Archive for Kemashlahatan

Hubungan Dengan Non Muslim

Wahai sahabat hidup ini memang aneh…

Dalam berhubungan dengan sesama manusia… ada banyak cerita yang tertulis… karena itu.. banyak novel.. jadi laris… ketika menggalinya sebagai sumber inspirasi..  Termasuk hubungan kita sebagai muslim dengan non muslim… hmm selalu ada cerita dibalik itu… dari yang romantisss karena mengisahkan cinta dua anak manusia yang berbeda agama hingga kekerasan karena ada pertumpahan darah disana… Yah… inilah manusia.

Menurut goresan sejarah…tentang penciptaan manusia . Yaitu ketika malaikat bertanya pada Allah… “YA Allah untuk apa kau ciptakan manusia dimuka bumi ini?.. bukankah mereka hanya akan melakukan kerusakan dan kekacauan?”

Allah menjawab.. dengan menerangkan bahwa DIA adalah yang Maha Tahu.. apa yang baik dan yang buruk.. dimuka bumi ini.

Manusia dengan kemapuan akal.. yang menurutNYA lebih dibandingkan makhluk-makhluk yang lain diberiNYA  “kebebasan… bersyarat” akhirnya.. ada didunia yang fana ini. Saya katakan “bebas bersyarat” karena manusia mempunyai kebebasan yang mutlak terhadap dirinya… bahkan bebas juga dalam mengatur orang/ makhluk lain yang ada di dunia ini, tetapi.. bersyarat.. agar dalam mengaplikasikan kebebasannya… manusia diberi syarat / pengaturan melalui “Kitabullah”… (Manual book for human… he he  he… gitu kali ya… kira-kira… judulnya menurut manusia kalau kita nyari di toko buku… ) Yaitu Al-Quran.

Yah… tapi namanya juga manusia… makhluk yang paling banyak tanya dan ngeyel… dengan aapa yang tertulis di Al-Qur’an (masiiiiih aja di pertanyakan… ) Dan karena Allah adalah Sang Pencipta. dan Maha Tahu.. maka Allah mengupayakan meredam sifat ngeyel dan banyak tanya ini dengan mengutus Nabi Muhammad saw… (seseorang yang begitu baik akhlaqnya)  sebagai pembawa, penjelas, pendakwah…. juga contoh nyata.. untuk menyampaian ayat- demi ayat yang ada di Al-Qur’an. Agar manusia jadi gak salah langkah.

Subhanallh… beliau memang mumpuni dengan tugas yang satu ini. Tak satupun yang bercela… Kemudian… berdasarkan pertimbangan… bahwa apa yang beliau kerjakan demikian banyaaak… (yah manusiakan cepat sekali luuupaaa ya…) dan manusia turun temurun semakin banyak… (sulit untuk menyampaikan pada semua orang, sifat dan sikap Nabi Muhammad, dari generasi ke generasi.. dari satu tempat ke tempat lain… belum lagi adanya kemungkinan “ditambah-tambahi” pada saat menyampaikan berita) akhirnya dibuatlah sebuah keputusan untuk mengumpulkan.. dan menulis segala apa yang dilakukan Nabi Muhammad saw tersebut dalam Hadist.

Nah.. dari Al-Qur’an… yang ayat-ayatnya telah saya tulis dalam “KAFIR???” cukup jelas dan gamblang… bagaimana tuntunan dalam berhubungan dengan non muslim. Dibawah ini adalah tindakan Nabi Muhammad saw..  yang dapat dijadikan contoh….

1. Nabi tetap mengadakan hubungan baik dengan non muslim.. dalam bidang perdagangan.. politik antar negara.. bahkan… kepada tawanan perangpun… tidak ada satupun contoh dari nabi yang membuktikan sikap tidak terpuji.

2. Dalam menyampaikan dakwahnya… Nabi Muhammad… tidak sekali-kali menggunakan faham pemaksaan… sebagian besar kaum yang akhirnya beriman kepada Allah swt adalah kaum yang secara nyata melihat sikap-sikap Nabi.. dengan Akhlaqtul kharimahnya…  Dalam berdikusi beliau sangat santun… (Santun dalam arti menghargai pembicaraan tetapi tidak sekali-kali menjadikan beliau lengah dan mengikuti pendapat lawan bicara jika ternyata pendapatnya berlawanan dengan Al-Qur’an)

3. Sekali-kali Nabi Muhammad tidak pernah bersikap tidak adil terhadap kaum non muslim.. walaupun jelas-jelas.. orang tersebut dari kalangan yang begitu benci terhadap Islam. Bahkan beliau mengatakan akan menghukum putri beliau sama dengan hukuman yang beliau jatuhkan pada orang non-muslim… jika dan hanya jika sang putri melakukan kesalahan yang sama.

4. Jika ternyata pada akhirnya Nabi Muhammad mengangkat senjata.. ini juga bukan karena nafsu berperang… tapi sungguh semata-mata hanya karena memikirkan “APAKAH ALLAH RIDHO.. ATAS APA YANG AKU KERJAKAN”.. Sehingga betapa besarnya perang yang berkobar… tidak ada kebencian disana… terbukti Nabi hingga akhir hayatnya adalah musuh yang sangat disegani dan dihormati oleh semua musuh-musuhnya…

Yup… Jadi.. memang begitulah sebaiknya kita memperlakukan non muslim yang ada disekeliling kita… mereka tetap memiliki hak sebagai seorang tetangga.. mereka tetap memiliki hak sebagai seorang yang seprofesi… mereka tetap memiliki hak untuk dihargai pendapatnya.

Tetapi… TETAP PERLU DIGARIS BAWAHI… ketika kondisi dan situasi dalam membina hubungan tersebut… mulai menampakkan adanya hubungan yang tidak sehat… seperti.. adanya upaya untuk mengadaptasi pola pikir mereka (masya Allah… padahal.. cara busana sebagian dari kaum muslimah telah mengadaptasi kebiasaan dan pola pikir mereka ya…. Ampuni kami semua ya Allah.. yang sangat bodoh.. untu memilah-milah mana yang sesuai dan tidak sesuai dengan hukumMU) Sikap tegas.. dan jelas.. harus sudah mulai ditunjukkan… terus demikian… hingga kembali dicapai kesepakatan untuk kembali saling menghargai. Jika ternyata ini tidak dapat dilakukan… ada beberapa hal yang dianjurkan untuk dikerjakan :

1. Memberikan peringat keras… atas batas-batas yang tidak boleh dilanggar (Hal yang sama juga harus kita terapkan pada diri kita sebagai seorang muslim… selama para non muslim ini masih berada “dalam lingkaran agamanya” kita tidak punya hak untuk menarik-narik mereka keluar lingkaran agama atau bahkan menyerang apa-apa yang ada dalam diri mereka dan lingkarannya. Yup… tentu saja akan jadi beda jika… mereka sendiri yang keluar dari lingkaran agama tersebut mendekati kita… kaum Islam… karena ketertarikan pada apa yang kita lakukan diluar lingkaran agama mereka…  Dan ini adalah sebaik-baik metode penyampaian dalam Islam)

2. Segera.. “membuat jarak” dengan non muslim tersebut.

3. Memutuskan hubungan… (Allah memang tidak menyukai orang-orang yang memutuskan silahturahmi… tetapi jika ternyata ini sudah membahayakan pemahaman aqidah kita tentang Islam.. atau dalam arti kata lain lebih besar mudharatnya.. dari kebaikkannya… sebaiknya memang dilakukan)

4. Melawan.. dengan tindakan yang sesuai..  (Sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas)

5. Berpasrah pada Allah… Karena ada kondisi yang memang tidak lagi dapat kita kontrol.. dengan kemampuan kita yang terbatas sebagai manusia… dengan tetap berupaya menjauhi dan melawan sebatas yang sebaiknya dan semampunya kita lakukan

6. Dan jangan lupa… kita tidak hidup dalam sebuah kondisi yang dasar-dasar hukumnya mengacu pada dasar-dasar agama Islam… sehingga tetap harus ada kompromi terhadap hukum negara… (Kompromi dalam arti mengikuti ketetapan prosedur hukum yang ada di negara Indonesia.. tetapi tidak berati berkompromi dalam menjalankan syariah agama ISLAM).

Jika menyimak.. apa yang saya tuliskan diatas.. jelas sebagai seorang muslim.. kita tidak dapat menjadi seorang non muslim sebagai seorang pemimpin… karena pemimpin pasti membawa misinya dalam kepemimpinannya. kita tidak dapat menjadikan seorang non muslim sebagai sahabat ataupun seorang kepercayaan, karena dalam berdikusi dan meminta pendapatnya pasti akan ada pendapatnya yang akan ia sampaikan.. jelas sebagai muslim.. kita tidak dapat menjadikan seorang non muslim sebagai suami karena ia akan bertindak sebagai pemimpin dalam hidup keluarga kita dan juga sebagai orang yang akan menjadi kepercayaan serta dimintai pendapatnya dikala kita menemui kesulitan.

Hmmm mungkin sudah cukup jelas.. ya….

Mudah-mudahan sedikit dari apa yang saya tahu… ini dapat berguna bagi kita semua…  semoga Allah Ridho pada apa yang saya tuliskan.. dan semoga kita tetap dibimbingNYA untuk dapat bersikap Akhlaqtul Kharimah… Amin Ya Rabbil Alamin

Iklan

Comments (1)

Jangan bersedih…

Jangan pernah merasa sedih.. ketika banyak Ayat-ayatNYA diputar balikkan.

Karena bukan kemampuan kita untuk menahan semua kejadian di alam fana tetap luruuuussss.

Jangan pernah merasa sedih.. ketika orang mencoba mengitimidasimu dengan tujuan-tujuan menyesatkan baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.

Karena selama kita tahu.. kebenaran adalah benar… tidak akan pernah mungkin terwujud tujuan intimudasi itu

Jangan pernah merasa sedih.. ketika orang tidak dapat memahami apa yang sudah kita sampaikan

Karena dengan cukup mengerti… tugas kita tidaklah merubah orang agar mengerti… tetapi tugas kita hanyalah sebatas.. penyampaian. Artinya… jika ini sudah dilakukan… kita tak patut lagi bersedih.
Jangan perah bersedih.. ketika ada sebagian dari kaum kita yang berpaling pada kaum yang lain

Allah tidak akan pernah meminta pertanggungjawaban kita atas apa yang tidak mampu kita lakukan.. dan tidak pernah sebagian dari kaum muslim menanggung dosa atas perbuatan kaum muslim yang lain

Jangan bersedih… jika banyak orang menduga Islam sejatinya adalah Agama dengan kekerasan.

Karena banyak fakta yang membuktikan.. bahwa kaum muslim (kaum salafi) justru sangat santun dan bersikap adil terhadap sesama.. dibandingkan kaum yang lain.

Jangan bersedih.. jika Islam kini terpuruk

Karena bukan kesedihan yang dapat memperbaiki keadaan.. tetapi semangat dan sikap, tingkah laku, nyata yang akan membuktikan kebenaran itu suatu saat kelak
Jangan bersedih… jika Engkau didzholimi dan dianiaya.

Karena janji Allah tentang pembelaan dan pembenaran adalah pasti… sedangkan doa orang yang terdzholimi dan teraniaya bagaikan tanpa batas dengan Allah Penguasa Alam.

Jangan bersedih… jika Engkau diberlakukan seperti orang aneh.. karena melaksanakan perintah-perintahNYA secara kaffah

Karena… semua itu hanya tipu dunia… orang-orang yang tertipu dengan akhirat akan lebih sedih dan menyesal dibandingkan kita.

Dan… Berbahagialah… berbanggalah… bersyukuran jika saat ini kita dalam lindungan CAHAYA ILLAHI… sungguh ini adalah harta tak ternilai… kebaikan tanpa batas… kesenangan tak berujung.. Kenikmatan tiada tara…. Yang akan segera kita buktikan…

Just wait and see… Believe in Allah. Insya Allah… Allahu Akbar


Comments (2)

Kafir???

Menanggapi komentar dari seorang sahabat yang telah menuliskannya disini… yaitu apakah kata-kata kafir dapat diartikan melecehkan sebuah golongan. marilah kita simak dulu bacaan dibawah ini, yang telah saya
sunting dari : sebuah artikel yang ditulis oleg Dr Yusuf Qardhawi, yang pernah dimuat di sebuah media.isnet.org

Kafir, berasal dari kata dasar yang terdiri dari huruf kaf, fa’ dan ra’. Arti dasarnya adalah “tertutup” atau “terhalang”. Secara istilah, kafir berarti “terhalang dari petunjuk Allah”. Orang kafir adalah orang yang tidak mengikuti pentunjuk Allah SWT karena petunjuk tsb terhalang darinya. Kafir adalah lawan dari iman. Dalam Quran terutama surah an-Nuur, Allah SWT menganalogikan kekafiran dengan kegelapan, dan keimanan dengan terang benderang, serta petunjuk (huda) sebagai cahaya.

Kategorisasi manusia dalam hal mensikapi petunjuk dari Allah SWT memang hanya dua: Bertaqwa dan Kafir (lihat surah Al-Baqarah ayat 2 sd 6). Dan kelompok kafir sendiri ada beberapa macam lagi, misalnya menurut sikap terhadap kitab-kitab yang pernah diturunkan: ada “Ahli Kitab” dan ada “Musyrikin” (lihat surah Al-Bayyinah). Sementara dalam hal kesadaran mereka terhadap kebenaran adapula kategori “fasik”, yaitu mereka yang sudah faham mana yang benar dan mana yang salah tapi tetap saja melakukan kerusakan (Al-Baqarah ayat 26 dan 27).

Diantara orang yang mengaku beriman sendiripun ada orang-orang yang ingin menipu Allah dan ingin menipu orang-orang beriman lainnya, yaitu mereka pura-pura iman padahal mereka ingkar … mereka disebut kaum “munafik” (Al-Baqarah ayat 8 sd 20).

Bagaimana menyikapi orang-orang kafir tsb? Mari ikuti lagi tuntunan Quran:

1. Berusaha menghilangkan “penutup” yang menyebabkan mereka kafir, dengan cara mendakwahi mereka.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (QS.16:125)

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka…” (QS.42:15)

2. Tetap berbuat baik terhadap mereka, terutama yang memiliki hubungan kekerabatan.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, …” (QS.31:15)

keterangan: ayat ini berbicara tentang orangtua yang kafir, dan kita tetap diperintah untuk memperlakukan mereka dengan baik.

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (QS.76:8)

keterangan: adapun “orang yang ditawan” dalam ayat ini juga tiada lain adalah orang-orang kafir.

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS.60:8)

3. Tidak memaksa mereka untuk menjadi muslim.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…” (QS.2:256)

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir…” (QS.18:29)

“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya…” (QS.2:272)

4. Berbuat adil dan tidak mendzalimi mereka, selama mereka tidak memerangi muslimin.

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS.60:8)

“…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” (QS.5:8)

“Doa seorang yang teraniaya (diperlakukan tidak adil), meskipun ia orang kafir, tidak ada tirai yang menutupinya (untuk dikabulkan).” (HR. Ahmad dalam “musnad”nya).

5. Memerangi mereka, tatkala mereka memerangi muslimin.

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu; dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.

Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (QS.2:190-193)

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah…” (QS.22:39-40)

6. Tidak menjadikan mereka sebagai kawan, pemimpin atau penolong, kalau mereka memerangi muslimin.

“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS.60:9) “Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (QS.3:28)

keterangan: “wali” bentuk jamaknya adalah “auliyaa” yang artinya teman yang akrab, pemimpin, penolong atau pelindung.

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong,” (QS.4:89)

7. Menyambut tawaran damai dari mereka setelah terlibat peperangan.

“tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu (menyerah) maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.” (QS.4:90)

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.8:61)

Mengenai hubungan dengan non-muslim, Quran telah secara jelas membedakannya, dan membagi kaum kafir itu menjadi dua golongan:

A. Golongan “Muharribin” (yang memerangi)

Yaitu kafirin yang memerangi umat Islam karena agama mereka, yang mengusir muslimin dari kampung-kampung halaman mereka, dan yang membantu pihak-pihak yang mengusir atau mendlzalimi ummat Islam. Termasuk disini juga mereka yang menghalangi muslimin dari melaksanakan kewajiban syari’at.

Terhadap golongan ini, ummat Islam wajib memberlakukan point no.5, 6 dan 7.

B. Golongan “Musalim” (yang berdamai) atau Golongan “Mu’ahidin” (yang membuat perjanjian).

Adalah kaum kafirin yang tidak terlbat pada setiap usaha yang ada di penjelasan point.B, dan sama sekali tidak turut andil dalam konspirasi apapun untuk memusuhi muslimin. (Lihat lagi Surah Al-Mumtanah ayat 8-9).

Terhadap golongan ini, ummat Islam harus melaksaknakan point.1 sd 4.

Golongan ini,juga dibagi dua klasifikasi lagi, yaitu:

1. Mereka yang mempunyai perjanjian damai sementara. maka terhadap mereka diwajibkan untuk menjaga perdamaian itu dan melindungi mereka sampai batas waktu perjanjiannya habis.
2. Mereka yang mempunyai perjanjian tetap selama-lamanya. Merekalah yang disebut sebagai “Ahlu Dzimmah”, yaitu orang-orang yang mendapat jaminan Allah SWT, jaminan Rasul SAW, dan jaminan dari komunitas muslimin.

Dalam level negara/pemerintahan, Ahlu Dzimmah memiliki hak sebagaimana hak kaum muslimin (termasuk politik), dan memiliki kewajiban sebagaimana kewajiban muslimin (kecuali dalam hal yang menyangkut konsekuensi syari’at masing2). Ahlu Dzimmah wajib dibela dan dilindungi sebagaimana muslimin membela dan melindungi saudaranya sesama muslim.

Amirul Mukminin ‘Umar ibnul Khattab pernah menghapus istilah “Jizyah” bagi Ahlu Dzimmah dari nasrani arab Bani Taghlib, ketika mereka keberatan pungutannya disebut demikian. Dan pungutan tsb oleh ‘Umar disebut sebagai “zakat” sesuai permohonan mereka agar tidak dibedakan dari kaum muslimin. Khalifah ‘Umar menyetujui permohonan ini sambil mengatakan “Mereka itu orang yang dungu, mereka rela muatan artinya, dan menolak namanya.” (Fiqhuz Zakat II/708).

Imam Al-Auza’i mendukung dan bersama Ahlu Dzimmah di Libanon yang bersikap menentang seorang gubernur dari kerabat dinasti Abasiyah yang berlaku tidak adil.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah menghadap Kaisar Mongol Timur Leng dan meminta pembebasan tawanan. Ketika Timur Leng menawarkan hanya membebaskan tawanan yang muslim, Ibnu Taimiyah menolak hal itu, kecuali Timur Leng mau membebaskan juga Ahlu Dzimmah yang ditawan bersama kaum muslimin.

Dengan demikian menurut hemat saya… jika tercetus kata-kata “mengkafirkan seseorang”… mestinya kita harus arif untuk melihat apa yang ada dibalik situasi ini…
1. Apakah memang benar yang mengucapkan bertujuan melecehkan… yang bisa saja terjadi misalnya karena kemarahan yang luar biasa (seperti yang terjadi ketika komik bergambar nabi Muhammad saw… sebagai orang yang dicintai dan diagung-agungkan dalam agama Islam di lecehkan)??
2. Ataukah… ini hanya sebuah panggilan yang sebenarnya.. hanya menjelaskan apa yang benar dan nyata. Sama dengan kita memanggil teman yang (maaf) buta dengan kata-kata “hai… buta, apa kabarmu?” (tentunya beda artinya jika kita jelas-jelas memanggil teman kita yang mampu melihat dengan kata-kata “hai… buta.”.. ini pasti sudah terang pelecehan)

Memang ada sebuah aturan tak tertulis dalam dunia bermasyarakat.. untuk tidak memanggil seseorang dengan sebutan yang artinya adalah memperjelas “kekurangan” dari seseorang. Sebagai seseorang yang menjujung tinggi nilai budi luhur… serta tenggang rasa.. mestinya kita mematuhi itu.. Karena… disamping tidak semua orang dapat lega lila… punya kesadaran cukup tinggi jika kekurangannya di sampaikan secara terbuka dan dimuka umum… kitapun… (jujur) pasti tidak ingin hal yang sama terjadi pada diri ini bukan?

Jadi kembali lagi apakah ini… merupakan sebuah pelecehan dan dapat diajukan dalam pelanggaran serta dituntut secara hukum negara.. ??? memang semuanya tidaklah sesederhana itu… pasti akan ada proses panjang untuk mencari kebenaran dengan mendengarkan banyak pihak sebagai saksi maupun bukti-bukti nyata saat kejadian.

Perlu dijadikan perhatian bagi kita… sebagaimana yang tertera diatas.. untuk kaum kafir yang terlibat dalam urusan memerangi maupun yang tidak memerangi… ada sebuah landasan yang harus selalu dijadikan tolak ukur… bahwa kita tidak hidup dalam negara yang berlandaskan hukum-hukum Islam. Sehingga setiap kejadian yang berkaitan dengan perselisihan diantara golongan-golongan yang ada di Indonesia ini.. tetap harus dikembalikan penyelesaiannya pada negara sebagai pengayom. Negara sendiri harus berusaha menegakkan keadilan yang seadil-adilnya bagi seluruh warga negara… INI ADALAH SEBUAH ATURAN BAKU YANG HARUS DI PATUHI OLEH SETIAP KOMPONEN BANGSA. Jika ternyata ada satu golongan yang merasa tidak diperlakukan dengan adil ketika terjadi konflik… sekali lagi tetap ada jalur penyelsaian yang harus dilewati mulai dari banding atas keputusan hingga pengaduan kebadan-badan terkait.. misalnya MUI, Mahkamah Konstitusi dsb-dsbnya… Jangan jadikan tindakan main hakim sendiri sebagai sebuah penyelesaian masalah. Sungguh Islam itu selalu berusaha menjadi “YANG MENEPATI KOMITMEN”

Sekali lagi yang penting… kita harus berusaha menyikapi setiap kejadian, terutama yang bersinggungan dengan kepercayaan ataupun golongan lain, dengan selalu bertujuan meningkatkan akhlaqtul kharimah (hick hick hick saya tahu ini hal yang gak mudah… ) menjadi manusia yang mulia… sehingga kita dapat mempertanggung jawabkan… martabat kita dihadapanNYA kelak…

(SEE POSTINGAN BERIKUTNYA : “Siapa sih… kafir???”

Comments (21)

KUHP Tentang Pelecehan Terhadap Segolongan Masyarakat (Diantaranya Agama)

Dalam KUHP ada bagian

BAB V.

KEJAHATAN TERHADAP KETERTIBAN UMUM.

khusus dalam pasal 156 s/d 157.. ada aturan tentang mengakomodasi kepentingan semua golongan dalam negara Republik Indonesia ini… bisa disimak dibawah ini

Pasal 156.

(s.d.u. dg. S. 1918-292, 293; UU No. 18/Prp/1960.) Barangsiapa menyatakan rasa permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia di muka umum, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. (KUHP 154 dst.)
Yang dimaksud dengan “golongan” dalam pasal ini dan pasal berikutnya ialah tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau beberapa bagian lainnya karena ras, negeri asal, agama, tempat asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.

Pasal 156a.

(s.d.t. dg. UU No. 1 /Pnps / 1965.) Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan:
a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia;
b. dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga, yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Anotasi:
Pasal ini telah diubah ejaannya dari ejaan lama ke ejaan yang disempumakan.

Pasal 157.

(1) (s.d.u. dg. S. 1918-292, 293; UU No. 18/Prp/1960.) Barangsiapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisan atau lukisan, yang isinya mengandung pemyataan rasa permusuhan, kebencian atau penghinaan di antara atau terhadap golongan-golongan rakyat Indonesia, dengan maksud supaya isinya diketahui atau lebih diketahui oleh umum, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun enam bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
(2) Bila yang bersalah melakukan kejahatan tersebut pada waktu menjalankan pekerjaanny dan pada saat itu belum lewat lima tahun sejak pemidanaannya menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka yang bersangkutan dapat dipecat dari haknya menjalankan pekerjaan tersebut. (KUHP 154 dst., 321.)

Hmmm ini adalah pasal-pasal yang dapat dikenakan kepada seseorang yang berniat untuk menjatuhkan suatu golongan.. seperti yang (di”ancamkan”) pada para pengedar kartun tak senonoh dari Nabi Muhammad saw.. dari situs berbahasa Indonesai baru-baru ini…  ehm.. ehm.. dapat juga looo dikenakan pada orang-orang Islam yang terang-terangan akan mendiskredit segolongan masyarakat yang lain. jadi hati-hati dalam mengambil langkah ya….

Jujur…. sebetulnya… bagi orang Islam… ini bukan hal baru… dan semestinya juga sudah menjadi bagian dari keseharian kita… . Menghargai dan memandang sederajat pada sesama manusia… simaklah dalam :

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
QS. Al-Hujurat (49) : 11

Sebenarnya Allah dengan segala keMAHA TAHUanNYA.. tidak pernah berbuat sebuah kesalahan sekecil apapun.. sehingga jika ternyata dalam dunia ini ada banyak golongan.., agama, suku bangsa.., ras.. dsb-dsbnya tak lain dan tak bukan.. adalah agar ada silahturahmi diantaranya. Sebagaimana tertulis dalam

Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal
QS. al-Hujurat (49) : 13

Jika dan jika ada orang-orang yang ternyata berniatan tidak baik terhadap Islam,.. baik berupa pemutar balikan fakta Al-Qur’an atau yang seperti saat ini… beredarnya kembali kartun Nabi Muhammad saw… sebaiknya yang kita kerjakan adalah………….


Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
QS. al-Baqarah (2) : 190

Demikianlah.. biarpun pada “orang-orang yang memerangi jalan Allah” tetap dan tetap harus memperhatikan “derajat tidak melampaui batas” yah… biarpun mereke mengganggu kita …..sampai saat yang paling bikin “gggeeeemmmmeees” (udah pengeeen ‘nguyel-nguyel’, ‘nycabeein).. tetap harus akhlaqtul kharimah… tariiikkk naaapppaaasss pppaaanjjjjaaaannng dan tidak boleh melampaui batas. Adapaun ternyata kemudian para orang ini.. menyadari kesalahannya… atau tidak… Islam tetap punya solusi…

Jadi… jelas ya… bagaimana caranya kita “melawan” orang-orang yang “maunya”.. menfitnah… menjatuhkan… menghinakan ISLAM…. Alhamdulillah… berarti.. gak ada lagi.. tindakan yang bergerak dalam kelompok “koboi” dalam menenggakkan Islam… Yuuup… Bismillah.. we try.. new sesion.. for Islam… lebih dewasa, lebih bermartabat… lebih mulia dalam berdakwah

Comments (6)

Kartini sebuah ungkapan dari sudut pandangku

Pertama kali saya baca buku “Gelap Terbitlah Terang”…ketika saya masih duduk di kelas 4 SD…Saya terpesona dengan lembar demi lembar kertas di buku itu… Waaahhhh… tulisan tangan seorang perempuan bernama “R A Kartini”…

yah.. memang manusia itu.. pemahamannya sangat terbatas.. ya.. hanya sejauh yang mampu dijangkaunya.. jadi.. ketika itu.. yang melekat erat dalam benakku adalah… kehidupan seorang kartini kecil.. yang merasa tidak nyaman.. karena tinggal dengan “IBU UTAMA” .. karena ibunya.. harus pergi sebagaimana selir-selir yang lain… yang punya saudara dari lain ibu.. berjumlah 6 orang.. yang jiwa pemberontaknya sudah kelihatan.. yang gak suka jika harus.. “laku ndhodok” (jalan dengan posisi jongkok.. badan tegak.. sesuai tradisi jawa) yang gak suka jika harus jalan… pelan-pelan.. padahal dia begitu pecicilan.. yang suka bikin.. guru-gurunya kalang kabut bahkan marah karena pertanyaan-pertanyaan yang aneh….

He he he.. saya bisa bayangkan… pasti kartini kecil ini dapat panggilan “troble maker”.. apalagi di jaman itu… fuih…. he he he…

Disisi lain.. para tetua pasti juga gak sanngup berlama-lama marah padanya.. karena hatinya sangat baik.. penuh welas asih.. pikiran sangat cerdas.. dibuktikan dengan kemampuan untuk berbahasa dan menulis dalam Bahasa Belanda di usia belia… Juga kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut mungil itu.. penuh keingin tahuan….

Kali kedua.. saya membacanya.. ketika saya mulai beranjak remaja.., Kalau tidak keliru.. saat saya SMP
Yah.. saya terfokus pada kehidupan percintaan dan pernikahannya… bagaimana seorang kartini.. yang begitu bergelora… terkurung.. dalam “belenggu” pernikahan… heh.. saya memang katakan terbelenggu.. karena sepertinya.. (dari tulisannya) pernikahan itu dilakoni karena adat… seorang laki-laki yang tidak pernah ia bayangkan menjadi suaminya.. hadir sudah.. dengan membawa berbagai macam “kebenciannya” pada laki-laki.. Poligami.. dan meletakkan istri sebagai “kanca wingking”… (teman yang berada dibelakang.. selalu) Memang sebetulnya ada sebuah sisi positif.. ketika ia akhirnya menjadi seorang istri… kesempatannya untuk “mendunia”.. sedikit lebih terbuka…

Kali ketiga saya membacanya… saat saya sedang “tergagap-gagap mencari cahaya”… bagian menarik yang jadi perhatianku.. adalah banyak pertanyaannya… berkisar seputar Islam… Yah.. saya menyadari bahwa Allah dengan kuasaNYA.. dapat memberikan hidayah pada siapa saja.. kapan saja… dimana saja (wallaaah kayak iklan minuman bersoda)… yup.. hak preogratif yang betul-betul murni. Dan… Subhanallah si ibu ini…mendapat kesempatan ini….

Simaklah tulisan suratnya…

“Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Quran tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” [Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899]

“Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlunya dan apa manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya, dan jangan-jangan guru-guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya. [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 15 Agustus 1902]

Hmmm sejujurnya… sayapun setuju dengan tulisan ini… tulisan-tulisan yang jujur… lugas.. dari seorang anak manusia yang tidak mengerti pentingnya sesuatu jika kita tidak memahaminya…. Dan sayapun memahami jika dengan apa yang ditulisnya… ia berbicara pada seorang guru agama Islam… yang (maaf) kurang memahami Islam juga… ia mendapat “masalah”. He he he….  (ini masih berlaku jaman sekarang kan???? )

Begitulah… Takdir Allah.. berjalan kembali beliau bertemu dengan seorang guru… guru yang sangat paham dengan gejolak hati dan kehausannya akan ILMU…  simaklah.. apa yang kemudian.. sempat tertulis disurat-suratnya. Ya….Sayapun… jadi makin simpati… menyadari bahwa.. ibu yang masih sangat muda ini.. sungguh wanita yang luar biasa.. dengan “perjuangan”nya.. dengan tulisannya yang latang berbicara… tidak ada tedeng aling-aling dalam membicarakan Islam

“Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka kristenisasi? …. Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri untuk memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending, tetapi jangan mengkristenkan orang. Mungkinkah itu dilakukan?” [Surat Kartini kepada E.E. Abendanon, 31 Januari 1903]

“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902].

“Astaghfirullah, alangkah jauhnya saya menyimpang” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 5 Maret 1902)

“Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: Hamba Allah (Abdulloh).” (Surat Kartini kepada Ny. Abandanon, 1 Agustus 1903)

“Kesusahan kami hanya dapat kami keluhkan kepada Alloh, tidak ada yang dapat membantu kami dan hanya Dia-lah yang dapat menyembuhkan.” (surat Kartini kepada Nyonya Abandanon, 1 Agustus 1903)

“Menyandarkan diri kepada manusia, samalah halnya dengan mengikatkan diri kepada manusia. Jalan kepada Allah hanyalah satu. Siapa sesungguhnya yang mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun ia sebenar-benarnya bebas” (Surat kepada Ny. Ovink, Oktober 1900)

Saya akan mengabaikan banyak silang pendapat tentang Kartini… Saya hanya ingin bilang… bahwa sebagai seorang wanita Kartini adalah seorang wanita mulia… sebagai seorang muslimah (jika benar begitu… karena tidak ada satupun bagian dari buku itu… yang dengan jelas-jelas mengungkapkan ke-Islamannya).. Yang saya yakini merupakan bagian dari adat.. dari budaya… dari keharusan turun termurun menjadi seorang wanita jawa ningrat beragama Islam… Apa yang dia lakukan adalah hal yang luar biasa…  Kemampuannya untuk “peka” sangat luar biasa… dan subhanallah kemampuannya untuk menulis… juga sangat luar biasa…

Inilah… yang sekarang menjadikan..saya bersemangat untuk “memposting”…  menyadari kekuatan sebuah pena… Bahwa hasil kerja pena.. yang berupa sebuah tulisan… dampaknya… bisa jadi luar biasa.. tidak sekarang… tidak esok.. mungkin puluhan tahun lagi.. tidak orang terdekat.. tidak orang jauh… semuanya punya kesempatan yang sama untuk mengakses ke sini… Insya Allah dapat digunakan sebagai sarana untuk berdakwah… untuk mengajak ke kebaikan dan menjauhi larangannya.. untuk menyadarkan diri dikala.. hati sedang bimbang… untuk curahan hati dikala galau… menggalang persahabatan dan persaudaraan dari tempat-tempat yang mungkin tidak pernah terbayangkan ada dimana…

Dan.. pada akhirnya.ketika ia meninggal.. pada proses recoveri… setelah melahirkan… (Hmmm who knows???) bisa jadi itupun adalah jalan Allah untuk membawanya dalam kematian Syahid.. kematian Khusnul Khotimah… Wallahu alaam….

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lainnya”

Comments (1)

No Jilbab di Kantor??

Lucu ya…

Sedih ya…

Aneh ya…

Sudah 20 tahun-an berlalu… masih saja ada kontroversi seputar Jilbab… Seingatku… yang namanya pelarangan Jilbab itu terjadi di era 80-an… Ada apa dengan negeri ini??? kita seolah-olah.. berputar-putar maju dan mundur… bukannya… melangkah.. kedepan.. dengan kepala terangkat. Ya.. kembali dunia muslimah Indonesia.. terguncang oleh adanya berita 2 buah RS (RS Mitra Keluarga dan RS Karya Medika II) di Wilayah Bekasi yang melarang pekerjanya mengenakan JIlbab…

jika tidak keberatan.. mari kita bicara kembali tentang Jilbab.

(sebetulnya saya sudah tulis di “Seragam Jilbab” kemudian di “Jilbab” dan juga di “Keutamaan Hijab” )

Dari pembahasan saya di ketiga postingan tersebut.. saya akan katakan  (yakin dan keras) saya ulangi kembali bahwa sebagaimana “IKRAR” yang telah kita sebutkan di “Pintu Gerbang” Ke Islaman.. Kita sebagai seorang muslimah meyakini adanya… “ISLAM sebagai sebuah LIFE STYLE’..  “Allah sebagai BIG BOSS dalam dunia KeIslaman adalah SATU-SATUNYA yang HARUS kita dengarkan… kita ikuti, kita patuhi.. kita yakini setiap apapun ucapanNYA…” sebagaimana tercantum dalam

Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya).
QS. Al Anfal (8) :20

Kemudian kamu berpaling setelah (ada perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.
QS. al-Baqarah (2) : 64

Dengan demikian Jelaslah… jika  Allah menjadikan Jilbab sebagai “SALAH SATU PERINTAHNYA” , maka yang tidak boleh ada tawar menawar, (yang tertulis dalam Al-Qur’an di ayat-ayat sbb) HARUS, KUDU, WAJIB..

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.
QS. an-Nur (24) : 31

Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
QS. al-Ahzab (33) : 59

Unfortunaly… ayat-ayat ini… seringkali diartikan.. tidak tepat (maaf.. jika ada yang tidak berkenan membacanya… saya hanya menyampaikan apa yang saya tahu… dan kepada Allahlah.. saya memohon selalu diberi pemahaman yang lebih dan lebih lagi.. jika saya melakukan hal yang salah)

1. Jilbab adalah pakaian sebuah golongan atau bangsa…

2. Jilbab yang beredar saat ini sudah sesuai dengan apa yang digariskan

3. Jilbab menghalangi seorang muslimah untuk berkarya

4. Bahkan yang sering lebih “menyakitkan” lagi adalah.. Jilbab adalah sebuah bentuk “pemaksaan” dan “belenggu” terhadap kaum perempuan pada umumnya dan pada kaum muslimah pada khususnya…

Hmmmmmm……

Tapi diluar itu semua… (karena apa yang saya tuliskan diatas…, adalah “pernyataan-pernyataan” yang dikeluarkan oleh orang-orang yang (ampuni aku ya Allah yang telah berani memberikan penilaian terhadap orang lain) jika kita berkaca kepada 3 ayat diatas adalah mereka-mereka yang (mungkin) belum pernah mendengar atau sudah pernah mendengar tetapi belum paham tentang maksud dari ayat-ayat diatas atau mereka-mereka yang termasuk dalam golongan orang-orang yang bagaimanapun kita memberikan pemahaman… tidak dapat mereka terima.. bahkan kadangkala mereka-mereka ini mengeluarkan pernyataan yang berlawanan (memputar balikkan fakta).. Semoga… kita tidak termasuk dalam ketiga golongan diatas. Ya.. kita berada dalam golongan… yang sudah menggunakan jilbab… Jilbabnyapun Jilbab yang Syar;i… sebagaimana disebutkan diatas.. yang telah menutup hingga ke dada.., tidak transparant dan tidak pua ketat.. sehingga setiap gerak-gerik ini… menjadi seperti layaknya… lenggok-an.. penari..pemancing.. nafsu.

Wahai Sahabat… jika kita berbicara tentang “nikmat dunia” yang (mungkin) akan hilang jika kita menggunakan Jilbab… (I Don’t Know… mungkin buat sebagian orang… ini terlalu… religius.. dan tidak melihat kenyataan… Tapi… maaf sekali lagi maaf…  )  Ini adalah senbuah perumpamaan yang saya kutip dari sebuah ta’lim. Tentang Jika kita disuruh memilih…

1. Maukah.. kita memiliki.. uang yang bernilai 1 milyard..???  yang benar-benar milik kita dan boleeeehhhh dipakai apaaaa saja… ataukah

2. Maukah kita memiliki sebuah tabungan.. lifetime… forever and ever.. dunia dan akhirat.. sebanyak 20 juta.. yang selalu dan selalu.. berharga sama… dengan garansi dari Bank???  Yah… jika saat ini kita berbelanja 10 juta.., seper juta detik itu juga… uang 10 juta kembali tertransfer ke rekening… jika kita belanja 20 juta… seperjuta detik itu juga 20 juta kembali ada dalam rekening… tidak pernah  ada waktu yang teramat sangat singkat yang sempat ditunjukkan oleh buku tabungan ada pengurangan jumlah dana…

Hayoooo mau pilih mana????

Begitulah sebenarnya… jika saya boleh menafsirkan… (dari kesimpulanku dalam majelis Ta’lim tersebt) tentang amalan sholeh… tentang pahala yang kita kerjakan ketika mematuhi perintahNYA menjauhi larangNYA, tentang setiap amalan kita (diantaranya menggunakan Jilbab) adalah bagikan sejumlah dana yang ada dalam rekening kita.. dan ketika dana yang ada kita gunakan dalam beramal… Allah segera mengisi kembali rekening dana kita dengan jumlah yang sama… (PLUS.. jika dana-dana yang ada  kita gunakan untuk beramal.. berarti sebuah rekening lagi dan lagi terbuka untuk kita… Subhanallah….) Pantaslah… jika para Tabi’i (sahabat Nabi) begitu giat beramal ya…….

Hanya jika saya boleh kaitkan dengan kasus pelarangan Jilbab di 2 RS di Kota Bekasi…

Saya melihat dari 3 sisi yaitu : (Maaf ini adalah sebuah pemikiran dari saya yang terlintas)

A. Dari sisi kita sebagai pribadi muslimah.

ISLAM.. adalah sebuah agama yang sangat menjunjung tinggi adanya komitmen… (lihat saja Nabi Muhammad saw.. sebagai sebaik-baik manusia.. sebagai contoh akhlaq terpuji.. tidak pernah sedikitpun menyalahi janji… sehingga di kalanganan musuh beliau sendiri… beliau tetap disegani sebagai orang yang tidak pernah berdusta… selalu jujur… memegang komitmen… berbicara “lantang” dan “apa adanya”…jika dan jika ada yang ternyata tidak ssesuai komitmen setelah berjalannya waktu… beliau selalu mengutamakan adanya perundingan sebelum mengambil keputusan)

Oleh karena itu… saya hanya berharap… kita sebagai kaum muslimahpun.. mencontoh ini dengan sempurna (Ya Allah beri kami kekuatan, kesabaran, keikhlasan, keinginan tinggi agar dapat meniru beliau).. Jika dan hanya jika… pada saat awal.. ada sebuah perjanjian (apalagi… jika ini tertulis) yang jelas-jelas.. mencantumkan adanya keberatan dengan penggunaan Jilbab.. ketika bekerja… KITA TIDAK MELANJUTKAN PROSES MELAMAR PEKERJAAN. Kenapa?… tidak ada gunanya… (maaf ini langkah yang akan kuambil dan saya sarankan untuk diambil) jika kita bersikeras.. karena secara nyata  sudah diperlihatkan bahwa KANTOR/ PERUSAHAAN TERSEBUT BUKANLAH TEMPAT YANG DAPAT MEMBERIKAN KEBAIKAN KEPADA KITA.. APALAGI REJEKI YANG HALALAN TYOYIBAH (mengingat untuk bekerja kita harus memulainya dengan menafikan keyakinan kita pada Allah… Masya Allah)

Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.
QS. Saba’ (34) : 39

Yah… Rejeki… bukan kita yang mengatur darimana datangnya… Rejeki bukan kita yang menentukan berapa besarnya…

Sesungguhnya tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
QS. al-Isra’ (17) : 30

Dengan demikian.. (Sungguh hanya Al_Quran lah.. petunjuk yang paling benar kepada manusia) tidak sebaiknya.. jika kita menurunkan tingkat keyakinan kita… kepatuhan kita pada selain Allah.. dengan mempertaruhkan penggunaan jilbab oleh para muslimah dalam mencari rejeki. (Ya Allah… berikah kekuatanMU agar kami tetap dijalanMU ya Allah… tanpa campur tanganMU… tanpa bantuanMU sungguh kami tak pernah punya kesempatan ini.. karena kami hanya makhluk tak punya daya…)

Insya Allah… jika “KUAT” jika kita “KOMPAK” jika kita “SUNGGUH-SUNGGUH”… pelarangan-pelarangan ini akan “LUNTUR”  ya… Insya Allah… bagaimana tidak… kita sebagai muslimah adalah isi dari sebagian besar warga negara Indonesia (bukankah Islam adalah mayoritas di Indonesia bahkan hingga total 80% dari total penduduk)..  Ini adalah sebuah “KEKUATAN” yang luar biasa… yang dapat merubah.. apapun yang jadi keputusan..

Tapi sebelum itu… kembali lagi… sebagai muslimah kita harus menjunjung tinggi sebuah komitmen… sebuah perjanjian… JANGAN MELAKUKAN… GEBRAKAN.. YANG NYATA-NYATA MERUPAKAN TINDAKAN YANG MELANGGAR KOMITMEN… Muslimah adalah setinggi-tingginya perempuan bermartabat… Muslimah adalah ibu segala ibu… yang akan memberikan tauladan… memberikan pengayoman… sehingga tidak sepantasnya jika kita… bersikap.. TIDAK JUJUR… (dengan mau bersikap “seolah-olah” kita bagian dari komunitas ini… komunitas yang tidak mengehendaki adanya pemakaian jilbab dalam bekerja)

Let’s go to another company… Bismillah… Insya Allah… akan ada banyak barakah.. akan ada banyak rejeki akan ada banyak kebaikan di tempat lain…  Laa  Tahzan innallaaha ma’ana (Jangan bersedih Allah bersama kita)

Tetapi jika ternyata… kesadaran dan pemahaman akan wajibnya pemakaian jilbab tumbuh kemudian… (Subhanallah… Alhamdulillah… sungguh hanya DIA yang membawa cahaya.. yang mengeluarkan kita dari kegelapan) sebaiknya… kita melakukan negosiasi… tanpa sekalipun bergeser dari pemahaman tentang wajibnya berjilbab… Insya Allah selalu ada jalan… Kalau toh pun tidak…. sekali lagi yakinlah Laa  Tahzan innallaaha ma’ana ( jangan bersedih Allah bersama kita)

Bukankah… Jika kita menengok kebelakang… ke perjalanan sejarah Islam… Begitu banyak muslimah… yang dicatat dalam tinta emas sejarah… ikut mengukir perjuangan.

2. Dari sisi Organisasi Muslimah

Sebuah himbauan… sebuah harapan… sebuah keinginan… sebuah permintaan…

Wahai para saudari-saudaraku… ditangan kalian saat ini masa depan para muslimah.. Sudah waktunya.. kita tak lagi bicara doang… (NATO = No Action Talk Only)… Do something… beri kesempatan para saudari kita para muslimah… untuk ikut berkiprah membangun negara.. untuk ikut bagian dalam barisan Fii-SABILLILLAAH.. tanpa harus melanggar kodrat ke-muslimahannya.

Ciptakan lapang kerja yang mendukung..

Ciptakan kesadaran yang tinggi akan pentingnya sebuah Jilbab sebagai jati diri seorang muslimah

Ciptakan lingkungan yang kondusif disekeliling muslimah-muslimah

Ciptakan rasa satu yang utuh… sehingga kita semua kompak.., saling melindungi.., saling mendukung.. saling memberi kesempatan… saling membantu.. saling bergandengan tangan.

Ini adalah sebagian dari apa yang bisa dilakukan oleh organisasi-organisasi muslimin di Indonesia.

Cukupkan segala perbedaan…

Cukupkan segala sikap benar sendiri

Cukupkan ingin menjadi yang paling dan paling

Cukupkan keegoisan

We should.. walk together… hand in hand… to the LIGHT… on HIS WAY..

(Ya Allah… Kabulkan Doa ini Ya Allah… Sungguh hanya kepadaMU lah.. aku dapat berharap)

3. Dari SISI PEMIMPIN

Jawaharlal Nehru, “Kamu dapat menilai suatu bangsa melalui status perempuan bangsa tersebut.”

Sebuah Jargo… menyatakan bahwa “agama adalah adalah sahabat bagi perempuan, namun perempuan seringkali menjadi musuh bagi agama”.

Jika.. seorang perempuan… ingin menjadikan agama sebagai landasan hidupnya… jika seorang perempuan ingin melangkah dalam keyakinan yang lurus terhadap sebuah agama.. jika dengan agama tersebut.. perempuan akan menjadi perempuan-perempuan yang mempunyai kemampuan dan status yang lebih baik jika dengan demikian sebuah bangsapun akan terimbas.. dengan makin “BERNILAI”..

Hmmm….

(I Don’t Know.. mungkin ini kedengarannya… terlalu… “pintar hukum” ya… maafkan saya…)

Sayapun membaca… dari “tetangga”

JAMINAN KEMERDEKAAN BERAGAMA DALAM UUD & UU

1. UUD 1945 Pasal 28E, ayat (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, ayat (2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya.

2. UUD pasal 29 ayat (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

3. UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Pasal 22 ayat (1) Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Pasal 22 ayat (2) Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

4. UU No. 12 Tahun 2005 Tentang Pengesahan Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik pasal 18.

(1) Setiap orang berhak atas kebebasan berfikir, berkeyakinan dan beragama. Hak ini mencakup kebebasan untuk menganut atau menerima suatu agama atau kepercayaan atas pilihannya sendiri, dan kebebasan, baik secara individu maupun bersama-sama dengan orang lain, dan baik di tempat umum atau tertutup, untuk menjalankan agama atau kepercayaannya dalam kegiatan ibadah, ketaatan, pengamalan dan pengajaran.

(2) Tidak seorang pun boleh dipaksa sehingga mengganggu kebebasan nya untuk menganut atau menerima suatu agama atau kepercayaannya sesuai dengan pilihannya.

5. UU No. 1/PNPS/1965, jo. UU No. 5/1969 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/ atau Penodaan Agama, pada penjelasan Pasal 1 berbunyi, „Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk Indonesia ialah Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha dan Khonghucu (Confucius). Hal ini dapat dibuktikan dalam sejarah perkembangan Agama-agama di Indonesia. Karena 6 macam Agama ini adalah agama-agama yang dipeluk hampir seluruh penduduk Indonesia, maka kecuali mereka mendapat jaminan seperti yang diberikan oleh pasal 29 ayat 2 UUD juga mereka mendapat bantuan-bantuan dan perlindungan seperti yang diberikan oleh pasal ini.

DENGAN DEMIKIAN PEMERINTAH DI DALAM MENGATUR KEBEBASAN UNTUK MENJALANKAN AGAMA ATAU KEPERCAYAAN MEMILIKI KEWENANGAN SBB

Berdasarkan apa yang tersurat dalam Undang-Undang No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 70 dan tersurat dalam Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil dan Politik pasal 18 ayat (3) yang telah diratifikasi DPR RI, maka Pemerintah dapat mengatur/ membatasi kebebasan untuk menjalankan agama atau kepercayaan melalui Undang-Undang.

Beberapa contoh diberikan di bawah ini elemen-elemen apa yang dapat dimuat di dalam pengaturan tersebut.

1. Restriction For The Protection of Public Safety (Pembatasan untuk Melindungi Keselamatan Masyarakat)

2. Restriction For The Protection of Public Order (Pembatasan untuk Melindungi Ketertiban Masyarakat)

3. Restriction For The Protection of Public Health (Pembatasan untuk Melindungi Kesehatan Masyarakat)

4. Restriction For The Protection of Morals (Pembatasan untuk Melindungi Moral Masyarakat)

5. Restriction For The Protection of The (Fundamental) Rights and Freedom of Others (Pembatasan untuk Melindungi Kebebasan Mendasar dan Kebebasan orang lain).

5.1. Proselytism (Penyebaran Agama)

5.2. Pemerintah berkewajiban membatasi manifestasi dari agama atau kepercayaan yang membahayakan hak-hak fundamental dari orang lain,

Dengan pembahasan diatas.. jelaslah.. posisi pemerintah dalam menjalankan kewenangannya mengatur kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Memang… sayapun menyadari… adakalanya… ada kondisi dimana.. situasi pelaksanaan ibadah suatu golongan agama bertentangan dengan golongan yang lain… Disinilah.. sangat dituntut kearifan seorang pemimpin… kepekaan seorang pengambil keputusan… sehingga apapun keputusan yang diambil… tetap merupakan jalan keluar yang terbaik bagi semua pihak… dan dengan aparat negara yang dimilikinya… mestinya… akan ada sebuah kontrol dengan melakukan reward and punishment pada setiap pihak yang terkait dengan kesepakatan tersebut diatas.

Jika ini dihubungkan dengan pemakaian Jilbab mestinya.. pemerintah bersedia mendengar.., membaca.., melihat.., mempertimbangkan.., menjadikan dasar hukum peraturan-peraturan tersebut diatas untuk dapat mengambil sebuah sikap atas kasus-kasus serupa di Indonesia… Apalagi jika… kita lihat… bahwa… perjuangan para muslimah untuk ini sudah cukup panjang… (see in “Sekelumit Sejarah Jilbab Di Sekolah negeri di Indonesia”)

Wahai… para pemimpin… saya sampaikan keinginanku.., permohonanku….. sekali lagi… agar akan ada kemajuan dalam bangsa ini meraih nilai-nilai yang benar… menjadi bangsa yang bermartabat.. maka ijinkanlah… kami kaum muslimah… sebagai bagian dari begitu banyak wargamu… sebagai bagian terbesar dari semua golongan yang ada dalam negara ini… dan sebagai bagian dari masyarakat muslimin yang ada di Indonesia.. Ijinkan kami untuk menjadi muslimah yang sesungguhnya… yang sebenar-benarnya…. dengan memberi kesempatan berkarya tanpa melepas identitas….

Yah… kita akan tetap menunggu sikap dan tindakan nyata.

(PS : Mudah-mudahan rencana pertemuan (dalam waktu dekat ini) dengan ibu Yoyoh Yusroh.. seorang Aleg dari DPR RI, Komisi 8 (Bag Agama, Perempuan, Anak dan Sosial) dapat terlaksana… dan dapat diambil sebuah kesimpulan yang akan berpihak pada kepentingan semua pihak dengan baik… Insya Allah)

Comments (3)

Sekelumit Sejarah Jilbab di Sekolah Negeri di Indonesia

KASUS JILBAB DI SEKOLAH-SEKOLAH NEGERI DI INDONESIA

TAHUN 1982-1991

OLEH:

ALWI ALATAS

* Keterangan: Artikel ini disederhanakan dari paper akademik yang diajukan untuk lomba penelitian LIPI beberapa tahun lalu, walaupun sayangnya tidak menang. Artikel lengkapnya bisa diambil pada attachment di bagian ke-3 tulisan ini. Secara umum isinya hampir sama dengan buku Revolusi Jilbab yang pernah kami tulis, hanya saja lebih ringkas dan lebih mengikuti pola penulisan akademik yang strict. Semoga bermanfaat.

Latar Belakang

Hubungan antara Pemerintah Orde Baru dengan umat Islam telah banyak mendapat perhatian dari para pengamat sosial dan politik. Sebagaimana masa-masa sebelumnya, hubungan umat Islam dan negara pada masa Orde Baru mengalami proses pasang surut. Hubungan tersebut diawali dengan adanya kerja sama di antara kedua belah pihak, kemudian terjadi ketegangan dan konflik, dan akhirnya kembali saling mengakomodasi.

Kerja sama antara kedua belah pihak di awal terbentuknya pemerintahan Orde Baru sebenarnya lebih dilandasi oleh adanya kepentingan bersama, yaitu dalam menjatuhkan rezim Orde Lama dan Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta seluruh unsur-unsurnya. Namun, begitu pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Suharto ini berhasil memantapkan kedudukannya dalam pentas politik Indonesia, hubungannya dengan umat Islam segera memburuk. Suharto dan banyak pejabat Orde Baru ketika itu agaknya lebih melihat umat Islam sebagai ancaman bagi kestabilan politik dan pembangunan daripada sebagai mitra, setidaknya sampai paruh kedua tahun 1980-an ketika ketegangan di antara keduanya mulai mencair.

Ketegangan antara umat Islam dan pemerintah mengemuka antara tahun 1967 hingga paruh pertama tahun 1980-an. Pada periode ini, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan yang dianggap merugikan umat Islam. Sementara itu, sebagian elemen Islam menyikapi kebijakan-kebijakan pemerintah ini secara konfrontatif, sehingga hubungan di antara keduanya memburuk.

Kedua belah pihak kemudian sama-sama menyadari bahwa hubungan yang buruk ini tidak menguntungkan bagi semua pihak. Mereka pun berusaha untuk mengurangi sikap saling curiga dengan saling memahami posisi dan potensi masing-masing. Titik balik hubungan ini, mengacu pada pendapat Abdul Aziz Thaba, adalah dengan digulirkannya gagasan Pancasila sebagai asas tunggal pada tahun 1982. Gagasan ini menimbulkan reaksi, baik mendukung maupun menolak, dari berbagai organisasi masa (ormas) Islam. Namun, ketika pemerintah benar-benar menetapkan Pancasila sebagai asas tunggal pada tahun 1985, mayoritas ormas Islam yang ada di Indonesia menerimanya. Sejak itu, mulai terjadi akomodasi antara pemerintah dengan umat Islam.

Terjadinya ketegangan antara pemerintah Orde Baru yang didominasi militer dengan umat Islam bisa dipahami, mengingat struktur kekuasaan ketika itu banyak diisi oleh kaum Islam abangan. Walaupun keberadaan kaum Islam Abangan dalam pemerintahan Orde Baru ketika itu sulit dibuktikan dengan angka-angka, beberapa ahli percaya bahwa ketegangan antara pemerintah Orde Baru dan umat Islam merupakan refleksi ketegangan antara kelompok Abangan dan kelompok Santri di Indonesia. Itulah sebabnya mengapa banyak aspirasi kaum muslimin di Indonesia, khususnya aspirasi politik, yang disikapi secara negatif dan bermusuhan oleh pemerintah Orde Baru. Dalam hal politik, sikap pemerintah Orde Baru sama seperti yang dianjurkan oleh Snouck Hurgronje terhadap pemerintah Hindia Belanda pada awal abad kedua puluh, yaitu mendukung Islam sebagai praktek individu dan sosial, tetapi menolak Islam politik.

Dibatasinya ruang gerak umat Islam di bidang politik tentu tidak harus membuat mereka lumpuh dalam segala bidang. Dalam sebuah seminar di Yogyakarta, Ahmad Syafi’i Ma’arif mengatakan:

”Kelumpuhan umat Islam dalam politik tidak berarti kelumpuhan mereka bergerak dalam bidang sosial dan kultural. Justru pada periode kemacetan dalam politik inilah umat Islam punya peluang yang baik sekali untuk melancarkan dakwah Islam dengan sasaran-sasaran yang lebih strategis.”

Macetnya saluran politik umat Islam tampaknya memang telah membuat mereka menyalurkan energinya ke bidang-bidang yang lain, terutama dalam penyebaran dakwah Islam.

Ditetapkannya Pancasila sebagai asas tunggal kehidupan sosial politik di Indonesia mungkin merupakan ujian politik terbesar yang diberikan pemerintah Orde Baru terhadap umat Islam. Organisasi-organisasi pemuda yang menolak Pancasila sebagai asas tunggal, walaupun kemudian dianggap sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah Orde Baru, tidak serta merta membubarkan diri mereka atau berhenti melakukan aktivitas. Sebagaimana dituturkan Damanik, mereka ”tetap bergerak sebagai ‘gerakan bawah tanah,’ membuat training dan pembinaan-pembinaan bagi pemuda-pemuda Islam.” Tekanan pemerintah justru membuat gerakan mereka jadi semakin ideologis dan kaderisasi yang mereka lakukan pada masa itu pada gilirannya melahirkan kader-kader muda yang militan. Kemunculan jilbab, yang menjadi tema penelitian ini, merupakan salah satu hasil dari kaderisasi dakwah yang gencar dilakukan pada masa-masa tersebut.

Pada saat yang sama, situasi internasional juga ikut mempengaruhi dinamika pergerakan Islam di Indonesia. Tahun 1970-an merupakan tahun yang penuh pergolakan di dunia Islam. Berbagai peristiwa penting seolah menandai geliat baru umat Islam di berbagai negara. Mulai dari Perang Ramadhan (1973), embargo minyak Arab yang dipimpin oleh Raja Faisal (1973), Berkuasanya Zia Ul-Haq di Pakistan berikut program Islamisasinya (1977), dimulainya jihad Afghanistan (1979), hingga berkuasanya Khomeini lewat Revolusi Iran (1979). Mungkin dalam kaitan ini pula abad XV Hijriah, yang dimulai pada tahun 1400 H, ditetapkan sebagai abad kebangkitan Islam. Gagasan kebangkitan Islam ini terus bergulir selama tahun-tahun berikutnya.

Dua hal eksternal yang disebut-sebut banyak memberikan pengaruh terhadap kemunculan jilbab di sekolah-sekolah negeri adalah Revolusi Iran yang terjadi pada tahun 1979 dan pemikiran Al-Ikhwan Al-Muslimin yang masuk ke Indonesia melalui buku-buku para tokohnya yang banyak diterjemahkan sejak tahun 1970-an. Revolusi Iran, yang dipimpin Khomeini dan berhasil menggulingkan rezim syah Iran ketika itu, ikut memberikan kontribusi bagi tumbuhnya semangat berjilbab di kalangan siswi-siswi muslim di Indonesia. Peristiwa tersebut mendapat perhatian yang luar biasa dari berbagai media masa dan memperlihatkan pada masyarakat dunia – termasuk masyarakat Indonesia – bagaimana wanita-wanita Iran menutupi tubuhnya secara rapat dengan jilbab dan busana muslimah. Namun, agaknya pengaruh ini lebih bersifat psikologis daripada ideologis, karena ideologi Syi’ah yang dianut oleh Revolusi Iran jelas-jelas tidak diadopsi atau dianut oleh siswi-siswi yang mengalami pelarangan jilbab di sekolah-sekolah negeri.

Pengaruh yang lebih ideologis agaknya berasal dari pemikiran-pemikiran Al-Ikhwan Al-Muslimin yang masuk ke Indonesia melalui buku-buku para tokohnya yang banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Pemikiran Al-Ikhwan juga banyak tersosialisasi lewat training-training yang diadakan oleh masjid-masjid kampus, terutama Masjid Salman ITB lewat Latihan Mujahid Dakwah (LMD) yang dimotori oleh Ir. Imaduddin Abdul Rahim.

Awal Kemunculan Jilbab di Sekolah-Sekolah Negeri

Sejauh yang berhasil ditelusuri lewat penelitian ini, kasus paling awal yang terekam dari keseluruhan rangkaian kasus pelarangan jilbab di sekolah-sekolah negeri terjadi pada tahun 1979. Pada tahun tersebut terjadi sedikit ketegangan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Bandung. Ada beberapa siswi sekolah tersebut yang mengenakan kerudung. Pihak sekolah kemudian bermaksud untuk memisahkan siswi-siswi ini dalam satu kelas tersendiri. Namun, siswi-siswi tersebut menolak dipisahkan dari kawan-kawannya yang tidak mengenakan jilbab. Setelah ada campur tangan dari Ketua Majelis Ulama Jawa Barat, EZ Muttaqien, pemisahan ini akhirnya tidak jadi dilakukan.

Setahun setelah itu, tahun 1980, terjadi kasus pelarangan jilbab juga di SMAN 3 dan SMAN 4 Bandung. Kurang diketahui bagaimana jalannya kasus pelarangan jilbab di kedua sekolah ini. Namun, mulai bermunculannya kasus-kasus semacam ini di Bandung menyebabkan terjadinya surat menyurat antara Majelis Ulama Jawa Barat, Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen P dan K Jawa Barat, dan Direktur Jenderal PDM Departemen P dan K.

Pengaruh berkembangnya semangat berjilbab di kalangan pelajar sekolah menengah negeri Bandung kemungkinan besar berasal dari pelatihan-pelatihan yang diadakan Masjid Salman ITB yang pada masa itu memang aktif menyelenggarakan program Latihan Mujahid Dakwah (LMD) serta Studi Islam Intensif (SII). Pengaruh aktivitas Masjid Salman ITB tidak hanya terbatas pada kalangan mahasiswa Bandung saja, melainkan juga kalangan pelajar sekolah menengah dan kota-kota selain Bandung.

Sementara itu di Jakarta, kasus pelarangan jilbab juga mulai bermunculan. Munculnya semangat berjilbab di lingkungan sekolah menengah negeri di Jakarta banyak dipengaruhi oleh Pelajar Islam Indonesia (PII) Jakarta, kendati anjuran berjilbab ini bukan merupakan kebijakan PII tingkat nasional. Zainal Muttaqien, yang pada awal 1980-an menjabat sebagai salah satu pengurus PII wilayah Jakarta, memperkirakan Bulan Juni 1980 sebagai awal dari ”jilbabisasi” yang mereka lakukan. Setelah muncul siswi-siswi berjilbab di beberapa sekolah negeri, lewat pengaruh pelatihan-pelatihan yang diadakan PII Jakarta, ketegangan segera terjadi di beberapa sekolah seperti SMAN 30 dan SMAN 8.

Pada awal tahun 1982, terjadi satu kasus lagi pelarangan jilbab. Kali ini terjadi pada seorang siswi bernama Triwulandari, biasa dipanggil Titik, di SMAN 1 Jember. Titik juga tergerak untuk mengenakan jilbab setelah mengikuti Studi Islam Intensif (SII) di Masjid Salman ITB, Bandung, selama empat hari pada saat liburan sekolah. Karena kerudung yang dikenakannya, ia dipaksa pulang oleh kepala sekolahnya, I Made Rempet. Ia dianggap melanggar peraturan seragam sekolah dan dituduh sebagai anggota Jama’ah Imron. Ia bahkan sempat dipanggil oleh Kodim 0824 Jember dan ditanyai mengenai Jama’ah Imron. Penulis tidak memperoleh informasi bagaimana kelanjutan kasus ini.

Pelarangan Jilbab Setelah SK 052

Pada tanggal 17 Maret 1982, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Departemen P dan K) Republik Indonesia mengeluarkan Surat Keputusan (SK) 052/C/Kep/D/82, yang mengatur bentuk dan penggunaan seragam sekolah di sekolah-sekolah negeri. Sebelum keluarnya SK tersebut, peraturan seragam sekolah ditetapkan oleh masing-masing sekolah negeri secara terpisah. Dengan adanya SK tersebut, maka peraturan seragam sekolah menjadi bersifat nasional dan diatur langsung oleh Departemen P dan K.

SK tersebut hampir-hampir tidak mengakomodir kemungkinan untuk menggunakan seragam sekolah dalam bentuk lain. Karenanya, kebijakan pemerintah ini segera berbenturan dengan keinginan beberapa siswi muslim di sekolah-sekolah negeri untuk menutup auratnya sesuai dengan syari’at Islam yang mereka yakini. Kalau sebelum keluarnya SK 052 saja sudah mulai bermunculan kasus-kasus pelarangan jilbab, maka setelah keluarnya SK tersebut semakin banyak siswi-siswi berjilbab yang memperoleh teguran, pelarangan, dan tekanan dari pihak sekolah. Siswi yang bersikeras untuk tetap mengenakan jilbab di lingkungan sekolah, pada akhirnya dipersilahkan untuk keluar dari sekolah negeri tempat mereka belajar dan pindah ke sekolah swasta.

Kasus pelarangan jilbab sudah mulai terjadi tidak lama setelah berlakunya SK 052. Padahal, SK itu sendiri memberi masa transisi selama dua tahun sebelum kebijakan seragam sekolah betul-betul diterapkan. Selain itu, dalam Wartasiswa yang dikeluarkan Departemen P dan K disebutkan bahwa SK 052 hanya merupakan ”pedoman” yang ”tidak memuat sanksi atau bersifat paksaan.” Namun, kenyataan di lapangan memperlihatkan banyaknya tekanan dari sekolah-sekolah negeri terhadap siswi-siswinya yang berjilbab, bahkan tidak sedikit siswi yang akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Tekanan diberikan tidak hanya terhadap siswi, tapi juga terhadap guru yang membiarkan siswi berjilbab tetap belajar di kelasnya.

Kasus pertama yang terekam sejak keluarnya SK 052 adalah tekanan guru Olah Raga SMAN 3 Bandung terhadap delapan siswinya agar mereka melepaskan kerudung. Bukan hanya kerudung yang menjadi masalah, kedelapan siswi ini juga diwajibkan mengenakan celana pendek (hotpant) pada jam pelajaran Olah Raga. Setelah surat-menyurat yang cukup alot antara Majelis Ulama, Kanwil Departemen P dan K Jawa Barat, dan guru Olah Raga terkait, baru masalah itu bisa diselesaikan dan para siswi tetap diijinkan menggunakan kerudung pada jam-jam pelajaran, termasuk jam Olah Raga. Tapi untuk kasus yang terjadi di SMAN 68, Jakarta Pusat, beberapa bulan setelah itu, siswi yang mengenakan kerudung terpaksa menerima kenyataan harus dikeluarkan dari sekolah.

Kasus-kasus lainnya pun segera menyusul setelah itu. Semakin lama semakin banyak siswi yang mengalami konflik dengan sekolah karena jilbab yang dikenakannya. Hal ini menimbulkan reaksi dari beberapa lembaga Islam, terutama Pelajar Islam Indonesia (PII), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Mereka menyatakan keprihatinannya terhadap kebijakan Departemen P dan K yang mulai menimbulkan korban. Majelis Ulama Indonesia (MUI), mewakili lembaga-lembaga Islam lainnya, melakukan dialog dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Menteri P dan K) dengan harapan Menteri P dan K bersedia meninjau ulang kebijakan departemennya mengenai peraturan seragam sekolah ini. Beberapa media massa, walaupun masih terbatas, memberitakan kasus-kasus pelarangan yang terjadi dan para siswa beberapa kali melakukan demonstrasi menuntut hak mengenakan jilbab di sekolah. Sayangnya, semua itu ternyata tidak banyak membuahkan hasil. Namun menariknya, siswi-siswi yang mengenakan jilbab di sekolah-sekolah negeri, terutama di Jakarta dan Bandung, terus saja bertambah.

Pada awal tahun ajaran 1984/ 1985, persis setelah berakhirnya masa transisi peraturan seragam sekolah sebagaimana diatur oleh SK 052, kasus-kasus pelarangan jilbab segera bermunculan lebih sering daripada tahun-tahun sebelumnya. Lembaga Bina Insan Kamil (LBIK) melaporkan 29 siswi berjilbab dari sembilan sekolah negeri terancam dikeluarkan. Anas melaporkan 350 siswi berkerudung di Bandung terancam dikeluarkan. Berita yang disampaikan Serial Media Dakwah lebih mengejutkan lagi. 300 pelajar puteri sekolah menengah negeri di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Cirebon, Pekalongan, Surabaya, dan Sumenep, terpaksa pindah sekolah karena masalah kerudung ini. Sekolah-sekolah negeri di Bandung sendiri bersih dari jilbab pada tahun 1984. Hanya di Sumatera Barat dan Aceh jilbab tetap diperkenankan. Selain itu, tidak sedikit siswi-siswi yang terpaksa mengalah terhadap peraturan seragam sekolah dan akhirnya melepaskan jilbab yang mereka kenakan selama berada di lingkungan sekolah. Sementara di luar sekolah, mereka umumnya tetap mengenakan jilbab atau kerudung.

Babak Baru Perjuangan Jilbab di Sekolah-Sekolah Negeri

Setelah penegakan peraturan seragam sekolah yang gencar dari sekolah-sekolah negeri sepanjang tahun 1984 dan 1985, selama dua tahun berikutnya, 1986-1987, boleh dikatakan sepi dari kasus pelarangan jilbab. Siswi-siswi sekolah negeri yang masih mengenakan jilbab, terpaksa melepaskannya selama berada di lingkungan sekolah. Namun, antara tahun 1988 hingga 1991, kasus pelarangan jilbab kembali marak terjadi. Pada masa-masa ini, banyak siswi berjilbab yang memberanikan diri menuntut hak mereka untuk mengenakan jilbab di lingkungan sekolah. Tentu saja ini kembali menimbulkan konflik dengan pihak sekolah dan banyak siswi yang terancam dikeluarkan dari sekolah.

Sejak awal tahun ajaran 1988/ 1987, cukup banyak kasus pelarangan jilbab yang terjadi, bukan hanya di Jawa, tapi juga di luar Jawa. Sekolah-sekolah yang mengalami kasus ini antara lain SMAN 1, SMKK, SPG Kendari, dan SMAN Mandonga (seluruhnya di Sulawesi Utara), SMAN 30 Jakarta, SMAN 1 Arga Makmur Bengkulu, SMAN 36, dan SMAN 83 Jakarta. Siswi-siswi yang tetap ingin bertahan dengan jilbab yang dikenakannya, dikembalikan oleh sekolah kepada orang tua mereka masing-masing dan akhirnya terpaksa harus pindah ke sekolah swasta.

Perbedaan menonjol konflik jilbab pada masa ini (1988-1991) dibanding tahun-tahun sebelumnya adalah kasus pelarangan jilbab pada masa ini lebih banyak diangkat oleh media massa dan beberapa di antara kasus-kasus ini ada yang berlanjut ke pengadilan. Agaknya, perjuangan para siswi berjilbab hingga ke pengadilan inilah yang menarik perhatian pers untuk meliputnya dan pada gilirannya membuat kasus pelarangan jilbab ini diketahui lebih luas oleh masyarakat.

Media massa yang meliput berita pelarangan jilbab pada masa ini adalah majalah Panji Masyarakat, Serial Media Dakwah, Editor, Tempo, Hai, Harian Terbit, Jayakarta, Pelita, Kompas, dan Pos Kota. Media-media massa ini juga menampilkan komentar masyarakat dan tokoh yang umumnya menyatakan keprihatinan mereka terhadap apa yang menimpa siswi-siswi berjilbab di sekolah-sekolah negeri. Suara masyarakat yang umumnya disampaikan melalui surat-surat pembaca di berbagai media massa bernada cukup pedas mengecam para pejabat dan guru-guru sekolah negeri yang menghalang-halangi siswinya berjilbab.

Adapun tokoh yang ikut merespon kasus ini antara lain Dja’far Badjeber (Komisi E DPR RI), Sarwono Kusumaatmaja (Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara), Nursyahbani Katjasungkana (Direktur LBH Jakarta), KH Hasan Basri (Ketua MUI), Hartono Mardjono (Wakil Ketua DPA), Mardinsjah (Sekjen PPP), Lukman Harun (PP Muhammadiyah), Anwar Harjono (DDII), A.M. Saefudin (Direktur Pesantren Ulil Albab Bogor), dan Drs. Ridwan Saidi.

Kasus yang pertama kali berlanjut ke pengadilan adalah kasus pelarangan jilbab di SMAN 1 Bogor. Beberapa siswi yang berjilbab di sekolah ini diperbolehkan hadir belajar di kelas, tetapi di dalam absensi mereka dianggap tidak hadir dan seluruh ulangan maupun praktikum yang mereka ikuti tidak dinilai oleh guru. Selain itu, mereka juga dipanggil ke kantor sekolah setiap hari dan ditekan dengan berbagai pertanyaan yang bernada intimidatif. Setelah gagal untuk menyelesaikan hal ini secara musyawarah, empat orang tua siswi berjilbab di sekolah ini menuntut Kepala Sekolah SMAN 1 Bogor ke pengadilan. Dalam mengajukan gugatannya, mereka dibantu oleh LBH Jakarta.

Setelah penundaan sidang yang pertama, pada tanggal 2 Desember 1988, dilakukan pertemuan antara orang tua siswi, Ketua MUI Bogor, Walikota Bogor, kuasa hukum Departemen P dan K, Kandep P dan K Bogor, dan Kanwil P dan K Jawa Barat. Pertemuan itu menyepakati bahwa siswi-siswi berjilbab harus dikembalikan pada statusnya semula dan Kepala SMAN 1 Bogor harus mengajukan surat permohonan maaf pada para orang tua siswi. Pada sidang pengadilan berikutnya, Kepala SMAN 1 Bogor menyampaikan permohonan maaf dan berjanji untuk menerima kembali siswi-siswi berjilbab. Kuasa hukum siswi-siswi berjilbab menarik tuntutannya dan masalah pun dianggap selesai.

Berbeda dengan sidang pengadilan di atas yang relatif cepat dan dimenangkan oleh pihak siswi berjilbab, sidang kasus jilbab yang menimpa sepuluh siswi SMAN 68 Jakarta berlangsung sangat lama. Peristiwa bermula pada Bulan November 1988 ketika di sekolah tersebut mulai bermunculan siswi-siswi berjilbab. Siswi-siswi ini kemudian menerima tekanan terus menerus dari sekolah. Mereka harus memilih antara melepas jilbab, keluar dari kelas, atau guru yang tidak mengajar di kelas mereka. Tekanan yang diterima oleh siswi-siswi ini meningkat terus hingga akhirnya mereka sama sekali tidak diizinkan masuk ke dalam sekolah. Kebijakan ini didukung oleh Kanwil Departemen P dan K DKI Jakarta.

Setelah jalan musyawarah tidak membuahkan hasil, orang tua siswi-siswi ini kemudian menempuh jalur hukum lewat bantuan LBH Jakarta. Nursyahbani, yang menjadi kuasa hukum siswi-siswi berjilbab, kemudian menyurati Kanwil P dan K DKI Jakarta dan Menteri P dan K. Karena tidak memperoleh hasil yang diharapkan, pada tanggal 2 Maret 1989, kasus ini resmi diajukan pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Setelah beberapa kali sidang, pengadilan memutuskan untuk menolak seluruh tuntutan penggugat. Para penggugat kemudian memutuskan untuk naik banding. Dari sepuluh orang tua siswi berjilbab, kini tinggal lima yang meneruskan gugatan ke pengadilan tinggi.

Selama proses pengadilan berlangsung, siswi-siswi ini diterima belajar di lingkungan sekolah-sekolah Muhammadiyah ”dengan status belum pindah dari SMAN 68.” Karena panjangnya proses pengadilan, siswi-siswi ini akhirnya terpaksa mengurus kepindahan mereka secara resmi dari SMAN 68.

Perjuangan siswi-siswi ini di pengadilan tinggi pun rupanya mengalami kekalahan. Namun, pada tanggal 19 Desember 1990 mereka mengajukan kasasi. Bagaimana jalannya sidang setelah itu tidak lagi menarik perhatian media massa. Berita mengenai sidang pengadilan ini baru muncul beberapa tahun kemudian, yaitu pada tahun 1995, dengan kemenangan di pihak siswi-siswi berjilbab. Padahal, sejak 1991 jilbab sudah diizinkan di sekolah-sekolah negeri.

Bersamaan dengan memanasnya konflik jilbab di sekolah-sekolah negeri dan ruang pengadilan, kasus jilbab juga ikut merembet ke wilayah-wilayah lain. Di Tegal, sempat terjadi kasus penelanjangan gadis berjilbab oleh petugas keamanan sebuah toserba karena gadis tersebut dicurigai mencuri permen seharga Rp. 160,00. Yang lebih ramai lagi adalah kabar tentang wanita berjilbab menebarkan racun di pasar-pasar. Isu ini sempat menyebabkan seorang ibu berjilbab nyaris meninggal dunia dihakimi masa karena diteriaki sebagai penebar racun. Kendati pada awalnya kejadian ini sangat merugikan wanita-wanita yang mengenakan jilbab, tetapi setelah terbukti bahwa semua itu tidak benar dan nyata-nyata telah memojokkan wanita-wanita berjilbab, simpati dan pembelaan yang lebih besar mengalir pada para wanita – dan tentu saja siswi-siswi – berjilbab.

Semua peristiwa itu menimbulkan reaksi dan kemarahan umat Islam. Pada awal November 1989 berkumpul para pemuda dan mahasiswa yang mewakili 60 lembaga Islam se-Bandung di Universitas Padjadjaran untuk berunjuk rasa. Kehadiran mereka dipicu oleh isu penyebaran racun oleh wanita berjilbab yang mereka anggap sangat memojokkan Islam. Tanggal 21 Desember 1989 kembali digelar demonstrasi di Bandung menuntut kebebasan memakai jilbab.

Sementara itu, pembicaraan intensif mengenai masalah ini bergulir terus antara MUI dan Departemen P dan K yang diwakili oleh Menteri P dan K, Fuad Hasan, dan Dirjen PDM (Dikdasmen), Hasan Walinono. Kedua belah pihak kemudian sepakat untuk menyempurnakan peraturan seragam sekolah. Akhirnya, pada tanggal 16 Februari 1991, SK seragam sekolah yang baru, yaitu SK 100/C/Kep/D/1991, ditandatangani secara resmi, setelah melalui konsultasi dengan banyak pihak.

Hal ini tentu saja disambut gembira oleh siswi-siswi berjilbab serta masyarakat yang bersimpati pada perjuangan mereka. Tidak sedikit dari siswi-siswi berjilbab ini yang langsung memberanikan diri mengenakan jilbab di sekolah tidak lama setelah ditandatanganinya SK tersebut. Walaupun, SK tersebut sebenarnya baru benar-benar berlaku pada tahun ajaran baru 1991/ 1992 yang jatuh pada Bulan Juli. Pihak Humas P dan K meminta kepala-kepala sekolah negeri agar mentolerir hal ini. Dengan berlakunya SK 100 ini, maka persoalan jilbab di Indonesia secara umum sudah bisa dianggap selesai.


Analisa

Mengacu pada pembabakan hubungan Pemerintah Orde Baru dan umat Islam yang diajukan Thaba, tidak terlalu mengherankan melihat sikap Departemen P dan K terhadap fenomena jilbab yang bermunculan sejak awal tahun 1980-an. Pada periode Antagonistik (1967-1982) dan Resiprokal Kritis (1982-1985) banyak aspirasi umat Islam yang disikapi dengan penuh kecurigaan oleh pemerintah. Baru pada pertengahan periode Akomodatif (1985-1994) terjadi perubahan sikap pemerintah terhadap aspirasi umat Islam yang bersimpati dan menghendaki diizinkannya jilbab di sekolah-sekolah negeri.

Pemerintah, dalam hal ini Departemen P dan K, mencurigai adanya motif politik di balik munculnya siswi-siswi berjilbab atau setidaknya ada golongan tertentu yang memperalat siswi-siswi tersebut. Hal ini terungkap dalam penjelasan Departemen P dan K tentang seragam sekolah kepada intern jajarannya atau pada perkataan beberapa guru yang menghalangi siswi berjilbab. Agaknya inilah salah satu alasan yang mendorong mereka melarang jilbab secara tegas di sekolah-sekolah negeri. Selain itu, kurang paham dan kurang tolerannya jajaran Departemen P dan K dan sekolah-sekolah negeri terhadap syariat Islam yang diyakini siswi-siswi berjilbab, kendati kebanyakan mereka sendiri beragama Islam, tampaknya juga merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan sebagai penyebab keluarnya SK 052 dan terjadinya berbagai kasus pelarangan jilbab.

Anggapan adanya gerakan tertentu yang berada di balik maraknya jilbab di sekolah-sekolah negeri sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Sebagaimana bisa diikuti dalam penelitian ini, hampir seluruh siswi yang mengalami kasus ini baru mengenakan jilbab di sekolah menengah negeri, setelah mengikuti training yang diadakan oleh PII Jakarta, Masjid Salman ITB, atau lembaga lainnya. Jadi, dorongan berjilbab atau berkerudung memang menjadi bagian dari program training lembaga-lembaga tersebut, tidak muncul begitu saja. Selain itu, jika melihat kegigihan banyak siswi dalam mengenakan jilbab, bahkan hingga siap dikeluarkan dari sekolah, ini memperilhatkan bahwa semangat berjilbab di sekolah-sekolah negeri pada masa itu bukan sekedar trend atau keinginan sesaat. Jilbab, dalam arti busana muslimah yang menutupi aurat sesuai dengan syariat Islam, sudah menjadi keyakinan yang mendalam bagi siswi-siswi ini.

Sebagaimana telah disinggung pada awal penelitian ini, ada beberapa faktor yang memberikan kontribusi terhadap kemunculan jilbab di sekolah negeri. Setidaknya ada dua faktor umum yang bisa dikemukakan di sini, yaitu faktor internal dan eksternal Indonesia. Faktor internal atau dalam negeri yang ikut mempengaruhi maraknya jilbab di sekolah-sekolah negeri antara lain sikap pemerintah Orde Baru yang tidak akomodatif terhadap aspirasi umat Islam. Sikap pemerintah yang tidak menguntungkan ini pada gilirannya mendorong munculnya semangat perlawanan dan militansi dari beberapa organisasi pemuda di tingkat mahasiswa dan pelajar sekolah menengah.

Faktor eksternal yang mempengaruhi fenomena jilbab di sekolah-sekolah negeri antara lain gejala ”kebangkitan” di dunia Islam pada era tahun 1970-an dan 1980-an yang memberi dampak psikologis bagi semangat dakwah Islam di tanah air. Selain itu, faktor yang tidak kalah penting adalah banyak diterjemahkannya buku-buku para tokoh Islam Timur Tengah, yang mayoritasnya merupakan tokoh organisasi Islam Al-Ikhwan Al-Muslimin, ke dalam Bahasa Indonesia serta digunakannya pemikiran-pemikiran mereka oleh kalangan mahasiswa muslim lewat program kaderisasi mereka. Dan jilbab adalah salah satu di antara nilai-nilai Islam yang diperjuangkan oleh para pemikir Islam Internasional tersebut.

Di sinilah terjadinya pertemuan antara faktor internal, yaitu organisasi pemuda dan masjid kampus seperti PII Jakarta dan Masjid Salman ITB, dengan faktor eksternal, yaitu pemikiran tokoh-tokoh Al-Ikhwan Al-Muslimin dan pemikiran yang sejalan dengannya. Pertemuan di antara kedua faktor ini pada gilirannya melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai Gerakan Tarbiyah, yang belakangan bertransformasi menjadi Partai Keadilan. Gerakan inilah yang tampaknya berada di belakang perjuangan siswi-siswi berjilbab di sekolah-sekolah negeri, setidaknya sejak pertengahan tahun 1980-an.

Ali Said Damanik, yang meneliti tentang Gerakan Tarbiyah, kendati tidak membahas persoalan jilbab secara khusus di dalam bukunya, menegaskan bahwa memang gerakan inilah yang berada di balik maraknya jilbab di sekolah-sekolah negeri. Ia menuliskan,

… sampai kurang lebih sebelas tahun yang lalu, para jilbaber (pengguna jilbab) masih harus berhadapan dengan larangan, pengusiran, dan sejumlah teror yang dilakukan oleh birokrasi-birokrasi sekolah, pabrik dan perusahaan…. Tetapi, berkat keteguhan dan kesabaran para penggunanya – yang sebagian terbesarnya adalah para aktivis gerakan yang sedang kita bicarakan ini – jilbab kini bisa tampil sebagai salah satu asesoris manis yang populer.

Walaupun indikasi adanya gerakan tertentu di balik fenomena jilbab di sekolah-sekolah negeri memperoleh pembenaran melalui fakta-fakta di atas, namun larangan untuk mengenakan jilbab karena tudingan politis sulit untuk diterima oleh umat Islam. Bagaimanapun juga, jilbab tidak pernah menjadi monopoli sebuah gerakan tertentu, karena perintahnya, sebagaimana diyakini oleh banyak kaum muslimin, terdapat di dalam Al-Qur’an dan Hadits dan dijalankan oleh berbagai kelompok masyarakat muslim sejak awal kemunculan Islam di Jazirah Arab. Memang ada sebagian kalangan muslim yang memandang jilbab tidak wajib. Namun ketika keyakinan ini dipaksakan tanpa mentolerir pihak-pihak yang meyakini kewajibannya, maka pihak yang terakhir ini akan merasa terlanggar hak-haknya dalam beragama. Ketika kedua belah pihak tetap bertahan pada posisinya masing-masing maka terjadilah konflik yang berkepanjangan sebagaimana yang tampak pada penelitian ini.

Penutup

Ada beberapa kesimpulan yang bisa ditarik pada bagian penutup ini, antara lain: pertama, konflik yang terkait dengan jilbab di sekolah-sekolah negeri sangat terkait dengan kebijakan pemerintah Orde Baru terhadap umat Islam. Kedua, sikap curiga pemerintah terhadap umat Islam telah mendorong terjadinya konflik, antara lain berupa kasus-kasus pelarangan jilbab sebagaimana yang diangkat dalam penelitian ini.

Ketiga, kegigihan siswi-siswi SMA negeri dalam memperjuangkan hak untuk mengenakan jilbab atau busana muslimah di lingkungan sekolah menunjukkan bahwa semua itu pasti dilandasi oleh keyakinan dan motivasi yang kuat, bukan semata karena ikut-ikutan. Keempat, Munculnya semangat berjilbab di sekolah-sekolah negeri dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal Indonesia. Faktor internal yang menonjol adalah semakin ideologis dan militannya beberapa organisasi pelajar muslim dan masjid kampus dalam melakukan program kaderisasi sebagai dampak tekanan pemerintah yang kuat terhadap mereka. Faktor eksternal yang menonjol adalah dorongan psikologis yang diberikan oleh Revolusi Iran serta pengaruh ideologis pemikiran Al-Ikhwan Al-Muslimin yang masuk ke Indonesia, antara lain lewat buku-buku terjemahan. Kelima, adanya peran Gerakan Tarbiyah terhadap perjuangan siswi-siswi berjilbab di sekolah-sekolah negeri.

Keenam, sikap kaku pemerintah terhadap peraturan seragam sekolah telah menyebabkan persoalan ini menjadi berlarut-larut. Sekiranya pemerintah bisa bersikap lebih toleran terhadap hal ini, kasus pelarangan jilbab tentu bisa lebih cepat tertangani. Ketujuh, persoalan jilbab atau busana muslim lebih tepat dilihat dari sudut pandang hak seseorang dalam menjalankan agamanya daripada dilihat dari sudut pandang politik. Jadi, selama hak tersebut tidak merugikan kepentingan lembaga (sekolah) ataupun kepentingan orang lain, maka hak tersebut tidak perlu dilarang.

Kedelapan, bagaimanapun juga, sikap Departemen P dan K terhadap persoalan jilbab ketika itu perlu dilihat menurut suasana zamannya yang memang belum begitu bersahabat terhadap berbagai aspirasi umat Islam. Selain itu, kemunculan jilbab di sekolah-sekolah negeri dengan bentuk dan pola semacam ini memang baru pertama kali terjadi pada saat itu, sehingga Departemen P dan K belum mempunyai contoh kasus ataupun pengalaman sejenis yang bisa digunakan secara ideal dalam pengambilan keputusan. Sementara pada saat yang sama, peraturan seragam sekolah dianggap sebagai suatu hal yang penting untuk menumbuhkan rasa persatuan siswa. Adanya pengalaman – serta penelitian tentang pengalaman – ini diharapkan bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk menghindari terjadinya peristiwa serupa di masa-masa yang akan datang.

Komentar dimatikan

« Newer Posts · Older Posts »