Archive for Sejarah….

Petisi Untuk Rancangan Undang-undang Pornografi

Sebuah sarana untuk anda-anda yang merasa UU Pornografi sebaiknya segera diUndangkan… ada sebuah petisi yang insya Allah akan memperkuatnya.. Silahkan baca dan buka di

Dukungan Pengesahan RUU Pornografi

Postinganku yang berkaitan :

1. Rancangan Undang-undang Pornografi dan Pornoaksi

2. Undang-undang Pornografi 2 (Hasil revisi)

3. RUU Pornografi Yes or No

4. Ketika Ibu Astri Ivo bicara

5. Anak dengan……..

6. Langkah Nyata melindungi generasi muda

7. Surat Untuk Uktifillah

8. Sensor Situs porno di warnet

9. Bicara Sex pada anak

Komentar dimatikan

Suri teladan Muslimah… Biografi Istri-istri Nabi

Khodijah binti Khuwailid

Istri Yang Tercinta
Wahai Muslimah…
Mengapa kita harus mencari panutan yang lain,
Kalau di hadapan kita ada sosok yang paling baik,
dan Mulia Ibu bagi orang Mukminin…
Istri yang setia lagi Taat…
Sebagai penentram hati sang suami…
dan sebaik-baik teladan bagi kaum wanita…

Simaklah sabda Rasulullah :
“Sebaik-baik wanita ialah Maryam binti Imran. Sebaik-baik wanita ialah Khadijah binti Khuwailid. (HR Muslim dari Ali bin Abu Thalib radiyallahu ‘anhu).

“Dan sebaik -baik wanita dalam masanya adalah Khadijah”

Dialah Khadijah binti Khuwailid istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama. Ia lahir pada tahun 68 sebelum Hijrah. Hidup dan tumbuh serta berkembang dalam suasana keluarga yang terhormat dan terpandang, berakhlak mulia, terpuji, berkemauan tinggi, serta mempunyai akal yang suci, sehingga pada zaman jahiliyah diberi gelar “Ath-Thahirah”.

Khadijah adalah wanita kaya yang hidup dari usaha perniagaan. Dan untuk menjalankan perniagaannya itu ia memiliki beberapa tenaga laki-laki, diantaranya adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (sebelum beliau menjadi suaminya).

Sebenarnya Khadijah adalah wanita janda yang telah menikah dua kali. Pertama ia menikah dengan Zurarah At-Tamimi dan yang kedua menikah dengan Atid bin Abid Al-Makhzumi. Dan masing-masing wafat dengan meninggalkan seorang putera.

Pada masa jandanya, banyak tokoh Quraisy yang ingin mempersuntingnya. Namun ia selalu menolaknya. Dibalik semua itu, Allah memang telah mempersiapkan Khadijah binti khuwailid untuk menjadi pendamping Rasul-Nya yang terakhir, yakni Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk pembela dan penolong risalah yang beliau sampaikan.

Pada usianya yang ke empat puluh, beliau menikah dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, pada waktu itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam belum diangkat menjadi rasul dan baru berusia 25 tahun.

Perbedaan usia tidaklah menimbulkan permasalahan bagi rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu membentuk rumah tangga dengannya tidak mempunyai isteri yang lainnya.

Pernikahannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikaruniai beberapa putera oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yaitu Qosim, Abdullah, Zainab, Ruqayah, Ummu Kultsum dan Fathimah. Namun putera beliau yang laki-laki meninggal dunia sebelum dewasa.

Suatu hari Khadijah mendapatkan suaminya pulang dalam keadaan gemetaran. Terpancar dari raut wajahnya kekhawatiran dan ketakutan yang sangat besar.

“Selimuti aku!…., Selimuti aku!…, “ seru Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada isterinya. Demi melihat kondisi yang seperti itu, tidaklah membuat Khodijah menjadi panik. Kemudian diselimuti dan dicoba untuk menenangkan perasaan suaminya. Rasul pun segera menceritakan pada istrinya, kini tanpa disadarinya, tahulah ia bahwa suaminya adalah utusan Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan tenang dan lemah lembut, Khadijah berkata : ”Wahai putera pamanku, Demi Allah, dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sesungguhnya engkau termasuk orang yang selalu menyambung tali persaudaraan, berkata benar, setia memikul beban, menghormati dan suka menolong orang lain”. Tutur kata manis dari sang istri menjadikan beliau lebih percaya diri dan tenang. Khadijah, …sungguh mulia akhlaqmu.

Diawal permulaan Islam, peranan Khadijah tidaklah sedikit. Dengan setia ia menemani suaminya dalam menyampaikan Risalah yang diemban oleh beliau dari Rabb Subhanahu wa Ta’ala. Wanita pertama yang beriman kepada Allah ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya menuju jalan Rabb-Nya. Dia yang membantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengibarkan bendera Islam. bersama Rasulullah sebagai angkatan pertama. Dengan penuh semangat, Khadijah turut berjihad dan berjuang, mengorbankan harta, jiwa, dan berani menentang kejahilan kaumnya.

Khadijah seorang yang senantiasa menentramkan dan menghibur Rasul disaat kaumnya mendustakan risalah yang dibawa. Seorang pendorong utama bagi Rasul untuk selalu giat berda’wah, bersemangat dan tidak pantang menyerah. Ia juga selalu berusaha meringankan beban berat di pundak Rasul. Perhatikan pujian Rasul terhadap Khadijah :
“Dia (Khadijah) beriman kepadaku disaat orang-orang mengingkari. Ia membenarkanku disaat orang mendustakan. Dan ia membantuku dengan hartanya ketika orang-orang tiada mau”. (HR. Ahmad, Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil Ba’ar)

Kebijakan, kesetiaan dan berbagai kebaikan Khadijah tidak pernah lepas dari ingatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan sampai Khadijah meninggal. Ia benar-benar seorang istri yang mendapat tempat tersendiri di dalam hati Rasulullah shallallalhu ‘alaihi wa sallam. Betapa kasih beliau kepada Khadijah, dapat kita simak dari ucapan ‘Aisyah . “Belum pernah aku cemburu terhadap istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebut-nyebut namanya, bahkan adakalanya menyembelih kambing dan dibagikannya kepada kawan-kawan Khadijah. Bahkan pernah saya tegur, seakan-akan di dunia tidak ada wanita selain Khadijah, lalu Nabi menyebut beberapa kebaikan Khadijah, dia dahulu begini dan begitu, selain itu, aku mendapat anak daripadanya.”

Khadijah binti Khuwailid, wafat tiga tahun sebelum hijrah dalam usia 65 tahun. Kepergiaannya membuat kesedihan yang sangat mendalam di hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun umat Islam. Ia pergi menghadap Rabb-Nya dengan meninggalkan banyak kebaikan yang tak terlupakan.

Itulah Khadijah binti Khuwailid, yang Allah pernah menyampaikan peghormatan (salam) kepadanya dan Allah janjikan untuknya sebuah rumah di Syurga. Sebagaimana telah disebut dalam hadist dari Abu Hurairah: “Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang kepada engkau dengan membawa bejana berisi lauk pauk atau makanan atau minuman. Apabila ia datang kepadamu, sampaikanlah salam kepadanya dari Tuhannya Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dan juga dariku dan kabarkanlah berita gembira kepadanya mengenai sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara di dalamnya tidak ada keributan dan kesusahan.” (HR Muslim dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu).

Wahai orang yang terperdaya, .. istana tersebut lebih baik dari pada gemerlapnya dunia yang telah memperdayakanmu. Dan ini adalah sebaik-baik kabar gembira dibanding dunia dan segala isinya. Tidakkah kalian ingin mendapatkannya pula?

Mudah-mudahan Allah memberikan balasan kepada Khadijah atas segala jasa dan kebaikanya dalam membela agama dan Rasul-Nya dengan balasan yang sebaik-baiknya, penuh kenikmatan dan kecemerlangan di dalam “istananya”.

disunting dari Khodijah binti Khuwailid

Aisyah binti Abu Bakar

Hari-hari indah bersama kekasih Allah dilalui dengan singkatnya ketabahan menghiasi kesendiriannya guru besar bagi kaumnya pendidikan kekasih Allah telah menempanya.

Dia adalah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq , yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih suka memanggilnya “Humaira”. ‘Aisyah binti Abu Bakar Abdullah bin Abi Khafafah berasal dari keturunan mulia suku Quraisy.

Ketika umur 6 tahun, gadis cerdas ini dipersunting oleh manusia termulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan perintah Allah melalui wahyu dalam mimpi beliau.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan mimpi beliau kepada ‘Aisyah :”Aku melihatmu dalam mimpiku selama tiga malam, ketika itu datang bersamamu malaikat yang berkata : ini adalah istrimu. Lalu aku singkap tirai yang menyembunyikan wajahmu , lalu aku berkata sesungguhnya hal itu telah ditetapkan di sisi Allah.” (Muttafaqun ‘alaihi dari ‘Aisyah radilayallahu ‘anha)

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha memulai hari-harinya bersama Rasulullah sejak berumur 9 tahun. Mereka mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga yang diliputi suasana Nubuwwah. Rumah kecil yang disamping masjid itu memancarkan kedamaian dan kebahagiaan walaupun tanpa permadani indah dan gemerlap lampu yang hanyalah tikar kulit bersih sabut dan lentera kecil berminyak samin (minyak hewan).

Di rumah kecil itu terpancar pada diri Ummul Mukminin teladan yang baik bagi istri dan ibu karena ketataatannya pada Allah, rasul dan suaminya. Kepandaian dan kecerdasannya dalam mendampingi suaminya, menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Aisyah menghibur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencintainya. Aisyah menghibur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sedih, menjaga kehormatan diri dan harta suami tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berda’wah di jalan Allah.

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga melalui hari-harinya dengan siraman ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga ribuan hadist beliau hafal.

Aisyah radhiyallahu ‘anha juga ahli dalam ilmu faraid (warisan dan ilmu obat-obatan). Urmah bin Jubair putra Asma binti Abu Bakar bertanya kepada Aisya radhiyallahu ‘anha :” Wahai bibi, dari mana bibi mempelajari ilmu kesehatan?.” Aisyah menjawab :”Ketika aku sakit, orang lain mengobatiku, dan ketika orang lain sakit aku pun mengobatinya dengan sesuatu. Selain itu, aku mendengar dari orang lain, lalu aku menghafalnya.”

Selain keahliannya itu, Aisyah juga seorang wanita yang menjaga kesuciannya. Seperti kisah beliau sepulang dari perang Hunain, yang dikenal dengan haditsul ifqi. Ketika mendekati kota Madinah, beliau kehilangan perhiasan yang dipinjam dari Asma. Lalu dia turun untuk mencari perhiasan itu. Rombongan Rasulullah dan para sahabatnya berangkat tanpa menyadari bahwa Aisyah tertinggal. Aisyah menanti jemputan, dan tiba-tiba datanglah Sufyan bin Muathal seorang tentara penyapu ranjau. Melihat demikian, Sufyan menyabut Asma Allah lalu Sufyan turun dan mendudukkan kendaraanya tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya kemudian Aisyah naik kendaraan tersebut dan Sufyan menuntun kendaraan tersebut dengan berjalan kaki. Dari kejadian ini, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya menyebarkan kabar bohong untuk memfitnah ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Fitnah ini menimbulkan goncangan dalam rumah tangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi Allah yang Maha Tahu berkehendak menyingkap berita bohong tersebut serta mensucikan beliau dalam Al-Qur’anul Karim dalam surat An-Nur ayat 11-23.

Diantara kelebihan beliau yang lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih untuk dirawat di rumah Aisyah dalam sakit menjelang wafatnya. Hingga akhirnya Rasulullah wafat di pangkuan Aisyah dan dimakamkan dirumahnya tanpa meninggalkan harta sedikitpun. Ketika itu Aisyah radhiyallahu ‘anha berusia 18 tahun. Sepeninggal Rasulullah, Aisyah mengisi hari-harinya dengan mengajarkan Al-Qur’an dan Hadits dibalik hijab bagi kaum laki-laki pada masanya.

Dengan kesederhanaannya, beliau juga menghabiskan hari-harinya dengan ibadah kepada Allah, seperti puasa Daud. Kesederhanaan juga nampak ketika kaum muslimin mendapatkan kekayaan dunia, beliau mendapatkan 100.000 dirham. Saat itu beliau berpuasa, tetapi uang itu semua disedekahkan tanpa sisa sedikitpun. Pembantu wanitanya mengingatkan beliau :”Tentunya dengan uang itu anda bisa membeli daging 1 dirham buat berbuka?” Aisyah menjawab : ”Andai kamu mengatakannya tadi, tentu kuperbuat.”

Begitulah beliau yang tidak gelisah dengan kefakiran dan tidak menyalahgunakan kekayaan kezuhudannya terhadap dunia menambah kemuliaan.

Disunting dari : Aisyah binti Abu Bakar

Saudah binti Zam’ah

Namanya menggoreskan tinta emas dalam lembaran sejarah kaum muslimin. Dia wanita yang tabah. Keinginan menjadi pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai wafatnya adalah bukti kesetiannya terhadap beliau. Dia adalah Saudah binti Zam’ah. Aku ingin sekali menjadi dirinya.

Saudah menikah pertama kali dengan Sakran bin Amr, saudara laki-laki Suhaili bin Amr Al-Amiri. Ia bersama suaminya adalah termasuk kelompok kaum muslimin yang berjumlah 8 orang dari Bani Amir yang hijrah ke Habasyah dengan meninggalkan harta-harta mereka. Mereka arungi laut penderitaan diatas keridhaan, rela atas kematian yang akan menghadangnya, demi kemenangan agama yang mulia ini. Dan sungguh bertambah keras siksa dan kesempitan yang dialaminya karena penolakan mereka terhadap kesasatan dan kesyirikan.

Tak lama kemudian setelah berakhirnya pengujian pengungsian di negeri Habasyah, ujian yang lainpun datang. Saudah harus kehilangan suaminya menghadap Sang Khaliq selama-lamanya. Maka jadilah ia seorang janda seiring dengan usianya yang mulai menapaki masa senja.

Hari-hari duka dilalui dengan ketabahan. Dan inilah yang membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa terkesan kepadanya serta bersedia membantu Saudah tak ubahnya seperti masa kedukaan yang dialami Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak meninggalnya Khadijah Ummul Mukminin Ath-Thahirah. Wanita pertama yang beriman dikala manusia berada dalam kekafiran, yang mendermakan hartanya ketika manusia menahannya, dan melalui dialah Allah anugerahkan seorang putera.

Namun setelah masa-masa itu datanglah Khaulah binti Hakim kepada Rasulullah seraya bertanya:”Tidakkah engkau ingin menikah lagi, Ya Rasulullah?.” Dengan suara sedih dan duka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :”Siapakah yang akan menjadi istriku setelah Khadijah, ya Khaulah?” Khaulah berkata lagi :”Terserah padamu , ya Rasulullah.., engkau menginginkan yang gadis atau yang janda”. “Siapakah yang masih perawan?”, tanya Rasulullah kepada Khaulah. Khaulah pun menjawab :”Anak perempuan dari orang yang paling engkau cintai, ‘Aisyah binti Abu Bakar”. “Dan siapakah kalau janda?” tanya beliau. Khaulah menjawab: “Ia adalah Saudah binti Zam’ah, yang ia beriman kepadamu dan mengikutimu atas apa-apa yang kamu ada padanya”.

Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan tidak lama kemudian beliau menikahi Saudah menjadi pendamping kedua bagi beliau. Kehadirannya sebagai istri dalam rumah tangga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu membahagiakan hati beliau. Dan Saudah hidup bersendirian dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekitar tiga tahun lebih. Beliau membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan putri-putri beliau.

Setelah selama tiga tahun baru kemudian datang lah ‘Aisyah ke rumah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan disusul istri-istri beliau yang lain seperti Hafshah, Zainab Ummu Salamah, dan lainnya.

Saudah memahami bahwa pernikahannya dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam didasari karena rasa iba beliau kepadanya setelah kematian suaminya. Semua itu menjadi jelas ketika Nabi ingin menceraikannya secara baik-baik, sehingga ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan tentang keinginannya untuk talak (thalaq) Saudah, maka Saudah merasa se-akan-akan berada dalam mimpi yang buruk yang menyesakkan dadanya. Ia tetap ingin menjadi istri Sayyidul Mursalin sampai Allah membangkitkannya dirinya di hari kiamat kelak. Dengan suara yang lembut ia berbisik kepada suaminya: “Tahanlah aku, wahai Rasulullah dan demi Allah, aku berharap Allah membangkitkan aku di hari Kiamat dalam keadaan aku sebagai istrimu”. Kemudian ia memberikan hari-hari gilirannya untuk ‘Aisyah istri yang sangat disayangi beliau.

Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperkenankan permintaan wanita yang mempunyai perasaan baik ini. Sehingga Allah turunkan ayat tentang hal ini, yaitu dalam surat An-Nisa ayat 128 :

ÝóáÇó ÌõäóÇÍó ÚóáóíúåöãóÇ Ãóäú íõÕúáöÍóÇ ÈóíúäóåõãóÇ ÕõáúÍðÇ æóÇáÕøõáúÍõ ÎóíúÑñ
“….maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya dan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik.”

Rasulullah bersabda : “Tidak ada seorang wanita pun yang paling aku senangi menjadi orang sepertinya selain Saudah binti Zam`ah… (Hadis riwayat Muslim dari Aisyah radiyallahu ‘anha).

“Kata Saudah: Wahai Rasulullah, aku berikan hariku kepada Aisyah radliyallahu ‘anha. Jadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi waktu kepada Aisyah radliyallahu ‘anha dua hari, sehari miliknya sendiri dan sehari lagi pemberian Saudah.”(HR Muslim dari Aisyah radliyallahu ‘anha)

Demikianlah Ummul Mukminin Saudah tinggal di rumah Nabi, dan beliau hari-harinya dengan keridhaan, ketenangan dan rasa syukur kepada Allah sampai kepergiannya menghadap Rabbnya dimasa pemerintahan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Disunting dari Saudah binti Zam’ah

Comments (6)

Satu Lagi Pasangan Mulia….

Pada suatu ketika ada seorang laki-laki yang bernama Muhammad..

Ia adalah putra dari seorang ulama besar yang bernama Al-Mukaddas Al Ardibily.

Ia tinggal di desa Nayar-Ardibily (salah-satu kota di Iran)

Suatu ketika… saat Muhammad sedang menyirami ladangnya…, ia melihat sebuah apel terbawa air sungai… Diambilnya apel tersebut dan dimakannya, hingga habis. Tak berapa lama… timbul sesalnya, beliau merasa menyesal karena telah memakan apel yang terbawa air sungai tersebut, tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada sang pemilik. Demi menghilangkan rasa sesal tersebut.., beliau berjalan menyusuri… aliran sungai mencari pohon apel, sebagai sumber adanya buah apel.

Letih yang menderanya… akhirnya terjawab, tibalah ia disebuah ladang apel, yang pohon-pohonnya menjulur diatas sungai. Beliau segera menemui pemilik ladang dan memohon kerelaannya.
Pemilik apel berkata: “Aku merelakannya, namun pohon apel ini milik aku dan saudaraku. Sementara aku tidak tahu apakah ia merelakannya atau tidak? Dan sekarang ia tinggal di
kota Najaf (Irak)”.
Mendengar hal itu Muhamad Ardibily merasa sedih. Dengan masih memikirkan rasa sesalnya, akhirnya beliau berangkat ke kota Najaf. Sesampainya di kota Najaf, beliau menemui adik pemilik kebun apel dan menceritakan semua peristiwa yang telah terjadi serta memohon kerelaan darinya.

Begitu mendengar tutur kata pemuda Muhammad ini, sang pemilik pemohon apel tersebut merasa kagum… dan berkesimpulan pemuda yang menghadap kepadanya pasti bukanlah pemuda sembarangan. Karena itu iapun akhirnya mau menerima permohonan kerelaannya dengan syarat ia harus menikah dengan putrinya. Dalam memperkenalkan keadaan putrinya beliau berkata: “Ia buta, tuli, bisu dan lumpuh”.

Demi rasa takutnya akan azab Allah dan sesalnya telah melanggar perintah Allah, maka pemuda Muhammad tersebut menerima syarat yang ditentukan oleh pemilik pohon apel. Tak lama kemudian, upacara pernikahanpun dilaksanakan. Pada malam pengantin Muhamad sangat kaget karena tidak mendapatkan istrinya sebagaimana yang telah disifati oleh ayahnya. Bahkan ia mendapatkan istri yang cantik dan tidak cacat. Dengan penuh keheranan ia menanyakan sebab perkataan ayah istrinya kepadanya, dalam menjawab pertanyaan suaminya ia berkata: “Maksud ayahku, bahwa aku buta karena aku tidak pernah melihat laki-laki yang bukan muhrim. Aku tuli karena aku tidak pernah mendengar perkataan buruk. Aku bisu karena aku tidak pernah menggunjing orang dan mengatakan perkataan buruk, serta aku lumpuh karena aku tidak pernah melangkahkan kakiku menuju tempat-tempat maksiat”.

Demikianlah dari pernikahan kedua orang yang sangat mulia ini… (seorang laki-laki yang sangat menjaga apa-apa yang menjadi haknya dan tidak mau melanggar apa-apa yang bukan haknya, dengan seorang wanita yang buta, tuli, bisu dan lumpuh dalam hal yang berkaitan dengan hal-hal yang dilarangNYA)  lahirlah seorang ulama besar yang bernama Ahmad yang kemudian dikenal dengan Syeikh Al-Mukaddas Al-Ardibily.

Comments (3)

Ummu ‘Uqail

UMMU ‘UQAIL

(SEORANG WANITA YANG MENGAJARKAN KAUM PRIA UNTUK BERSABAR)

Oleh Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq

Inilah seorang wanita yang mengajarkan kepada kaum pria untuk bersabar, terutama terhadap kaum wanita, dan mengajarkan kepada mereka supaya ridha dengan ketentuan Allah. Kita memohon kepada Allah, semoga para wanita kita belajar bersabar ketika mengalami musibah yang menyedihkan, agar melahirkan untuk kita tokoh-tokoh seperti Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Malik, Ahmad dan asy-Syafi’i.

Abul Faraj Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa al-Ashma’i berkata, “Aku dan kawanku keluar menuju dusun, lalu kami tersesat jalan. Tiba-tiba kami menjumpai gubuk di kanan jalan, lalu kami menuju ke sana dan mengucapkan salam.

Ternyata seorang wanita menjawab salam kami seraya bertanya, ‘Siapa kalian?’

Kami menjawab, ‘Kaum yang tersesat jalan. Kami datang kepada kalian untuk mengunjungi kalian.’

Ia mengatakan, ‘Wahai kaum, palingkan wajah kalian dariku hingga aku menyelesaikan apa yang menjadi hak kalian.’

Kami pun melakukannya, lalu ia melemparkan kepada kami alas tidur seraya mengatakan, ‘Duduklah di situ hingga puteraku datang.’

Kemudian dia melihat-lihat kedatangan puteranya hingga dia bisa melihatnya seraya mengatakan, ‘Aku memohon kepada Allah keberkahan orang yang datang. Unta itu adalah unta puteraku, sedangkan yang menungganginya bukan puteraku.’

Ketika penunggang unta itu telah berdiri di hadapannya, ia mengatakan, ‘Wahai Ummu ‘Uqail, semoga Allah membesarkan pahalamu karena ‘Uqail.’

Dia bertanya, ‘Apakah puteraku wafat?’

Ia menjawab, ‘Ya.’

Dia bertanya, ‘Apa penyebab kematiannya?’

Ia menjawab, ‘Unta berdesak-desakan padanya lalu ia terlempar ke sumur.’

Dia mengatakan, ‘Turunlah, lalu penuhi hak bertamu kaum ini.’

Dia menyerahkan seekor domba kepadanya, lalu ia menyembelih dan mengolahnya serta menghidangkan makanan kepada kami. Kemudian kami makan dan kami kagum dengan kesabarannya. Ketika kami selesai, dia keluar kepada kami dalam keaadan tertutup hijab seraya mengatakan, ‘Wahai kaum, apakah di antara kalian ada yang dapat membaca al-Qur-an dengan baik?’

Aku menjawab, ‘Ya.’

Ia mengatakan, ‘Bacakan kepadaku dari Kitabullah ayat-ayat yang aku menjadi terhibur dengannya.’

Aku mengatakan, ‘Allah Azza wa Jalla berfirman:

“.. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’ Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [QS Al-Baqarah: 155-157]

Ia bertanya, ‘Apakah ayat-ayat ini dalam Kitabullah demikian?’

Aku menjawab, ‘Ayat-ayat ini dalam Kitabullah demikian.’

Dia mengatakan, ‘Assalaamu ‘alaikum.

Kemudian dia meluruskan kedua telapak kakinya dan shalat dua rakaat, kemudian mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Di sisi Allah mendapatkan ‘Uqail.’ Ia mengatakan demikian tiga kali. Ya Allah, aku melakukan apa yang Engkau perintahkan kepadaku, maka berikan kepadaku apa yang Engkau janjikan kepadaku.’”

Komentar dimatikan

Ummu Ibrahim Al-Hasyimiyah

( dikutip dari : UMMU IBRAHIM AL-Hasyimiyah adalah seorang wanita ahli Ibadah.)

Cerita yang menarik… tentang beliau diangkat ketika terjadi perang didekat Basrah.

Ketika Abdul Wahid bin Zaid al-Bashri sedang memberikan taushiyahnya… yang berisikan tentang Jihad… si Ibu tersebut datang dan ikut rmendengarkan. Begitu indahnya Taushiyah disampaikan… sehingga yang hadir dapat merasakan hingga kedalam lubuk hati yang paling dalam… getaran jihad.

Sampailah… uraian ini tentang pahala yang didapat orang-orang yang mati syahid dalam berjihad… Abdul Wahidpun diantaranya menceritakan tentang keelokan bidadari surga sebagai pendamping para syuhada. Dia menyebutkan pernyataan tentang bidadari, dan bersenandung untuk menyifatkan bidadari.

Gadis yang berjalan tenang dan berwibawa
Orang yang menyifatkan memperoleh apa yang diungkapkannya

Dia diciptakan dari segala sesuatu yang baik nan harum
Segala sifat jahat telah dienyahkan

Allah menghiasinya dengan wajah
yang berhimpun padanya sifat-sifat kecantikan yang luar biasa

Matanya bercelak demikian menggoda
Pipinya mencipratkan aroma kesturi

Lemah gemulai berjalan di atas jalannya
Seindah-indah yang dimiliki dan kegembiraan yang berbinar-binar

Apakah kau melihat peminangnya mendengarkannya
Ketika mengelilingkan piala dan bejana

Di taman yang elok yang kita dengar suaranya
Setiap kali angin menerpa taman itu, bau harumnya menyebar

Dia memanggilnya dengan cinta yang jujur
Hatinya terisi dengannya hingga melimpah

Wahai kekasih, aku tidak menginginkan selainnya
Dengan cincin tunangan sebagai pembukanya

Janganlah kau seperti orang yang bersungguh-sungguh ke puncak hajatnya
Kemudian setelah itu ia meninggalkannya

Tidak, orang yang lalai tidak akan bisa meminang wanita sepertiku
Yang meminang wanita sepertiku hanyalah orang yang merengek-rengek

Mendengar… kata-kata yang demikian indah.., sebagian orang mulai bergerak… Lalu Ummu Ibrahim menyeruak dari tengah orang-orang seraya berkata kepada ‘Abdul Wahid, “Wahai Abu ‘Ubaid, bukankah engkau tahu anakku, Ibrahim. Para pemuka Bashrah telah meminangnya untuk dinikahkan dengan puteri-puteri mereka, tetapi aku tidak berkeinginan untuk mengambil satupun dari mereka menjadi menantuku. Demi Allah, gadis (bidadari), yang kau sebutkan tadi… sungguh-sungguh mencengangkanku dan aku meridhainya menjadi pengantin bagi puteraku. Tolong ulangi lagi apa yang engkau sebutkan tentang kecantikannya.” Mendengar hal itu ‘Abdul Wahid kembali menyifatkan bidadari, kemudian bersenandung:

Cahayanya mengeluarkan cahaya dari cahaya wajahnya

Senda guraunya seharum parfum dari parfum murni

Jika menginjakkan sandalnya di atas pasir gersang
niscaya seluruh penjuru menjadi menghijau dengan tanpa hujan

Jika engkau suka, tali yang mengikat pinggangnya
seperti ranting pohon Raihan yang berdaun hijau

Seandainya meludahkan air liurnya di lautan
niscaya penduduk merasakan segarnya meminum air lautan

Pandangan mata yang menipu nyaris melukai pipinya
Dengan luka keraguan hati dari luar kelopak mata

Para hadirin yang hadir menjadi… riuh rendah… bersuara…memberikan komentar dan tanggapan atas penjelasan bagaimana layaknya seorang bidadari. Tak sabar, Ummu Ibrahim berdiri maju seraya berkata kepada ‘Abdul Wahid, “Wahai Abu ‘Ubaid, demi Allah, gadis ini mencengangkanku dan aku meridhainya sebagai pengantin bagi puteraku. Apakah engkau sudi menikahkannya dengan gadis tersebut saat ini juga, dan engkau ambil maharnya dariku sebanyak 10.000 dinar, serta dia keluar bersamamu dalam peperangan ini; mudah-mudahan Allah mengaruniakan syahadah (mati sebagai syahid) kepadanya, sehingga dia akan memberi syafa’at untukku dan untuk ayahnya pada hari Kiamat.” ‘Abdul Wahid berkata kepadanya, “Jika engkau melakukannya, niscaya engkau dan anakmu akan mendapatkan keberuntungan yang besar.” Kemudian ia memanggil puteranya, “Wahai Ibrahim!” Dia bergegas maju dari tengah orang-orang seraya mengatakan, “Aku penuhi panggilanmu, wahai ibu.” Ia mengatakan, “Wahai puteraku! Apakah engkau ridha dengan gadis (bidadari) ini sebagai isteri, dengan syarat engkau mengorbankan dirimu di jalan Allah dan tidak kembali dalam dosa-dosa?” Pemuda ini menjawab, “Ya, demi Allah wahai ibu, aku sangat ridha.” Sang ibu mengatakan, “Ya Allah, aku menjadikan-Mu sebagai saksi bahwa aku telah menikahkan anakku ini dengan gadis ini dengan pengorbanannya di jalan-Mu dan tidak kembali dalam dosa. Maka, terimalah dia dariku, wahai sebaik-baik Penyayang.” Kemudian ia pergi, lalu datang kembali dengan membawa 10.000 dinar seraya mengatakan, “Wahai Abu ‘Ubaid, ini adalah mahar gadis itu. Bersiaplah dengan mahar ini.” Abu ‘Ubaid pun menyiapkan para pejuang di jalan Allah. Sedangkan sang ibu pergi untuk membelikan kuda yang baik untuk puteranya dan menyiapkan senjata untuknya. Ketika ‘Abdul Wahid keluar, Ibrahim pun berangkat, sedangkan para pembaca al-Qur-an di sekitarnya membaca:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka …”[At-Taubah: 111]

Ketika sang ibu hendak berpisah dengan puteranya, maka ia menyerahkan kain kafan dan wangi-wangian kepadanya seraya mengatakan kepadanya, “Wahai anakku, jika engkau hendak bertemu musuh, maka pakailah kain kafan ini dan gunakan wangi-wangian ini. Janganlah Allah melihatmu dalam keadaan lemah di jalan-Nya.” Kemudian ia memeluk puteranya dan mencium keningnya seraya mengatakan, “Wahai anakku, Allah tidak mengumpulkan antara aku denganmu kecuali di hadapan-Nya pada hari Kiamat.”

‘Abdul Wahid berkata: “Ketika kami sampai di negeri musuh, terompet pun ditiup, dan orang-orang mulai berperang, maka Ibrahim berperang di barisan terdepan. Ia membunuh musuh dalam jumlah besar, kemudian mereka mengepungnya, lalu ia terbunuh.”

‘Abdul Wahid berkata: “Ketika kami hendak kembali ke Bashrah, aku berkata kepada Sahabat-Sahabatku, ‘Jangan menceritakan kepada Ummu Ibrahim tentang berita yang menimpa puteranya sampai aku mengabarkan kepadanya dengan sebaik-baik hiburan, agar ia tidak bersedih sehingga pahalanya hilang.’ Ketika kami sampai di Bashrah, orang-orang keluar untuk menyambut kami, dan Ummu Ibrahim keluar di tengah-tengah mereka.”

‘Abdul Wahid berkata: “Ketika dia memandangku, ia bertanya, ‘Wahai Abu ‘Ubaid, apakah hadiah dariku diterima sehingga aku diberi ucapan selamat, atau ditolak sehingga aku harus diberi belasungkawa?’ Aku menjawab, ‘Hadiahmu telah diterima. Sesungguhnya Ibrahim hidup bersama orang-orang yang hidup dalam keadaan diberi rizki (insya Allah).’ Maka ia pun tersungkur dalam keadaan bersujud kepada Allah karena bersyukur, dan mengatakan, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakan dugaanku dan menerima ibadah dariku.’ Kemudian ia pergi. Keesokan harinya, ia datang ke masjid ‘Abdul Wahid lalu berseru, ‘Assalaamu ‘alaikum wahai Abu ‘Ubaid, ada kabar gembira untukmu.’ Dia mengatakan, ‘Engkau senantiasa memberi kabar gembira.’ Ia mengatakan ke-padanya, ‘Tadi malam aku bermimpi melihat puteraku, Ibrahim, di sebuah taman yang indah. Di atasnya terdapat kubah hijau, dia berada di atas ranjang yang terbuat dari mutiara, dan kepalanya memakai mahkota. Dia berucap, ‘Wahai ibu, bergembiralah. Sebab, maharnya telah diterima dan aku bersanding dengan pengantin wanita.’” [1]

Mereka itulah para ibu kita terdahulu, bintang-bintang malam di langit kebesaran dan cahaya yang indah di kening tekad yang menggebu. Itulah sedikit dari pembicaraan tentang jihad mereka yang tidak membiarkan seseorang mengatakan “konon”, tidak memberikan kesempatan kepada orang yang sombong yang menjadi saksi salah satu rahasia kekuatan terbesar, yang menyebabkan bangsa Arab yang “ummi” menjadi sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia. Itulah jiwa yang diberi celupan oleh Allah dengan rahmat-Nya, menyiraminya dari hikmah-Nya, menciptakannya untuk mendidik prajurit-Nya, serta menyiapkannya untuk menyucikan (makhluk) ciptaan-Nya.

Kesejahteraan atas para manusia
Karena terbebas dari segala aib dan dosa. [2]

Ini adalah kisah-kisah yang berisikan ibrah (pelajaran berharga), penulis kemukakan di sini agar para wanita kita membacanya dan belajar dari generasi pertama; bagaimana mereka menjadi isteri, dan bagaimana mereka bersabar terhadap ketentuan Allah dan tidak bersedih.

Juga agar mereka dapat belajar dari biografi mereka dalam berjihad; betapa banyak mereka mengaitkan hati mereka kepada Allah, tidak kepada dunia berikut perhiasannya yang hina. Demikian pula agar mereka melihat bagaimana wanita membantu suami dan anaknya untuk mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adakah jalan untuk kembali, dan adakah (kesempatan) kembali kepada agama kita?

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsair]
__________
Foote Note
[1]. Audatul Hijaab (II/211), dan penulis menisbatkannya kepada ringkasan kitab Fakaahatul Azwaaq min Masyaari’il Asywaaq ilaa Mashaari’il ‘Isyaaq… (hal. 26-29).
[2]. Audatul Hijaab (II/561)

Komentar dimatikan

“Biografi Oprah”

Oprah Winfrey’s Biography

Through the power of media, Oprah Winfrey has created an unparalleled connection with people around the world. As supervising producer and host of the top-rated, award-winning The Oprah Winfrey Show, she has entertained, enlightened and uplifted millions of viewers for the past two decades. Her accomplishments as a global media leader and philanthropist have established her as one of the most respected and admired public figures today.

TELEVISION PIONEER
Oprah began her broadcasting career at WVOL radio in Nashville while still in high school. At the age of 19, she became the youngest person and the first African-American woman to anchor the news at Nashville’s WTVF-TV. She then relocated to Baltimore’s WJZ-TV to co-anchor the Six O’Clock News and later went on to become co-host of its local talk show, People Are Talking.

In 1984, Oprah moved to Chicago to host WLS-TV’s morning talk show, AM Chicago, which became the number one local talk show—surpassing ratings for Donahue—just one month after she began. In less than a year, the show expanded to one hour and was renamed The Oprah Winfrey Show. It entered national syndication in 1986, becoming the highest-rated talk show in television history. In 1988, she established Harpo Studios, a production facility in Chicago, making her the third woman in the American entertainment industry (after Mary Pickford and Lucille Ball) to own her own studio.

The Oprah Winfrey Show has remained the number one talk show for 21 consecutive seasons*. Produced by her own production company, Harpo Productions, Inc., the show is seen by an estimated 46 million viewers a week in the United States** and is broadcast internationally in 134 countries.
back to top
MAGAZINE FOUNDER AND EDITORIAL DIRECTOR
In April 2000, Oprah and Hearst Magazines introduced O, The Oprah Magazine, a monthly magazine that has become one of today’s leading women’s lifestyle publications. It is credited as being the most successful magazine launch in recent history and currently has a circulation of 2.3 million readers each month. In April 2002, Oprah launched the first international edition of O, The Oprah Magazine in South Africa, extending her live your best life message to another broad audience.

In 2004, O at Home, a newsstand-only quarterly shelter magazine designed to help readers create a home that reflects their personal style, made its debut.
back to top
PRODUCER/ACTRESS
Through her company’s film division, Harpo Films, she has produced projects based on classic and contemporary literature that have garnered the highest industry honors for quality acting and production. Telefilms under the Oprah Winfrey Presents banner have included the award-winning Tuesdays With Morrie, based on the best-selling novel by Mitch Albom and starring Academy Award® winner Jack Lemmon and Emmy Award® winner Hank Azaria; Their Eyes Were Watching God, based on the Zora Neale Hurston novel and starring Academy Award winner Halle Berry; and Mitch Albom’s For One More Day, based on his best-selling novel and starring Emmy Award winner Michael Imperioli and Academy Award winner Ellen Burstyn.

In 1998, Harpo Films produced the critically acclaimed Beloved, a Touchstone Pictures feature film based on the Pulitzer Prize-winning novel by Toni Morrison, which co-starred Oprah Winfrey and Danny Glover and was directed by Jonathan Demme. In late 2007, co-producers Harpo Films and The Weinstein Company will release The Great Debaters, which is directed by Academy Award winner Denzel Washington, who also stars in the film with Academy Award winner Forest Whitaker.

Oprah made her acting debut in 1985 as “Sofia” in Steven Spielberg’s The Color Purple, for which she received both Academy Award and Golden Globe nominations. She also has been lauded for her performances in the made-for-television movies Before Women Had Wings (1997), There Are No Children Here (1993), and The Women of Brewster Place (1989).
back to top
ONLINE LEADER
Oprah.com is a premiere women’s lifestyle website, offering advice on everything from the mind, body and spirit to food, home and relationships. It provides comprehensive resources related to The Oprah Winfrey Show, O, The Oprah Magazine and Oprah & Friends. In addition, the website has unique original content, including Oprah’s Book Club, which offers free in-depth reading guides for each book selection, online discussion groups and Q&A sessions with literary experts. Within its first year, Oprah’s Book Club quickly became the largest book club in the world, attracting approximately 1 million members. In 2003, Oprah.com also launched Live Your Best Life, an interactive multimedia workshop based on her sold-out national speaking tour that features Oprah’s personal life stories and life lessons along with a workbook of thought-provoking exercises.

Oprah.com averages 70 million page views and more than 6 million users per month and has 1.3 million newsletter subscribers.
back to top
PHILANTHROPIST
Oprah has long believed that education is the door to freedom, offering a chance at a brighter future. Through her private charity, The Oprah Winfrey Foundation, she has awarded hundreds of grants to organizations that support the education and empowerment of women, children and families in the United States and around the world. Amongst her various philanthropic contributions, she has donated millions of dollars toward providing a better education for students who have merit but no means. She also has developed schools to educate thousands of underserved children internationally and created “The Oprah Winfrey Scholars Program,” which gives scholarships to students determined to use their education to give back to their communities in the United States and abroad.

In December 2002, The Oprah Winfrey Foundation expanded its global humanitarian efforts with her ChristmasKindness South Africa 2002 initiative that included visits to orphanages and rural schools in South Africa where 50,000 children received gifts of food, clothing, athletic shoes, school supplies, books and toys. Sixty-three rural schools received libraries and teacher education.

During a December 2000 visit with Nelson Mandela, Oprah pledged to build a school in South Africa. As that commitment broadened, she established The Oprah Winfrey Leadership Academy Foundation, to which she has contributed more than $40 million toward the creation of the Oprah Winfrey Leadership Academy for Girls—South Africa, which opened in January 2007. Located in a 28-building campus in Henley-on-Klip, the Leadership Academy is a state-of-the-art, independent school that engenders high standards of academic achievement and service leadership for girls from all nine South African provinces who show outstanding promise despite their impoverished backgrounds and social circumstances. Her vision is that the Leadership Academy will help develop the future women leaders of South Africa.

In a 1997 episode of The Oprah Winfrey Show, Oprah encouraged viewers to use their lives to make a difference in the lives of others, which led to the creation of the public charity Oprah’s Angel Network in 1998. To date, Oprah’s Angel Network has raised more than $50 million, with 100% of audience donations going to non-profit organizations across the globe. Oprah’s Angel Network has helped establish scholarships and schools, support women’s shelters and build youth centers and homes—changing the future for people all over the world.

Oprah’s commitment to children also led her to initiate the National Child Protection Act in 1991, when she testified before the U.S. Senate Judiciary Committee to establish a national database of convicted child abusers. On December 20, 1993, President Clinton signed the national “Oprah Bill” into law.
back to top
TELEVISION PROGRAMMING CREATOR
In September 2002, Harpo Productions, Inc. created Dr. Phil, a syndicated daytime talk show produced by Paramount Domestic Television. Dr. Phil, which had the highest-rated talk show launch since The Oprah Winfrey Show, consistently ranks second among all U.S. talk shows.

Dynamic television personality and best-selling author Rachael Ray announced a partnership with Harpo Productions, Inc., King World Productions, and Scripps Networks to host a daily, one-hour, talk show that will begin airing in September 2006.

Slated to air in early 2008 on the ABC Television Network, Oprah’s Big Give™ is the first primetime series created by Harpo Productions, Inc’s television development group. The episodes will center on the competition, drama and emotion as millions of dollars are given away to make a difference in people’s lives across the country. Oprah’s Big Give is produced by Harpo Productions in conjunction with Profiles Television Productions, LLC.
back to top
SATELLITE RADIO PROGRAMMER
Through a recent joint venture, Oprah announced the launch of Oprah & Friends, a new channel on XM Satellite Radio, which launched in September 2006. Oprah & Friends will feature a broad range of original daily programming from Harpo Radio, Inc., including regular segments hosted by popular personalities from The Oprah Winfrey Show and O, The Oprah Magazine and an exclusive 30-minute listener call-in weekly radio show, “Talk to Me” with Oprah Winfrey.
back to top
BROADWAY PRODUCER
Twenty years after she made her movie debut as “Sofia” in The Color Purple, Oprah made her Broadway debut as a producer for the musical The Color Purple, which opened on December 1, 2005, at the Broadway Theatre in New York City.
back to top
HONORARY ACHIEVEMENTS
In recognition of her extraordinary achievements and contributions, Oprah has received numerous honors, including the most prestigious awards and highest industry acknowledgments.

2007

* Time Magazine—100 Most Influential People in the World
* The Elie Wiesel Foundation for Humanity—2007 Humanitarian Award

2006

* Time Magazine—100 Most Influential People in the World
* The New York Public Library—Library Lion 2006

2005

* National Civil Rights Museum – 2005 National Freedom Award
* National Association for the Advancement of Colored People — Hall of Fame
* Time Magazine — 100 Most Influential People in the World
* International Academy of Television Arts & Sciences — 2005 International Emmy Founders Award

2004

* United Nations Association of the United States of America – Global Humanitarian Action Award
* National Association of Broadcasters – Distinguished Service Award
* Time Magazine – 100 Most Influential People in the World

2003

* Association of American Publishers – AAP Honors Award

2002

* 54th Annual Primetime Emmy Awards® – Bob Hope Humanitarian Award
* Broadcasting & Cable – Hall of Fame

1999

* National Book Foundation – 50th Anniversary Gold Medal

1998

* National Academy of Television Arts & Sciences® – Lifetime Achievement Award

The following year, after accepting this pinnacle honor, Oprah removed herself from future Emmy® consideration and the show followed suit in 2000. Oprah and The Oprah Winfrey Show received more than 40 Daytime Emmy Awards®: seven for Outstanding Host; nine for Outstanding Talk Show; more than 20 in the Creative Arts categories; and one for Oprah’s work as supervising producer of the ABC After School Special Shades of Single Protein.

* Time Magazine – 100 Most Influential People of the 20th Century

1997

* Newsweek – Most Important Person in Books and Media
* TV Guide – Television Performer of the Year

1996

* International Radio & Television Society Foundation – Gold Medal Award
* George Foster Peabody Awards – 1995 Individual Achievement Award

back to top
Sources:
* Nielsen Cassandra Ranking Report – Nov’86 to July ’99 and Wrap Sweeps, Nov ’99 to July ’06. Primary Telecasts Only.
** Nielsen NPower. P2 + Unique Viewer Average: 1 Minute Qualifier, L + SD, 11/2/06–11/29/06, 2/1/07–2/28/07, 4/26/07–5/23/07. Daily excludes Thanksgiving, 11/23/06.

Komentar dimatikan

Imam Al Bukhari… Sang Perawi Hadist

Dalam dunia Islam… Beliau terkenal sebagai Perawi Hadist yang handal…

Imam Bukhari mempunyai nama lengkap Abu Abdullah ibn Ismail ibn Ibrahim ibn Mughirah ibn Bardzibah Al-Bukhari Ia dilahirkan di Bukhara, Uzbekistan pada tanggal 13 Syawal 194 H. Bapaknya, Ismail, adalah seorang ulama hadits yang mempelajari materi ini di bawah bimbingan sejumlah tokoh ulama termasyhur, seperti Malik bin Anas, Hammad bin Zayd, dan Ibnu Mubarak

Ketika Iman-Bukhari masih remaja, orang tuanya meninggal dunia dan ia mewarisi kekayaan dan nasib yang cukup baik dari ayahnya. Iman Bukhari mempunyai seorang ibu yang afeksionis dan seorang kakak laki-laki yang bernama Ahmad.

Imam Bukhari dikarunia otak yang sangat cerdas. Pemikirannya tajam dan hafalannya kuat. Kecerdasan dan ketajaman pikirannya sudah terlihat sejak masa anak-anak. Ulama hadits ini mewarisi ketakwaannya ayahnya. Minatnya terhadap dunia keilmuan sudah terbentuk sejak kecil. Ayahnya merupakan tokoh idolanya sekaligus guru pertama baginya. Bahkan konon, ia ditinggal oleh ayahnya sejak usia 5 tahun.

KH. Ali Mustafa Ya’kub, guru besar ilmu hadist pada Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an di Jakarta, mengatakan ayahanda Imam Bukhari meninggalkan sebuah warisan berharga baginya, yaitu perpustakaan pribadi yang penuh dengan kitab-kitab, terutama kitab-kitab hadits. Dalam keadaan yatim, Imam Bukhari diasuh oleh ibunya dengan penuh kasih sayang. Dibimbingnya Imam Bukhari kecil agar lebih mencintai buku-buku peninggalan ayahnya, sehingga kecil terbiasa Imam Bukhari membaca dan menulis, terutama dalam bidang Al-Qur’an dan hadits.

Ketabahan dari seorang ibu yang shalihah, akhirnya mulai membuahkan hasil ketika pada umur 10 tahun, Imam Bukhari muncul sebagai anak yang berotak cemerlang dan mengalahkan anak-anak sebayanya. Pada saat umur 10 tahun itulah mulai mempelajari Imam Bukhari dan menghafal hadist. Ketika umur 11 tahun perpustakaan ayahnya sudah tidak memadai lagi bagi Imam Bukhari dan karena itulah semangat Imam Bukhari semakin menggebu-gebu untuk mempelajari hadist, sehingga pada usia yang masih relatif muda, yakni umur 16 tahun, Imam Bukhari telah berhasil menghafalkan beberapa buah buku hasil karya sejumlah tokoh ulama yang terdahulu seperti Ibnu Mubarak, dan Waki’. Ia tidak hanya menghafal matan (periwayatan) hadits dan buku-buku ulama terdahulu, tetapi juga mengenal betul biografi para perawi yang mengambil bagian dan penukilan sejumlah hadits, data tanggal lahir, meninggal, tempat lahir dan sebagainya.

Imam Bukhari seorang yang berbadan kurus, berperawakan sedang, kulitnya kecoklatan, makannya sedikit, pemalu, dan zuhud. Imam Bukhari juga sangat berhati-hati dan sopan dalam berbicara, terutama dalam mengeritik para perawi. Terhadap perawi yang diketahui jelas kebohongannya, ia cukup mengatakan “fihi nazdarun” (perlu dipertimbangkan), “sakatu anhu” (mereka tidak menghiraukannya). Perkataannya yang tegas terhadap perawi yang tercela adalah: “munkarul hadist” (haditsnya diingkari).

Pada tahun 210 H, ia menunaikan ibadah haji ke tanah suci Makkah bersama ibu dan saudara-saudaranya. Perjalanan itu sangat mengesankan bagi dia. Bukan saja merupakan kesempatan yang baik untuk bermunajat kepada Allah, tetapi juga kesempatan baik untuk berdialog dengan pakar-pakar hadits di haramayn (Makkah dan Madinah). Ketika ibadah haji, Imam Bukhari memutuskan untuk menetap di kota kelahiran Nabi Muhammad guna menimba ilmu dan hadits. Ia menetap di Makkah dan Madinah selama 6 tahun. Di kota inilah Imam Bukhari banyak menghasilkan karya tulis, termasuk diantaranya; penyusunan dasar-dasar Jami’us Shahih. Bahkan, ia menulis kitab Tarikh Khabir di sisi makam Rasulullah SAW dan sering menulis di malam hari di bawah terang bulan.

Imam Bukhari juga telah banyak melakukan ekspedisi (lawatan) ke berbagai negara, dan hampir seluruh negeri Islam disinggahinya. Imam Bukhari pernah berkata; “saya telah pergi ke Syam, Mesir, Jazirah dua kali, Bashrah empat kali, dan saya bermukim di Hizaj selama 6 tahun, dan tak dapat dihitung lagi berkali-kali saya pergi ke Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama hadist. Di kota Baghdad, Imam Bukhari sering menemui Imam Ahmad bin Hambal, seorang ahli fiqih dan hadist –penulis kitab musnad– dan menganjurkan kepada Imam Bukhari untuk tinggal di Baghdad serta melarangnya untuk tinggal di Khurasan.

Dalam setiap perjalanannya, Imam Bukhari selalu mengumpulkan dan menulis hadits. Di tengah malam, ia bangun menyalakan lampu dan menulis setiap yang terlintas dalam benaknya, kemudian lampu itu dimatikan. Hal itu kurang lebih dilakukan 20 kali setiap malam. Begitu juga dalam melakukan pelacakan hadist dari sumbernya yang terpercaya. Pelacakan tersebut tidak hanya di kota tempat di mana banyak tokoh hadits bermukim di sana, tetapi juga ia langsung menemui tokoh-tokoh tersebut, seperti Imam Ahmad bin Hambal, Yahya bin Mu’in, dan Muhammad Ibnu Rawaih.

Dari hasil pelacakan itu, Imam Bukhari berhasil menemukan kurang lebih 80 orang guru dan berhasil pula menghimpun sekitar 6000 hadist. Walau ia memiliki kemampuan yang luar biasa dalam bidang hadits, namun Imam Bukhari tetap memiliki jiwa mulia, terhormat, sangat membanggakan dan memuliakan ilmu, juga senantiasa menjaga agar ilmunya tidak direndahkan dan tidak di bawa pada tempat-tempat penguasa. Sebab saat itu terjadi ketegangan antara Gubernur Bukhara, Khalid bin Ahmad Az-Zuhaili, dengan Imam Bukhari, dimana ia menolak sikap konsisten Imam Bukhari.

Imam Bukhari adalah sosok ulama hadist yang produktif dalam menulis. Ia banyak menghasilkan karya bermutu, terutama dalam bidang hadist. Berikut karya-karya Imam Bukhari yang terkemuka antara lain:
1. Al- Tarikh Al- Shaghir (Kisah Sejarah Singkat)
2. Al-Tarikh Al-Ausat (Kisah Sejarah)
3. Al-Dhu’afa (Kemiskinan)
4. Al-Jami’Al-Dhahih (Sahih Bukhari) yang konon menghimpun sebanyak 7.275 hadits
5. Raf’Al-Yadyn fi Al-Shalah (Kemaslahatan)
6. Khair Al-Kalam fi Al-Qiraah Khalf al-Imam (Panduan Membaca Quran bagi Imam shalat)
7. Bir al-Walidayn (Berbakti kepada Orang tua)
8. Khalq af’al-‘Ibad (Akhlak dalam Ibadah)
9. Al-Musnad Al-Kabir (Hadits-hadits yang besar)
10. Al-Hibah (Pemberian)

Itulah beberapa karya ImamBukhari yang merupakan peninggalan bersejarah yang sangat tinggi nilainya. Dan yang pasti semua apa yang telah diwariskan oleh Imam Bukhari harus diteruskan oleh generasi selanjutnya, termasuk generasi yang hidup saat ini dan yang akan datang.

Pada usia 62 tahun, anak yatim yang kemudian kesohor sebagai ahli hadits nomor wahid itu berpulang ke Rahmatullah pada hari sabtu, malam Idul Fitri 1 Syawal 256 H (870 M). Semoga Allah merahmati dan meridlainya. Amin.

Dikutip dari http://www.gusmus.net

Yang menarik lagi adalah kisah dibalik perkawinan kedua orang tua Imam Bukhari…

….. Bersambung

Comments (2)

Older Posts »