikit lebih terbuka…

Kali ketiga saya membacanya… saat saya sedang “tergagap-gagap mencari cahaya”… bagian menarik yang jadi perhatianku.. adalah banyak pertanyaannya… berkisar seputar Islam… Yah.. saya menyadari bahwa Allah dengan kuasaNYA.. dapat memberikan hidayah pada siapa saja.. kapan saja… dimana saja (wallaaah kayak iklan minuman bersoda)… yup.. hak preogratif yang betul-betul murni. Dan… Subhanallah si ibu ini…mendapat kesempatan ini….

Simaklah tulisan suratnya…

“Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” [Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899]

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]

Hmmm sejujurnya… sayapun setuju dengan tulisan ini… tulisan-tulisan yang jujur… lugas.. dari seorang anak manusia yang tidak mengerti pentingnya sesuatu jika kita tidak memahaminya…. Dan sayapun memahami jika dengan apa yang ditulisnya… ia berbicara pada seorang guru agama Islam… yang (maaf) kurang memahami Islam juga… ia mendapat “masalah”. He he he….  (ini masih berlaku jaman sekarang kan???? )

Begitulah… Takdir Allah.. berjalan kembali beliau bertemu dengan seorang guru… guru yang sangat paham dengan gejolak hati dan kehausannya akan ILMU…  simaklah.. apa yang kemudian.. sempat tertulis disurat-suratnya. Ya….Sayapun… jadi makin simpati… menyadari bahwa.. ibu yang masih sangat muda ini.. sungguh wanita yang luar biasa.. dengan “perjuangan”nya.. dengan tulisannya yang latang berbicara… tidak ada tedeng aling-aling dalam membicarakan Islam

“Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? …. Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903]

“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902].

“Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 5 Maret 1902)

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: Hamba Allah (Abdulloh).” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 1 Agustus 1903)

“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Alloh, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dia-lah yang dapat menyembuhkan.” (surat Kartini kepada Nyonya Abandanon, 1 Agustus 1903)

“Menyandarkan diri kepada manusia, samalah halnya dengan mengikatkan diri kepada manusia. Jalan kepada Allah hanyalah satu. Siapa sesungguhnya yang mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun ia sebenar-benarnya bebas” (Surat kepada Ny. Ovink, Oktober 1900)

Saya akan mengabaikan banyak silang pendapat tentang Kartini… Saya hanya ingin bilang… bahwa sebagai seorang wanita Kartini adalah seorang wanita mulia… sebagai seorang muslimah (jika benar begitu… karena tidak ada satupun bagian dari buku itu… yang dengan jelas-jelas mengungkapkan ke-Islamannya).. Yang saya yakini merupakan bagian dari adat.. dari budaya… dari keharusan turun termurun menjadi seorang wanita jawa ningrat beragama Islam… Apa yang dia lakukan adalah hal yang luar biasa…  Kemampuannya untuk “peka” sangat luar biasa… dan subhanallah kemampuannya untuk menulis… juga sangat luar biasa…

Inilah… yang sekarang menjadikan..saya bersemangat untuk “memposting”…  menyadari kekuatan sebuah pena… Bahwa hasil kerja pena.. yang berupa sebuah tulisan… dampaknya… bisa jadi luar biasa.. tidak sekarang… tidak esok.. mungkin puluhan tahun lagi.. tidak orang terdekat.. tidak orang jauh… semuanya punya kesempatan yang sama untuk mengakses ke sini… Insya Allah dapat digunakan sebagai sarana untuk berdakwah… untuk mengajak ke kebaikan dan menjauhi larangannya.. untuk menyadarkan diri dikala.. hati sedang bimbang… untuk curahan hati dikala galau… menggalang persahabatan dan persaudaraan dari tempat-tempat yang mungkin tidak pernah terbayangkan ada dimana…

Dan.. pada akhirnya.ketika ia meninggal.. pada proses recoveri… setelah melahirkan… (Hmmm who knows???) bisa jadi itupun adalah jalan Allah untuk membawanya dalam kematian Syahid.. kematian Khusnul Khotimah… Wallahu alaam….

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lainnya”

1 Komentar

  1. achoey said

    Bunda kuhargai pandanganmu🙂

    Ya.. akhifillah… jazakallahu…

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.