“Kongres Guru Nusantara 2008”

UNDANGAN UNTUK 1000 GURU INDONESIA, dalam kongres Guru Indonesia (KGI) 2008 telah diundangkan…

Rencananya acara akbar ini akan diselenggarakan pada 27 dan 28 November 2008.. bertempat di balai Kartini Jakarta…

Fuih.. perhelatan yang benar-benar hebat…

Dengan biaya yang tidak murah untuk ukuran seorang guru.. apalagi jika yang berminat adalah guru yang berada di pelosok.. (seperti ibu guru Muslimah di “LASKAR PELANGI”).. mestinya saya boleh berharap.. bahwa perhelatan ini akan banyak memberikan manfaat…

Sekedar cerita…Saya pernah hadir sebagai peserta… (heh.. saya tahu ini hal yang “neekkkaatt” karena saya bukan guru beneran… saya cuman seorang guru… dari 3 orang anak.. ) di perhelatan konferensi guru…ini 2 tahun yang lalu.. Kenapa??? Saya ingin tahu.. saya ingin belajar.. saya ingin memahami.. dan mendalami menjadi guru sejati.. terutama untuk putriku Aini…

Apa yang saya dapat waktu itu… mengecewakanku… (maaf.. mungkin memang karena “kacamata”nya beda.. kacamata yang saya pakai… kacamata ibu… seharusnya.. kacamata guru… seperti yang lainnya)..  Kenapa?? Karena dalam infomasi yang saya dapat sebelumnya… isue anak-anak autis termasuk dalam agenda pembicaraan.. ternyata agenda untuk pertemuan guru saat itu  tergantung pada penilaian makalah pembicara yang masuk … Yah.. apa boleh buat…karena isue tentang autis kurang menarik, (terbukti tidak ada satupun makalah yang dianggap bermutu untuk soal ini), akhirnya agenda ini ditiadakan.

Kedua.. yang bikn saya kecewa… (lagi-lagi… ini mungkin karena emang sayanya yang nyasar di komunitas yang berbeda).. pembicaraan (saat itu) banyak berkisar pada perjuangan “meningkatkan kesejahteraan dan kredibiltas guru”.. dan persoalan yang dihadapi para guru… misalnya tentang akreditasi, sistim kelulusan dengan standrat UAN, dsbnya…

Sedangkan isue tentang.. penanganan autis .. sangat minim…

Memang sih.. seorang sahabat.. dengan tenang menyampaikan…  bagaimana sulitnya (atau enggannya) pemerintah memberikan fasilitas pada anak-anak autis ini… Kenapa???  yah.. karena penangan anak-anak autis ini sangat bervariatif.. sulit menentukan sebuah kurikulum baku pada mereka.. (YAH… sedih… tapi saya memang harus menerima) Ini juga yang membedakan.. pendidikan seorang autistic dengan pendidikan untuk anak-anak dari golongan tuna (tuna netra, tuna grahita, tuna rungu… dsb) mereka biasanya… parameter persoalan hanya  1.. misalnya untuk tuna netra.. ya.. hanya yang berkaitan dengan meningkatkan kemampuan visual.. untuk tuna rungu.. yang berkaitan dengan meningkatkan kemampuan audio.. dsbnya…

Alhamdulillah…… tahun ini..akan diadakan lagi perhelatan yang sama dan diberi nama “Kongres Guru Nusantara”…  dan…. Maaf.. sekali lagi maaf… kalau saya masiiiih saja tetaaap mau “ngeyel”… ngeyel dengan tuntutan… perhatian dan pemberian kesempatan bagi anak-anak autistic…. ada dalam agenda pembicaraan disana di Konggres Guru ini….

Hingga hari ini… saya masih saja berusaha mempertahankan kengeyelanku… dengan mencari tahu… siapa-siapa “pejuang” di dunia pendidikan… yang punya perhatian dan komitmen tinggi terhadap kesempatan belajar anak-anak autis akan hadir disana… (maaf saudara-saudara… hingga saat ini saya belum dapat mencantumkan sebuah namapun). Bukan apa-apa… anak-anak autis saat ini seolah-olah ada di kelompok masyarakat kelas 2. Yang belum punya kesempatan… disisi lain… mereka juga dimanfaatkan.. dimanfaatkan oleh keadaan.. sehingga segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan mereka (sandang, pangan, pendidik, dsbnya) seringkali membutuhkan biaya yang super super… mahal.

seandainya saya boleh minta…pada mereka-mereka dibawah ini…

1. Kak Seto… ayo dong kak.. sebagai ketua komisi HAM anak-anak…  (anak autistic.. termasuk dalam kelompok yang harus diperhatikan bukan kak?.. ) kakak.. datang doonnng.. ke Konggres Guru Nusantara… Ya??? Kan  kakak kan punya home schooling…. bisa dong dikategorikan guru.

2. Ibu Dyah Puspita… Ibu Ages.., dan ibu-bapak yang punya komitmen tinggi terhadap anak autis ini.. Ayoooo doooong dataang. Disamping punya tempat terapi… ibu dan bapak adalah guru, adalah kepala sekolah… bagi anak-anak autistic ini.

3. Tante Titik Puspa… Please… usung ide tentang sekolah seni budayanya kesini…. kami semua butuh wadah untuk belajar menjadi pribadi mandiri….

Lihatlah… mereka-mereka yang bakalan datang sebagai pembicara..

· Dr. Baedhowi M.Si, Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas

· H.E Dr. Edilberto C. de Jesus, Presiden Southeast Asian Ministers of Education Council (SEAMEO)

· Prof. Dr. Edy Tri Baskoro, Anggota Badang Nasional Standar Pendidikan (BNSP)

· Prof. S. Gopinathan, Wakil Dekan, Pusat Riset untuk Padagogi & Praktek Pendidikan NIE, NTU, Singapura

· Jim Dellit, Peneliti Senior Divisi Ilmu Pendidikan, Seni & Sosial, University of South Australia

· Dr. Jonathan Parapak, M.Eng.Sc, Rektor Universitas Pelita Harapan

· Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah

· Prof. Dr. Libby Cohen, Profesor Emerita, Universitas Southern Maine , Amerika

Ayooo dong… .. para pemerhati, pejuang anak-anak autis… datang ya….. cari celah… untuk menjadikan anak-anak autis terangkat martabatnya… tidak lagi sebaga warga negara kelas 2.

Tolong… ada perhatian dari pendidikan… ada kesempatan…

Agar anak-anak ini diberi kesempatan untuk bisa jadi pribadi mandiri….

PLEASE… PLEASE…

1 Komentar

  1. ehm…. keluhan yang sama percis ketika aku bertanya pada istriku jika mengikuti rapat Kepala sekolah, yang dibahas itu-itu saja. tidak jauh dari kesejahteraan guru, atau mungkin insentif istriku lebih dari mereka? alhamdulillah.

    kemungkinan besar isue yg diusung dlm kongres guru mengenai digelontornya anggaran pendidikan 20%, jadi, bersiap-siaplah para pendidik dengan tantangan ini.

    Ketika sosok anak autis merasa dipinggirkan, seorang ibulah yang menjadi guru besarnya.

    Bunda, i’m suport

    Walah gitu ya… berarti… saya tetap harus ngeyel nih.. tahun depan…

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.