Archive for Dunia Autis

Permata bunda

permata-bunda

Akhirnya… rangkaian film “PERMATA BUNDA”  ini berakhir sudah….  Ceritanya.. yang mengungkapkan tentang kisah nyata anak autis.. sejak awal kelahiran hingga.. dapat mandiri.. sangat menyentuh hati. Keterlibatan total seorang ibu.. dalam kisah ini.. sungguh-sungguh bikin saya punya perasaan :

Film ini… bikin aku kuat…
Film ini… bikin aku semangat
Film ini … bikin aku mengevaluasi diri
Film ini.. bikin aku punya pengharapan
Film ini… bikin aku berusaha makin berarti bagi anak-anak + suamiku
Film ini… bikin aku makin yakin Aini bisa mandiri dan bertanggungjawab kelak
Film ini… masuk dalam daftar film favoritku…

Ini adalah sountrack lagunya…

Ibunda punya sebuah mimpi

Sebuah hasrat sederhana

Semoga ananda selalu sehat dan bahagia

Kamu buah hati ku

Tak peduli angin dan badai

Kita akan tetap

Kamu buah hati ku

Benih kasih sayang menyebar perlahan-lahan

Kamu buah hati ku

Benih kasih sayang menyebar perlahan-lahan

Ada kami semua

Iklan

Komentar dimatikan

Supporting Group

Jika saya boleh jujur… untukku supporting group kucari…yaitu ketika

Ada masanya.. dimana.. segalanya… begitu runyam…

Aku.. buuutttuuuhhhh dibantu.. hingga kerunyaman berlalu

Ada masanya.., dimana dada ini … begitu sesak…

Aku ingin.. aku berharap…. ada yang mendengarkan..sampai.. aku menjadi lega

Ada masanya… aku ingin menata serpihan diri…

Aku ingin… aku berharap….ada seseorang yang mau “mengantikanku”.. menjaga anakku…hingga aku mejadi utuh lagi

Ada masanya… aku begitu tak berdaya..

Aku ingin.. aku berharap…ada yang mau memapahku.. hingga aku dapat tegak berdiri lagi diatas kedua kakiku..

Ada masanya… ketika masalah financial menjadi masalah besar

Aku ingin… aku berharap.. ada yang mau mengulurkan tangan.. membantuku keluar dari belenggu ini.

Kalimat-kalimat diatas ini pasti serriiinngg diucapkan (dalam hati) waktu… seseorang dalam situasi yang tak tertahankan.. dan… pertolongan seolah hanya sebuah fatamorgana di belahan dunia yang lain…

Yah…Jika… saya boleh bilang… jujur..

Di acara talk show.. kemarin.. ada sisi yang menggigit hatiku.

Yang pertama adalah…

Yah.. yang hadir disana.. pasti lah orang-orang yang punya kelebihan. Kelebihan kemauan sehingga dapat hadir.. Kelebihan percaya diri.. sehingga “berani” datang. Kelebihan semangat.. karena tahu.. ada yang bisa didapat dengan datang kesana.. Kelebihan dan kelebihan yang lain…

Saya diam… terdiam… membayangkan… ibu-ibu yang lain.. yang punya anak-anak berkebutuhan khusus juga… Mereka yang dari situasi yang lebih sulit.. misalnya.. anak-anak mereka.. masih.. sangat bergantung pada ibundanya… tantrum.. flapping… hiperaktif .. dsbnya… atau bahkan yang berekonomi lemah… Jika mereka mendengar dan sangat ingin hadir… apakah mereka punya waktu? Punya tenaga? Punya keberanian untuk melangkah hadir… kesana… sebuah hotel mewah dipusat kota Jakarta???

Nyuuut… dada ini jadi sakit.. dengan rasa itu…

Padahal.. mereka sungguh-sungguh ibu istimewa.. yang tidak hanya mengasuh anak berkebutuhan khusus.. tapi juga sekaligus sebagai.. pembantu rumah tangga, baby sister, terapis, sopir pribadi.., bahkan.. pencari dana untuk pengobatan.. sekaligus.. sebagai “penjembatan” hubungan antara seluruh anggota keluarga..

Saya akan bilang… “Merekalah… sesungguh-sungguhnya ibu-ibu yang Istimewa dan kuat”

Yang kedua… adalah

Budaya Indonesia sebetulnya… sangat mendorong manusia untuk bersikap berpura-pura (bu.. Ages saya nyontek ya… ucapan ibu)… Suka sekali menutupi apa-apa yang tidak baik.. hanya menyajikan yang baik-baik… bahkan kalau bisa memoles yang tidak baik menjadi baik.. HANYA AGAR.. TIDAK DINILAI MEMPUNYAI MARTABAT YANG RENDAH….

Padahal.. dibalik itu,.. sebuah bencana besar.. bisa terjadi..

Yah… sebuah masalah ketika diabaikan dapat menghilang.. jika masalah ini tidak berkaitan dengan hal-hal yang lain atau dengan pribadi yang lain.. Tetapi sebuah masalah yang diabaikan.. justru dapat menjadi sebuah awal dari bencana.. jika ternyata.. bersinggungan dengan masalah atau individu lain.

(Wah… apa an sihhh??? Kok mbulet???)

Contoh.. ketika hati seorang ibu.. yang “MENOLAK” kekurangan anaknya yang berkebutuhan khusus… diabaikan.. dengan cara.. melakukan banyak hal yang bertentangan.. misalnya dengan tidak mau “memunculkan” sang anak…. Apa yang terjadi… ini akan menjadi booommmm waktu… jika ternyata makin membuat anak makin terpuruk.. jika ternyata ini mengakibatkan.. hubungan antara anggota keluarga menjadi buruk..

Tetapi… jika penolakan ini hanya sebatas dihati… bisa jadi hilang… karena akhirnya tertutupi oleh kesibukannya mengobati sang anak… atau jika ini menimbulkan masalah besar paling-paling hanya akan mengakibatkan sang ibu sakiiitttt (nyontek lagi nih… ucapannya mas Reza Gunawan)

Dua sisi yang saya tuliskan diatas… sebetulnya dapat diminimalisasi… jika dan hanya jika… paragraph pertama.. dapat terpenuhi….

Walah… Saya menulis itu… buka untuk meminta-minta… Insya Allah bukan…(yuuup… ini yang saya rasakan ketika saya mengucapkan ini didepan beberapa orang… pandangan yang… “IIIHHHH ELO… get uup dongg… selesaikan jangan menyek-menyek gitu……) Jika ini saya ucapkan 5 tahunan yang lalu… jujur saya akan katakan memang itu yang saya minta… tapi sekarang… alhamdulillah… dengan makin pintar dan besarnya aini… dengan makin besar dan dewasanya anak-anakku yang lain… yang sudah dengan tulus ikhlas… banyak meringankan beban ibundanya… mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus diri sendiri.. dsbnya saya berani bilangg… Insya Allah saya sudah melewati membutuhkan pertolongan malah… saya justru ingin menjadi bagian dari yang memberikan saat ini. Saya hanya ingin mengetuk… hati ini… juga hati para sahabat… bahwa… begitu banyak kesempatan untuk beramal.. kepada keluarga-keluarga yang mempunyai anak-anak berkebutuhan khusus… juga kepada sahabat-sahabat kita yang membutuhkan… dengan demikian … kita tidak akan memperbesar budaya menutupi-nutupi… karena ini akan memancing masalah yang lain… Yah.. jika ada telah ada supporting group… pasti “TERIAKAN MINTA TOLONG” akan dengan mudah dikeluarkan… banyak masalah yang dapat teratasi segera… tanpa menunggu jeda… tanpa menunggu persoalan akan menjadi BOOM WAKTU… Insya Allah… Kita pun bisa sangat berarti bagi sesama,,

Bukankah.. dalam berbagi … dalam memberi… tidak ada batasan khusus tentang apa yang akan atau dapat kita berikan??… seulas senyum.. tulus… dapat meringankan.. hati yang bergemuruh… Elusan tangan lembut di punggung… dapat menembus hingga kedalam hati yang paaallliiinggg dalam… sebungkus.. nasi.. dengan lauk seadanya.. dapat menghilangkan rasa lapar… seteguk air.. dapat meredakan haus yang menyengat.. uluran tangan .. dengan membantu mengangkat jemuran tetangga… disaat hujan gerimis.. dapat mengurangi bebannya.. harus mencuci lagi… uang yang tak lebih dari 50.000 rupiah dapat memperpanjang kesempatan belajar seorang anak selama sebulan… dsb-dsbnya…

Karena itu… saya sangat berharap… segera akan ada gerakan nyata dari para insan-insan mulia. untuk membentuk supporting group… yang akan mendukung mereka-mereka yang membutuhkan… siapapun mereka… apakah.. dhuafa.., apakah anak berkebutuhan khusus,.. apakah korban kecelakan.. apakah.. penderita rawat inap… dalan setiap situasi..dengan ikhlas.. dengan tulus… dengan membawa Rahmat Allah… dengan cara-cara yang bisa kita lakukan… walaupun hanya hal yang sangat kecil dan remeh…

Sebaik-baiknya… manusia adalah yang berguna bagi manusia yang lain….

(Mas Farhan… saya berdoa… saya berharap… saya mendukung… agar supporting group ini.. akan segera terwujud… Amin Ya Rabbil Alamin)

Comments (4)

Oleh-Oleh dari Talk Show ‘Anak Istimewa berkat Ibunda yang Kuat dan Istimewa”

Oleh-oleh dari Talk Show.. “Anak Istimewa karena Ibunda yang Kuat dan Istimewa”

Crowne Hotel Plaza, 29 November 2008.

Subhanallah… Alhamdulillah… DIA telah ijinkan saya untuk hadir (beberapa kali saya sempat maju-mundur dengan kebisaan saya… karena ada beberapa agenda lain dihari yang sama) dalam talk show ini saya, yang didampingi oleh putraku sayang.. berkesempatan untuk bertemu dengan ibu-ibu dan bapak-bapak hebat :
1. Ibunda Osha
2. Ibunda Idham
3. Ibu Ages
4. Om Farhan
5. Reza Gunawan.

Yang saya dapatkan dari talk show ini adalah :

1. Mempunyai Anak berkebutuhan khusus bukanlah sebuah “Vonis”…

2. Anak-anak berkebutuhan khusus pada dasarnya sama dengan anak-anak yang lain punya kelebihan dan juga punya kekurangan.

3. Jika seorang anak diperlakukan karena kekurangannya… maka dia tidak akan mampu mengatasi masalahnya dengan lebih baik bahkan akan cenderung makin “mengkerdilkan” diri.. tapi jika anak tersebut diperlakukan karena kelebihannya… dia akan lebih mampu untuk mengharagai diri dan berkembang maksimal dengan kelebihannya itu

4. Tidak penting sebab atau asal muasal datangnya “kekurangan” pada anak berkebutuhan khusus… apakah dari keluarga sang ayah ataukah sang ibu… Karena jika ini dijadikan pijakan untuk berfikir… justru akan timbul konflik baru antara sang ayah dan sang ibu.

5. Penerimaan terhadap keadaan anak secara utuh oleh keluarga terutama kedua orang tua (bukannya penolakan) adalah sebuah langkah dasar dan utama untuk anak mengatasi kekurangannya.

6. Setiap anak mempunyai kelebihan yang dapat (dengan jeli) diangkat oleh orang tua menjadi sisi hidup yang akan menjadikannya mampu mandiri.

7. Seringkali “rasa sakit” karena “berbeda” tidak dimiliki oleh anak-anak berkebutuhan khusus.. tetapi ditanggung oleh anggota keluarga yang lain.. Demikian sehingga rasa sakit ini… menimbulkan dampak yang berat dalam suasaan kekeluargaan. Dan menyebabkan “penyakit” baru..

8. Dalam melihat masalah (untuk mengatasi rasa sakit itu) kita tidak boleh melihatnya dengan pandangan mikroskopis (terlalu dekat dan detil) tetapi harus dengan pandangan telekopis… (jauh dan menyeluruh) Dengan demikian persoalan karena memiliki anggota keluarga yang berkebutuhan khusus dapat menjadi lebih ringan…

9. Orang tua dari anak-anak yang berkebutuhan khusus… jika memerlukan… sebaiknya juga menjalani terapi… agar dapat lebih membantu kesembuhan anak.

10. Setiap orang dalam keluarga yang mempunyai anak berkebutuhan khusus.. tetap punya hak untuk mendapat dan diperlakukan secara layak… sebagaimana mestinya.. Sehingga semestinya… sesekali ada waktu luang untuk membangun hubungan baik… secara pribadi… antara kedua orang tua… ibu dengan sang kakak, ibu dengan sang adik.. ayah dengan sang kakak , ayah dengan sang adik ataupun diantara kakak dan adik sendiri. Jadi tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, penolong, pengasuh, pembimbing, dsb dari sang anak yang berkebutuhan khusus.

11. Hanya ibu-ibu yang berbahagia yang dapat menjadi fasilitator bagi anak-anak yang berbahagia.

12. Perlunya supporting group bagi keluarga-keluarga dengan anggota keluarga yang berkebutuhan khusus…

Cerita-cerita yang berkesan adalah… curahan hati dari :

1. Ibunda Osha… (Sekarang Osha sudah bersekolah di UGM jurusan Arkeologi)
Ibunda ini menceritakan bagaimana kondisi-kondisi tidak mudah yang dihadapi oleh putranya… dari bullying, meminta mukena karena.. terlalu dekat dengan anggota keluarga yang perempuan.. sehingga kehilangan figure laki-laki, sulitnya penerimaan keluarga hingga belum ada informasi yang memadai (waktu itu awal tahun 90-an) sehingga untuk mendeteksi keautisannya.., Osha baru mendapatkan kepastian disaat ia sudah berumur 8 tahun / kelas 2 SD. Satu hal yang sangat saya garis bawahi adalah… Ia mengajarkan untuk secara cermat mengamati minat dari anak-anak. Osha.. sejak umur 5 tahunan (menurut sang ibu) sangat gemar terhadap segala macam bentuk musik.. bahkan jingle iklan di TV.. dapat ia tirukan dengan tepat.. ucapan maupun nadanya.. (berkembang sesuai dengan perkembangan yang dicapainya) Berdasarkan pengamatan ini, akhirnya sang ibu mengenalkan alat musik pada putra tercinta.. Inipun tidak mudah… dengan ketekunan dan perjuangan… (sampai sang ibu juga ikutan les.. musik loo untuk bias membantu sang anak belajar dirumah) akhirnya… sekarang ini…sang anak yang pada awalnya… didiagnosa.. akan sulit berhasil dibidang akademis… ternyata.. dapat bersekolah di universitas negeri favorit… plus dapat bermain biola dengan sangat baik.

2. Ibunda Idham… Subhanallah… ibu yang satu ini (berkali-kali ia sebutkan) merasa mendapat karunia berlebih… karena sejak awal… ia telah dikelilingi oleh supporting group yang cukup kuat… ibunda… ibu mertua.., ipar-ipar juga suami dan teman-temannya… sangat banyak membantunya mengasuh Idham. Idham sekarang berusia 10 tahun… di diangnosa sebagai penyandang down syndrome. Sekali lagi.. alur kehidupan berbicara lain.. sang anak mempunyai bakat melukis… (sama seperti Oscar awalnya juga tidak mudah) Ketekunannya untuk mengerjakan lukisan hingga selesai.. tidak serta merta dapat dilakukannya .. ya ia memang perlu bimbingan dan kesabaran. Bahkan… satu hal lagi… (yang disampaikan dengan binar-binar mata bahagia sang bunda) Idham… piawai dalam berenang dengan berbagai macam gaya renang. Yang saya yakin tidak semua anak normal dapat melakukannya.

3. Ibu Lulu… Ibu yang masih kelihatan muda dan cantik ini… dikarunia Allah sepasang putra kembar Izzat dan Izzan… Saat itu ia memperkirakan putra-putranya berpredikat “GIFTED” Takdir Allah berbicara… ketika sang putra Izzan dioperasi… ternyata ada tindakan dalam ruang operasi… (yang menurut penjelasan sang ibu) mengakibatkan ananda Izzan menderita Cerebal palsy… diusia yang ke 22 bulan. Sedang putra yang seorang Izzat… subhanallah..bertahan dengan keadaan Gifted. Sejak itu.. disamping rajin mencari informasi yang diperkirakan akan membantu kesembuhan putranya… Si Ibu.. dengan rajin… bolak-balik dari kota tempat tinggalnya (Purwakarta) ke Bandung.. setiap hari… untuk terapi Izzan.. dalam rangka pengobatan CP dan terapi bagi Izzat untuk mengarahkan Giftednya. Subhanallah.. saya sangat terharu dengan perjuangan si Ibu.. Memang apa yang beliau lakukan.. masih.. perlu doa dan kekuatan yang sangat besar (Semoga Allah senantiasa selalu mendampingimu… membimbingmu… memberimu kekuatan super extra.. karena… saya percaya dibalik semua ini… Allah menginginkan Engkau menjadi wanita mulia yang akan menjadi penghuni SurgaNYA) Yang perlu saya garis bawahi dari Ibu Lulu ini adalah… para ahli.. yang saat itu ada diatas podium… melihat ada sebuah sisi dari sang ibu… yang (mudah-mudahan saya salah ya…) perlu diperhatikan.. yaitu.. melihat keadaan anak sebagai sebuah situasi yang terlalu dekat dan detail (dengan pandangan mikroskopis) sehingga cenderung mulai mengabaikan.. hak dan kewajibannya terhadap diri sendiri… Dengan saran sang pakar Reza Gunawan… sang Ibu.. diminta untuk undur beberapa langkah… dan melihat kondisi sang anak dengan pandangan teleskopis…dengan demikian akan lebih mudah dan lebih bermanfaat… pada kesembuhan sang anak.

4. Seorang wanita muda.. bernama Moora.. yang dengan tulus..menyampaikan.. kekhawatirannya… pada keponakan.. karena perhatian dari ayah dan ibu dianggapnya kurang maksimal.. dalam membantu kesembuhan sang anak… Hmm.. Memang agak sulit… karena.. kapasitasnya yang “hanya” sebagai adik… tetapi… dengan segala hormat.. apa yang disampaikan oleh sang tante ini… cukup membuka mata .. bahwa selain keluarga utama… orang-orang yang masih ada hubungan kekeluargaan atau bahkan hanya sebatas teman… banyak yang memiliki perhatian dan simpati cukup tinggi.. .

5. Seorang Terapis wicara… berbicara tentang.. ketidak nyamanannya karena banyak orang tua yang dapat membawa anaknya terapi… dengan sikap.. lebih tahu dan lebih pintar dari sang terapis… (ha ha ha… kayaknya aku juga nih…. Maaf ya… para terapis dan mantan terapis aini… ini penyakit menular yang dimiliki dan menyebar diantara para orang tua siiiihhhh…. Maaf… maaf) Mudah-mudahan… ini segera dapat dirubah ya… dan saran untuk para terapis.. dari bu Ages.. adalah jangan hiraukan.. pendapat orang tua.. selama apa yang kalian yakini benar adanya.. dan tunjukkan dengan hsil terapis… yang makin baik dan baik.. Oya… sebaiknya juga mengkomunikasikan masalah ini secara terbuka dengan para orang tua untuk menyelesaikan masalah.

6. Satu hal… yang sebenarnya… rada bikin saya geemees… ketika sekelebat.. saya mendengar… seorang ayah dari anak berkebutuhan khusus sedang diwawancarai oleh sebuah harian ternama.. Yah.. mudah-mudahan memang karena ketika tahuan si wartawan ya… abisan… dengan tenangnya… dia menanyakan.. kenapa sang anak kok tidak bersekolah… waktu dijelaskan oleh sang ayah.., bahwa sang anak hingga saat ini masih di special center.. untuk pengobatan dan persiapannya menuju kesekolah umum… Eh,… dianya nanya lagi… kelas berapa pak… kira-kira nanti kalau sekolah… HIIIIHHHH… Ini anak berkebutuhan khusus… bukan anak normal… jangan memojokkan orang tua dengan pembicaraan yang bikin orang tua akhirnya.. berada dalam situasi sulit untuk menjawa… apalagi untuk memutuskan masa depan anaknya…

Yeah.. kok jadinya saya sewot ya…. ???

Ok.. cerita yang terakhir ini saya angkat… hanya merupakan upaya saya.. untuk mengetuk hati para orang awam.. untuk lebih mengetahui dan melihat sisi anak-anak berkebutuhan khusus… agar mereka lebih punya empati dan tenggang rasa…

So… kalau boleh saya simpulkan (lagi ya… nambahin yang diatas) Bahwa memang betul… anak-anak yang Istimewa… bukanlah sebuah kutukan atau hukuman atas sebuah dosa turunan dari orang tua.. tetapi… justru.. untuk memunculkan “keistimewaan” dari masing-masing orang tua.. Oleh karena itu menjadi orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus haruslah… “KUAT”… Memang inipun bukanlah hal yang mudah.. karena dalam perjalanan hidup sebagai manusia biasa.. pasti kita akan mengalami keadaan yang lelah.., putus asa.., merasa salah langkah… ragu-ragu.. dsb-dsbnya… karena itulah… sebetulnya kami sangat membutuhkan “supporting club”… untuk menyokong… dengan dukungan yang nyata.. (Saya berdoa… semoga… supporting club ini akan segera terwujud.. sebagaimana yang sempat saya bicarakan dengan yang sangat baik hati… bapak dari seorang anak yang menyandang autistic pula… “OM FARHAN”… Dengan semangat.. beliau berkata… insya Allah… Insya Allah… sedang dirintis… baru saja tadi pagi saya bicarakan…. Dengan oarng-orang yang mau bergerak dalam komunitas itu… Ya Om Farhan… Alhamdulillah… Jazakallahu khairan katsiran)

BE PROUD BEING A SPECIAL MOM FROM A SPECIAL KID…

ALLAH BLESS YOU ALWAYS….

Comments (5)

Pameran Lukisan

scannedimage-2

scannedimage

Wahai sahabat… mohon doa (dan bila punya kesempatan… datang ya…) dengan akan diadakannya pameran lukisan yang bertemakan :Kasih Bunda mengantar Pelukis Muda. Bertempat di Hotel Crown Plaza.. Jakarta.. Insya Allah hari ini akan mulai dibuka. Pameran ini diprakasai oleh sejumlah ibu yang peduli akan anak-anak.  Dibelakang mereka ada support dari  “RUMAH LUKISKU” dan “RUMAH BELAJAR”

Adapun Agenda acaranya

Pameran lukisan dengan tema Kasih Bunda mengantar Pelukis Muda
Rabu, 26 November 2008
Pembukaan pameran lukisan oleh Ibu Meutia Hatta – Menteri Peranan Wanita.

Undangan antara lain : dr. Melly Budiman – Ketua Yayasan Autisme Indonesia, para orang tua dan kerabat, kalangan guru, kalangan medis dan terapist, pecinta lukis dan pengusaha.

Inti acara : Pameran dan Lelang Lukisan (Coffe Time)

MC : Farhan dan David

Kamis, 27 November 2008
Pameran lukisan

Jumat, 28 November 2008
Pameran lukisan

Sabtu, 29 November 2008
Pameran dan lelang lukisan

MC : David

Talk show dengan tema “Anak Istimewa berkat Ibunda yang kuat dan Istimewa” , waktu 13.30 s/d 16.00. Bertempat di Crowne Plaza Hotel ruang tiara 1 & 2, Jl. Gatot Subroto kav 2-3 Jakarta. Pembicara Ibu Ages Soerjana dan Reza Gunawan. Moderator : Farhan.

Minggu, 30 November 2008
Pameran lukisan

Senin, 1 Desember 2008
Pameran lukisan

Selasa, 2 Desember 2008
Pameran lukisan

Para peserta pameran ini 29 anak, dengan 4 anak diantaranya adalah anak berkebutuhan khusus.  Sedang jumlah lukisannya kurang lebih ada 100 buah

Insya Allah juga sebagai penutup.. (pada tanggal 2 desember 2008) akan diadakan syukuran dan penjualan lukisan. Sedangkan sekuruh keuntungan yang didapat akan diserahkan  kepada Yayasan Autisme Indonesia.

Semoga dan semoga… masa depan anak-anak berkebutuhan khusus.. yang terus menerus diperjuangkan tanpa putus asa.. ini akan menjadi masa depan gemilang…

Ayo.. sahabat… kita bekerja sama… memberikan support untuk mereka…

Jazakumullahu khairan katsiran

Komentar dimatikan

“Rumah Autis”

rumah-autis1

Hari ini.. “perjalananku” sampai didepan pintu “RUMAH AUTIS”

Didaerah Jati bening tepatnya di bekakang sebuah supermarket di “KRUI”.. satu bangunan.. berlantai 2, dimaksimalkan sebagai  tempat terapi bagi anak-anak penyadang autis,  dengan lebih mengutamakan anak-anak yang berlatar belakang ekonomi lemah..  sesuai dengan tujuan pendirinya.

Dibawah asuhan Ustd Deka Kurniawan…  Rumah Autis.. berusaha peduli dan melakukan tidakan nyata untuk membantu anak-anak dhuafa penyadang autistic.  Dengan mengadakan pengelolaan dana secara subsidi silang..  murid-murid yang mempunyai kemampuan cukup pun diterima untuk di didik disini.

Berbeda dengan tempat terapi-terapi yang lainnya.. tempat yang satu ini.. memikirkan hingga kesiapan anak-anak didiknya untuk dapat hidup mandiri di masyarakat. Dengan menitik beratkan kemandirian anak-anak, dan kerjasama dengan beberapa perusahaan.. Rumah Autis ini berencana untuk memberi kesempatan pada anak-anak autistic yang telah mampu mandiri untuk bekerja dibawah pengawasan.

Saya yakin ini akan menjadi merupakan sebuah langkah besar… untuk dunia autis di Indonesia..  Langkah nyata bagi anak-anak autistic yang selama ini selalu diperlakukan sebagai warga negara kelas 2. Dan sungguh Allah Maha Kuasa.. apa yang sudah dimulai oleh Ustd Deka beserta Sang istri Ibu Leili ini.. akhirnya banyak menggugah banyak pihak…  sebagaimana tertulis dalam surat penghargaan berikut ini :

PENGHARGAAN DAN TERIMA KASIH

Yang Dirahmati Allah,
Para Donatur Rumah Autis
di-
Tempat

Assalamu’alaikum Wr Wb

Ba’da Salam,
Semoga Bapak/Ibu/Sdr/i beserta keluarga selalu dalam naungan hidayah dan dekapan kasih sayang Allah di sepanjang kehidupan dunia dan akhirat.

Dengan iringan rasa syukur kepada Allah, kami segenap keluarga besar Yayasan Cahaya Keluarga Kita (YCKK) menyampaikan penghargaan dan terimakasih atas perhatian dan dukungan Bapak/Ibu berupa kiriman sedekah/zakat/infaq. Sampai dengan tanggal 13 Oktober 2008, kami telah menerima donasi sebesar Rp. 135.485.000,00 (Seratus Tigapuluhlima Juta Empatratus Delapanpuluhlima Ribu Rupiah) baik berupa pemberian secara tunai maupun transfer ke rekening Kami.

Sungguh, kontribusi yang telah Bapak/Ibu curahkan di ladang kebajikan kita ini begitu berarti dalam upaya memberi uluran tangan bagi para dhuafa di dunia autisme. Apalagi fenomena autis dhuafa ini hingga sekarang belum mendapat perhatian serius dari masyarakat maupun negara.
Mudah-mudahan kemurahan hati Bapak/Ibu untuk dengan berinvestasi dalam program kemanusiaan yang belum banyak tergarap ini, akan menjadi amal shalih yang diridhai Allah dan membawa limpahan keberkahan. Mudah-mudahan pula, ukhuwah dan kebersamaan kita dalam amal mulia ini akan memberikan kemuliaan hidup di dunia serta akan langgeng sampai ke Surga. Amiin.

Jazakumullah Khairan Katsiiran
Wassalamu’alaikum Wr Wb

Bekasi, 15 Syawal 1429 H/ 15 Oktober 2008

Deka Kurniawan
Pimpinan

Sebenarnya jika melihat latar belakang berdirinya rumah autistic ini.. (yang ditulis oleh sorang ibu dalam blognya The Loving MOM

Cikal bakal Rumah Autis berasal dari keperdulian Ustad Deka Kurniawan, dua terapis anak autis di lembaga terapi autis dan dua orangtua anak penyandang autis alias special needs. Kelima orang inilah yang mempunyai cita-cita memberikan pembekalan hidup mandiri bagi anak2 penyandang autis yang berasal dari kalangan tidak mampu alias dhuafa.  Mereka prihatin dengan mahalnya biaya terapi dan pendidikan bagi anak autis, dimana hal ini tidak akan mampu dijangkau oleh orangtua penyandang autis kalangan bawah yang untuk sekadar makan sehari2 saja pun sudah kesulitan.

Ustad Deka dkk mulai mewujudkan rencana tersebut dari sebuah kamar di rumah Pak Deka untuk tempat terapi autis anak tidak mampu. Diawali dengan modal sebuah container berisi mainan sederhana sebagai alat peraga. Ketika peminatnya semakin banyak, Ustad Deka harus pindah dari rumahnya sendiri untuk memberikan tempat kepada anak2 terapi. Syukurlah, saat ini rumah autis sudah menempati sebuah rumah kontrakan sederhana yang disewa oleh European Union sebagai sumbangan kepada rumah autis selama 3 tahun.

Rumah Autis berbentuk rumah sederhana dengan 3 kamar, 1 dapur dan 1 kamar mandi. Ruang tamunya cukup luas dipenuhi dengan satu set permainan untuk merangsang kemampuan  Sensory Integracy (SI). Permainan SI ini merupakan sumbangan dari PT. LG pada ultahnya tahun lalu. Menurut Mbak Sari alat itu dipesan khusus langsung kepada pembuatnya Rp. 15 juta satu set. Sebelumnya LG menanyakan apa yang paling dibutuhkan anak2 di rumah autis, dan mereka meminta alat SI itu.  Permainan itu tdd puluhan matras, soft play perosotan, ayunan dan kolam bola, dan mini climbing wall. Semuanya diperlukan untuk terapi motorik dan konsentrasi anak2 special needs.

Visi dan Misi

Misi pendirian rumah autis adalah membantu anak2 autis dari kalangan tidak mampu untuk mendapat terapi yang murah, dan jika memungkinkan gratis samasekali.

Visinya adalah terapi yang diberikan akan membekali anak special needs supaya bisa mandiri dalam arti bisa mengurus diri sendiri, mengerti dan memahami konsep2 sederhana dalam hidup dan tidak selamanya bergantung kepada orang lain. Mereka tidak diarahkan untuk pintar secara akademis, karena bisa mandiri saja pun sudah merupakan tantangan dan perjuangan panjang.

Dalam jangka panjang, para aktivitis rumah autis memiliki cita2 mendirikan suatu center/pusat kegiatan bagi anak2 autis yang sudah beranjak dewasa. Dalam arti diciptakan suatu lingkungan yang akan menerima hasil karya dan memperkerjakan anak2 autis yang beranjak dewasa supaya mereka tidak terus menerus menjalani hidup tergantung kepada orang lain. Mereka bercita2 di center tersebut, akan ada kerajinan hasil karya anak autis yang dijual oleh anak2 itu sendiri dan uangnya untuk mereka sendiri juga. Intinya membuat mereka merasa berarti dan diakui karyanya dalam lingkungan yang menerima mereka apa adanya. Amin.., mudah2an cita2 mulia ini terwujud.

Ada 30 anak yang mengikuti terapi di rumah autis. 15 diantaranya tidak membayar semasekali karena memang tidak mampu. Dan 15 anak lagi membayar Rp. 40,000 per kunjungan. Rp. 40,000,- itu dipakai untuk: Rp. 10rb membayar terapis. Rp. 10rb membantu operasional. Rp. 10rb subsidi anak tidak mampu. Rp. 10rb untuk kegiatan2 bersama (biasanya tiap sabtu kegiatan sosialiasi bersama).  Bandingkan dengan terapi autis di luaran biasanya minimal ratusan ribu/visit.

Meskipun didirikan oleh seorang Ustad, Rumah Autis ini tidak hanya menampung anak2 beragama Muslim, tapi juga anak2 autis tidak mampu beragama non muslim.

Metode Terapi

Farel_light_autism_n_disleksia_1Setiap anak mendapat satu jam terapi dengan metode one by one dibimbing oleh satu terapis. Dalam satu jam itu, si terapis memperkenalkan berbagai konsep kepada anak dengan bantuan alat peraga, melalui permainan dan nyanyian maupun gerak. Dimulai dari konsep sangat sederhana seperti memperkenalkan anggota tubuh, fungsinya dll dll. Alat bantu yang dipakai antara lain flash cards (menggunakan metode glen doman).., aneka puzzle, boneka2, masak2an dll. Mirip seperti yang dilakukan seorang ibu kepada anak balitanya. Bedanya anak yang diterapi disana sudah berumur 3 – 12 tahun dan belum mengerti konsep.

Disamping itu, YCKK juga mempunyai sekolah full day untuk anak2 autis yang berlokasi tidak jauh dari rumah terapi ini. Sekolah itu dibuka hanya 3 kali seminggu karena keterbatasan biaya dan tenaga pengajar. Jam sekolahnya adalah full day alias jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Tenaga pengajar maupun terapis diperbolehkan mengajar di tempat lain 3 kali seminggu karena mereka dibayar sangat minim di rumah autis. Misalnya seorang bapak guru dari gunung putri, bogor digaji Rp. 200rb sebulan + Rp. 10,000 ongkos/datang + Rp. 5,000 uang makan/datang. Terapinya rata2 berlatar belakang pendidikan D3 dan mendapatkan on the job training untuk menangani anak autis.

Ada seorang dokter volunteer, namanya Dr Ira yang datang berkala (1 kali beberapa bulan) memeriksa kesehatan anak2 itu. Tapi mereka tidak diperiksa rutin dengan metode psikologi khusus anak autis karena ketiadaan biaya.

Selain itu YCKK juga baru sebulan ini membuka rumah autis untuk terapi anak2 autis tidak mampu di daerah Tangerang yang sama sekali belum mempunyai alat2 peraga dan permainan seperti yang sudah dimiliki sebagian di Pondok Gede.

Pendanaan

Anak2 autis disini datang dari kalangan menengah kebawah seperti anak dari orangtua yang berprofesi sebagai supir, tukang ojek dll. Kadang2 rumah autis bukan hanya membantu terapi anak2nya.., tapi juga uang kontrakan dan uang makan ikut dibantu, kalo anaknya sakit dibawa ke dokter, dll dll.

Yang menjadi masalah adalah pendanaan. Rumah autis ini belum mempunyai donatur tetap. Padahal biaya yang dibutuhkan operasional diantaranya membayar terapis, dll berkisar Rp. 6 juta sebulan.

5 dari anak autis itu merupakan anak asuh dari PT. DJARUM diberikan sumbangan tetap Rp. 100,000/anak/bulan untuk mendukung operasional rumah autis. Rumah Autis juga mendapat Rp. 300rb dari PT. Petro China tiap bulan. Meski demikian, tentu saja masih jauh dari kecukupan dananya.

Saat ini Pak Deka dkk juga sedang merintis system boarding / asrama bagi  anak2 autis di sekolah YCKK tersebut. Dengan boarding diharapkan anak2 itu bisa diterapi dengan lebih konsisten sepanjang hari untuk melatih mereka cepat mandiri dan mengejar ketinggalannya. Namun system asrama sangat mahal karena membutuhkan minimal Rp. 8 juta sebulan.

Membaca uraian-uraian dalam situs “RUMAH AUTISTIC”.. saya menyadari bahwa yang sudah dapat dilakukan sekarang masih berupa awal… jalanan masih teramat panjang… dan tentu saja biaya yang di butuhkan oleh anak-anak ini masih sangat banyak. Oleh karena itu.. dengan tulus saya sebagai salah seorang dari orang tua anak penyandang autistic.. yang sangat-sangat mengerti segala apa yang dihadapi oleh para dhuafa yang juga diberiNYA kesempatan untuk memiliki anak-anak special ini.. hanya menghimbau..Jika anda sahabat.., diberi Allah kelapangan rejeki dan kesempatan.. dan berkeinginan membagikan apa yang anda miliki anda dapat mentransfer dana anda ke nomor Rekening berikut ini:

1.    Bank Syariah Mandiri (BSM) Kalimalang No. 069.700.3809 a/n       Laeli QQ Yayasan Cahaya Keluarga K;

2.    Bank Muamalat No. 900 0193577 a/n Deka Kurniawan;

3.    Bank Central Asia (BCA) Mayor Oking No. 572 032 9516 a/n Deka Kurniawan.

Atau jika bantuan anda berupa benda-benda layak pakai yang dapat membantu kelancaran proses terapi silahkan anda datang atau hubungi alamat dibawah ini :

Bekasi (Rumah Autis Pusat)
Jl. AL-Husna No.39 A-B Jatikramat
(Jl. Ratna, belakang Swalayan KRUI/ATM BCA) Jati Asih, Bekasi 17421
Telp. 021-70982239 / 84995025
website: Rumah Autis Pusat

Email : rumahautis@yahoo.co.id


Tangerang
Perumahan Villa Tangerang Indah Jl Rinjani IV No. 20 Kelurahan Gembor Kec. Periuk Kota Tangerang
Telp. 021-98288763

Jakarta Utara
Kompleks PJKA RT 04 RW 011 No. 13 Bahari, Tanjung Priok,
Jakarta Utara 14310
Telp. 021-98079759

Bogor
Jl. Durian III Blok C No. 9 PERUM Gunung Putri Permai,
Bogor, 16961
Telp. 021-86860371

Depok
Panitia Pembentukan Rumah Autis YCKK Cabang Depok
Jl. KH Ahmad Dahlan VI No. 21-G Rt 006/Rw 05 Kukusan, Beji, Depok 16425 – Jawa Barat
Telp. 021-7888 9476 HP: 08128893153 (Banu)
Website: Rumah Autis Depok
E-mail
: rumahautisdepok@yahoo.com

Mari jadikan kepedulian terhadap sesama umat sebagai bagian dari hidup keseharian kita. Jazakumullahu khairan katsiran.

Komentar dimatikan

Kesadaran…

Buat anak-anak Autis… (Autis + memiliki dunia sendiri) Kesadaran… itu sesuatu yang harus diperjuangkan. Secara umum… anak-anak autis adalah anak-anak yang pola pikirnya hanya berpusat pada dirinya sendiri… alias egois abis (Wak wak wak… ada yang kesindir ya…. jangan buru-buru ngambil kesimpulan… kan masih ada berpuluh ciri yang akan menguatkan atau meniadakan sifat tersebut… sebelum seorang anak dinyatakan secara medis menyandang autis)

Banyak cara untuk “menarik” seorang anak autis agar dapat “keluar dari cangkangnya”.. dari terapi.. dengan stimulus terhadap panca inderanya.. hingga mencarikan… teman sebaya… untuk bermain dengannya) Dengan demikian diharapkan seorang anak autis akan menjadi “ngeh”.. dan “nyambung” dengan orang-orang yang ada disekelilingnya.

Ini yang baru-baru terjadi pada Aini…

Sudah 4 bulanan.. Aini sekolah… gak tau kenapa 2 dari 5 macam seragamnya gak jadi-jadi (bu guru sudah berkali-kali menyampaikan maafnya untuk keteledoran ini…  dan sudah pula saya tanggapi dengan “enteng”… karena sebenarnya.. buatku ini bukan sebuah persoalan besar.) Kemarin…  alhamdulillaH.. seragam sekolah hari kamis sudah jadi.

Subhanallah… dari malam… (sejak baju sekolah tersebut.. kugantung sebagai persiapan sekolah besok) Aini melihat seragam tersebut dengan mata berbinar-binar dan mengucapkan.. “Seragam Aini… ” “Bagus sekali”… Bahkan diatas tidurpun.. mengucapkan… “Besok aini sekolah… pake seragam” Ya Allah….

Pagi-pagi… semangat sekali… setelah ritual pagi (Pagi-pagi… dia akan memilih… siapa orang yang membantunya hari itu… bisa mama, bisa bapak, bisa kakak, bisa abang….) kembali matanya berbinar-binar.. melihat seragam. Subhanallah… ketika ia telah mengenakan… wajahnya.. makin bercahaya… dan bilang… “he he he… aku cantik… aku lucu”…

Ya Allah…

Saya makin yakin… anak-anak ini.. sebenarnya… bukannya tidak punya kesadaran terhadap lingkungan… tapi mereka punya keterbatasan kemampuan untuk menyampaikan… dan memaknai arti sebuah kata. Maaf tapi sekali lagi keliru… sangat keliru kalau ada yang bilang seorang anak yang autis adalah anak yang gak punya feeling…

Ya… Believe Me…kita mesti harus sabar… dan lebih “lincah” mencari trobosan-trobosan dalam mengajarkan mereka… Insya Allah… Yakin padaNYA Someday… someday… mereka akan menjadi mutu manikam (AL_MARJAN) yang mengharumkan nama bangsa… Amin

Comments (1)

Finger Test Print

Seorang Sahabat.. dengan bahagia.. menceritakan tentang bakat anaknya yang Autis.. Sang Anak telah melakukan sebuah “penyelidikan” tentang bakatnya… Nama test ini “Finger Test Print” Sahabat itu kini merasa yakin dan tenang dengan masa depan sang anak. Maklumlah… “mengarahkan” seorang anak autis bukan main sulitnya… sehingga untuk mengetahui mana minat dan bakatnya.. sudah pasti sangat sulit juga.

Cara test ini adalah dengan melakukan “Scanning”.. terhadap tangan sang anak.. kemudian dengan bantuan Komputer beserta softwarenya.. akan dilakukan analisa.. dalam waktu yang singkat (bervariasi,… antara 1 hari hingga 1 minggu) akan didapat sebuah laporan yang mengulas tentang bakat dan minat sang anak.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di : “Finger Test Print”

Hmm.. untuk saya, hal ini adalah sebuah pertanyaan besar…  Apakah Finger Test Print ini sama dengan “ramalan”.. karena…..

Dari : Panduan Serena Tentang Ramalan

Sebenarnya banyak cara untuk membuat ramalan. Ramalan melalui tangan telah dilakukan sebelum tercatitnya sejarah manusia. Lihat Ramalan melalui tangan Cina dan Ramalan melalui tangan India juga. Ramalan melalui tangan dapat dilihat melalui bentuk tangan, rajah retak tapak tangan dan kuku. Perkembangan baru dalam kepandaian ini sudah mencapai tahap analisis tangan melalui dermatoglifik (cap jari dan rajah kulit).

Dari kesimpulan-kesimpulan bacaan diatas.., bahwa cara kerja dari Finger test print adalah dengan mengandalkan “guratan-guratan” di tangan untuk “memperkirakan masa depan” dan minat bakat seseorang, sayapun menjadi ragu untuk mengikut sertakan Aini dalam Test (kebetulan kok biayanya… mahal juga ya.. 1,5 juta). Dan karena….

Dalam Islam yang namanya Ramal-meramal itu sangat berat hukumnya..

Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kita semua akan praktik-praktik semacam itu, beliau bersabda : “”Barangsiapa yang mendatangi seorang peramal (termasuk tukang ramal lewat tangan, membaca kartu tarot dll) lalumempercayai apa yang dia ramalkan, maka ia telah kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .”
(HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Beliau juga bersabda, “”Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal lalu
bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima sholatnya selama 40 hari (Hadist Riwayat Muslim).”


Subhanallah.. dalam kebingungan ini,  apakah saya ikut atau tidak mengobservasi aini dengan sistim ini, Aini diobservasi oleh ahli NLP (NLP= Neuro-Linguistic Programming adalah model komunikasi interpersonal dan merupakan pendekatan alternatif terhadap psikoterapi yang didasarkan kepada pembelajaran subyektif mengenai bahasa, komunikasi, dan perubahan personal). Cara observasinya adalah dengan mengamati kegiatan Aini sehari-hari.. baik disekolah maupun dirumah..

Subhanallaah.. secara garis besar.. apa yang disampaikan dalam laporan NLP hampir sama dengan laporan yang diterima oleh sahabatku (hasil FingerTest Print) putranya….

Sampai sekarang Saya memang belum berani memastikan apakah Fingertest Print sama dengan meramal ataukan tidak sama. Tapi.. saya lebih memilih selama masih ada jalan yang lain.., saya tidak akan melakukan hal ini.

Dan yang paling menarik adalah… kalimat sang ahli NLP.., bahwa orang tua, sebagai seseorang yang terdekat, punya perhatian dan mempunyai akses selama 24 jam untuk berdekatan dengan putra/inya… sebetulnya lebih berpeluang untuk dapat “membaca” masa depan anak-anaknya… asalkan.. rajin mencatat… setiap kegiatan yang dilakukan oleh sang anak, menganalisanya dengan bening hati… Subhanallah. Tidak perlu menggunakan bantuan… siapa dan apapun, kecuali Allah Azza wa Jalla

Comments (1)

Older Posts »