Kafir???

Menanggapi komentar dari seorang sahabat yang telah menuliskannya disini… yaitu apakah kata-kata kafir dapat diartikan melecehkan sebuah golongan. marilah kita simak dulu bacaan dibawah ini, yang telah saya
sunting dari : sebuah artikel yang ditulis oleg Dr Yusuf Qardhawi, yang pernah dimuat di sebuah media.isnet.org

Kafir, berasal dari kata dasar yang terdiri dari huruf kaf, fa’ dan ra’. Arti dasarnya adalah “tertutup” atau “terhalang”. Secara istilah, kafir berarti “terhalang dari petunjuk Allah”. Orang kafir adalah orang yang tidak mengikuti pentunjuk Allah SWT karena petunjuk tsb terhalang darinya. Kafir adalah lawan dari iman. Dalam Quran terutama surah an-Nuur, Allah SWT menganalogikan kekafiran dengan kegelapan, dan keimanan dengan terang benderang, serta petunjuk (huda) sebagai cahaya.

Kategorisasi manusia dalam hal mensikapi petunjuk dari Allah SWT memang hanya dua: Bertaqwa dan Kafir (lihat surah Al-Baqarah ayat 2 sd 6). Dan kelompok kafir sendiri ada beberapa macam lagi, misalnya menurut sikap terhadap kitab-kitab yang pernah diturunkan: ada “Ahli Kitab” dan ada “Musyrikin” (lihat surah Al-Bayyinah). Sementara dalam hal kesadaran mereka terhadap kebenaran adapula kategori “fasik”, yaitu mereka yang sudah faham mana yang benar dan mana yang salah tapi tetap saja melakukan kerusakan (Al-Baqarah ayat 26 dan 27).

Diantara orang yang mengaku beriman sendiripun ada orang-orang yang ingin menipu Allah dan ingin menipu orang-orang beriman lainnya, yaitu mereka pura-pura iman padahal mereka ingkar … mereka disebut kaum “munafik” (Al-Baqarah ayat 8 sd 20).

Bagaimana menyikapi orang-orang kafir tsb? Mari ikuti lagi tuntunan Quran:

1. Berusaha menghilangkan “penutup” yang menyebabkan mereka kafir, dengan cara mendakwahi mereka.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS.16:125)

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka…” (QS.42:15)

2. Tetap berbuat baik terhadap mereka, terutama yang memiliki hubungan kekerabatan.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, …” (QS.31:15)

keterangan: ayat ini berbicara tentang orangtua yang kafir, dan kita tetap diperintah untuk memperlakukan mereka dengan baik.

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS.76:8)

keterangan: adapun “orang yang ditawan” dalam ayat ini juga tiada lain adalah orang-orang kafir.

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS.60:8)

3. Tidak memaksa mereka untuk menjadi muslim.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…” (QS.2:256)

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir…” (QS.18:29)

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya…” (QS.2:272)

4. Berbuat adil dan tidak mendzalimi mereka, selama mereka tidak memerangi muslimin.

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS.60:8)

“…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” (QS.5:8)

“Doa seorang yang teraniaya (diperlakukan tidak adil), meskipun ia orang kafir, tidak ada tirai yang menutupinya (untuk dikabulkan).” (HR. Ahmad dalam “musnad”nya).

5. Memerangi mereka, tatkala mereka memerangi muslimin.

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu; dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.

Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (QS.2:190-193)

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah…” (QS.22:39-40)

6. Tidak menjadikan mereka sebagai kawan, pemimpin atau penolong, kalau mereka memerangi muslimin.

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS.60:9) “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (QS.3:28)

keterangan: “wali” bentuk jamaknya adalah “auliyaa” yang artinya teman yang akrab, pemimpin, penolong atau pelindung.

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,” (QS.4:89)

7. Menyambut tawaran damai dari mereka setelah terlibat peperangan.

“tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu (menyerah) maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.” (QS.4:90)

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.8:61)

Mengenai hubungan dengan non-muslim, Quran telah secara jelas membedakannya, dan membagi kaum kafir itu menjadi dua golongan:

A. Golongan “Muharribin” (yang memerangi)

Yaitu kafirin yang memerangi umat Islam karena agama mereka, yang mengusir muslimin dari kampung-kampung halaman mereka, dan yang membantu pihak-pihak yang mengusir atau mendlzalimi ummat Islam. Termasuk disini juga mereka yang menghalangi muslimin dari melaksanakan kewajiban syari’at.

Terhadap golongan ini, ummat Islam wajib memberlakukan point no.5, 6 dan 7.

B. Golongan “Musalim” (yang berdamai) atau Golongan “Mu’ahidin” (yang membuat perjanjian).

Adalah kaum kafirin yang tidak terlbat pada setiap usaha yang ada di penjelasan point.B, dan sama sekali tidak turut andil dalam konspirasi apapun untuk memusuhi muslimin. (Lihat lagi Surah Al-Mumtanah ayat 8-9).

Terhadap golongan ini, ummat Islam harus melaksaknakan point.1 sd 4.

Golongan ini,juga dibagi dua klasifikasi lagi, yaitu:

1. Mereka yang mempunyai perjanjian damai sementara. maka terhadap mereka diwajibkan untuk menjaga perdamaian itu dan melindungi mereka sampai batas waktu perjanjiannya habis.
2. Mereka yang mempunyai perjanjian tetap selama-lamanya. Merekalah yang disebut sebagai “Ahlu Dzimmah”, yaitu orang-orang yang mendapat jaminan Allah SWT, jaminan Rasul SAW, dan jaminan dari komunitas muslimin.

Dalam level negara/pemerintahan, Ahlu Dzimmah memiliki hak sebagaimana hak kaum muslimin (termasuk politik), dan memiliki kewajiban sebagaimana kewajiban muslimin (kecuali dalam hal yang menyangkut konsekuensi syari’at masing2). Ahlu Dzimmah wajib dibela dan dilindungi sebagaimana muslimin membela dan melindungi saudaranya sesama muslim.

Amirul Mukminin ‘Umar ibnul Khattab pernah menghapus istilah “Jizyah” bagi Ahlu Dzimmah dari nasrani arab Bani Taghlib, ketika mereka keberatan pungutannya disebut demikian. Dan pungutan tsb oleh ‘Umar disebut sebagai “zakat” sesuai permohonan mereka agar tidak dibedakan dari kaum muslimin. Khalifah ‘Umar menyetujui permohonan ini sambil mengatakan “Mereka itu orang yang dungu, mereka rela muatan artinya, dan menolak namanya.” (Fiqhuz Zakat II/708).

Imam Al-Auza’i mendukung dan bersama Ahlu Dzimmah di Libanon yang bersikap menentang seorang gubernur dari kerabat dinasti Abasiyah yang berlaku tidak adil.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menghadap Kaisar Mongol Timur Leng dan meminta pembebasan tawanan. Ketika Timur Leng menawarkan hanya membebaskan tawanan yang muslim, Ibnu Taimiyah menolak hal itu, kecuali Timur Leng mau membebaskan juga Ahlu Dzimmah yang ditawan bersama kaum muslimin.

Dengan demikian menurut hemat saya… jika tercetus kata-kata “mengkafirkan seseorang”… mestinya kita harus arif untuk melihat apa yang ada dibalik situasi ini…
1. Apakah memang benar yang mengucapkan bertujuan melecehkan… yang bisa saja terjadi misalnya karena kemarahan yang luar biasa (seperti yang terjadi ketika komik bergambar nabi Muhammad saw… sebagai orang yang dicintai dan diagung-agungkan dalam agama Islam di lecehkan)??
2. Ataukah… ini hanya sebuah panggilan yang sebenarnya.. hanya menjelaskan apa yang benar dan nyata. Sama dengan kita memanggil teman yang (maaf) buta dengan kata-kata “hai… buta, apa kabarmu?” (tentunya beda artinya jika kita jelas-jelas memanggil teman kita yang mampu melihat dengan kata-kata “hai… buta.”.. ini pasti sudah terang pelecehan)

Memang ada sebuah aturan tak tertulis dalam dunia bermasyarakat.. untuk tidak memanggil seseorang dengan sebutan yang artinya adalah memperjelas “kekurangan” dari seseorang. Sebagai seseorang yang menjujung tinggi nilai budi luhur… serta tenggang rasa.. mestinya kita mematuhi itu.. Karena… disamping tidak semua orang dapat lega lila… punya kesadaran cukup tinggi jika kekurangannya di sampaikan secara terbuka dan dimuka umum… kitapun… (jujur) pasti tidak ingin hal yang sama terjadi pada diri ini bukan?

Jadi kembali lagi apakah ini… merupakan sebuah pelecehan dan dapat diajukan dalam pelanggaran serta dituntut secara hukum negara.. ??? memang semuanya tidaklah sesederhana itu… pasti akan ada proses panjang untuk mencari kebenaran dengan mendengarkan banyak pihak sebagai saksi maupun bukti-bukti nyata saat kejadian.

Perlu dijadikan perhatian bagi kita… sebagaimana yang tertera diatas.. untuk kaum kafir yang terlibat dalam urusan memerangi maupun yang tidak memerangi… ada sebuah landasan yang harus selalu dijadikan tolak ukur… bahwa kita tidak hidup dalam negara yang berlandaskan hukum-hukum Islam. Sehingga setiap kejadian yang berkaitan dengan perselisihan diantara golongan-golongan yang ada di Indonesia ini.. tetap harus dikembalikan penyelesaiannya pada negara sebagai pengayom. Negara sendiri harus berusaha menegakkan keadilan yang seadil-adilnya bagi seluruh warga negara… INI ADALAH SEBUAH ATURAN BAKU YANG HARUS DI PATUHI OLEH SETIAP KOMPONEN BANGSA. Jika ternyata ada satu golongan yang merasa tidak diperlakukan dengan adil ketika terjadi konflik… sekali lagi tetap ada jalur penyelsaian yang harus dilewati mulai dari banding atas keputusan hingga pengaduan kebadan-badan terkait.. misalnya MUI, Mahkamah Konstitusi dsb-dsbnya… Jangan jadikan tindakan main hakim sendiri sebagai sebuah penyelesaian masalah. Sungguh Islam itu selalu berusaha menjadi “YANG MENEPATI KOMITMEN”

Sekali lagi yang penting… kita harus berusaha menyikapi setiap kejadian, terutama yang bersinggungan dengan kepercayaan ataupun golongan lain, dengan selalu bertujuan meningkatkan akhlaqtul kharimah (hick hick hick saya tahu ini hal yang gak mudah… ) menjadi manusia yang mulia… sehingga kita dapat mempertanggung jawabkan… martabat kita dihadapanNYA kelak…

(SEE POSTINGAN BERIKUTNYA : “Siapa sih… kafir???”

21 Komentar

  1. Hehehe… penjelasan yang panjang lebar tetapi tetap tidak kena esensinya karena seolah “membela diri.” Pertanyaan saya yang lalu adalah berkenaan dengan “KUHP Tentang Pelecehan Terhadap Segolongan Masyarakat (Di Antaranya Agama)”

    Sedangkan di artikel ini tidak disebutkan sama sekali kaitan penyebutan “kafir” bagi kaum lain dengan KUHP tersebut. Bagi kaum lain yang disebut sebagai “kafir” tentu akan “terlecehkan.”

    Oh iya, mungkin Anda bisa menukilkan ayat2 AQ yang lain yang terkait dengan kafir. Siapa tahu masih ada ayat-ayat lain (yang belum dinukil) berkenaan dengannya.

    Tetapi dari ayat2 yang Anda nukil pun, di situ sudah jelas bahwa agama Anda telah mengkotak-kotakkan manusia ke dalam agamanya dan memperlakukan kaum lain dengan berbeda, bahkan cenderung lebih kejam.

    Seandainya saja tidak perlu ada pengkotak-kotakkan seperti itu, alangkah indahnya hidup di dunia ini dalam hidup berdampingan, apa pun warna bajunya (warna baju = kiasan).

    Tuhan memberkati.

    He he he (sambil nyengir) mohon maaf jika ditafsirkan demikian.

    Sebetulnya komentar anda telah saya jawab… memang kesannya saya “samarkan”.. agar tidak terlalu vulgar. Yah.. kalau anda ingin jawaban saya yang jujur.. adalah “Bisa jadi Ya..” (melecehkan dan terkena pasal dalam KUHP tersebut) jika niatannya memang untuk tujuan pelecehan… dan ini harus dibuktikan dengan proses peradilan dengan dukungan data maupun saksi.dan “bisa jadi tidak…” jika memang hal ini diucapkan sebagai penegasan atas keadaan dari orang yang dikenai ucapan tersebut.. bukan untuk maksud pelecehan. Oleh karena itu.. dalam penjelasan yang panjang lebar… saya ingin mengajak sahabat-sahabat disini memahami dulu.. istilah kafir..(murni berdasarkan petunjukNYA.. DIA Yang Maha Mengetahui) dan sekaligus bagaimana bersikap menghadapi kaum kafir.. menurut Islam agar tidak ada sikap atau pemikiran yang hanya semata-mata berdasarkan nafsu manusia.. dan nafsu iblis.

    Kalo masi boleh sy bicara, saya tambahkan disini ‘Bukankah tidak ada 1 agamapun yg tidak mengkotakkan diri. Untuk itulah Islam mendirikan dakwah. Untuk itu ada istilah zending juga misionaris. Ya jujur tujuan kegiatan-kegiatan tersebut untuk mengajak masuk ’ke dalam kotak’.

    sedangkan ‘kotak’ yg lain dlm Islam sendiri , yaitu fasis, munafik dsb, sungguh hanya org tsb dan Allah yg tahu, sehingga tidak mungkin manusia bisa ‘melabel’ org lain, menyatakan orang lain tersebut dalam kotak-kotak yang mana, apalagi sampai melakukan pelecehkan, (jujur, jangan pernah ada yg berani memberikan label-label tersebut.. Sungguh berat sangsi Allah.. )

    Mohon dapat dipahami… Sebelumnya terima kasih untuk kesediaan anda berkomentar disini.

  2. Kafir?
    dua orang saja sudah beda pendapat apalagi 3 orang. bahkan melibatkan kelompok dan golongan.

    Itulah sahabat… mangkanya saya lebih suka untuk kembali mengacu.. pada Yang Menciptakan… kata “kafir” itu… yaitu Allah swt.. Yang dapat kita baca dari Firman-firmanNYA yang saya cantumkan dalam postingan diatas… apa artinya…, siapa mereka dan bagaimana sebaiknya kita memberlakukan mereka.

    Sungguh saya sangat takut… untuk bersikap sewenang-wenang dan mengakibatkan seseorang terdzholimi.. jika saya sempat mengucapkan kata itu… Biarlah.. semua itu Allah yang berfirman… kita sebagai hambaNYA.. hanya melakukan sesuai apa yang menjadi ketentuanNYA.

  3. @ Dear Maaini,

    Terima kasih telah memberikan penjelasan dengan jujur. Saya berharap Anda sudah dapat sedikit membuka mata hati & pikiran mengenai agama Anda sendiri. Suatu saat Anda akan mengerti apa maksud saya.

    Pengalaman adalah guru yang baik. Perkenankanlah saya memberikan Anda sebuah contoh kasus. Tetapi jika Anda tidak berkenan, Anda dapat menghapus komentar saya ini. Contoh kasus yang ingin saya angkat yaitu berkenaan dengan anak autis.

    Apakah Anda rela jika seorang anak autis dikucilkan, dilecehkan dan diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh anak lain yang normal? Apakah Anda rela jika anak autis diperlakukan dengan kasar/kekerasan oleh anak-anak normal?

    Misalnya saja anak-anak (kaum) normal kemudian menyebut anak-anak autis sebagai “kaum goblokin”, apakah Anda rela?

    Mohon maaf jika contoh saya ini terlalu vulgar. Tetapi dengan contoh ini, yang mungkin dapat menyentuh hati Anda, paling tidak dapat membangkitkan empati pada hati Anda.

    Sekali lagi mohon maaf jika komentar saya ini sangat tidak layak untuk dimuat. Jika demikian halnya, Anda dapat menghapus komentar saya ini.

    Tuhan memberkati Anda dan keluarga.

    Subhanallah… Sayapun demikian adanya, dalam hal ini sepakat dengan pendapat anda.. dan sesungguhnya prinsip dalam Islampun demikian adanya. Tidak akan pernah rela Allah sebagai pemilik Islam.. jika ada hamba-hambaNYA.. baik itu yang “mengaku” Islam maupun yang tidak.. saling mendzholimi sebagaimana saya kutipkan diatas…

    “Doa seorang yang teraniaya (diperlakukan tidak adil), meskipun ia orang kafir, tidak ada tirai yang menutupinya (untuk dikabulkan).” (HR. Ahmad dalam “musnad”nya).

    Ini adalah sebuah kutipan yang nyata… bagaimana azas keadilan itu akan diterapkan. yah.. azas keadilan.. sangat-sangat dijunjung tinggi dalam Islam.

    Sebaliknya… dengan pengetahuan yang anda milikipun… saya yakin anda cukup paham.. gejolak-gejolak yang timbul dibanyak bagian dunia saat ini.. karena tuntutan.. kaum muslim untuk mendapat keadilan… seperti dalam postingan “Surat dari seorang sahabat bernama Fatimah”
    Yah.. Fatimah tidak hanya menanggung tudingan kata-kata tapi… jauh jauh lebih berat dari itu.

    Mudah-mudahan anda.. dengan kemampuan analisa dan pengetahuan yang anda miliki dapat lebih bersikap arif… bersama menjalin hubungan keagamaan yang baik.. dengan saling menyadari.. bahwa ada tengang rasa.. ada saling menghargai.. ada saatnya untuk memberikan ruang pada sebuah golongan untuk melakukan ritualnya… dan tidak saling “usil” satu sama lain… tidak saling memaksakan kehendak.. dsb-dsbnya.. baik untuk hal yang sangat kecil..(seperti memanggil dengan sebutan tertentu seperti yang anda tuliskan) hingga yang sangat krusial.. (pertumpahan darah maupun antar negara)… Jujur… didepan maupun dibelakang.. dihati maupun disikap…

    Semoga Allah akan memberikan Hidayah pada kita semua.

  4. @ Dear Maaini,

    Syukurlah bahwa Anda telah memahami maksud saya dalam kasus yang saya angkat. Tapi ada satu lagi hal yang harus saya utarakan berkenaan dengan contoh kasus Anda.

    Ada beberapa hal yang kita sepakat, yaitu bahwa melihat kasus tersebut, Anda tidak akan pernah setuju bahwa anak autis diperlakukan seperti itu.

    Mari kita berandai-andai sesuai analogi anak autis di atas. Seandainya Anda adalah Allah, apakah Anda rela jika anak-anak Anda (yang autis itu) dizolimi oleh anak-anak Anda yang lain (yang normal)? Relakah Anda jika anak-anak Anda yang Autis disebut sebagai “KAUM GOBLOKIN” oleh anak-anak Anda yang normal?

    Nah, jika Anda sudah mulai dapat merasakan “PERASAAN ALLAH”, maka Anda akan mulai bisa berpikir bahwa kata “KAFIR” seharusnya bukan berasal dari TUHAN. Dan seharusnya bukan menjadi pembenaran bagi tindakan kesewenang-wenangan bagi orang lain.

    Yakinlah bahwa TUHAN itu Maha Penyayang, Mahaadil, Mahabaik dan Mahakuasa yang tidak mungkin memberikan “celah” yang memungkin orang lain berlaku sewenang-wenang terhadap orang lain. Mohon jangan terlalu terpaku kepada kitab, tetapi gunakanlah hati nurani Anda dapat memahami hal ini.

    Semoga sedikit komentar saya ini dapat memicu pola berpikir Anda ke sisi yang lebih baik. Mohon maaf jika komentar saya ini terlalu vulgar dan terlalu berseberangan dengan ajaran Anda. Dan jika dirasa tidak berkenan, Anda dapat menghapusnya.

    Terima kasih atas diskusi yang jujur dan baik.

    Tuhan memberkati.

    Dgn sangat menyesal sy tidak dpt sependapat dgn anda untuk soal ini. Karena kata dan arti kafir tidak dr manusia. Tp langsung dr Allah, (tidak mungkin ada manusia yg lebih tahu daripadaNYA) bagian pemahaman atas Islam yg dijadikan ‘way of life’ dan ‘life style’ seorang muslim. Maaf sekali lg.

    Dan sy sungguh tidak berani berandai andai sebagai Allah. Sy tak berarti dibandingkan DIA yg Maha Agung. Ilmuku tak sebanding dgn ilmuNYA, bagaikan setetes air dgn seluruh samudra di dunia. Ada hak preogratif Allah yg tidak pernah dpt sy uraikan dgn analisaku. Jadi jelas label kekafiran adalah label darINYA, DIA pasti tidak salah sungguh kesalahan ada pada umat manusia dlm hal ini adalah dgn mengekploitasi menjadi komoditas perpecahan.

  5. @ Dear Yanti (#5, #6),

    Iya, tidak mengapa jika Anda tidak sependapat dengan saya. Dan juga tidak mengapa jika Anda tidak berani berandai-andai sebagai Allah. Lagi pula saya tidak berupaya membandingkan saya atau Anda dengan DIA yg Maha Agung. Dan tentu saja ilmu kita tidak ada apa2nya.

    Namun saya mengajak Anda berempati kepada Allah. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu. Seperti kita juga bisa turut merasakan rasa suka/duka dari para sahabat kita. Rasa empati itu bisa terbentuk jika kita juga turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Saya pun mengajak Anda melakukan proses empati kepada Allah ini.

    Mungkin bahasan saya ini terlalu sulit bagi Anda, atau Anda tidak berani “berempati” kepada Allah. Tetapi tidak mengapa. Komentar saya ini sekedar mendobrak pola pikir Anda saja. Saya hanya berharap Anda dapat mulai memahami apa yang saya maksud. Itu dulu saja.

    Terima kasih atas diskusi yang baik & jujur.

    Tuhan memberkati.

    Saya kira anda sudah mulai memasuki area “TOO MUCH”… 3 komentar terakhir anda mulai bernada pelecehan dengan cara yang halus…

    Sekali lagi saya sampaikan bahwa :

    1. Sebagai seorang beragama.. kita punya keyakinan yang berbeda baik dari cara kita memahami, menjalankan dan menjadikan itu sebagai jalan hidup kita. (Ini sebuah kenyataan yang jelas dan jujur…)

    2. Sebagai seorang warga negara dari sebuah negara.. yang sama dimana saling toleransi terhadap setiap pemeluk agama dinegara Indonesia ini sangat dijunjung. Dengan sikap anda yang…..(gituuuu) yaitu berusaha menyampaikan pendapat dengan “pemaksaan” dari berbagai macam sudut kepada pemeluk agama lain.. dan sikap anda yang…. (gituuu) walaupun saya sudah coba jelaskan dengan sangat hati-hati dan penuh penghargaan kepada anda sebagai “sesama manusia” bahwa pemikiran anda “TIDAK AKAN PERNAH MASUK” kepada saya (Insya Allah.. karena hanya kepada DIA aku bergantung) telah anda abaikan.

    3. Postingan yang saya tulis.. adalah jawaban pertanyaan anda tentang kafir.. cukup jelas adanya dari sudut pandang saya. Siapapun dia orangnya pasti akan jelas memahami tulisan saya.. bahkan telah diperjelas lagi dalam jawaban atas komentar anda.(Yang anda tuntut.. adalah jawaban saya berdasarkan pandangan saya ataukah jawaban berdasarkan pandangan anda???)

    Maaf kalau akhirnya saya menilai anda sebagai orang yang ternyata… tidak mampu bersikap dewasa dan mampu menghargai pendapat orang lain.. bahkan cenderung memancing emosi pembaca…

    Oleh karena itu.. mempertimbangkan ini adalah forum terbuka.. dimana berbagai macam tingkat pemahaman dan kedewasaan terlibat didalam sini.. saya akan menutup seluruh komentar yang berkaitan dengan ini.. (kecuali komentar-komentar yang tahu unggah-ungguh… tata krama.. tepa slira… sebagai manusia yang bermasyarakat, warga negara Indonesia yang baik juga sebagai umat agama..) Agar.. postingan ini tidak digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab… sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu.

    Jika anda tetap merasa tidak terpuaskan dengan apa yang telah saya tulis… dan masiiihhh saja penasaran. tolong baca tulisan saya dibawah ini, begitulah pandangan saya terhadap agama dan pola pikir anda.:

    1. Bagimu adalah agamamu dan bagiku adalah agamaku.

    2. Kebenaran hanya dapat dibuktikan nanti… Sebaiknya kita bersabar dan menunggu hari pengadilan itu tiba untuk membuktikan sesungguhnya kebenaran itu.

    3. Ada sebuah kaum.. yang bagaimanapun engkau berikan pengertian kepada mereka.. itu tidak berarti apa-apa.. karena Allah telah tutupkan mata. telinga dan hati mereka dari kebenaran… Bahkan mereka dengan sewenang-wenang akan merubah kebenaran itu sesuka hati mereka.
    Sungguh siksa Allah sangat lah pedih.

    Semoga.. setiap muslim.. akan selalu dijaga dan berada dalam jalan illahi

  6. @ Dear Yanti (#5),

    Wah, maaf jika Anda menganggap saya mulai “TOO MUCH” dan dianggap melakukan “pelecehan secara halus.” Karena Anda sudah menuduh saya demikian, maka saya akan mengundurkan diri dari diskusi ini.

    Sekali lagi saya mohon maaf jika ke-3 komentar saya dianggap “TOO MUCH” dan membuat Anda “terlecehkan.” Karena sebenarnya bukan itu maksud saya berdiskusi dengan Anda.

    Ah, saya pikir Anda bisa berdiskusi dengan baik & jujur…

    Tuhan memberkati.

    Hmmmm….dimaafkan..

  7. @ Dear Yanti,

    Hihihi… saya balik lagi 1 kali saja, yaitu untuk mengingatkan Anda bahwa saya juga memiliki anak autis. Mungkin karena kesamaan inilah sehingga Anda menambahkan link blog saya di blogroll Anda.

    Jadi, seandainya contoh kasus saya di atas menggunakan “anak autis” sebagai contoh, bukan berarti saya “melecehkan” Anda mau pun anak-anak Anda. Saya hanya ingin Anda dapat memahami maksud yg ingin saya utarakan. Mungkin kasus yang saya angkat tidak patut menurut Anda dan berkesan melecehkan. Padahal bukan itu maksud saya.

    Sekali lagi mohon maaf yang sebesar-besarnya jika diskusi kita ini menyinggung Anda dan membuat Anda marah. Anda dapat menghapus komentar-komentar saya di atas. Tetapi saya cuma minta 1 saja, yaitu: “MOHON DIRENUNGI.”

    Tuhan memberkati.

    Hmmmm.. sebaiknya.. andapun meletakkan kalimat “MOHON DIRENUNGI” dalam pemikiran anda juga… sehingga kita dapat sama-sama “break”.. dan kembali ke”track” awal… dalam hubungan saling menghargai dari 2 golongan agama yang berbeda…
    OK????

  8. Oke, Bu.
    Tuhan memberkati.

  9. LareOsing said

    Bumi dan seisinya ini diciptakan Allah untuk manusia. Sepakat ?
    Allah menciptakan Jin dan Manusia hanya untuk beribadah kepada Allah. Sepakat ?
    Allah menciptakan Ka’bah di bumi ini sebagai pertanda bagi manusia yang berpikir bahwa bumi yang super kecil bak partikel atom dalam mega galaxy inipun tidak lepas dari pantauan Allah. Sepakat ? mau lari kemana kita ?
    Allah menciptakan keburukan, bencana, penyakit agar Allah bisa menguji manusia siapa yang tabah dan sabar. Siapa yang memakai otaknya untuk berpikir dan menemukan ilmu. Sepakat ?
    Allah menyingkirkan Iblis karena dia makhluk pembangkang. Sepakat ?
    Allah mengijinkan Iblis untuk menggoda anak-anak adam. Sepakat ?
    Kenapa ? Allah Maha Pembuat Skenario…Allah berhak berbuat apa saja… Allah menciptakan Syetan dari jenis Manusia yang terlihat untuk menguji siapa diantara hambanya yang beriman dan teguh di jalanNya. Siapa yang berani Qital untuk syahid membela agama Allah dari gangguan Syetan dari jenis manusia. Begitu pula Allah menciptakan Syetan dari jenis Jin yang tdk terlihat untuk menguji siapa diantara hambanya yang kuat imannya dan teguh hatinya dalam kekaffah-an agamanya.

    Jadi, apa tujuan Allah menciptakan Iblis dan mengijinkannya untuk menggoda manusia ? Kenapa Allah tidak menciptakan manusia saja…semua yang baik-baik saja ?

    Allah punya tempat yang nyata kok, Neraka dan Surga. Kenapa kok tidak diciptakan Surga saja ?

    Allah yang mengorbitkan galaxy dan isinya, sehingga terjadi Siang dan Malam. Kenapa kok nggak siang saja ?

    Terakhir…kenapa Allah mengatakan Kafir dalam firmanNya ? Seperti dijelaskan di atas, kafir itu menutup…mengingkari… firman-firman Allah.

    Kenapa kaum di luar Islam disebut kafir ? karena mereka mengingkari firman-firman Allah yang dibawa oleh Rosul-Rosulnya. Sebutlah Muhammad SAW, yang dalam kitab-kitab sebelumnya telah disebut, namun mereka ingkar dan menghapusnya.

    Al-Qur’an mengisahkan kejadian-kejadian umat-umat terdahulu, Rosul-Rosul terdahulu. Tidak ada yang dilewatkan atau dihapuskan, termasuk Putra Mariam, Isa Al-Masih AS, yang diceritakan begitu indah. Islam mengakui semua risalah yang dibawa oleh semua utusan Allah. Jadi mana mungkin Islam itu kafir ?

    @Emanuel Setio Dewo, saat rumah anda dibobol orang. Kamu sebut apa dia ? maling ? rampok ?

    Istilah maling, rampok, bromocorah atau apapun itu adalah predikat bagi orang yang mengingkari dan menyalahi undang-undang dan itika yang ada di rumpun yang namanya “Manusia”.

    Mudah-mudahan analogi-analogi yang saya buat cukup bisa ditangkap.

    //LareOsing.

    Subhanallah…. Ini adalah sebuah penjelasan yang “ces-pleng”…. Jazakallahu khairan katsiran

  10. LareOsing said

    @Yanti

    Nggak usah terpancing dan merasa dilecehkan. Lha wong kita bicara dengan orang yang nggak pakai akal yang logis kok.

    Masak menganalogikan AUTIS dengan KAFIR… (?) jelas nggak apple to apple.

    disebut Kafir itu karena menghilangkan dan mendustakan ayat-ayat Allah, sementara Autis dan Ideot ( istilah ilmiah )itu adalah identik dengan kekurangan atau gangguan pada mental.

    Jadi Kalau Autis, Ideot, Gila itu kita analogikan yang dalam Al-Qur’an sebagai kaum Masakin ( miskin ) atau Duafa.

    Dan untuk kafir akan apple to apple dengan tindakan yang sama yaitu penghilangan, pelanggaran undang-undang, yang dalam hal ini ( maaf ) identik dengan Pencuri atau Penipu atau Koruptor atau Makar.

    Satu lagi yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai kaum Musrikin ( menyekutukan Allah ) itu kita analogikan dengan orang yang Durhaka. Durhaka tdk diatur dalam undang-undang RI, tapi akibatnya adalah tidak diakuinya anak oleh orang tua, karena anak durhaka tdk mengakui orang tuanya.

    Autis dan orang miskin/duafa tidak dihukum pemerintah. Tapi Tindakan makar, pencurian, pelanggaran undang2, koruptor akan dihukum oleh Negara.

    Jadi nggak cocok coy…menganalogikan Autis dengan sebutan Kafir.

    Lalu, istilah Pencuri, Perampok, Koruptor dll itu siapa yang membuat kalau bukan Manusia ? apakah Syetan ?

    //LareOsing

    Hmmm… jazakallahu untuk sudah mengingatkan… insya Allah saya akan ingat ini selalu

  11. abu fuad said

    assalamu alaikum wr. wb.
    mohon maaf ikut nimbrung ni, habis tertarik melihat diskusi yang seru dari dua sudut pandang yang berbeda.
    bu aini dengan prinsip quran dan sunnahnya dan emanuel dengan pandang kristianinya yang mengedepankan perasaan dengan bertameng kuhp. dari diskusi yang panjang lebar itu saya mencoba mengambil kesimpulan dari kedua komentator yaitu:

    1. Emanuel mecoba masuk kedalam konsep Islam yang dia sendiri taunya sebatas Islam itu agama. oleh karena itu ijinkan saya mencoba mengurai sistem Islam yang saudara emanuel belum jelas, saudara, Islam bukanlah agama sebagaimana yang anda yakini, Islam adalah sebuah sistem Ilahiyah yang paripurna, dibangun diatas dasar keyakinan lalu diatas keyakinan tersebut diletakkan sistem Allah. atau gambaran lain, ia bagaikan sebuah bangunan rumah, nanti dikatakan bangunan tersebut rumah apabila berbagai komponen menyatu dalam satu kesatuan, yaitu pasir, semen, batubata, keramik, atap dll. jika berbagai komponen tersebut menyatu dalam satu kesatuan dengan fungsinya sendiri-sendiri lalu berbentuklah sebuah bangunan rumah maka kitapun menamainya rumah, tapi jika masing-masing kembali kepada sifat aslinya, maka tentu kita tidak dapat menamainya rumah. demikian pula Islam, oleh karenanya anda jangan menjadikan KUHP sebagai dasar dalam menguji kebenaran al quran, karena KUHP buatan manusia sedang Islam adalah sistem Ilahiyah.

    penamaan kafir oleh al quran ataupun sunnah, itupun menurut konsep ilahiyah, karena dalam pandangan Islam manusia secara umum ada dua kelompok besar:

    Pertama: Islam, yaitu orang-orang yang masuk kedalam sistem tadi ( masuk kedalam rumah)

    Kedua: Kafir, yaitu orang-orang diluar sistem ilahiyah (diluar rumah)

    dengan demikian istilah kafir didalam al Quran untuk membedakan siapa yang masuk kedalam sistem atau siapa yang tetap diluar sistem

    nanti akan muncul masalah baru, yang haq dan yang batil. demikian seterusnya.

    2. Emanuel mencoba memancing emosi bu aini kemudian berusaha menggiringnya dengan membangkitkan perasaan ibanya.

    saudara emanuel, jangan mencampur adukan antara perasaan dengan sistem ilahiyah, karena seperti yang saya katakan, bahwa sistem ilahiya ini berdiri diatas landasan keyakinan, dengan demikian apapun yang dikatan baik oleh al quran itu yang terbaik dan apapun yang dikatakan buruk oleh alquran itu yang terburuk dalam keyakinan umat Islam, karena mustahil Allah menyesatkan hambanya.

    demikian salah satu prinsip keyakinan ummat Islam, uraian saya masi terlalu singkat.

    wa’alaikumsalam warrahmatullaahi wabarakaatuh
    Jazakallahu khairan katsiran…
    Ini satu lagi pencerahan… yang luar biasa…

  12. LareOsing said

    @abu fuad

    Bahasa anda terlalu indah untuk menjelaskan Islam. Namun untuk yang diluar kalangan Islam cukup dijelaskan bahwa Islam itu :

    1. Mengakui hanya Allah sebagai Tuhan yang tunggal tiada sekutu bagiNya, dan Mohammad adalah Rosul Allah. Dengan konsekuensi menjalankan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya, serta men-suritauladani Muhammad Rosulullah.

    2. Menjalankan Shalat, sebagai media berinteraksi secara vertikal dengan Allah yang tunggal. Hanya Dia tempat kita bersandar dan tempat kembali.

    3. Mengeluarkan Zakat, sebagai media berinteraksi dan bentuk kepedulian secara horisontal dengan sesama.

    4. Menjalankan Puasa, sebagai rasa empathy kepada kaum fakir dan perwujudan ketaqwaan atas perintahNya.

    5. Menjalankan Haji bagi yang mampu.

    Selain yang 5 itu, sebagai orang Islam wajib mengimani :

    1. Allah
    2. Malaikat-malaikat
    3. Kitab-kitab
    4. Rosul-Rasul
    5. Hari kebangkitan
    6. Takdir baik dan buruk.

    Betapa mulianya Islam, tidak mewajibkan penganutnya hanya mengimani Al-Qur’an saja, padahal itu adalah Kitab Suci-nya sendiri. Begitu juga Rosulnya, bukan hanya Muhammad saja. Islam tidak egois… itulah kenapa umat Islam tidak akan menghina Yesus ( Nabi Isa ) walau Muhammad Rosulullah sering dihujat dan dihina oleh kalangan Kristen. Islam tidak menghujat Daud, Musa walau umat Yahudi terus menghujat Muhammad. Karena Islam mengimani Isa ( Yesus ), Daud, Musa adalah Nabi dan Rasul Allah.

    Apalagi Isa a.s. ( Yesus ) pernah bersabda pada umatnya dalam kitab Injil Barnabas pasal 72 tentang akan datangnya seorang Rasul akhir jamam :
    —-
    Yesus berkata: “Jangan bergoncang imanmu, dan jangan kamu takut, karena bukan aku yang menjadikan kamu. tetapi Allah yang menjadikan kamu, memelihara kamu, adapun tentang ketentuanKu, maka sesungguhnya aku datang untuk menyediakan jalan bagi rasul Allah yang akan datang membawa kelepasan bagi dunia. Tetapi awas-awaslah, kamu ditipu oleh orang, karena akan datang pula beberapa banyak nabi-nabi dusta. Mereka mengambil perkataanku dan menajisi perkataanku.” Maka kata Andreas: “Hai guru, sebutkanlah bagi kami sesuatu tanda supaya kami kenal dia.”

    Maka jawab Yesus: “Sesungguhnya dia tidak datang pada masa kamu ini, tetapi berbilang tahun dibelakang kamu, yaitu diwaktu dirusakkan orang akan Injilku dan hampir tak terdapat lagi 30 orang mukmin. Diwaktu itulah Allah merahmati dunia ini. Maka diutuslah rasulnya yang tetap awan putih diatasnya mengenal akan dia, salah satu utusan Allah dan dialah yang mensahirkan dirinya kepada dunia dan ia akan datang dengan kekuatan yang besar untuk mengalahkan orang-orang jahat dan berhala dunia ini. Sesungguhnya Aku menyukai yang demikian ini, karena dengan perantaraannya akan diterangkan dan dimuliakan orang Allah dan dia menyatakan kebenaranku dan dia akan menghukum orang-orang yang mengatakan bahwasanya aku lebih besar dari manusia biasa. Dengan sesungguhnya Aku berkata bahwa bulan akan memberikan dia tidur waktu masih kanak-kanak dan manakala ia sudah besar, awaslah dunia ini jangan membuangkannya, karena dia akan membinasakan penyembah-penyembah berhala.”
    —–

    Siapa lagi yang dikatakan Yesus “yang tetap awan putih diatasnya” kalau bukan Rosulullah. Yang dalam riwayat setiap beliau berjalan selalu dipayungi dengan awan putih.

    Dan betapa Yesus telah mengatakan dan tahu akan dirusaknya Injil dikemudian harinya. Sehingga hanya tersisa segelintir saja orang yang mukmin. Jaman itu jadi jaman jahiliyah…para pemuka agama berbuat sewenang-wenang, menghukum di luar kemanusiaan, melakukan penyiksaan dengan tangan raja-raja.

    Hingga Allah menepati apa yang dikatakan Yesus. Mana mungkin kita tidak mengimani Nabi Isa ( Yesus )…mana mungkin kita akan menghujat atau menghina Isa !

    Namun karena para pemuka agama mereka takut akan kegoyahan iman pengkutnya, maka Injil diapokratipkan.

    Lalu sekarang siapa yang telah berbuat nista ? ingkar ? merusak kitab ? meng-ingkari kitab Al-Qur’an ? tidak mengakui Muhammad Rosulullah bahkan menghinanya ?

    Pantaskan dia disebut orang yang paling suci yang menjanjikan keselamatan ?

    Allahu Akbar !

    //LareOsing

    Hmmm komentar ini untuk Abu Fuad??
    Mudah-mudahan Allah berkenan… menyampaikan pesan ini… insya Allah

  13. donzee said

    Ass.wr.wb,
    kafirlah mereka yg telah menjual firman-firman Allah dengan begitu murah.Segala puji dan puja untuk Allah Tuhan sekalian alam,dan salam untuk seluruh rasul-rasul dan nabi-nabi Allah yg dimuliakan.
    Allah S.W.T tidak akan mengingkari janjiNYA.

    Wassalam.

    Sahabat.. maaf saya kurang memahami isi komentar ini.. ada 2 perafsiran yang saya tangkap
    1. Anda menambahkan bahwa selain apa yang saya tulis… masih ada satu golongan lagi umat yang ber”label” kafir???
    2. Ataukah… maaf… anda tidak setuju dengan apa yang saya tulis… dan menganggap saya telah menaruh ayat-ayat Allah disini… sebagai hal yang murahan??? Dengan demikian anda mencoba mengingatkan saya???
    (Atau.. apakah saya penafsiran saya malah gak ada yang benar ya???? )
    Maaf… saya benar-benar tidak paham… mana yang anda maksud???
    Ah… bagaimanapun… (apapun persepsi yang anda pilihkan untuk saya) saya tetap berterima kasih.. dengan demikian saya dapat memperbaiki diri.

  14. yanti said

    Kepada seluruh sahabat yang telah berkenan menuliskan ataupun membaca komentar dipostingan ini….

    1. Pertama saya sampaikan Terima kasih… untuk yang non muslim dan Jazakumullahu khairan katsiran… bagi sesama muslim… untuk mau meluangkan waktu datang ke sini
    2. Kedua Sebenarnya.. antara saya dan saudara dewo.. telah dicapai kesepakatan… (maaf… kami tidak menggunakan media ini lagi untuk berdiskusi… tetapi menggunakan e-mail dengan mempertimbangkan kebaikan semata) yaitu.. untuk tidak memperpanjang masalah ini lagi.
    3. Ketiga Saya mempunyai kewajiban untuk menghargai saudara dewo yang telah mau datang ke rumah saya dan berbicara panjang lebar dengan saya.
    4. Ke-empat. Saya mohon.. agar sahabat-sahabat yang meluangkan waktu untuk hadir disini… juga… memperlakukan saudara dewo dengan baik… dan tidak menyudutkan beliau… apalagi jika sampai menghakimi… Saya sangat percaya.. bahwa.. kebenaran bisa datang kapan saja darimana saja dan dimana saja… Sungguh kita tidak pernah tahu rencana Allah pada masing-masing orang… (maaf ya mas dewo… maaf… jika ada yang membuatmu gusar disini… saya percaya… engkau memang diciptakanNYA sebagai manusia yang baik dan mampu memilah-milah.. yang terbaik untuk anda)
    5. Ke-lima Jika saya sempat “marah”… sebenarnya… saya bukan “kemarahan yang seperti itu” padanya… tetapi lebih pada… ketidak sukaan saya atas tindakannya kepada saya, yang berkesan memaksa-maksa saya… Yah.. setelah tidak ada lagi pemaksaan… ya sudah…
    6.Ke-enam.. Tugas saya dan juga anda… adalah… “menyampaikan”… dipakai.. dibuang… disimpan.. diabaikan… ataukan di”pending”.. oleh orang yang menerima penyampaian… bukanlah.. urusan kita lagi… Dan saya percaya… Allah selalu punya rencana sendiri pada setiap makhluk.

  15. abu fuad said

    terima kasi uraian anda, tapi saya mencoba mengantar non muslim untuk memahami Islam secara konsepsional bukan menurut nash quran taupun sunnah karena mereka pasti tidak akan dalil-dalil sharih yang menjadi landasan keyakinan ummat Islam.

    menanggapi pertanyaan bu aini, menurut saya ungkapan saudara donze tidaklah salah jika dia seorang muslim karena memang demikian didalam al quran Q.S.2:79 dan 172. dan yang dimaksud ayat-ayat tersebut yahudi dan nasrani.

    Yah… ini juga benar… subhanallah… Jazakallahu khairan katsiran

  16. LareOsing said

    @Yanti

    Saya pikir diskusinya masih open, karena tidak ada penjelasan closed. Sebaiknya dikasih keterangan/status closed Mbak, biar nggak ada yang nambahin lagi.

    Tapi…mohon dibedakan “menyudutkan” dengan “menyampaikan”. Dua patah kata yang sangat jauh maknanya.

    Saya hanya tergelitik pernyataan Mas Dewo yang mengatakan: “KAFIR” seharusnya bukan berasal dari TUHAN.

    Padahal “Syaithan” pun juga disebut dalam firman Allah ( Al-Qur’an ), yang menunjukan arti setiap yang “sombong” dan “congkak” yang diambil dari kata “syathana” yang berarti jauh dari kebaikan atau dari kata “syaatha yasyiithu” yang berarti hancur binasa atau terbakar.

    “Syaithan” adalah makhluk yang “kafir” dan “durjana” dari bangsa jin atau manusia, berdasarkan dalil-dalil baik dari Al-Qur’an maupun As Sunnah.

    Kalau tidak percaya kata “kafir” itu berasal dari firman Tuhan, berarti juga tidak percaya kata “Syaithan” ( setan ) dari Tuhan juga dong. Karena Syaithan itu lebih parah dari Kafir. Karena selain “kafir” dia juga “durjana”.

    Semoga Allah memberikan hidayah kepada yang dikehendakiNya. Amin…

    //LareOsing

    He he he… maaf pengumunannya kurang gede.. ya… Maaf nanti aku pasang lagi…
    Yah… jujur… “sahabat”… seperti mas dewo tidak sedikit..
    mereka kadang juga bikin hati ini merasa tidak nyaman dengan celetukan-celetukannya…
    Tapi…
    Saya sering mengandaikan begini…
    Ada satu jenis buah… yang sangat enaaak….
    dengan berjalannya waktu… ternyata si-buah ini tak lagi seenak dulu… bisa jadi karena adanya penyakit tanaman atau juga karena “perawatan” pada sang pohon yang menghasilkan buah itu tidak lagi sebaik pada awal-awalnya…atau yah… apapun itulah…
    Lalu… diketemukan.. buah jenis yang sama tapi… dengan varietas yang baru…
    lebih manis… lebih sedap… lebih… menyehatkan.. lebih murah dan lebih mudah dijumpai dimana saja.
    Yang “tergerak” untuk mencoba buah baru ini… pasti dapat langsung mendiksripsikan dengan tepat.. apa-apa yang menjadi keunggulan buah yang baru (Dan yang pasti jauh lebih baik dari varietas lama karena telah melalui “laboratorium Allah”)
    Tetapi… ada saja.. orang-orang yang… bersikeras untuk tidak menerima varietas baru tersebut… tetap bersikukuh dengan yang buah lama… (apapun alasannya apakah karena turun temurun ataukah karena sentimen pribadi).. alih-alih mau memakan buah baru eh… mereka malahan mencoba mendiskripsikan buah tersebut hanya berdasarkan pandangan saja.
    Apa yang terjadi…???
    Tentu saja setiap apa yang dikatakan tidak dapat dipertanggungjawabkan… bukankah begitu???

    Sikap kita???? sebagai orang-orang yang telah menggunakan dan merasakan manfaat buah varietas baru???
    boleh kita marah??? boleh kita menghinakan mereka??? bolehkan kita menjauhi mereka???
    (padahal di sisi lain… kita tahu pasti bahwa mengkomsumsi varietas buah lama… justru dapat mengakibatkan kerusakan dalam tubuh dan mengakibatkan kematian… fuih)

    Yah… itulah yang saya rasakan….
    Apapun yang mereka lakukan… apapun yang mereka katakan… saya mencoba untuk “bersimpati” dengan mereka…. (tentu saja batasannya… jangan jadikan simpati saya sebagai hal yang dapat membiarkan.. mereka menindas saya…)

    Itu juga sebabnya… saya sangat hati-hati dalam memilih kata-kata dan contoh-contoh pada mereka..

    Kembali pada komentar anda… saya percaya.. (jujur dan tulus) andapun berniat sama dengan saya.. tetapi jika dalam menulis komentar dianalogkan dengan beberapa status.. orang2 yang berbuat nista seperti koruptor, perampok, pencuri dsbnya……
    saya hanya bilang…. please dong ah…..

    (anda pernah bilang saya orangnya meledak-ledak… itu betul… tapi sayapun dapat jadi orang yang sangat-sangat sabar dan pengertian… jika dibutuhkan….. insya Allah.. selama itu membuat Allah akan ridho padaku… saya akan kerjakan… Anything… Ya Allah… Anything… I’ll do for YOU… *please bimbing aku ya Allah untuk selalu tetap dalam hati seperti ini kepadaMU.. tanpaMU… saya tak akan sanggup*)

  17. donzee said

    Ass.wr.wb,sdr/sdri maaini,
    maksud saya diatas bukan saya tujukan pada anda, tetapi pada kaum yg telah menambah atau mengurangi firman-firman Allah yang mulia.
    Mereka itulah penyebab kekafiran kaum mendatang ini.
    Perkataan kafir banyak kita lihat dari firman-firman Allah dalam kitab suci Alquraan, tetapi itu menurut saya hanya Allah yg mengetahui apakah orang tersebut kafir atau tidak,
    karena banyak orang yg bener-bener tidak mengetahui mana yg bener dan salah oleh karena tertipu oleh kaumnya yg kafir.Jadi tugas kitalah sebagai yg tahu untuk menjelaskan mana yg benar atau yg tidak bener.Kalau kita tidak melakukan ini mereka akan tetap berada dalam kekafiran mereka,kasihankan, mereka kan juga sudara-saudara kita,bagaimana Allah mau menyanyangi kita kalau kita tidak menolong atau menyayangi sesama kita sebagai makhluk Allah yg mulia?
    Saya menceritakan hal ini oleh sebab kenyataan yg saya alami:seorang yg tidak beragama telah masuk islam oleh karena saya perkenalkan Allah S.W.T kepadanya.
    Mari kita bantu mereka untuk berkenalan dengan Allah S.W.T.
    Allah S.W.T juga kepingin agar manusia mengenalNYA.
    Segala puji dan puja hanya untuk Allah Tuhan sekalian alam.

    Wassalam.

    O gitu… jazakallahu ya…
    Gak papa kan kalau saya nanya… biar jelas… dan gak ada “komunikasi salah”…
    Subhanallah… sungguh mulia apa yang anda kerjakan… dan pasti anda juga mulia dengan melihat pengislaman tidak hanya berhenti saat berikrar… tetapi juga (subhanallah) mau terus membimbingnya… Semoga Rahmat Allah selalu ada dalam diri Anda. Amin
    (Ada sahabat kita yang seorang mualaf,.. yang subhanallah telah jauh-jauh.. bersinar… jika ada waktu silahkan.. kunjungi “mualaf menggugat”.. she’s a great woman…)

  18. abu fuad said

    saya setuju kalau diskusi ini dilanjutkan meskipun sifatnya internal saja (muslim), karena konsep kufur ini perlu juga difahami ummat Islam agar mereka terhindar dari kekafiran.

  19. […] Dari postingan ku sebelumnya… “KAFIIRR????” saya banyak menulis… (panjang lebaar kali yaaaaa) tentang definisi “kafir… […]

  20. yanti said

    Para Sahabat dirahamati Allah… saya setuju dengan pendapat dari sahabat kita Abu Fuad…
    Hanya jika tidak keberatan… kita bikin postingan baru ya… Siapa sih… kafir???karena postingan ini awalnya saya tulis.. untuk menanggapi seorang sahabat non muslim…
    Tujuan dibuat posting baru adalah untuk menghindari adanya salah pengertian dari sahabat non muslim….
    Terima kasih untuk pengertiannya…
    Dan untuk sahabat non muslim… mohon.. jika anda tidak melanggar.. apa yang saya minta.. dan hargai dari anda…
    Terima kasih

  21. yanti said

    DENGAN SEGALA HORMAT DAN TERIMA KASIH… KEPADA SEMUA SAHABAT YANG TELAH MEMBACA DAN MENULISKAN KOMENTAR DISINI… SAYA MENUTUP FORM KOMENTAR DISINI. JIKA MASIH DIANTARA SAHABAT MASIH BERKENAN UNTUK MENERUSKAN DISKUSI INI… SILAHKAN KLIK DI
    Siapa sih… kafir???
    JAZAKUMULLAHU KHAIRAN KATSIRAN

RSS feed for comments on this post

Komentar ditutup.