Archive for Curhat

Mahasiswa Bunuh Diri

Innalillaahi wa inna illaihi rojiun

Betapa mudahnya orang terfikirkan untuk bunuh diri….

Berapa banyak orang melakukan tindakan bunuh diri….

Ini dilakukan juga oleh kaum muda… kaum intelektual…

Ada apa sebenarnya????

Baru-baru ini 2 buah kejadian bunuh diri yang dilakukan oleh 2 orang mahasiswa/i di Jakarta.

Apa yang tercantum dalam media tentang hal ini?

Keduanya depresi.. karena nilai dibawah standrat… dan tidak juga kunjung lulus…

Saya adalah seorang ibu…

Sayapun sering “bermasalah” dengan anak-anakku….

Ketika saya merasa mereka tidak mematuhiku…

Ketika saya merasa mereka tidak memenuhi harapan-harapanku..

Buatku…

Ketika kasus ini terjadi… saya pun merasa terpukul….

Beberapa hal yang menurutku menjadi sebab terjadinya (dari kacamataku…) adalah :

1. Sang Ortu… dan Sang anak… pastilah tidak ada komunikasi yang lancar…. sebabnya bisa jadi sang Ortu yang tidak mau “down to erath”… menyadari… potensi… kekurangan… minat sang anak… Dia sibuk dengan pendapatnya sendiri.. keinginannya sendiri… yang (mungkin) terpaku pada pola hidup di lingkungan sekelilingnya. Bisa jadi… sang anak.. yang dengan motivasi tersendiri… (sayang yang berlebihan pada orang tua) tidak berani/ mau mengungkapkan persoalannya pada orang tua..

Ini dapat terjadi… pada masyarakat kalangan bawah… yang untuk hidup saja pas-pasan… berkeinginan… memiliki anak dengan title… tertentu… demikian semangatnya… sehingga sang ortu akan berjuang mati-matian agar keinginan tercapai… mengabaikan dan mengorbankan dirinya… untuk keberhasilan sang anak… pada akhirnya… timbul obsesi yang berlebihan… Sang anak… melihat dan merasakan perjuangan orang tua.. terpacu untuk membuktikan dan menghadirkan impian tersebut menjadi nyata. Apa daya… ternyata.. sang anak kemampuannya pas-pasan…  Sang anak menjadi terpuruk dan depresi… tetapi tidak punya kemampuan untuk menjelaskan situasi ini pada orang tua.

Atau jika pada kalangan kelas atas dan menengah… seringkali.. yang menjadi pijakannya adalah “gengsi”… Status sosial.. tidak memungkinkan adanya… keadaan yang “lebih rendah” dari expectation lingkungan… Akhirnya kembali tekanan berlebihan akan diluncurkan pada sang anak. Dan.. karena status sosial ini pulalah… tidak banyak kesempatan bagi orang-orang yang ada dalam lingkaran ini.. untuk menunjukkan rasa.. kesulitan… persoalan… (karena dipandang sebagai aib) ditambah… kesibukan-kesibukan dari orang tua.. yang membuat waktu terbatas untuk berbicara apalagi bermanja-manja untuk sang anak.

2. Kurang pemahaman akan tingkatan pencapaian dalam hidup. Untuk sebagian orang… tingkat pencapaian tertinggi adalah jika.. telah mencapai kedudukan hebat… punya penghasilan besar… Status sosial.. tinggi dsbnya…  Ada yang dilupakan… dan justru menjadi yang terpenting… adalah… manjadi manusia seutuhnya… Utuh dalam artian… mencapai standrat “perjanjian” sebagai makhluk Allah…

Jika saya boleh mengutip… seorang ustadz sempat menyampaikan… perumpamaan manusia hidup didunia ini bagaikan.. perjalanan kita antara waktu ashar.. hingga maghrib…(+/- 3 jam)  Sangat singkat. Kita sering mengabaikan waktu yang singkat tersebut untuk mengisi dengan hal bermanfaat karena kita beranggapan kita masih punya 21 jam lain untuk digunakan mengejar target.

Bayangkan… jika ternyata yang hanya 3 jam tersebut… ternyata merupakan penentu dari yang 21 jam… Pastilah… kita akan sangat serius melewatinya… bahkan… kalau boleh kita akan menunda tidur, mandi bahkan makan… Fokus pada pencapaian di 3 jam.

Hmmm jika boleh saya kembalikan lagi… jika hidup kita yang hanya sebentar ini… kita lewati dengan melakukan kesalahan sangat-sangat besar…. bunuh diri… pastilah… sisa lain dari kehidupan yang lain akan menjadi sesuatu yang sangat mengerikan…

Allah sangat mengutuk dan tidak memberikan ampunan pada orang-orang yang melakukan bunuh diri…

Bayangkan kemarahan orang tua… kekecewaan karena putus cinta… depresi karena tidak naik pangkat… yang dijadikan sebab untuk bunuh diri… jika dibandingkan dengan apa yang menjadi ketentuan Allah… bukanlah apa-apa.

Lalu… maukah kita menukar kasih sayang Allah… kehidupan akhirat, yang tidak pernah ada akhirnya… berapapun usia kita kelak… (dimana satu hari akhirat dinyatakan sebanding dengan 50 tahun kehidupan didunia fana).. dengan ketegaran… menghadapi kemarahan orang tua… kesulitan karena hutang.. bermasalah dengan kekasih hati.. kebangkrutan financial dsb dsbnya yang lamanya proses pemulihannya mungkin hanya 1 hari atau mungkin 10 tahun… dunia??? Sungguh-sungguh naif… kalau itu kita lakukan….

Itu artinya… kita sungguh-sungguh tidak paham tentang skala prioritas pencapaian…. Yang mestinya sebagai bagian dari kaum intelektual, anak-anak muda pelaku bunuh diri… mencanangkannya.

3. Adanya.. pergeseran.. pola hidup dari masyarakat Indonesia.  Ada masanya… ketika sebuah komunitas… sangat menyatu… Persoalan yang dimiliki oleh sebuah keluarga… dirasakan oleh keluarga-keluarga yang lain… Tidak ada gengsi… yang ada hanyalah.. kasih sayang dan kekeluargaan. Ini yang sekarang jadi hal langka…

Saya terus-terang masih sangat ingat.. saat-saat… tetangga.. dengan baik hati menawarkan… bantuan, melihatku kerepotan mengurus putri sulung… (waktu itu ia masih berumur setahunan)… atau saat berbagi makanan.. karena bau masakan menerbitkan air liur.. atau ketika saya pulang dari bepergian ditengah hujan deras…  cucian bajuku sudah terlipat rapi diteras rumah… selamat dari cucuran air hujan.

Masa-masa itu berlalu sudah…

Sekarang… seringkali… saya tidak pernah melihat wajah tetangga sebelah rumahku… untuk waktu yang cukup lama (heh… saya juga sama… meninggalkan rumah sebelum jam 6 pagi… sampai dirumah lagi sudah lewat adzan Isya)…  saya yakin mereka juga merasakan hal yang sama.

“Kekosongan”… merasa “sendiri”… tidak ada teman untuk berbagi cerita… itu bukan lagi cerita baru

(Alhamdulillahnya… saya dan para tetangga sebelah rumah… masih sering bersilahturahmi melalui SMS… jadi masih saling tahu… apa-apa yang terjadi diantara kami… Fuh.. walaupun begitu tetap saja… yang namanya pesan  singkat… beritanya ya singkat-singkat saja…. )

4. Kecepatan dan perubahan dunia mencapai kemajuan…. Orang menjadi begitu.. tertantang dan terfokus pada pencapaian-pencapaian cepat… sangat berbeda dengan saat zaman orang tua kita dulu… Saya masih juga ingat… bagaimana senangnya… duduk-duduk disore hari… dengan para sesepuh… menikmati teh hangat… kue kecil.. bercerita, bercengkrama… dengan suasana penuh.. kekeluargaan…. Sekarang???? Mana sempat!!!

Jika dulu… pergi ke surau… disore hari… adalah untuk bermain dan belajar…  Saya tuliskan bermain lebih dulu… karena memang itu tujuan kesana… untuk bermain… baru setelah itu (jika sempat) belajar… Sekarang pergi ke TPA adalah untuk belajar dan bermain…. Belajar lebih utama… karena jika tidak sesegera mungkin menguasai pelajaran di TPA…  bertumpuk-tumpuk target lain… (bahasa Inggris, matematika, menggambar, main musik dsb-dsbnya) akan mengejar… sehingga ilmu TPA akan terlewat. Main???? nanti dulu…

5. Satu hal lagi… ketika “percepatan” menjadi gaya hidup… orang mengabaikan… arti perjuangan…  Orang-orang yang “smart” mendapat hasil lebih cepat… lebih dihargai dari orang-orang yang berjalan… perlahan… tekun.. dalam meraih asa.  Saya sering mengartikan dengan budaya “MIE INSTAN”.  Orang lupa… bahwa… memang mie instan enak…, lebih menarik dari segi tampilan…  Tetapi lebih enak… sama mengenyangkan… lebih sehat… lebih memancing selera… jika menggunakan mie.. yang diolah sendiri… walaupun sama-sama mengenyangkan.

Yah… orang tidak lagi punya kesadaran… kesabaran… untuk menikmati lebih dengan usaha lebih.

Ini juga yang menjadikan… anak-anak generasi.. sekarang… kurang punya daya juang. Cepat putus asa…. menghadapi masalah sedikit… mereka sudah cepat “menguncup” dan berteriak-teriak minta tolong…. Tidak mengenal… untuk makan nasi.. prosesnya bisa sangat panjang… dari merebus air, “mengaru”.. kemudian mengukus.. dan mendinginkan dalam tampah beralas daun… hanya “klik” menggunakan rice cooker yang mereka tahu..

Apakah itu begitu buruk???

Tentu saja tidak… ada saatnya memang kita harus berpacu waktu… melakukan trobosan singkat… tetapi… ada saatnya kita harus melakukan proses panjang…. Tergantung dari situasi dan hasil akhir yang diinginkan. Yang terpenting adalah… mereka memahami setiap proses ini… cepat atau lambat… instan atau bertahap…

Jadi????

Menurut hemat saya….  Memang situasi kini… begitu sangat kompleks… menyebabkan… orang begitu mudah mencari jalan pintas…

Lalu???

Sebagai ibu… sebagai orang tua… saya mencoba menekankan pada anak-anakku… saya hanya menuntut mereka berjuang tanpa henti… Dalam  perjuangan… walaupun perjuangan mereka (haruslah) sangat keras.. mereka tetap harus memperhatikan kebutuhan diri… untuk istirahat… untuk sehat… untuk berbahagia Oleh karena itu yang menjadi Landasan perjuangan mereka adalah untuk mencapai target utama yaitu… “Standrat manusia Utama sebagai Hamba Allah”…  Bukan Duniawi…   Satu hal lagi… apapun hasil pencapaian… (setelah berjuang keras) bukanlah… sesuatu yang perlu disedihkan, dibanggakan, dipamerkan, diagungkan…

Jadi… anak-anakku paham…

Ketika ibunya marah besar… karena waktu ujian… santaaaiiiii… gak belajar… duduk-duduk nonton TV.., sibuk dengan HP… atau bermalas-malasan.

Dan anak-anakku paham…

Ketika… mereka gagal pada sebuah ujian… ibunya… tetap akan menyambut kepulangan mereka dalam pelukan hangat, usapan dirambut dan kecupan penghapus airmata kesedihan….

Dan anak-anakku juga sangat paham…

ada masanya… ujian bukan hal penting… karena saat itu… mereka sedang sakit…. Lebih Utama beristirahat… dan menebus ujian disaat yang lain.

Yah… I Love them… so much…

Saya berharap… saya berdoa… saya memohon… agar Allah senantiasa memberi mereka pemahaman untuk tidak melakukan hal-hal tidak sesuai dengan urutan prioritas mereka dalam upaya pencapaian manusia utama… HAMBA ALLAH AZZA WA JALLA… Dan Allah senantiasa akan menjaga mereka tetap dalam koridorNYA. Amin

Comments (2)

Diri….

Alhamdulillah… kemarin saya mendapat beberapa komentar yang cukup berbeda…Terang-terangan sang penulis komentar menyerang saya pribadi… Hmmm sungguh saya sangat senang dan bersyukur dengan komentar tersebut. (maaf komentar tersebut tidak lagi saya tampilkan karena… masalah etika)

Syukur saya.. adalah karena

1. Alhamdulillah… akhirnya ada juga yag melihat saya apa adanya… sebagai pribadi yang (jujur…, sebagaimana sering saya sampaikan selama ini)  tidak punya kelebihan malahan terlalu amat sangat kekurangan.

Yang ke 2 saya terpacu untuk lebih memacu semangat belajar.. semangat memperbaiki diri… semangat untuk segera menjadikan impian-impian saya terlaksana.

Yang ke 3.. saya diingatkan… sewaktu-waktu.. ‘Time limit”.. saya habis… jika saat ini…tiba dan ketika apa yang dikatakan sang komentator (astaghfirullah… ) masih saya lakukan…. Bagaimana mungkin saya berani menghadap sang Khalik…

Jujur… saya sering merenungi… diri ini…

Makhluk apakah saya????

Allah telah menyampaikan betapa hinanya… saya sebagai manusia… berasal dari segumpal tanah… disirami oleh air yang kotor dalam proses penjadiannya… dan ketika terlahir kedunia.. sayapun melewati tempat yang kotor… Huff…

Diduniapun… saya tidak terlepas dari hal-hal yang kotor… didalam tubuh ini (seandainya Allah berkeinginan untuk mempermalukanku… dengan mudah.. dibukakan isi perut ini…transparant… terpampang.. betapa diri ini sangat kotor) demikian kotornya tubuh ini… sehingga ketika sebagian dari kotoran ini dapat dibuang dari tubuh… bau.. rupa.. tampilannya… tidak ingin kita lihat… (bayangkan yang “keluar” hanya sebagian dari yang masih ada didalam tubuh… yang lain… yang kotor, yang bau, yang bentuknya bikin mual, yang 24 jam bersama kita)

Jadi… memang benar… jika ada orang yang bicara kita ini sebagai manusia “sebenarnya apalah….” Sungguh sebagai manusia, gak pantas bilang saya sudah bener… gak pantas bilang saya  sudah baik… gak pantas…ngerasa  paling tahu sendiri… gak pantas tersinggung jika ada orang yang bilang.. dengan kata-kata (maaf) kasar tentang kita… Itu benar semua kok….

Apalagi jika kemudian kita mencoba menutup semua  hal-hal yang “gak pantas”dengan sikap-sikap atau percaya diri dengan topangan,  karena kita punya kedudukan.. karena kita punya harta… karena kita punya kepopuleran.. karena kita punya kepandaian… dsbnya.

Kenapa???? Jujur… itu bukan topangan yang baik.

Yah.. demikian mudahnya Allah… dapat membalikkan segalanya… yang kaya dapat langsung miskin (lihat kasus… hancurnya bursa saham).. yang sehat dapat langsung tak berdaya (kasus stroke) yang populer dapat terhina (kasus narkoba oleh selebritis)… juga sebaliknya… yang miskin dapat sekejap kaya raya.., yang sakit dan tak berharap… dapat sehat dan berkarya.. yang terhina dapat dengan cepat disegani. Subhanallah…

Saya memang hanya satu dari sekian banyak manusia yang pernah, sedang dan akan ada didunia ini… tidak lebih…

Jika saya berbuat salah… itu lumrah… jika saya tidak berarti itu… sunatullah… jika saya punya banyak kekurangan… itu biasa… Saya sungguh-sungguh menyadari itu… sebagai hal-hal (+ berjuta hal buruk lainnya)  yang tidak dapat tidak memang harus saya miliki…

Jika saya berusaha menjadi lebih baik… dengan banyak belajar… bertanya… latihan… mendekatkan diri pada sang Khalik… berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi laranganNYA, melaksanakan perintahNYA.  Tapi.. sekali lagi itu adalah hanya sebuah upayaku untuk menjadi lebih baik… dengan kata lain.. saya berusaha untuk menjadi lebih baik… dengan bertopang padaNYA…

Apakah akan berhasil???  Insya Allah… saya optimis

Apakah akan maksimal??? Insya Allah… saya optimis..

Apakah.. akan menjadikan saya lebih baik??? Insya Alah… sayapun optimis

Kapan tercapainya??? Wallahu alam…

Sekarang??? Wallahu alam… (maksa ya….)

Yah… dalam perjalananku… selama saya masih ada didunia ini… proses apakah kita akan menjadi lebih baik ataukah.. hanya “berjalan ditempat” ataukah malah… mundur.. dari posisi awal saat pembelajaran mulai. Yah… ini adalah proses yang sangat panjang… dan…masih akan terus berlangsung… bisa jadi kegagalan… (Astagfirullah….Jauhkan aku ya Allah) bisa jadi keberhasilan yang ada diakhir nanti (Insya Allah… Ya Rabb… hanya kepadaMU aku berharap) Yah.. jujur…  tidak ada satupun manusia yang tahu. Siapapun dia… seorang kepala negara, seorang wanita mulia, seorang anak, bahkan orang-orang yang merasa dirinya telah mencapai tahap suci. Tiap detik… apa yang telah dicapai seolah… berada diujung tanduk… siap terpuruk dalam rayuan syaitan.

Yup…

Pada prinsipnya… sekali lagi saya sangat berterima kasih dan bersyukur… dengan adanya komentar-komentar pedas.. maupun kasar… Hanya mungkin kalau boleh saya meminta (yah… kalau dikabulkan…) tolong… jaga diri anda juga dalam berbicara… dan berkomentar (terbukti kan… anda yang menyampaikan komentar pedas serta kasar… pada umumnya.. tidak berani menampilkan jati diri.. !!)

Terima kasih….

Comments (3)

Siapa sih….Kafiirrr????

Dengan segala hormat… postingan ini hanya ditujuan kepada… para sesama muslim… jika anda yang non muslim bersedia membaca ini… mohon untuk tidak memasukkan komentar apapun…
Dari postingan ku sebelumnya… “KAFIIRR????” saya banyak menulis… (panjang lebaar kali yaaaaa) tentang definisi “kafir… ” bahkan dengan mencantumkan… banyak-banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang mendukung…
Yah… paling gak.. sedikit banyak aku juga mulai punya pendapat tentang kata ini dan siapa-siapa yang kira-kira termasuk dalam kelompok ini….

Bruak…..
Malam itu,… hampir saja saya terjatuh… ketika mendengar sebuah radio swasta yang sebagian besar program-programnya tentang dakwah Islam… Sang pendakwah… dengan lantang dan tanpa tedeng aling-aling… membicarakan seorang ustadz.. (yang alhamdulillah… cukup dikenal masyarakat saat ini) dengan “mengkafirkan” beliau…..

Walah… saya langsung diaamm… dan ngeloyor… cari sang Imam…. untuk berbicara panjang lebar dengan sang Imam… kesimpulannya…..

Ada rasa gak percaya antara ucapan sang pendakwah… dengan persepsi saya tentang sang ustadz.. kebetulan… juga, saya sudah “sempat bertemu” dengan sang ustadz… jauh-jauh… jauh… hari sebelum ia seterkenal sekarang… Saya kaji… dari dulu hingga sekarang sang ustadz tak ada perubahan berati… tetap… sabar… sopan… hati-hati… lemah lembut.. dan mengajarkan dengan sangat terbuka (yah… apalagi saya orangnya gemar bertanya… dengan pertanyaan yang aneh…)tidak ada rasa gusar ketika menghadapi orang-orang yang datang untuk belajar.

Memang… pemikirannya yang dituangkan buku-bukunya cukup kontroversi kalau menurut bahasa awam…. judulnya pun… hmmm adanya yang mengartikan… seolah-olah “manafikan Rasullullah saw”.

Tapi… jika kembali kepada kriteria kafir… setahu saya… sebanyak yang saya baca… sebanyak yang saya dengar… ia begitu berpegangan teguh pada Allah dan Rasulnya…

Hmmm… ada juga terfikir… memang seringkali.. dalam menyampaikan.. sebuah kebenaran… level pemahaman dari umat yang akan menerima harus sangat dipertimbangkan… karena jika terlalu berat.. dapat saja akan mengakibatkan adanya “penyelewengan” pemahaman… dan jika terlalu ringan.. dapat dianggap sesuatu yang tidak perlu diperhatikan… apalagi… mau diserap dan diadaptasi…
Yah… berdasarkan pemikiran inilah (mungkin)…. saya berusaha berbaik sangka… bahwa sang pendakwah.. menbentengi sebagian umat yang dianggapnya… tidak akan mampu menerima cara penyampaian sang ustadz… Ya.. dengan mengkatakan… sang ustadz telah kafir…

Ugh… tapi tetap saja… ada sebagian lagi dari diri ini yang gak bisa menerima… hujatan seperti itu.. bukan karena kasus ini menyangkut seorang ustadz yang kebetulan pernah saya kenal. Tetapi.. lebih pada bersifat umum… bahwa begitu mudah seseorang mengucapkan kata-kata yang jelas-jelas akan bikin gonjang-ganjing….

Mungkin lebih baik… dan sangat saya sarankan… dengan sagala hormat dan harapan untuk pihak-pihak yang berbeda pendapat… duduk bersama… bicara dari hati kehati… boleh dengan bahasa halus.. boleh dengan kata-kata tajam… boleh sebentar… boleh lama…. Asalkan… setelah duduk bersama ini mereka dapat mengambil sebuah kesepakatan dan pengertian.. tentang… apa yang disengketakan… sebelum.. ada statement-statement yang keluar didepan publik… dan bikin… masyarakat luas.. jadi terpecah belah…

Ya.. pak kyai … ya bu kyai… ya pak ustadz…ya bu ustadzah…. ya.. ya ya

Comments (8)

Supporting Group

Jika saya boleh jujur… untukku supporting group kucari…yaitu ketika

Ada masanya.. dimana.. segalanya… begitu runyam…

Aku.. buuutttuuuhhhh dibantu.. hingga kerunyaman berlalu

Ada masanya.., dimana dada ini … begitu sesak…

Aku ingin.. aku berharap…. ada yang mendengarkan..sampai.. aku menjadi lega

Ada masanya… aku ingin menata serpihan diri…

Aku ingin… aku berharap….ada seseorang yang mau “mengantikanku”.. menjaga anakku…hingga aku mejadi utuh lagi

Ada masanya… aku begitu tak berdaya..

Aku ingin.. aku berharap…ada yang mau memapahku.. hingga aku dapat tegak berdiri lagi diatas kedua kakiku..

Ada masanya… ketika masalah financial menjadi masalah besar

Aku ingin… aku berharap.. ada yang mau mengulurkan tangan.. membantuku keluar dari belenggu ini.

Kalimat-kalimat diatas ini pasti serriiinngg diucapkan (dalam hati) waktu… seseorang dalam situasi yang tak tertahankan.. dan… pertolongan seolah hanya sebuah fatamorgana di belahan dunia yang lain…

Yah…Jika… saya boleh bilang… jujur..

Di acara talk show.. kemarin.. ada sisi yang menggigit hatiku.

Yang pertama adalah…

Yah.. yang hadir disana.. pasti lah orang-orang yang punya kelebihan. Kelebihan kemauan sehingga dapat hadir.. Kelebihan percaya diri.. sehingga “berani” datang. Kelebihan semangat.. karena tahu.. ada yang bisa didapat dengan datang kesana.. Kelebihan dan kelebihan yang lain…

Saya diam… terdiam… membayangkan… ibu-ibu yang lain.. yang punya anak-anak berkebutuhan khusus juga… Mereka yang dari situasi yang lebih sulit.. misalnya.. anak-anak mereka.. masih.. sangat bergantung pada ibundanya… tantrum.. flapping… hiperaktif .. dsbnya… atau bahkan yang berekonomi lemah… Jika mereka mendengar dan sangat ingin hadir… apakah mereka punya waktu? Punya tenaga? Punya keberanian untuk melangkah hadir… kesana… sebuah hotel mewah dipusat kota Jakarta???

Nyuuut… dada ini jadi sakit.. dengan rasa itu…

Padahal.. mereka sungguh-sungguh ibu istimewa.. yang tidak hanya mengasuh anak berkebutuhan khusus.. tapi juga sekaligus sebagai.. pembantu rumah tangga, baby sister, terapis, sopir pribadi.., bahkan.. pencari dana untuk pengobatan.. sekaligus.. sebagai “penjembatan” hubungan antara seluruh anggota keluarga..

Saya akan bilang… “Merekalah… sesungguh-sungguhnya ibu-ibu yang Istimewa dan kuat”

Yang kedua… adalah

Budaya Indonesia sebetulnya… sangat mendorong manusia untuk bersikap berpura-pura (bu.. Ages saya nyontek ya… ucapan ibu)… Suka sekali menutupi apa-apa yang tidak baik.. hanya menyajikan yang baik-baik… bahkan kalau bisa memoles yang tidak baik menjadi baik.. HANYA AGAR.. TIDAK DINILAI MEMPUNYAI MARTABAT YANG RENDAH….

Padahal.. dibalik itu,.. sebuah bencana besar.. bisa terjadi..

Yah… sebuah masalah ketika diabaikan dapat menghilang.. jika masalah ini tidak berkaitan dengan hal-hal yang lain atau dengan pribadi yang lain.. Tetapi sebuah masalah yang diabaikan.. justru dapat menjadi sebuah awal dari bencana.. jika ternyata.. bersinggungan dengan masalah atau individu lain.

(Wah… apa an sihhh??? Kok mbulet???)

Contoh.. ketika hati seorang ibu.. yang “MENOLAK” kekurangan anaknya yang berkebutuhan khusus… diabaikan.. dengan cara.. melakukan banyak hal yang bertentangan.. misalnya dengan tidak mau “memunculkan” sang anak…. Apa yang terjadi… ini akan menjadi booommmm waktu… jika ternyata makin membuat anak makin terpuruk.. jika ternyata ini mengakibatkan.. hubungan antara anggota keluarga menjadi buruk..

Tetapi… jika penolakan ini hanya sebatas dihati… bisa jadi hilang… karena akhirnya tertutupi oleh kesibukannya mengobati sang anak… atau jika ini menimbulkan masalah besar paling-paling hanya akan mengakibatkan sang ibu sakiiitttt (nyontek lagi nih… ucapannya mas Reza Gunawan)

Dua sisi yang saya tuliskan diatas… sebetulnya dapat diminimalisasi… jika dan hanya jika… paragraph pertama.. dapat terpenuhi….

Walah… Saya menulis itu… buka untuk meminta-minta… Insya Allah bukan…(yuuup… ini yang saya rasakan ketika saya mengucapkan ini didepan beberapa orang… pandangan yang… “IIIHHHH ELO… get uup dongg… selesaikan jangan menyek-menyek gitu……) Jika ini saya ucapkan 5 tahunan yang lalu… jujur saya akan katakan memang itu yang saya minta… tapi sekarang… alhamdulillah… dengan makin pintar dan besarnya aini… dengan makin besar dan dewasanya anak-anakku yang lain… yang sudah dengan tulus ikhlas… banyak meringankan beban ibundanya… mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus diri sendiri.. dsbnya saya berani bilangg… Insya Allah saya sudah melewati membutuhkan pertolongan malah… saya justru ingin menjadi bagian dari yang memberikan saat ini. Saya hanya ingin mengetuk… hati ini… juga hati para sahabat… bahwa… begitu banyak kesempatan untuk beramal.. kepada keluarga-keluarga yang mempunyai anak-anak berkebutuhan khusus… juga kepada sahabat-sahabat kita yang membutuhkan… dengan demikian … kita tidak akan memperbesar budaya menutupi-nutupi… karena ini akan memancing masalah yang lain… Yah.. jika ada telah ada supporting group… pasti “TERIAKAN MINTA TOLONG” akan dengan mudah dikeluarkan… banyak masalah yang dapat teratasi segera… tanpa menunggu jeda… tanpa menunggu persoalan akan menjadi BOOM WAKTU… Insya Allah… Kita pun bisa sangat berarti bagi sesama,,

Bukankah.. dalam berbagi … dalam memberi… tidak ada batasan khusus tentang apa yang akan atau dapat kita berikan??… seulas senyum.. tulus… dapat meringankan.. hati yang bergemuruh… Elusan tangan lembut di punggung… dapat menembus hingga kedalam hati yang paaallliiinggg dalam… sebungkus.. nasi.. dengan lauk seadanya.. dapat menghilangkan rasa lapar… seteguk air.. dapat meredakan haus yang menyengat.. uluran tangan .. dengan membantu mengangkat jemuran tetangga… disaat hujan gerimis.. dapat mengurangi bebannya.. harus mencuci lagi… uang yang tak lebih dari 50.000 rupiah dapat memperpanjang kesempatan belajar seorang anak selama sebulan… dsb-dsbnya…

Karena itu… saya sangat berharap… segera akan ada gerakan nyata dari para insan-insan mulia. untuk membentuk supporting group… yang akan mendukung mereka-mereka yang membutuhkan… siapapun mereka… apakah.. dhuafa.., apakah anak berkebutuhan khusus,.. apakah korban kecelakan.. apakah.. penderita rawat inap… dalan setiap situasi..dengan ikhlas.. dengan tulus… dengan membawa Rahmat Allah… dengan cara-cara yang bisa kita lakukan… walaupun hanya hal yang sangat kecil dan remeh…

Sebaik-baiknya… manusia adalah yang berguna bagi manusia yang lain….

(Mas Farhan… saya berdoa… saya berharap… saya mendukung… agar supporting group ini.. akan segera terwujud… Amin Ya Rabbil Alamin)

Comments (4)

Oleh-Oleh dari Talk Show ‘Anak Istimewa berkat Ibunda yang Kuat dan Istimewa”

Oleh-oleh dari Talk Show.. “Anak Istimewa karena Ibunda yang Kuat dan Istimewa”

Crowne Hotel Plaza, 29 November 2008.

Subhanallah… Alhamdulillah… DIA telah ijinkan saya untuk hadir (beberapa kali saya sempat maju-mundur dengan kebisaan saya… karena ada beberapa agenda lain dihari yang sama) dalam talk show ini saya, yang didampingi oleh putraku sayang.. berkesempatan untuk bertemu dengan ibu-ibu dan bapak-bapak hebat :
1. Ibunda Osha
2. Ibunda Idham
3. Ibu Ages
4. Om Farhan
5. Reza Gunawan.

Yang saya dapatkan dari talk show ini adalah :

1. Mempunyai Anak berkebutuhan khusus bukanlah sebuah “Vonis”…

2. Anak-anak berkebutuhan khusus pada dasarnya sama dengan anak-anak yang lain punya kelebihan dan juga punya kekurangan.

3. Jika seorang anak diperlakukan karena kekurangannya… maka dia tidak akan mampu mengatasi masalahnya dengan lebih baik bahkan akan cenderung makin “mengkerdilkan” diri.. tapi jika anak tersebut diperlakukan karena kelebihannya… dia akan lebih mampu untuk mengharagai diri dan berkembang maksimal dengan kelebihannya itu

4. Tidak penting sebab atau asal muasal datangnya “kekurangan” pada anak berkebutuhan khusus… apakah dari keluarga sang ayah ataukah sang ibu… Karena jika ini dijadikan pijakan untuk berfikir… justru akan timbul konflik baru antara sang ayah dan sang ibu.

5. Penerimaan terhadap keadaan anak secara utuh oleh keluarga terutama kedua orang tua (bukannya penolakan) adalah sebuah langkah dasar dan utama untuk anak mengatasi kekurangannya.

6. Setiap anak mempunyai kelebihan yang dapat (dengan jeli) diangkat oleh orang tua menjadi sisi hidup yang akan menjadikannya mampu mandiri.

7. Seringkali “rasa sakit” karena “berbeda” tidak dimiliki oleh anak-anak berkebutuhan khusus.. tetapi ditanggung oleh anggota keluarga yang lain.. Demikian sehingga rasa sakit ini… menimbulkan dampak yang berat dalam suasaan kekeluargaan. Dan menyebabkan “penyakit” baru..

8. Dalam melihat masalah (untuk mengatasi rasa sakit itu) kita tidak boleh melihatnya dengan pandangan mikroskopis (terlalu dekat dan detil) tetapi harus dengan pandangan telekopis… (jauh dan menyeluruh) Dengan demikian persoalan karena memiliki anggota keluarga yang berkebutuhan khusus dapat menjadi lebih ringan…

9. Orang tua dari anak-anak yang berkebutuhan khusus… jika memerlukan… sebaiknya juga menjalani terapi… agar dapat lebih membantu kesembuhan anak.

10. Setiap orang dalam keluarga yang mempunyai anak berkebutuhan khusus.. tetap punya hak untuk mendapat dan diperlakukan secara layak… sebagaimana mestinya.. Sehingga semestinya… sesekali ada waktu luang untuk membangun hubungan baik… secara pribadi… antara kedua orang tua… ibu dengan sang kakak, ibu dengan sang adik.. ayah dengan sang kakak , ayah dengan sang adik ataupun diantara kakak dan adik sendiri. Jadi tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, penolong, pengasuh, pembimbing, dsb dari sang anak yang berkebutuhan khusus.

11. Hanya ibu-ibu yang berbahagia yang dapat menjadi fasilitator bagi anak-anak yang berbahagia.

12. Perlunya supporting group bagi keluarga-keluarga dengan anggota keluarga yang berkebutuhan khusus…

Cerita-cerita yang berkesan adalah… curahan hati dari :

1. Ibunda Osha… (Sekarang Osha sudah bersekolah di UGM jurusan Arkeologi)
Ibunda ini menceritakan bagaimana kondisi-kondisi tidak mudah yang dihadapi oleh putranya… dari bullying, meminta mukena karena.. terlalu dekat dengan anggota keluarga yang perempuan.. sehingga kehilangan figure laki-laki, sulitnya penerimaan keluarga hingga belum ada informasi yang memadai (waktu itu awal tahun 90-an) sehingga untuk mendeteksi keautisannya.., Osha baru mendapatkan kepastian disaat ia sudah berumur 8 tahun / kelas 2 SD. Satu hal yang sangat saya garis bawahi adalah… Ia mengajarkan untuk secara cermat mengamati minat dari anak-anak. Osha.. sejak umur 5 tahunan (menurut sang ibu) sangat gemar terhadap segala macam bentuk musik.. bahkan jingle iklan di TV.. dapat ia tirukan dengan tepat.. ucapan maupun nadanya.. (berkembang sesuai dengan perkembangan yang dicapainya) Berdasarkan pengamatan ini, akhirnya sang ibu mengenalkan alat musik pada putra tercinta.. Inipun tidak mudah… dengan ketekunan dan perjuangan… (sampai sang ibu juga ikutan les.. musik loo untuk bias membantu sang anak belajar dirumah) akhirnya… sekarang ini…sang anak yang pada awalnya… didiagnosa.. akan sulit berhasil dibidang akademis… ternyata.. dapat bersekolah di universitas negeri favorit… plus dapat bermain biola dengan sangat baik.

2. Ibunda Idham… Subhanallah… ibu yang satu ini (berkali-kali ia sebutkan) merasa mendapat karunia berlebih… karena sejak awal… ia telah dikelilingi oleh supporting group yang cukup kuat… ibunda… ibu mertua.., ipar-ipar juga suami dan teman-temannya… sangat banyak membantunya mengasuh Idham. Idham sekarang berusia 10 tahun… di diangnosa sebagai penyandang down syndrome. Sekali lagi.. alur kehidupan berbicara lain.. sang anak mempunyai bakat melukis… (sama seperti Oscar awalnya juga tidak mudah) Ketekunannya untuk mengerjakan lukisan hingga selesai.. tidak serta merta dapat dilakukannya .. ya ia memang perlu bimbingan dan kesabaran. Bahkan… satu hal lagi… (yang disampaikan dengan binar-binar mata bahagia sang bunda) Idham… piawai dalam berenang dengan berbagai macam gaya renang. Yang saya yakin tidak semua anak normal dapat melakukannya.

3. Ibu Lulu… Ibu yang masih kelihatan muda dan cantik ini… dikarunia Allah sepasang putra kembar Izzat dan Izzan… Saat itu ia memperkirakan putra-putranya berpredikat “GIFTED” Takdir Allah berbicara… ketika sang putra Izzan dioperasi… ternyata ada tindakan dalam ruang operasi… (yang menurut penjelasan sang ibu) mengakibatkan ananda Izzan menderita Cerebal palsy… diusia yang ke 22 bulan. Sedang putra yang seorang Izzat… subhanallah..bertahan dengan keadaan Gifted. Sejak itu.. disamping rajin mencari informasi yang diperkirakan akan membantu kesembuhan putranya… Si Ibu.. dengan rajin… bolak-balik dari kota tempat tinggalnya (Purwakarta) ke Bandung.. setiap hari… untuk terapi Izzan.. dalam rangka pengobatan CP dan terapi bagi Izzat untuk mengarahkan Giftednya. Subhanallah.. saya sangat terharu dengan perjuangan si Ibu.. Memang apa yang beliau lakukan.. masih.. perlu doa dan kekuatan yang sangat besar (Semoga Allah senantiasa selalu mendampingimu… membimbingmu… memberimu kekuatan super extra.. karena… saya percaya dibalik semua ini… Allah menginginkan Engkau menjadi wanita mulia yang akan menjadi penghuni SurgaNYA) Yang perlu saya garis bawahi dari Ibu Lulu ini adalah… para ahli.. yang saat itu ada diatas podium… melihat ada sebuah sisi dari sang ibu… yang (mudah-mudahan saya salah ya…) perlu diperhatikan.. yaitu.. melihat keadaan anak sebagai sebuah situasi yang terlalu dekat dan detail (dengan pandangan mikroskopis) sehingga cenderung mulai mengabaikan.. hak dan kewajibannya terhadap diri sendiri… Dengan saran sang pakar Reza Gunawan… sang Ibu.. diminta untuk undur beberapa langkah… dan melihat kondisi sang anak dengan pandangan teleskopis…dengan demikian akan lebih mudah dan lebih bermanfaat… pada kesembuhan sang anak.

4. Seorang wanita muda.. bernama Moora.. yang dengan tulus..menyampaikan.. kekhawatirannya… pada keponakan.. karena perhatian dari ayah dan ibu dianggapnya kurang maksimal.. dalam membantu kesembuhan sang anak… Hmm.. Memang agak sulit… karena.. kapasitasnya yang “hanya” sebagai adik… tetapi… dengan segala hormat.. apa yang disampaikan oleh sang tante ini… cukup membuka mata .. bahwa selain keluarga utama… orang-orang yang masih ada hubungan kekeluargaan atau bahkan hanya sebatas teman… banyak yang memiliki perhatian dan simpati cukup tinggi.. .

5. Seorang Terapis wicara… berbicara tentang.. ketidak nyamanannya karena banyak orang tua yang dapat membawa anaknya terapi… dengan sikap.. lebih tahu dan lebih pintar dari sang terapis… (ha ha ha… kayaknya aku juga nih…. Maaf ya… para terapis dan mantan terapis aini… ini penyakit menular yang dimiliki dan menyebar diantara para orang tua siiiihhhh…. Maaf… maaf) Mudah-mudahan… ini segera dapat dirubah ya… dan saran untuk para terapis.. dari bu Ages.. adalah jangan hiraukan.. pendapat orang tua.. selama apa yang kalian yakini benar adanya.. dan tunjukkan dengan hsil terapis… yang makin baik dan baik.. Oya… sebaiknya juga mengkomunikasikan masalah ini secara terbuka dengan para orang tua untuk menyelesaikan masalah.

6. Satu hal… yang sebenarnya… rada bikin saya geemees… ketika sekelebat.. saya mendengar… seorang ayah dari anak berkebutuhan khusus sedang diwawancarai oleh sebuah harian ternama.. Yah.. mudah-mudahan memang karena ketika tahuan si wartawan ya… abisan… dengan tenangnya… dia menanyakan.. kenapa sang anak kok tidak bersekolah… waktu dijelaskan oleh sang ayah.., bahwa sang anak hingga saat ini masih di special center.. untuk pengobatan dan persiapannya menuju kesekolah umum… Eh,… dianya nanya lagi… kelas berapa pak… kira-kira nanti kalau sekolah… HIIIIHHHH… Ini anak berkebutuhan khusus… bukan anak normal… jangan memojokkan orang tua dengan pembicaraan yang bikin orang tua akhirnya.. berada dalam situasi sulit untuk menjawa… apalagi untuk memutuskan masa depan anaknya…

Yeah.. kok jadinya saya sewot ya…. ???

Ok.. cerita yang terakhir ini saya angkat… hanya merupakan upaya saya.. untuk mengetuk hati para orang awam.. untuk lebih mengetahui dan melihat sisi anak-anak berkebutuhan khusus… agar mereka lebih punya empati dan tenggang rasa…

So… kalau boleh saya simpulkan (lagi ya… nambahin yang diatas) Bahwa memang betul… anak-anak yang Istimewa… bukanlah sebuah kutukan atau hukuman atas sebuah dosa turunan dari orang tua.. tetapi… justru.. untuk memunculkan “keistimewaan” dari masing-masing orang tua.. Oleh karena itu menjadi orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus haruslah… “KUAT”… Memang inipun bukanlah hal yang mudah.. karena dalam perjalanan hidup sebagai manusia biasa.. pasti kita akan mengalami keadaan yang lelah.., putus asa.., merasa salah langkah… ragu-ragu.. dsb-dsbnya… karena itulah… sebetulnya kami sangat membutuhkan “supporting club”… untuk menyokong… dengan dukungan yang nyata.. (Saya berdoa… semoga… supporting club ini akan segera terwujud.. sebagaimana yang sempat saya bicarakan dengan yang sangat baik hati… bapak dari seorang anak yang menyandang autistic pula… “OM FARHAN”… Dengan semangat.. beliau berkata… insya Allah… Insya Allah… sedang dirintis… baru saja tadi pagi saya bicarakan…. Dengan oarng-orang yang mau bergerak dalam komunitas itu… Ya Om Farhan… Alhamdulillah… Jazakallahu khairan katsiran)

BE PROUD BEING A SPECIAL MOM FROM A SPECIAL KID…

ALLAH BLESS YOU ALWAYS….

Comments (5)

Niatan

Pernah ketemu manusia yang nyebelin….????
Nyebelin… karena dalam bertindak suka gak jujur..
Mulut maaaniiissss…
Ngomong… memikat… mengajuk hati..
Tapi sebetulnya tujuannya beda…. Niatannya… berlawanan… mau menyakiti hati.

Coba baca kalimat-kalimat dibawah ini :
1. Mbak… anaknya udah gede ya…. sayang ya… belum bisa sekolah… masih ada masalah dengan autisnya ya????
2. Wah… saya sih gak sepinter si-mbak kalo masak… maklum bisanya cuman nyemplungin bumbu.. eh.. tapi kok alhmadulillah.. masakanku yan cuma bumbu cemplung laku lo.. dibazar kemarin… Lah.. si embak gimana??? sayang ya… ayam bakar si-mbak yang rasanya sedap.. kok…masih banyak.. waktu penutupan bazar ya….
3. Yah… saya sih… cuman bisa beli mobil.. yang ala kadarnya… gak kayak punya mbak… mobilku miiirrriiinnng gitu lo harganya… memang sih… interiornya yang lumayan… udah ada TV.. dengan monitor disetiap tempat duduk…, sound systemnya juga cukup baaaggguuusss.

Coba bandingkan dengan kalimat ini.
1. Wah alhamdulillah… sekarang si-adik udah banyak perkembangannya… mudah-mudahan bisa cepat sekolah ya…
2. Mbak sabar ya… kalau kemarin di bazar ayam bakarnya kurang laku… Mudah-mudahan Allah akan memudahkan rezeki mbak ya…
3. Alhamdulillah… saya dapat rejeki untuk beli mobil… semoga saya dapat menjaga amanah ini dengan baik.

Yah… terasa gak… bedanya???

Begitulah… banyak orang-orang yang memiliki niatan “terselubung” dalam menyampaikan sebuah pesan. Terutama- pesan-pesan yang bertujuan mengkritik atau menjatuhkan kredibilitas seseorang..

Dan.. lebih banyak kaum wanita yang sangat sering “bermain” kata dengan cara-cara ini… dengan pertimbangan cara seperti ini lebih cocok dengan karakter kewanitaan…
Sebenarnya… (walaupun rada jengkel juga nge-denger ucapan-ucapan yang bernada seperti itu..) saya merasa kaaasssiiihhhhaaan…

1…. Sering.. orang gak “nyambung” dengan apa maunya… karena kalimat-kalimat tersebut punya 2 arti.. sehingga sah sah aja… jika orang mengambil satu arti saja dibandingkan yang lainnya..

2. Dalam QS Al Baqarah (2) :225

Allah tidak akan meminta pertanggungjawabanmu atas sumpah-sumpah yang tidak kamu sengaja, tetapi DIA akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang disengaja oleh hatimu.

Yup… jika kita melakukan sesuatu dan hanya mendapatkan (kemungkinan besar) adalah kesia-siaan… Ugh,… semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan demikian. Apalagi dengan perhitungan “pertanggungjawaban” dari Allah….

Saya lebih senang menyarankan untuk selalu bicara apa adanya… jujur sesuai dengan niatan yang ada didalam hati… kalo perlu diadanya cek.. untuk memastikan apakah kalimat yang sudah kita katakan tersebut diterima dengan baik ataukah masih menimbulkan penafsiran ganda. Jika masih ada penafsiran.. yah… di sampaikan kembali tentunya ya…. Kadang kala… kalimatnya sudah baik.. tapi bahasa tubuhnya… dengan mencibir.., buang muka atau cemberut atau yang lainnya… tetap saja bikin yang diajak bicara sssaaakkkkiittt hati jadi jangan lupa…syarat utama adalah… berbicara dengan bahasa dan sikap yang baik sesuai akan niatan yang ada… sesuai tuntutan Islam.

Komentar dimatikan

Hari Guru…

25 November 2008… (besok ya….?) = Hari guru.

Sosok-sosok guru yang ada di ingatanku :

1. Ibu Sus + Ibu Mamik… guru Taman Kanak-kanak
Waktu itu… aku kesekolah… hanya ingin main… (karena aku sudah bisa baca, udah bisa nulis dari rumah, jadi belajar disekolah bukan hal yang “menantang” buatku) aku jauh lebih lasak dari anak-anak yang lain…baju gak pernah rapih dan bersih… baauuu lagi… Maaf ya bu… saya nyusahin… terus… Senyum Ibu, lembutannya elusan tangan dikepalaku… gak pernah ku lupakan. Jazakumullahu khairan katsiran… wahai ibu-ibu mulia berdua.

2. Bp Supratikno… Guru SD yang lebih dari sekedar guru… Bersama beliau saya “loncat kelas”.. sehingga SDku hanya 5 tahun… Jasamu selalu ada dalam rongga dadaku.

3. Bp. Hasan… Guru Agama SD.. Saya gak pernah lupa… betapa mempesonanya.. sifat-sifat Allah yang beliau sampaikan… Lagu yang beliau ajarkan… untuk menghafal Asmaul-Husna… masih saya ingat sampai sekarang… dan kuajarkan pada anak-anakku… Alhamdulillah… merekapun merasa senang dan terbantu menghafalkan Asmaul Husna dengan lagu itu. Where are you now…?

3. Bp. Bambang.. Guru Karate… Hmm beliau “membuka” dunia lain untukku… Sayang.. keinginan beliau untuk mengemblengku.. sampai “JADI”… batal karena kedua orang tuaku menutuskan untuk menghentikan latihan-latihan ini karena menilai… aku makin jadi tomboy. He he he… batal deh jadi atlet karate… Lost contact…

4. Ibu.. Susi… Guru SMP yup… She’s great… She’s fantastic… Beliau ini guru PKK.. yang berhasil “mancing” kemampuanku dalam masak memasak… Nilai di Raport untuk PKK dapat 9. (mana ada coba… raport 9 di PKK… fuih….) Dan… ada bagian dalam cerita hidup keluarga.. dimana usaha warung makanan dan catering ikut berperan dalam membuat roda keluarga tetap bergulir… Jazakillah khairan katsiran.

5. Ibu Mar… Guru Kimia SMA… Oh… She’s like mom for me…. (psss.. beliau kebetulan “ternyata” juga sahabat almarhum bapakku disaat kuliah). Gak jarang beliau mengajakku berbicara dari hati ke hati.. mengundangku kerumahnya… memberi semangat… (I miss YOu.. my dearest teacher…) Semoga Allah akan memberinya kelapangan tempat disampingNYA… karena beliau telah dipanggil yang Maha Kuasa..
(Dihari Pemakamannya… Subhanallah… murid-muridnya… yang sudah puluhan tahun tak bertemu daaattaanng… Sungguh apa yang ia lakukan padaku dengan tulus.. ia lakukan pada seluruh muridnya tanpa kecuali ) Yah… She’s not just an ordinary teacher… She’s the special one…. (Ada cerita lain yang membekas.. adalah ketika… murid kimia terpandai dikelasku saat itu… dinikahkan..orang tuanya.. waktu lulus SMA.. karena alasan tradisi… padahal dia diterima PMDK di fakultas kimia sebuah universitas negeri terpandang. Ibu Mar… dengan gigih… memperjuangkan kesempatan bersekolah untuk temanku tadi… yah…memang tidak berhasil… temanku tetap menikah.. Tapi… apa yang bu Mar lakukan… kepeduliannya terhadap murid-murid… belum ada satupun yang menandingi dihatiku)

6. Bp. Har.. Guru Bahasa Indonesia… Guru satu ini bapak kedua untuk murid-muridnya… Beliau perhatian banget… Murid-muridnya… gak ada yang merasa sungkan main ke rumah beliau…

7. Dosen-dosenku… Hmmm kalau kuingat… ada masanya… keselll kalau mesti ngantri asistensi tugas.. berjam-jam didepan pintu ruang dosen…padahal dosennya… gak tahu kemana dan kapan datangnya… Tapi.. sekarang semua itu… justru jadi pokokku untuk kuat berdiri… gak jadi mudah putus asa… gak mudah kalah… ketika menghadapi masalah besar… gak mudah mundur.. ketika harus berjuang…
Jazakumullahu khairan katsiran

8. Pak Im… Ustadz yang ngajar ngaji dirumah waktuku kecil…. Kebayang gak sih… 4 anak yang lumayan “bandel”.. selalu cari alasan absen kalau sudah waktunya ngaji… Subhanallah… kesabaran beliau… Sungguh tanpa beliau… mungkin sampai saat ini saya masih “buta huruf hijaiyah”.. Ini memang figur guru yang istimewa buatku. Jazakallahu khairan katsiran

9. My Imam, Pak Ma’ruf, Pak Syamsir, Pak IIng, Pak Ali, Pak Amir, Almarhum Bu Tati… dsb.. adalah begitu banyak guru yang telah menorehkan “keteguhan hatiku dalam berIslam”… Sampai sekarang… beliau-beliau adalah pelita dalam hatiku… selalu teruss. dan terusss memberikan ku semangat dan “penerangan” untuk terus melangkah mencari cahaya Allah… Jazakumullahu khairan katsiran

Tanpa guru gak ada yang bisa jadi “seseorang”… Guru punya artian yang sangat luas… Ibu adalah guru pertama bagi anak-anaknya… guru dan dosen adalah “pengajar resmi” yang didatangi anak-anak untuk menimba ilmu… sedangkan kehidupan juga menjadi guru bagi setiap manusia.

Penghargaan dan ucapan terima kasih… tentu saja tidak cukup untuk semua yang telah berjuang mati-matian… mendedikasikan seluruh hidupnya agar dapat berperan besar mendidik…

Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai guru-guru… memberikan kesempatan mereka untuk mengembangkan seluruh potensi hidupnya.. menjadi fasilitator bagi masa depan gemilang anak-anak bangsa.

Saya mungkin tidak tepat jika… mengatakan … bahwa banyak guru sekarang yang tidak lagi seperti sosok-sosok guru dalam ingatanku.. tapi ini jujur… nyata. Saya merasa sekarang-sekarang ini banyak hal yang lebih menarik bagi seorang guru untuk dikejar… dibandingkan dengan menjadi guru bagi anak-anak didiknya.

SELAMAT HARI GURU…
Semoga segera tercapai kesejahteraan untuk para guru
Semoga anak-anakku juga mendapat kesempatan memiliki guru-guru lebih hebat dariku
Semoga… bangsa ini segera melahirkan generasi Qur’ani yang sangat hebat berkat didikan guru-guru

Comments (2)

Older Posts »