Archive for Cahaya untuk kejelasan

Mahasiswa Bunuh Diri

Innalillaahi wa inna illaihi rojiun

Betapa mudahnya orang terfikirkan untuk bunuh diri….

Berapa banyak orang melakukan tindakan bunuh diri….

Ini dilakukan juga oleh kaum muda… kaum intelektual…

Ada apa sebenarnya????

Baru-baru ini 2 buah kejadian bunuh diri yang dilakukan oleh 2 orang mahasiswa/i di Jakarta.

Apa yang tercantum dalam media tentang hal ini?

Keduanya depresi.. karena nilai dibawah standrat… dan tidak juga kunjung lulus…

Saya adalah seorang ibu…

Sayapun sering “bermasalah” dengan anak-anakku….

Ketika saya merasa mereka tidak mematuhiku…

Ketika saya merasa mereka tidak memenuhi harapan-harapanku..

Buatku…

Ketika kasus ini terjadi… saya pun merasa terpukul….

Beberapa hal yang menurutku menjadi sebab terjadinya (dari kacamataku…) adalah :

1. Sang Ortu… dan Sang anak… pastilah tidak ada komunikasi yang lancar…. sebabnya bisa jadi sang Ortu yang tidak mau “down to erath”… menyadari… potensi… kekurangan… minat sang anak… Dia sibuk dengan pendapatnya sendiri.. keinginannya sendiri… yang (mungkin) terpaku pada pola hidup di lingkungan sekelilingnya. Bisa jadi… sang anak.. yang dengan motivasi tersendiri… (sayang yang berlebihan pada orang tua) tidak berani/ mau mengungkapkan persoalannya pada orang tua..

Ini dapat terjadi… pada masyarakat kalangan bawah… yang untuk hidup saja pas-pasan… berkeinginan… memiliki anak dengan title… tertentu… demikian semangatnya… sehingga sang ortu akan berjuang mati-matian agar keinginan tercapai… mengabaikan dan mengorbankan dirinya… untuk keberhasilan sang anak… pada akhirnya… timbul obsesi yang berlebihan… Sang anak… melihat dan merasakan perjuangan orang tua.. terpacu untuk membuktikan dan menghadirkan impian tersebut menjadi nyata. Apa daya… ternyata.. sang anak kemampuannya pas-pasan…  Sang anak menjadi terpuruk dan depresi… tetapi tidak punya kemampuan untuk menjelaskan situasi ini pada orang tua.

Atau jika pada kalangan kelas atas dan menengah… seringkali.. yang menjadi pijakannya adalah “gengsi”… Status sosial.. tidak memungkinkan adanya… keadaan yang “lebih rendah” dari expectation lingkungan… Akhirnya kembali tekanan berlebihan akan diluncurkan pada sang anak. Dan.. karena status sosial ini pulalah… tidak banyak kesempatan bagi orang-orang yang ada dalam lingkaran ini.. untuk menunjukkan rasa.. kesulitan… persoalan… (karena dipandang sebagai aib) ditambah… kesibukan-kesibukan dari orang tua.. yang membuat waktu terbatas untuk berbicara apalagi bermanja-manja untuk sang anak.

2. Kurang pemahaman akan tingkatan pencapaian dalam hidup. Untuk sebagian orang… tingkat pencapaian tertinggi adalah jika.. telah mencapai kedudukan hebat… punya penghasilan besar… Status sosial.. tinggi dsbnya…  Ada yang dilupakan… dan justru menjadi yang terpenting… adalah… manjadi manusia seutuhnya… Utuh dalam artian… mencapai standrat “perjanjian” sebagai makhluk Allah…

Jika saya boleh mengutip… seorang ustadz sempat menyampaikan… perumpamaan manusia hidup didunia ini bagaikan.. perjalanan kita antara waktu ashar.. hingga maghrib…(+/- 3 jam)  Sangat singkat. Kita sering mengabaikan waktu yang singkat tersebut untuk mengisi dengan hal bermanfaat karena kita beranggapan kita masih punya 21 jam lain untuk digunakan mengejar target.

Bayangkan… jika ternyata yang hanya 3 jam tersebut… ternyata merupakan penentu dari yang 21 jam… Pastilah… kita akan sangat serius melewatinya… bahkan… kalau boleh kita akan menunda tidur, mandi bahkan makan… Fokus pada pencapaian di 3 jam.

Hmmm jika boleh saya kembalikan lagi… jika hidup kita yang hanya sebentar ini… kita lewati dengan melakukan kesalahan sangat-sangat besar…. bunuh diri… pastilah… sisa lain dari kehidupan yang lain akan menjadi sesuatu yang sangat mengerikan…

Allah sangat mengutuk dan tidak memberikan ampunan pada orang-orang yang melakukan bunuh diri…

Bayangkan kemarahan orang tua… kekecewaan karena putus cinta… depresi karena tidak naik pangkat… yang dijadikan sebab untuk bunuh diri… jika dibandingkan dengan apa yang menjadi ketentuan Allah… bukanlah apa-apa.

Lalu… maukah kita menukar kasih sayang Allah… kehidupan akhirat, yang tidak pernah ada akhirnya… berapapun usia kita kelak… (dimana satu hari akhirat dinyatakan sebanding dengan 50 tahun kehidupan didunia fana).. dengan ketegaran… menghadapi kemarahan orang tua… kesulitan karena hutang.. bermasalah dengan kekasih hati.. kebangkrutan financial dsb dsbnya yang lamanya proses pemulihannya mungkin hanya 1 hari atau mungkin 10 tahun… dunia??? Sungguh-sungguh naif… kalau itu kita lakukan….

Itu artinya… kita sungguh-sungguh tidak paham tentang skala prioritas pencapaian…. Yang mestinya sebagai bagian dari kaum intelektual, anak-anak muda pelaku bunuh diri… mencanangkannya.

3. Adanya.. pergeseran.. pola hidup dari masyarakat Indonesia.  Ada masanya… ketika sebuah komunitas… sangat menyatu… Persoalan yang dimiliki oleh sebuah keluarga… dirasakan oleh keluarga-keluarga yang lain… Tidak ada gengsi… yang ada hanyalah.. kasih sayang dan kekeluargaan. Ini yang sekarang jadi hal langka…

Saya terus-terang masih sangat ingat.. saat-saat… tetangga.. dengan baik hati menawarkan… bantuan, melihatku kerepotan mengurus putri sulung… (waktu itu ia masih berumur setahunan)… atau saat berbagi makanan.. karena bau masakan menerbitkan air liur.. atau ketika saya pulang dari bepergian ditengah hujan deras…  cucian bajuku sudah terlipat rapi diteras rumah… selamat dari cucuran air hujan.

Masa-masa itu berlalu sudah…

Sekarang… seringkali… saya tidak pernah melihat wajah tetangga sebelah rumahku… untuk waktu yang cukup lama (heh… saya juga sama… meninggalkan rumah sebelum jam 6 pagi… sampai dirumah lagi sudah lewat adzan Isya)…  saya yakin mereka juga merasakan hal yang sama.

“Kekosongan”… merasa “sendiri”… tidak ada teman untuk berbagi cerita… itu bukan lagi cerita baru

(Alhamdulillahnya… saya dan para tetangga sebelah rumah… masih sering bersilahturahmi melalui SMS… jadi masih saling tahu… apa-apa yang terjadi diantara kami… Fuh.. walaupun begitu tetap saja… yang namanya pesan  singkat… beritanya ya singkat-singkat saja…. )

4. Kecepatan dan perubahan dunia mencapai kemajuan…. Orang menjadi begitu.. tertantang dan terfokus pada pencapaian-pencapaian cepat… sangat berbeda dengan saat zaman orang tua kita dulu… Saya masih juga ingat… bagaimana senangnya… duduk-duduk disore hari… dengan para sesepuh… menikmati teh hangat… kue kecil.. bercerita, bercengkrama… dengan suasana penuh.. kekeluargaan…. Sekarang???? Mana sempat!!!

Jika dulu… pergi ke surau… disore hari… adalah untuk bermain dan belajar…  Saya tuliskan bermain lebih dulu… karena memang itu tujuan kesana… untuk bermain… baru setelah itu (jika sempat) belajar… Sekarang pergi ke TPA adalah untuk belajar dan bermain…. Belajar lebih utama… karena jika tidak sesegera mungkin menguasai pelajaran di TPA…  bertumpuk-tumpuk target lain… (bahasa Inggris, matematika, menggambar, main musik dsb-dsbnya) akan mengejar… sehingga ilmu TPA akan terlewat. Main???? nanti dulu…

5. Satu hal lagi… ketika “percepatan” menjadi gaya hidup… orang mengabaikan… arti perjuangan…  Orang-orang yang “smart” mendapat hasil lebih cepat… lebih dihargai dari orang-orang yang berjalan… perlahan… tekun.. dalam meraih asa.  Saya sering mengartikan dengan budaya “MIE INSTAN”.  Orang lupa… bahwa… memang mie instan enak…, lebih menarik dari segi tampilan…  Tetapi lebih enak… sama mengenyangkan… lebih sehat… lebih memancing selera… jika menggunakan mie.. yang diolah sendiri… walaupun sama-sama mengenyangkan.

Yah… orang tidak lagi punya kesadaran… kesabaran… untuk menikmati lebih dengan usaha lebih.

Ini juga yang menjadikan… anak-anak generasi.. sekarang… kurang punya daya juang. Cepat putus asa…. menghadapi masalah sedikit… mereka sudah cepat “menguncup” dan berteriak-teriak minta tolong…. Tidak mengenal… untuk makan nasi.. prosesnya bisa sangat panjang… dari merebus air, “mengaru”.. kemudian mengukus.. dan mendinginkan dalam tampah beralas daun… hanya “klik” menggunakan rice cooker yang mereka tahu..

Apakah itu begitu buruk???

Tentu saja tidak… ada saatnya memang kita harus berpacu waktu… melakukan trobosan singkat… tetapi… ada saatnya kita harus melakukan proses panjang…. Tergantung dari situasi dan hasil akhir yang diinginkan. Yang terpenting adalah… mereka memahami setiap proses ini… cepat atau lambat… instan atau bertahap…

Jadi????

Menurut hemat saya….  Memang situasi kini… begitu sangat kompleks… menyebabkan… orang begitu mudah mencari jalan pintas…

Lalu???

Sebagai ibu… sebagai orang tua… saya mencoba menekankan pada anak-anakku… saya hanya menuntut mereka berjuang tanpa henti… Dalam  perjuangan… walaupun perjuangan mereka (haruslah) sangat keras.. mereka tetap harus memperhatikan kebutuhan diri… untuk istirahat… untuk sehat… untuk berbahagia Oleh karena itu yang menjadi Landasan perjuangan mereka adalah untuk mencapai target utama yaitu… “Standrat manusia Utama sebagai Hamba Allah”…  Bukan Duniawi…   Satu hal lagi… apapun hasil pencapaian… (setelah berjuang keras) bukanlah… sesuatu yang perlu disedihkan, dibanggakan, dipamerkan, diagungkan…

Jadi… anak-anakku paham…

Ketika ibunya marah besar… karena waktu ujian… santaaaiiiii… gak belajar… duduk-duduk nonton TV.., sibuk dengan HP… atau bermalas-malasan.

Dan anak-anakku paham…

Ketika… mereka gagal pada sebuah ujian… ibunya… tetap akan menyambut kepulangan mereka dalam pelukan hangat, usapan dirambut dan kecupan penghapus airmata kesedihan….

Dan anak-anakku juga sangat paham…

ada masanya… ujian bukan hal penting… karena saat itu… mereka sedang sakit…. Lebih Utama beristirahat… dan menebus ujian disaat yang lain.

Yah… I Love them… so much…

Saya berharap… saya berdoa… saya memohon… agar Allah senantiasa memberi mereka pemahaman untuk tidak melakukan hal-hal tidak sesuai dengan urutan prioritas mereka dalam upaya pencapaian manusia utama… HAMBA ALLAH AZZA WA JALLA… Dan Allah senantiasa akan menjaga mereka tetap dalam koridorNYA. Amin

Comments (2)

Doa Nur

Sebuah Doa mengharapkan Cahaya Allah

(untuk sahabat-sahabatku terutama sahabat hermanvarella yang sedang mencari jalan untuk dapat kembali pada Fitrah Islami)

Allaahummaj’al fii qalbi nuuran

Ya Allah berilah cahaya pada hatiku

wa fii nafsii nuuran

Dan cahaya pada jiwaku

wa fii lisaanii nuuran

Dan cahaya pada lisanku

wa fii basharii nuuran

Dan cahaya pada pengelihatanku

wa fii samaii nuuran

Dan cahaya pada pendengaranku

wa fii amaamii nuuran

Dan cahaya dari arah depanku

wa fii khalfii nuuran

Dan cahaya dari arah belakangku

wa fii fauqii nuuran

Dan cahaya dari atasku

wa fii tahtii nuuran

Dan cahaya dari bawahku

wa’an yamiinii nuuran

Dan cahaya di kananku

wa ‘an syimaalii nuuran

Dan cahaya dari kiriku

wa fii damii nuuran

Dan cahaya didalam darahku

wa fii lahmii nuuran

Dan cahaya dalam dagingku

waj ‘allii nuuran

Jadikanlah seluruh tubuhku bercahaya

wa’zhimii nuuran

Dan besarkanlah cahaya itu bagiku.

Dari “SHALAT, Shalawat dan Doa”… oleh Agus Wirahadikusumah Jakarta hal 270 -271

Komentar dimatikan

Siapa sih….Kafiirrr????

Dengan segala hormat… postingan ini hanya ditujuan kepada… para sesama muslim… jika anda yang non muslim bersedia membaca ini… mohon untuk tidak memasukkan komentar apapun…
Dari postingan ku sebelumnya… “KAFIIRR????” saya banyak menulis… (panjang lebaar kali yaaaaa) tentang definisi “kafir… ” bahkan dengan mencantumkan… banyak-banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang mendukung…
Yah… paling gak.. sedikit banyak aku juga mulai punya pendapat tentang kata ini dan siapa-siapa yang kira-kira termasuk dalam kelompok ini….

Bruak…..
Malam itu,… hampir saja saya terjatuh… ketika mendengar sebuah radio swasta yang sebagian besar program-programnya tentang dakwah Islam… Sang pendakwah… dengan lantang dan tanpa tedeng aling-aling… membicarakan seorang ustadz.. (yang alhamdulillah… cukup dikenal masyarakat saat ini) dengan “mengkafirkan” beliau…..

Walah… saya langsung diaamm… dan ngeloyor… cari sang Imam…. untuk berbicara panjang lebar dengan sang Imam… kesimpulannya…..

Ada rasa gak percaya antara ucapan sang pendakwah… dengan persepsi saya tentang sang ustadz.. kebetulan… juga, saya sudah “sempat bertemu” dengan sang ustadz… jauh-jauh… jauh… hari sebelum ia seterkenal sekarang… Saya kaji… dari dulu hingga sekarang sang ustadz tak ada perubahan berati… tetap… sabar… sopan… hati-hati… lemah lembut.. dan mengajarkan dengan sangat terbuka (yah… apalagi saya orangnya gemar bertanya… dengan pertanyaan yang aneh…)tidak ada rasa gusar ketika menghadapi orang-orang yang datang untuk belajar.

Memang… pemikirannya yang dituangkan buku-bukunya cukup kontroversi kalau menurut bahasa awam…. judulnya pun… hmmm adanya yang mengartikan… seolah-olah “manafikan Rasullullah saw”.

Tapi… jika kembali kepada kriteria kafir… setahu saya… sebanyak yang saya baca… sebanyak yang saya dengar… ia begitu berpegangan teguh pada Allah dan Rasulnya…

Hmmm… ada juga terfikir… memang seringkali.. dalam menyampaikan.. sebuah kebenaran… level pemahaman dari umat yang akan menerima harus sangat dipertimbangkan… karena jika terlalu berat.. dapat saja akan mengakibatkan adanya “penyelewengan” pemahaman… dan jika terlalu ringan.. dapat dianggap sesuatu yang tidak perlu diperhatikan… apalagi… mau diserap dan diadaptasi…
Yah… berdasarkan pemikiran inilah (mungkin)…. saya berusaha berbaik sangka… bahwa sang pendakwah.. menbentengi sebagian umat yang dianggapnya… tidak akan mampu menerima cara penyampaian sang ustadz… Ya.. dengan mengkatakan… sang ustadz telah kafir…

Ugh… tapi tetap saja… ada sebagian lagi dari diri ini yang gak bisa menerima… hujatan seperti itu.. bukan karena kasus ini menyangkut seorang ustadz yang kebetulan pernah saya kenal. Tetapi.. lebih pada bersifat umum… bahwa begitu mudah seseorang mengucapkan kata-kata yang jelas-jelas akan bikin gonjang-ganjing….

Mungkin lebih baik… dan sangat saya sarankan… dengan sagala hormat dan harapan untuk pihak-pihak yang berbeda pendapat… duduk bersama… bicara dari hati kehati… boleh dengan bahasa halus.. boleh dengan kata-kata tajam… boleh sebentar… boleh lama…. Asalkan… setelah duduk bersama ini mereka dapat mengambil sebuah kesepakatan dan pengertian.. tentang… apa yang disengketakan… sebelum.. ada statement-statement yang keluar didepan publik… dan bikin… masyarakat luas.. jadi terpecah belah…

Ya.. pak kyai … ya bu kyai… ya pak ustadz…ya bu ustadzah…. ya.. ya ya

Comments (8)

Mumbai

Kaget..
Gak Percaya..

Berita Mumbai.. di Yahoo.. saat kubuka searchingku… Bikin aku terdiam…

Ada apa lagi ini???

Rabu Berdarah di Mumbai 80 orang tewas

mumbaiKota Mumbai, kota pusat bisnis dan wisata di India diguncang sejumlah aksi serangan yang menyebabkan 80 orang tewas dan 250 orang lainnya luka-luka.

Menteri Dalam Negeri, Shivraj Patil mengatakan, sekelompok orang bersenjata menyerang hotel, rumah sakit dan stasiun kereta api. Mereka meledakkan granat dan melepaskan tembakan membabi buta.

Hotel-hotel yang menjadi target serangan kelompok bersenjata itu antara lain hotel bintang lima Taj Mahal dan Hotel Oberon. Televisi setempat menayangkan situasi kacau di kedua hotel tersebut dan upaya evakuasi para tamu hotel. Cafe Leopold yang dikenal sebagai cafe tempat berkumpulnya para turis juga menjadi sasaran serangan.

Diantara korban tewas adalah 11 anggota polisi termasuk Kepala Polisi Anti-Teroris Mumbai, Hemant Karkare. Laporan-laporan media setempat menyebutkan serangan itu sepertinya serangan yang terkordinasi karena terjadi dalam waktu hampir bersamaan di berbagai tempat berbeda.

Sampai hari Kamis pagi, kelompok bersenjata itu masih menyandera beberapa orang dan terlibat baku tembak dengan aparat keamanan India di Hotel Taj Mahal dan Hotel Oberoi. Polisi India mengatakan, enam anggota kelompok penyerang itu tewas dan sembilan orang lainnya berhasil ditangkap setelah serangan terjadi pada Rabu malam.

Anees Ahmed, pejabat senior pemerintah India menyatakan, warga negara asing menjadi sasaran utama kelompok bersenjata di Hotel Taj Mahal dan Hotel Oberoi. Di Hotel Taj Mahal, ada 15 warga negara asing yang menjadi sandera. Sedangkan di Hotel Oberoi belum diketahui berapa warga negara asing yang menjadi sandera.

Sejumlah saksi mata di kedua hotel tersebut mengungkapkan, kelompol penyerang berteriak-teriak mencari warga negara Inggris dan Amerika.

“Mereka terus berteriak, ‘Siapa yang memiliki paspor Inggris atau AS?’,” kata Ashol Patel, seorang india berkewarganegaraan Inggris yang berhasil keluar dari Hotel Taj Mahal.

Pimpinan negara bagian Maharashtra tempat kota Mumbai berlokasi,Vilasrao Deshmukh menyatakan, situasi kota Mumbai belum sepenuhnya aman. Tentara India dikerahkan untuk membantu mengatasi situasi.

Belum diketahi motif serangan tersebut, namun sebuah kelompok yang menamakan dirinya Deccan Mujahideen lewat email yang disebarkan ke berbagai kantor media massa, mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Pakar terorisme India, Mahan Abidin mengatakan, nama kelompok itu tidak pernah terdengar di India. “Dalam situasi seperti ini, nama tidak terlalu penting. Kelihatannya ada upaya untuk menunjuk kelompok-kelompok Muslim militan. Melihat pola serangan, pelakunya bisa jadi kelompok Muslim miltan. Tapi setiap orang harus hati-hati sebelum menunjuk siapa pelakunya,” papar Abidin.

Ia menambahkan, dalam beberapa tahun belakangan ini, berbagai organisasi Muslim di India mulai melakukan perlawanan terhadap negara India dan kelompok masyarakat tertentu di India, terutama tempat-tempat elit seperti Mumbai. Perlawanan itu untuk menunjukkan adanya ketidakadilan dalam kehidupan sosial di India.

“Kalangan kelas menengah yang jumlahnya sekitar 100 juta, hidup dalam kondisi sosial yang cukup mewah. Tapi ada 800 juta lebih masyarakat India yang hidup dalam kemiskinan,” ujar Abidin. (ln/iol/aljz/aby)

Oh.. seandainya saja semua ini tidak perlu terjadi… (perasan campur aduk.. yang ada dalam sanubari ini.. bikin saya sulit untuk menulis…) Semoga saja yang menerima musibah ini.. dapat dikuatkanNYA.. , yang meninggal.. juga akan mendapat ketenangan di”alam sana”

Fuuuh….Jika kita melihat kebelakang…sebetulnya ini bukan kali pertama teroris menyerang kota mumbai.. 17 Oktober 2008.. serangan juga telah terjadi disana… (see in “Muslim Mumbai Donorkan darahnya untuk bantu korban ledakan”)

Buat saya.. semua ini perlu dijadikan.. “wacana serius”…
Berkali-kali… selalu muslim atau kelompok yang mengaku berlatar belakang “mujahied”.. dinyatakan sebagai yang bertanggungjawab… dalam “kekerasan” yang serupa, dibanyak belahan dunia. Padahal setahu saya, “Sesungguhnya Islam tidak mengenal adanya kekerasan… kecuali jika sudah dipaksakan dalam keadaan yang tidak mungkin melakukan apapun selain berbalik menyerang… Inipun dalam kategori untuk mempertahankan kehormatan.. atas agama.. dan mencari Ridho Allah bukan untuk balas dendam!” (simak penuturan seorang sahabat tentang definisi H Qhisah dan hal-hal yang berkaitan dengan “kekerasan” terhadap orang lain )

Hukum Qishash

5 Juni 2008 — tafany

By. Nur Dewi Ratih, Rahma Fitriana Sari, Faeruzy Arnandi, Viki Suryo Bawono, Ria Huriah

Pend.Teknik Sipil Reguler (S1) UNJ

A. PEMBUNUHAN

Macam-macam pembunuhan dan hukumnya :

Pembunuhan ada 3 macam (1) Pembunuhan yang disengaja (Qatlul ‘amad); (2) Pembunuhan yang tidak disengaja (Qatlul syibhul ‘amad); dan (3) Pembunuhan yang tidak ada unsur membunuh (Qatlul Khatha’)

1. Pembunuhan yang disengaja (Qatlul ‘Amad)

Ialah pembunuhan yang direncanakan, dengan cara dan alat yang bisa (biasa) mematikan. Seperti :

· Membunuh dengan ; menembak, melukai dengan alat yang tajam, memukul dengan alat-alat yang berat, dan alat-alat yang lain.

· Membunuh dengan ; memasukkan dalam sel yang tidak ada udaranya, disekap dalam es dll.

· Membunuh dengan ; diberi racun, diberi obat yang tidak sesuai, disuntik dengan obat yang bisa mematikan.

· Membunuh dengan ; dibiarkan tidak diberi makan, minum dll.

Pembunuhan yang disengaja tersebut wajib diqishash, sebagaimana firman Allah QS. An Nisaa: 93 dan dipertegas dengan hadits rasulullah, ‘’Tidak halal (haram) membunuh orang muslim, kecualiada (salah satu) 3 sebab : kafir sesudah iman, berzina sesudah kawin dan membunuh oran g tanpa hak, baik karena dhalim dan permusuhan. (HR. Tirmidzy dan Nasaâ’i)

Orang yangmembunuh tanpa ada hak, harus diqishash, harus dibunuh juga. Kalau ahli waris (yang terbunuh) memaafkan pembunuhan tersebut, pembunuhan tidak diqishash (dihukum bunuh) tetapi harus membayar diyah yang besar, yaitu harus membayar dengan seharga 100 ekor unta tunai, pada waktu itu juga. Hal ini selaras dengan hadits rasulullah, ‘Barang siapa yang membunuh dengan sengaja, maka ia diserahkan pada keluarga terbunuh. Apabila mereka mengkehendaki maka membunuhnya atau minta diyah dengan 30 ekor unta hiqqah, 30ekor unta jadzaâ’ah dan 40 ekor unta khalafah (jumlahnya 100 ekor unta). Hasil perdamaian itu untuk mereka (ahli waris si terbunuh). Demikian itu untuk memperkeras terhadap pembunuhan. (HR. Tirmidzi)

2. Pembunuhan tidak sengaja (Qatlul syibhul ’amad)

Pembunuhan tidak sengaja ialah perbuatan terhadap diri seseorang dengan alat atau sesuatu yang biasanya tidak mematikan. Tetapi seseorang itu mati karena perbuatan atau tindakannya. Contoh orang memukul oran g lain dengan sapu lidi kemudian yang dipukul mati.

Pembunuhan tidak sengaja tidak kena hukuman qishash tetapi pembunuhnya harus membayar diyat besar, sebagaimana diyat bagi pembunuh sengaja yang dimaafkan ahli waris terbunuh. Diyat itu boleh dibayar selama 3 tahun dengan angsuran setiap tahun 1/3-nya.

3. Pembunuhan tidak ada unsur membunuh (Qatlul Khathaâ’)

Pembunuhan yang tidak ada unsur membunuh ialah perbuatan yang tidak ditujukan kepada seseorang tetapi seseorang mati karena perbuatannya. Misalnya orang melempar batu ke hutan tiba-tiba oran g mati terkena batu tersebut.

Orang membunuh orang lain tidak sengaja wajib memerdekakan seorang budak mu’min adil

B. QISHASH

1. Pengertian Qishash

Menurut syaraâ’ qishash ialah pembalasan yang serupa dengan perbuatan pembunuhan melukai merusakkan anggota badan/menghilangkan manfaatnya, sesuai pelangarannya.

2. Qishash ada 2 macam :

a. Qishash jiwa, yaitu hukum bunuh bagi tindak pidana pembunuhan.

b. Qishash anggota badan, yakni hukum qishash atau tindak pidana melukai, merusakkan anggota badan, atau menghilangkan manfaat anggota badan.

3. Syarat-syarat Qishash

a. Pembunuh sudah baligh dan berakal (mukallaf). Tidak wajib qishash bagi anak kecil atau orang gila, sebab mereka belum dan tidak berdosa.

b. Pembunuh bukan bapak dari yang terbunuh. Tidak wajib qishash bapak yang membunuh anaknya. Tetapi wajib qishash bila anak membunuh bapaknya.

c. Oran g yang dibunuh sama derajatnya, Islam sama Islam, merdeka dengan merdeka, perempuan dengan perempuan, dan budak dengan budak.

d. Qishash dilakukan dalam hal yang sama, jiwa dengan jiwa, anggota dengan anggota, seperti mata dengan mata, telinga dengan telinga.

e. Qishash itu dilakukan dengn jenis barang yang telah digunakan oleh yang membunuh atau yang melukai itu.

f. Oran g yang terbunuh itu berhak dilindungi jiwanya, kecuali jiwa oran g kafir, pezina mukhshan, dan pembunuh tanpa hak. Hal ini selaras hadits rasulullah, ‘Tidakklah boleh membunuh seseorang kecuali karena salah satu dari tiga sebab: kafir setelah beriman, berzina dan membunuh tidak dijalan yang benar/aniaya’ (HR. Turmudzi dan Nasaâ’)

4. Pembunuhan olah massa / kelompok orang

Sekelompok oran g yang membunuh seorang harus diqishash, dibunuh semua..

5. Qishash anggota badan

Semua anggota tubuh ada qishashnya. Hal ini selaras dengan firman-Nya, ‘Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.’ (QS. Al-Maidah : 45)

C. HIKMAH QISHASH

Hikmah qishash ialah supaya terpelihara jiwa dari gangguan pembunuh. Apabila sesorang mengetahui bahwa dirinya akan dibunuh juga. Karena akibat perbuatan membunuh oran g, tentu ia takut membunuh oran g lain. Dengan demikian terpeliharalah jiwa dari terbunuh. Terpeliharalah manusia dari bunuh-membunuh.

Ringkasnya, menjatuhkan hukum yang sebanding dan setimpal itu, memeliharakan hidup masyarakat: dan Al-Quran tiada menamai hokum yang dijatuhkan atas pembunuh itu, dengan nama hukum mati atau hukum gantung, atau hukum bunuh, hanya menamai hukum setimpal dan sebanding dengan kesalahan. Operasi pemberantasan kejahatan yang dilakukan pemerintah menjadi bukti betapa tinggi dan benarnya ajaran islam terutama yang berkenaan hukum qishash atau hukum pidana Islam.

D. DIYAT

1. Pengertian Diat

Diyat ialah denda pengganti jiwa yang tidak berlaku atau tidak dilakukan padanya hukuman bunuh.

a. Bila wali atau ahli waris terbunuh memaafkan yang membunuh dari pembalasan jiwa.

b. Pembunuh yang tidak sengaja

c. Pembunuh yang tidak ada unsur membunuh.

2. Macam-macam diyat

Diyat ada dua macam :

a. Diyat Mughalazhah, yakni denda berat

Diyat Mughalazhah ialah denda yang diwajibkan atas pembunuhan sengaja jika ahli waris memaafkan dari pembalasan jiwa serta denda aas pembunuhan tidak sengaja dan denda atas pembunuhan yang tidak ada unsur-unsur membunuh yang dilakukan dibulan haram, ditempat haram serta pembunuhan atas diri seseorang yang masih ada hubungan kekeluargaan. Ada pun jumlah diat mughallazhah ialah : 100 ekor unta terdiri 30 ekor unta berumur 3 tahun, 30 ekor unta berumur 4 tahun serta 40 ekor unta berumur 5 tahun (yang sedang hamil).

Diat Mughallazah ialah :

· Pembunuhan sengaja yaitu ahli waris memaafkan dari pembalasan jiwa.

· Pembunuhan tidak sengaja / serupa

· Pembunuhan di bulan haram yaitu bulan Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab.

· Pembunuhan di kota haram atau Mekkah.

· Pembunuhan orang yang masih mempunyai hubungan kekeluargaanseperti Muhrim, Radhâ’ah atau Mushaharah.

· Pembunuhan tersalahdengan tongkat, cambuk dsb.

· Pemotongan atau membuat cacat angota badan tertentu.

b. Diyat Mukhaffafah, yakni denda ringan.

Diyat Mukhoffafah diwajibkan atas pembunuhan tersalah. Jumlah dendanya 100 ekor unta terdiri dari 20 ekor unta beurumur 3 tahun, 20 ekor unta berumur 4 tahun, 20 ekor unta betina berumur 2 tahun, 20 ekor unta jantan berumur 2 tahun dan 20 ekor unta betina umur 1 tahun.

Diyat Mukhoffafah dapat pula diganti uang atau lainya seharga unta tersebut. Diat Mukhoffafah adalah sebagai berikut :

· Pembunuhan yang tersalah.

· Pembunuhan karena kesalahan obat bagi dokter.

· Pemotongan atau membuat cacat serta melukai anggota badan.

3. Ketentuan-ketentuan lain mengenai diat :

a. Masa pembayaran diyat, bagi pembunuhan sengaja dibayar tunai waktu itu juga. Sedangkan pembunuhan tidak sengaja atau karena tersalah dibayar selama 3 tahun dan tiap tahun sepertiga.

b. Diyat wanita separo laki-laki.

c. Diyat kafir dhimmi dan muâ’hid separo diat muslimin.

d. Diyat Yahudi dan Nasrani sepertiga diat oran g Islam.

e. Diyat hamba separo diat oran g merdeka.

f. Diyat janin, sepersepuluh diat ibunya, 5 ekor unta.

4. Diyat anggota badan :

Pemotongan, menghilangkan fungsi, membuat cacad atau melukai anggota badan dikenakan diyat berikut :

Pertama : Diyat 100 (seratus) ekor unta. Diat ini untuk anggota badan berikut :

a. Bagi anggota badan yang berpasangan (kiri dan kanan) jika keduan-duanya potong atau rusak, yaitu kedua mata, kedua telinga, kedua tangan, kedua kaki, kedua bibir (atas bawah) dan kedua belah buah zakar.

b. Bagi anggota badan yang tunggal, seperti : hidung, lidah, dll..

c. Bagi tulang sulbi ( tulang tempat keluar air mani laki-laki)

Kedua : Diyat 50 ekor unta. Diyat ini untuk anggota badan yang berpasangan, jika salah satu dari keduanya ( kanan dan kiri) terpotong.

Ketiga : Diat 33 ekor unta ( sepertiga dari diatyang sempurna). Diyat ini terhadap :

a. Luka kepala sampai otak

b. Luka badan sampai perut

c. Sebelah tangan yang sakit kusta

d. Gigi-gigi yang hitam

Gigi satu bernilai 5 ekor unta. Kalau seseorang meruntuhkan satu gigi orang lain harus membayar dengan 5 ekor unta. Kalau meruntuhkan 2, harus membayar 10 ekor. Bagaimana kalau seseorang meruntuhkan semua gigiorang lain, apakah harus membayar 5 ekor unta kali jumlah gigi tersebut ? Ulama berbeda pendapat. Sebagian berpendapat : cukup membayar diyat 60 ekor unta (dewasa). Ulama lain berpendapat harus membayar 5 ekor unta kali jumlah gigi.

Hal Sumpah

Orang yang menuduh membunuh harus mengemukakan bukti dan oran g yang menolak tuduhan harus bersumpah. Apabila ada pembunuhan yang tidak diketahui pembunuhnya, wali dari yang terbunuh bisa menuduh kepada sesorang atatu suatu kelompok yang mempunyai kaitan dengan pembunuhan, yaitu menyebutkan data-data.

Data-data yang dikemukakan seperti :

ü Orang yang dituduh pernah bertengkar pada hari-hari sebelumnya

ü Orang yang dituduh pernah disakitkan hatinya.

ü Adanya alat yang hanya dimiliki oleh tertuduh

ü Adanya berita dari seseorang tertuduh kalau tidak menerima tuduhan bisa membela diri dengan bersumpah, bahwa ia betul-betul tidak membunuh.

E. KIFARAT PEMBUNUHAN

Pembunuh disamping dia wajib menyerahkan diri unutk dibunuh atau diat (denda) maka ia diwajibkan juga membayar kifarat. Diyat adalah jenis denda sebagai tanda penyesalan atau belasungkawa kepada keluarga korban. Sedang kifarat adalah jenis denda sebagai tanda taubat kepada Allah SWT.

Ada pun kifarat akibat pembunuhan adalah memerdekakan hamba yang Islam atau dia wajib puasa dua bulan secara berturut-turut. Hal ini selaras dengan QS. An Nisaa: 92

Dan (semoga Allah selalu menunjukkan padaku apa yang salah kulakukan… dan kebenaran akan menjadi hal yang memang demikian adanya.. tanpa campur tanganku) berdasarkan ulasan tersebut, dapat diartikan bahwa bagi seseorang yang mengaku muslim… TINDAKAN KEKERASAN bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan, apalagi jika sampai menghilangkan nyawa seseorang… sangat berat hukumnya. Jadi untuk melakukan hal tersebut…(tindakan kekerasan di MUMBAI), jika memang benar pelakunya adalah Mujahied, pasti sudah harus melewati sebuah pertimbangan yang sangat dalam dan “bening”.

Karena itu..jujur….. untuk saya.., jika serangan-serangan dengan cara “kekerasan” ini merupakan sikap perlawanan karena adanya kondisi sosial yang tidak baik dalam negara… atau.. mungkin juga karena adanya bentuk perlawanan terhadap amerika dan Inggris.. sebagaimana disebutkan.. diucapkan berkali-kali oleh pelaku penyerangan, bukan tindakan dengan alasan yang dapat dibenarkan…

Ketimpangan sosial… selayaknya juga dipecahkan dengan penyelesaian secara sosial.. (biasanya dimulai dengan berusaha memenuhi kebutuhan pokok.. seperti sandang, pangan, papan.. pendidikan, kesehatan dsbnya) tidak bisa dengan melakukan serangan… apalagi menjadikan warga negara negara lain sebagai target serangan…  Akhirnya.. masalah tidak selesai… malah timbul masalah baru… paling tidak ada ketegangan antara negara-negara yang warganegaranya terlibat sebagai korban.

Sedang jika memang ini bermasalah dengan negara lain… tentunya hubungan antara dua negara harus diperbaiki… oleh… pemimpin negara tersebut.. (sekali lagi disinilah seorang pemimpin yang baik, bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnya akan diuji).. kebijaksanaan dalam dan keluar dari negara harus ditinjau ulang… agar tidak berdampak negatif terhadap rakyat kecil. Pemimpin yang mau benar-benar berjuang bukan karena popularitas,.. gelimang kemewahan.., pangkat tinggi.. kemudahan-kemudahan duniawi dsbnya..

Satu hal lain… yang untuk saya…. sungguh-sungguh disayangkan…. kondisi akibat serangan-serangan seperti ini semakin memburuk karena… pemberitaan yang sangat tidak adil… Jika saja ini berkaitan dengan Islam.. (yang sering diartikan sebagai tindakan teroris).. berita yang beredar sangat cepat dan cenderung memojokkan. Tetapi jika berita ini tentang golongan yang lain… seolah-olah… hanya angin lalu… dan lenyap begitu saja… tanpa bekas… (bandingkan tanggapan masyarakat dunia dan cara pers mengangkat… kasus amrozi dan hal yang sama dengan kasus tertangkapnya warga negara australia yang membawa narkoba di Bali… terlepas.. apakah kedua kelompok tersebut (amrozi dan warganegara australia).. bersalah atau tidak ataukah seberapa besar dampak yang akan ditimbulkannya.)… Bahkan tidak jarang ini juga digunakan sebagai salah satu jalan untuk memojokkan Islam…

Yah.. sekali lagi… mumbai… bikin hati ini.. jadi resah…

Sayapun menyadari… keresahan dihati ini bukan milik saya sendiri… begitu banyak masyarakat muslim diseluruh dunia… juga melihat ini bukan sebagai tindakan terpuji… bahkan sesuatu tindakan yang patut dikutuk.. dan para pelakunya dijatuhi hukuman yang sesuai.

Sungguh Saya rindu akan kebesaran Islam… Saya rindu dengan Kedamaian yang tercantum dalam Islam… Islam yang sejati… Yang sesuai dengan tuntunanNYA.. Yang benar-benar menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.. nilai-nilai keadilan… nilai-nilai kesucian…

NB… SEMOGA INI KALI TERAKHIR….TERJADI PENYERANGAN

Comments (6)

5 Bekal Istri Aktivis Dakwah

Belum lama saya membaca tulisan.. dari seorang wanita mulia Ibu…Dra. Anis Byarwati, MSi. dalam kotak e-mail saya… Tulisan ini dikirim seorang sahabatku yang juga sangat mulia Emma Dan karena kemurahan hati beliau berdualah… maka saya diperbolehkan ikut mempublikasikan tulisan ini…Jika sahabat tidak keberatan baca ya….

Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanyauntitled-2-copy1 memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing.

Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:

1. Bekalan Yang Bersifat Pemahaman (fikrah).

Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!

2. Bekalan Yang Bersifat Ruhiyah.

Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita.

3. Bekalan Yang bersifat Ma’nawiyah (mentalitas).

Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu) dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!

4. Bekalan Yang bersifat Aqliyah (intelektualitas).

Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!

5. Bekalan Yang Bersifat Jasadiyah (fisik).

Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’.

Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah?

Saya jadi merenung.. dalam… teringat pada diri ini… rasanya masih jauh ya… “standrat kelayakanku sebagai seorang istri… untuk ukuran seorang pendakwah.. (bukankah.. setiap muslim wajib untuk berdakwah.. “Sampaikan walaupun hanya 1 ayat saja”) Hick hick…  Semangat semangat… ayo belajar lagi… perbaiki diri… yok…. sama-sama yok….

Comments (1)

Hubungan Dengan Non Muslim

Wahai sahabat hidup ini memang aneh…

Dalam berhubungan dengan sesama manusia… ada banyak cerita yang tertulis… karena itu.. banyak novel.. jadi laris… ketika menggalinya sebagai sumber inspirasi..  Termasuk hubungan kita sebagai muslim dengan non muslim… hmm selalu ada cerita dibalik itu… dari yang romantisss karena mengisahkan cinta dua anak manusia yang berbeda agama hingga kekerasan karena ada pertumpahan darah disana… Yah… inilah manusia.

Menurut goresan sejarah…tentang penciptaan manusia . Yaitu ketika malaikat bertanya pada Allah… “YA Allah untuk apa kau ciptakan manusia dimuka bumi ini?.. bukankah mereka hanya akan melakukan kerusakan dan kekacauan?”

Allah menjawab.. dengan menerangkan bahwa DIA adalah yang Maha Tahu.. apa yang baik dan yang buruk.. dimuka bumi ini.

Manusia dengan kemapuan akal.. yang menurutNYA lebih dibandingkan makhluk-makhluk yang lain diberiNYA  “kebebasan… bersyarat” akhirnya.. ada didunia yang fana ini. Saya katakan “bebas bersyarat” karena manusia mempunyai kebebasan yang mutlak terhadap dirinya… bahkan bebas juga dalam mengatur orang/ makhluk lain yang ada di dunia ini, tetapi.. bersyarat.. agar dalam mengaplikasikan kebebasannya… manusia diberi syarat / pengaturan melalui “Kitabullah”… (Manual book for human… he he  he… gitu kali ya… kira-kira… judulnya menurut manusia kalau kita nyari di toko buku… ) Yaitu Al-Quran.

Yah… tapi namanya juga manusia… makhluk yang paling banyak tanya dan ngeyel… dengan aapa yang tertulis di Al-Qur’an (masiiiiih aja di pertanyakan… ) Dan karena Allah adalah Sang Pencipta. dan Maha Tahu.. maka Allah mengupayakan meredam sifat ngeyel dan banyak tanya ini dengan mengutus Nabi Muhammad saw… (seseorang yang begitu baik akhlaqnya)  sebagai pembawa, penjelas, pendakwah…. juga contoh nyata.. untuk menyampaian ayat- demi ayat yang ada di Al-Qur’an. Agar manusia jadi gak salah langkah.

Subhanallh… beliau memang mumpuni dengan tugas yang satu ini. Tak satupun yang bercela… Kemudian… berdasarkan pertimbangan… bahwa apa yang beliau kerjakan demikian banyaaak… (yah manusiakan cepat sekali luuupaaa ya…) dan manusia turun temurun semakin banyak… (sulit untuk menyampaikan pada semua orang, sifat dan sikap Nabi Muhammad, dari generasi ke generasi.. dari satu tempat ke tempat lain… belum lagi adanya kemungkinan “ditambah-tambahi” pada saat menyampaikan berita) akhirnya dibuatlah sebuah keputusan untuk mengumpulkan.. dan menulis segala apa yang dilakukan Nabi Muhammad saw tersebut dalam Hadist.

Nah.. dari Al-Qur’an… yang ayat-ayatnya telah saya tulis dalam “KAFIR???” cukup jelas dan gamblang… bagaimana tuntunan dalam berhubungan dengan non muslim. Dibawah ini adalah tindakan Nabi Muhammad saw..  yang dapat dijadikan contoh….

1. Nabi tetap mengadakan hubungan baik dengan non muslim.. dalam bidang perdagangan.. politik antar negara.. bahkan… kepada tawanan perangpun… tidak ada satupun contoh dari nabi yang membuktikan sikap tidak terpuji.

2. Dalam menyampaikan dakwahnya… Nabi Muhammad… tidak sekali-kali menggunakan faham pemaksaan… sebagian besar kaum yang akhirnya beriman kepada Allah swt adalah kaum yang secara nyata melihat sikap-sikap Nabi.. dengan Akhlaqtul kharimahnya…  Dalam berdikusi beliau sangat santun… (Santun dalam arti menghargai pembicaraan tetapi tidak sekali-kali menjadikan beliau lengah dan mengikuti pendapat lawan bicara jika ternyata pendapatnya berlawanan dengan Al-Qur’an)

3. Sekali-kali Nabi Muhammad tidak pernah bersikap tidak adil terhadap kaum non muslim.. walaupun jelas-jelas.. orang tersebut dari kalangan yang begitu benci terhadap Islam. Bahkan beliau mengatakan akan menghukum putri beliau sama dengan hukuman yang beliau jatuhkan pada orang non-muslim… jika dan hanya jika sang putri melakukan kesalahan yang sama.

4. Jika ternyata pada akhirnya Nabi Muhammad mengangkat senjata.. ini juga bukan karena nafsu berperang… tapi sungguh semata-mata hanya karena memikirkan “APAKAH ALLAH RIDHO.. ATAS APA YANG AKU KERJAKAN”.. Sehingga betapa besarnya perang yang berkobar… tidak ada kebencian disana… terbukti Nabi hingga akhir hayatnya adalah musuh yang sangat disegani dan dihormati oleh semua musuh-musuhnya…

Yup… Jadi.. memang begitulah sebaiknya kita memperlakukan non muslim yang ada disekeliling kita… mereka tetap memiliki hak sebagai seorang tetangga.. mereka tetap memiliki hak sebagai seorang yang seprofesi… mereka tetap memiliki hak untuk dihargai pendapatnya.

Tetapi… TETAP PERLU DIGARIS BAWAHI… ketika kondisi dan situasi dalam membina hubungan tersebut… mulai menampakkan adanya hubungan yang tidak sehat… seperti.. adanya upaya untuk mengadaptasi pola pikir mereka (masya Allah… padahal.. cara busana sebagian dari kaum muslimah telah mengadaptasi kebiasaan dan pola pikir mereka ya…. Ampuni kami semua ya Allah.. yang sangat bodoh.. untu memilah-milah mana yang sesuai dan tidak sesuai dengan hukumMU) Sikap tegas.. dan jelas.. harus sudah mulai ditunjukkan… terus demikian… hingga kembali dicapai kesepakatan untuk kembali saling menghargai. Jika ternyata ini tidak dapat dilakukan… ada beberapa hal yang dianjurkan untuk dikerjakan :

1. Memberikan peringat keras… atas batas-batas yang tidak boleh dilanggar (Hal yang sama juga harus kita terapkan pada diri kita sebagai seorang muslim… selama para non muslim ini masih berada “dalam lingkaran agamanya” kita tidak punya hak untuk menarik-narik mereka keluar lingkaran agama atau bahkan menyerang apa-apa yang ada dalam diri mereka dan lingkarannya. Yup… tentu saja akan jadi beda jika… mereka sendiri yang keluar dari lingkaran agama tersebut mendekati kita… kaum Islam… karena ketertarikan pada apa yang kita lakukan diluar lingkaran agama mereka…  Dan ini adalah sebaik-baik metode penyampaian dalam Islam)

2. Segera.. “membuat jarak” dengan non muslim tersebut.

3. Memutuskan hubungan… (Allah memang tidak menyukai orang-orang yang memutuskan silahturahmi… tetapi jika ternyata ini sudah membahayakan pemahaman aqidah kita tentang Islam.. atau dalam arti kata lain lebih besar mudharatnya.. dari kebaikkannya… sebaiknya memang dilakukan)

4. Melawan.. dengan tindakan yang sesuai..  (Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas)

5. Berpasrah pada Allah… Karena ada kondisi yang memang tidak lagi dapat kita kontrol.. dengan kemampuan kita yang terbatas sebagai manusia… dengan tetap berupaya menjauhi dan melawan sebatas yang sebaiknya dan semampunya kita lakukan

6. Dan jangan lupa… kita tidak hidup dalam sebuah kondisi yang dasar-dasar hukumnya mengacu pada dasar-dasar agama Islam… sehingga tetap harus ada kompromi terhadap hukum negara… (Kompromi dalam arti mengikuti ketetapan prosedur hukum yang ada di negara Indonesia.. tetapi tidak berati berkompromi dalam menjalankan syariah agama ISLAM).

Jika menyimak.. apa yang saya tuliskan diatas.. jelas sebagai seorang muslim.. kita tidak dapat menjadi seorang non muslim sebagai seorang pemimpin… karena pemimpin pasti membawa misinya dalam kepemimpinannya. kita tidak dapat menjadikan seorang non muslim sebagai sahabat ataupun seorang kepercayaan, karena dalam berdikusi dan meminta pendapatnya pasti akan ada pendapatnya yang akan ia sampaikan.. jelas sebagai muslim.. kita tidak dapat menjadikan seorang non muslim sebagai suami karena ia akan bertindak sebagai pemimpin dalam hidup keluarga kita dan juga sebagai orang yang akan menjadi kepercayaan serta dimintai pendapatnya dikala kita menemui kesulitan.

Hmmm mungkin sudah cukup jelas.. ya….

Mudah-mudahan sedikit dari apa yang saya tahu… ini dapat berguna bagi kita semua…  semoga Allah Ridho pada apa yang saya tuliskan.. dan semoga kita tetap dibimbingNYA untuk dapat bersikap Akhlaqtul Kharimah… Amin Ya Rabbil Alamin

Comments (1)

Jangan bersedih…

Jangan pernah merasa sedih.. ketika banyak Ayat-ayatNYA diputar balikkan.

Karena bukan kemampuan kita untuk menahan semua kejadian di alam fana tetap luruuuussss.

Jangan pernah merasa sedih.. ketika orang mencoba mengitimidasimu dengan tujuan-tujuan menyesatkan baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Karena selama kita tahu.. kebenaran adalah benar… tidak akan pernah mungkin terwujud tujuan intimudasi itu

Jangan pernah merasa sedih.. ketika orang tidak dapat memahami apa yang sudah kita sampaikan

Karena dengan cukup mengerti… tugas kita tidaklah merubah orang agar mengerti… tetapi tugas kita hanyalah sebatas.. penyampaian. Artinya… jika ini sudah dilakukan… kita tak patut lagi bersedih.
Jangan perah bersedih.. ketika ada sebagian dari kaum kita yang berpaling pada kaum yang lain

Allah tidak akan pernah meminta pertanggungjawaban kita atas apa yang tidak mampu kita lakukan.. dan tidak pernah sebagian dari kaum muslim menanggung dosa atas perbuatan kaum muslim yang lain

Jangan bersedih… jika banyak orang menduga Islam sejatinya adalah Agama dengan kekerasan.

Karena banyak fakta yang membuktikan.. bahwa kaum muslim (kaum salafi) justru sangat santun dan bersikap adil terhadap sesama.. dibandingkan kaum yang lain.

Jangan bersedih.. jika Islam kini terpuruk

Karena bukan kesedihan yang dapat memperbaiki keadaan.. tetapi semangat dan sikap, tingkah laku, nyata yang akan membuktikan kebenaran itu suatu saat kelak
Jangan bersedih… jika Engkau didzholimi dan dianiaya.

Karena janji Allah tentang pembelaan dan pembenaran adalah pasti… sedangkan doa orang yang terdzholimi dan teraniaya bagaikan tanpa batas dengan Allah Penguasa Alam.

Jangan bersedih… jika Engkau diberlakukan seperti orang aneh.. karena melaksanakan perintah-perintahNYA secara kaffah

Karena… semua itu hanya tipu dunia… orang-orang yang tertipu dengan akhirat akan lebih sedih dan menyesal dibandingkan kita.

Dan… Berbahagialah… berbanggalah… bersyukuran jika saat ini kita dalam lindungan CAHAYA ILLAHI… sungguh ini adalah harta tak ternilai… kebaikan tanpa batas… kesenangan tak berujung.. Kenikmatan tiada tara…. Yang akan segera kita buktikan…

Just wait and see… Believe in Allah. Insya Allah… Allahu Akbar


Comments (2)

Older Posts »