Archive for Tentang Aini

Permata bunda

permata-bunda

Akhirnya… rangkaian film “PERMATA BUNDA”  ini berakhir sudah….  Ceritanya.. yang mengungkapkan tentang kisah nyata anak autis.. sejak awal kelahiran hingga.. dapat mandiri.. sangat menyentuh hati. Keterlibatan total seorang ibu.. dalam kisah ini.. sungguh-sungguh bikin saya punya perasaan :

Film ini… bikin aku kuat…
Film ini… bikin aku semangat
Film ini … bikin aku mengevaluasi diri
Film ini.. bikin aku punya pengharapan
Film ini… bikin aku berusaha makin berarti bagi anak-anak + suamiku
Film ini… bikin aku makin yakin Aini bisa mandiri dan bertanggungjawab kelak
Film ini… masuk dalam daftar film favoritku…

Ini adalah sountrack lagunya…

Ibunda punya sebuah mimpi

Sebuah hasrat sederhana

Semoga ananda selalu sehat dan bahagia

Kamu buah hati ku

Tak peduli angin dan badai

Kita akan tetap

Kamu buah hati ku

Benih kasih sayang menyebar perlahan-lahan

Kamu buah hati ku

Benih kasih sayang menyebar perlahan-lahan

Ada kami semua

Iklan

Komentar dimatikan

“Kongres Guru Nusantara 2008”

UNDANGAN UNTUK 1000 GURU INDONESIA, dalam kongres Guru Indonesia (KGI) 2008 telah diundangkan…

Rencananya acara akbar ini akan diselenggarakan pada 27 dan 28 November 2008.. bertempat di balai Kartini Jakarta…

Fuih.. perhelatan yang benar-benar hebat…

Dengan biaya yang tidak murah untuk ukuran seorang guru.. apalagi jika yang berminat adalah guru yang berada di pelosok.. (seperti ibu guru Muslimah di “LASKAR PELANGI”).. mestinya saya boleh berharap.. bahwa perhelatan ini akan banyak memberikan manfaat…

Sekedar cerita…Saya pernah hadir sebagai peserta… (heh.. saya tahu ini hal yang “neekkkaatt” karena saya bukan guru beneran… saya cuman seorang guru… dari 3 orang anak.. ) di perhelatan konferensi guru…ini 2 tahun yang lalu.. Kenapa??? Saya ingin tahu.. saya ingin belajar.. saya ingin memahami.. dan mendalami menjadi guru sejati.. terutama untuk putriku Aini…

Apa yang saya dapat waktu itu… mengecewakanku… (maaf.. mungkin memang karena “kacamata”nya beda.. kacamata yang saya pakai… kacamata ibu… seharusnya.. kacamata guru… seperti yang lainnya)..  Kenapa?? Karena dalam infomasi yang saya dapat sebelumnya… isue anak-anak autis termasuk dalam agenda pembicaraan.. ternyata agenda untuk pertemuan guru saat itu  tergantung pada penilaian makalah pembicara yang masuk … Yah.. apa boleh buat…karena isue tentang autis kurang menarik, (terbukti tidak ada satupun makalah yang dianggap bermutu untuk soal ini), akhirnya agenda ini ditiadakan.

Kedua.. yang bikn saya kecewa… (lagi-lagi… ini mungkin karena emang sayanya yang nyasar di komunitas yang berbeda).. pembicaraan (saat itu) banyak berkisar pada perjuangan “meningkatkan kesejahteraan dan kredibiltas guru”.. dan persoalan yang dihadapi para guru… misalnya tentang akreditasi, sistim kelulusan dengan standrat UAN, dsbnya…

Sedangkan isue tentang.. penanganan autis .. sangat minim…

Memang sih.. seorang sahabat.. dengan tenang menyampaikan…  bagaimana sulitnya (atau enggannya) pemerintah memberikan fasilitas pada anak-anak autis ini… Kenapa???  yah.. karena penangan anak-anak autis ini sangat bervariatif.. sulit menentukan sebuah kurikulum baku pada mereka.. (YAH… sedih… tapi saya memang harus menerima) Ini juga yang membedakan.. pendidikan seorang autistic dengan pendidikan untuk anak-anak dari golongan tuna (tuna netra, tuna grahita, tuna rungu… dsb) mereka biasanya… parameter persoalan hanya  1.. misalnya untuk tuna netra.. ya.. hanya yang berkaitan dengan meningkatkan kemampuan visual.. untuk tuna rungu.. yang berkaitan dengan meningkatkan kemampuan audio.. dsbnya…

Alhamdulillah…… tahun ini..akan diadakan lagi perhelatan yang sama dan diberi nama “Kongres Guru Nusantara”…  dan…. Maaf.. sekali lagi maaf… kalau saya masiiiih saja tetaaap mau “ngeyel”… ngeyel dengan tuntutan… perhatian dan pemberian kesempatan bagi anak-anak autistic…. ada dalam agenda pembicaraan disana di Konggres Guru ini….

Hingga hari ini… saya masih saja berusaha mempertahankan kengeyelanku… dengan mencari tahu… siapa-siapa “pejuang” di dunia pendidikan… yang punya perhatian dan komitmen tinggi terhadap kesempatan belajar anak-anak autis akan hadir disana… (maaf saudara-saudara… hingga saat ini saya belum dapat mencantumkan sebuah namapun). Bukan apa-apa… anak-anak autis saat ini seolah-olah ada di kelompok masyarakat kelas 2. Yang belum punya kesempatan… disisi lain… mereka juga dimanfaatkan.. dimanfaatkan oleh keadaan.. sehingga segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan mereka (sandang, pangan, pendidik, dsbnya) seringkali membutuhkan biaya yang super super… mahal.

seandainya saya boleh minta…pada mereka-mereka dibawah ini…

1. Kak Seto… ayo dong kak.. sebagai ketua komisi HAM anak-anak…  (anak autistic.. termasuk dalam kelompok yang harus diperhatikan bukan kak?.. ) kakak.. datang doonnng.. ke Konggres Guru Nusantara… Ya??? Kan  kakak kan punya home schooling…. bisa dong dikategorikan guru.

2. Ibu Dyah Puspita… Ibu Ages.., dan ibu-bapak yang punya komitmen tinggi terhadap anak autis ini.. Ayoooo doooong dataang. Disamping punya tempat terapi… ibu dan bapak adalah guru, adalah kepala sekolah… bagi anak-anak autistic ini.

3. Tante Titik Puspa… Please… usung ide tentang sekolah seni budayanya kesini…. kami semua butuh wadah untuk belajar menjadi pribadi mandiri….

Lihatlah… mereka-mereka yang bakalan datang sebagai pembicara..

· Dr. Baedhowi M.Si, Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas

· H.E Dr. Edilberto C. de Jesus, Presiden Southeast Asian Ministers of Education Council (SEAMEO)

· Prof. Dr. Edy Tri Baskoro, Anggota Badang Nasional Standar Pendidikan (BNSP)

· Prof. S. Gopinathan, Wakil Dekan, Pusat Riset untuk Padagogi & Praktek Pendidikan NIE, NTU, Singapura

· Jim Dellit, Peneliti Senior Divisi Ilmu Pendidikan, Seni & Sosial, University of South Australia

· Dr. Jonathan Parapak, M.Eng.Sc, Rektor Universitas Pelita Harapan

· Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah

· Prof. Dr. Libby Cohen, Profesor Emerita, Universitas Southern Maine , Amerika

Ayooo dong… .. para pemerhati, pejuang anak-anak autis… datang ya….. cari celah… untuk menjadikan anak-anak autis terangkat martabatnya… tidak lagi sebaga warga negara kelas 2.

Tolong… ada perhatian dari pendidikan… ada kesempatan…

Agar anak-anak ini diberi kesempatan untuk bisa jadi pribadi mandiri….

PLEASE… PLEASE…

Comments (1)

Kesadaran…

Buat anak-anak Autis… (Autis + memiliki dunia sendiri) Kesadaran… itu sesuatu yang harus diperjuangkan. Secara umum… anak-anak autis adalah anak-anak yang pola pikirnya hanya berpusat pada dirinya sendiri… alias egois abis (Wak wak wak… ada yang kesindir ya…. jangan buru-buru ngambil kesimpulan… kan masih ada berpuluh ciri yang akan menguatkan atau meniadakan sifat tersebut… sebelum seorang anak dinyatakan secara medis menyandang autis)

Banyak cara untuk “menarik” seorang anak autis agar dapat “keluar dari cangkangnya”.. dari terapi.. dengan stimulus terhadap panca inderanya.. hingga mencarikan… teman sebaya… untuk bermain dengannya) Dengan demikian diharapkan seorang anak autis akan menjadi “ngeh”.. dan “nyambung” dengan orang-orang yang ada disekelilingnya.

Ini yang baru-baru terjadi pada Aini…

Sudah 4 bulanan.. Aini sekolah… gak tau kenapa 2 dari 5 macam seragamnya gak jadi-jadi (bu guru sudah berkali-kali menyampaikan maafnya untuk keteledoran ini…  dan sudah pula saya tanggapi dengan “enteng”… karena sebenarnya.. buatku ini bukan sebuah persoalan besar.) Kemarin…  alhamdulillaH.. seragam sekolah hari kamis sudah jadi.

Subhanallah… dari malam… (sejak baju sekolah tersebut.. kugantung sebagai persiapan sekolah besok) Aini melihat seragam tersebut dengan mata berbinar-binar dan mengucapkan.. “Seragam Aini… ” “Bagus sekali”… Bahkan diatas tidurpun.. mengucapkan… “Besok aini sekolah… pake seragam” Ya Allah….

Pagi-pagi… semangat sekali… setelah ritual pagi (Pagi-pagi… dia akan memilih… siapa orang yang membantunya hari itu… bisa mama, bisa bapak, bisa kakak, bisa abang….) kembali matanya berbinar-binar.. melihat seragam. Subhanallah… ketika ia telah mengenakan… wajahnya.. makin bercahaya… dan bilang… “he he he… aku cantik… aku lucu”…

Ya Allah…

Saya makin yakin… anak-anak ini.. sebenarnya… bukannya tidak punya kesadaran terhadap lingkungan… tapi mereka punya keterbatasan kemampuan untuk menyampaikan… dan memaknai arti sebuah kata. Maaf tapi sekali lagi keliru… sangat keliru kalau ada yang bilang seorang anak yang autis adalah anak yang gak punya feeling…

Ya… Believe Me…kita mesti harus sabar… dan lebih “lincah” mencari trobosan-trobosan dalam mengajarkan mereka… Insya Allah… Yakin padaNYA Someday… someday… mereka akan menjadi mutu manikam (AL_MARJAN) yang mengharumkan nama bangsa… Amin

Comments (1)

Nikah Siri

Secara harfiah “sirri” itu artinya “rahasia”.  Jadi, nikah sirri adalah pernikahan yang dirahasiakandari pengetahuan orang banyak.

Sedang menikah sendiri arti dari segi bahasa adalah : Ikatan/ Simpul. Dari segi Syara’ nikah adalah : Suatu ikatan atau akad yang menghalalkan pergaulan dan pembatas hak dan kewajiban serta tolong-menolong diantara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bukan mahram.

Dalam menikah ada rukun-rukun yang harus dilaksanakan agar pernikahan ini dapat dinyatakan syah. Rukunnya adalah sbb:

1. Adanya seorang laki-laki sebagai mempelai pria

2. Adanya seorang perempuan sebagai mempelai wanita

3. Wali yang Adil

4. Adanya Ijab Qabul.

Dalam masyarakat sekarang ini ada beberapa keadaan yang menjadikan sebuah pernikahan dikategorikan dalam nikah siri.

1. Menikah tanpa adanya seorang wali/ rukun diatas tidak lengkap.

2. Menikah dengan telah memenuhi semua rukun menikah diatas, tetapi tidak disyahkan secara hukum negara (tidak didaftarkan ke KUA setempat)

Untuk point 1. Pada umumnya para ulama tidak memperbolehkan bahkan ada yang dengan tegas mengatakan bahwa pernikahan itu batal adanya. Menganggap bahwa pernikahan dengan kondisi seperti diatas sama halnya dengan tindakan prostitusi. (Hukum Pernikahan harus di fasakh)

Pada point ke 2, secara hukum Islam.. pernikahan ini sudah menjadi syah adanya.Tidak ada satupun Ulama yang menyatakan perkawinan ini harus dibatalkan.

Hanya saja.. sebagai seorang muslimat yang hidup dibawah naungan Negara Republik Indonesia, kita adalah warga negara dari negara ini. Ada hukum-hukum yang harus kita tepati dan jalankan. Dan akan ada sangsi dari setiap tindakan kita yang melanggar ketentuan hukum tersebut diatas.  Dengan menikah secara siri, Hukum Negara tidak berpihak kepada pengantin Perempuan

Yah.. dijaman sekarang ini.. apapun bisa terjadi.., karena itu wajib kita berusaha lebih keras sebelum bertawaqal kepada Allah azza wa jalla.

Tidak sedikit cerita yang beredar.. bagaimana seorang wanita yang akhirnya menemui persoalan ketika perkawinannya sudah tidak semulus dulu.. dari yang

1.Tidak mendapat pengakuan sebagai seorang istri

2.Yang kehilangan haknya sebagai ahli waris

3.Anak-anak yang tidak mendapatkan pengakuan dari sang ayah sebagai anak kandung

4.Kesulitan mengurus surat-surat yang berhubungan dengan “status”nya misalnya KTP

dan lain sebagainya

Baiklah… kita memang mesti berbaik sangka pada setiap orang.., anggaplah.. bahwa penikahan ini dilaksanakan benar-benar karena niat tulus dari kedua orang mempelai yang ingin melaksanakan ketentuan tentang sebuah pernikahan seperti telah saya tuliskan diatas.. Tetapi.. siapa yang berani bermain-main dengan umur manusia? Ketika Nikah siri sudah dilaksanakan.. dan karena satu dan lain sebab, ternyata pengurusan surat ke KUA belum sempat dilaksanakan.. ajal sudah menjemput…

Status sang Istripun menjadi tak menentu… Janda bukan.. Gadispun bukan… Dan jika ternyata sang Istri telah mengandung.. tanpa surat nikah.., dengan suami yang sudah menjadi almarhum.. sang anak akan tercatat sebagai anak luar nikah.., hasil hubungan gelap.., tidak dapat mengurus akte kelahiran.. buntutnya akan terus berkepanjangan hingga segal hal yang berkaitan dengan status sang anak..  Apalagi jika pihak keluarga mempelai laki-laki tidak menyetujui… makin parahlah kondisi yang harus dihadapi. (Ya Allah berilah kemudahan bagi mereka-mereka yang mengalami kesulitan hidup seperti ini)

Tentunya.. dari pasangan yang memang bertujuan benar.. keadaan yang timbul karena sebab-sebab tidak memiliki status hukum secara benar (tidak punya surat nikah yang dikeluarkan KUA) bukanlah hal yang diharapkan. Mereka ingin pernikahan ini akan berlangsung selamanya.. (hingga ajal memisahkan) dalam keadaan yang penuh bahagia, saling mengasihi, saling menjaga, saling menghormati bersama-sama mengayuh bahtera rumah tangga. Baik ini yang melibatkan hanya kedua mempelai atau seluruh keluarga besar kedua mempelai.

Maaf mungkin saya kelihatan begitu “paranoid” dalam menyampaikan. Hal ini saya ungkapkan berangkat dari banyak kisah dari para perempuan yang mengalami kondisi sangat tidak menyenangkan dari sebuah pernikahan siri. Sebut saja.. seorang selebriti yang dikabarkan pernah menikah siri dengan seorang pejabat tinggi dari zaman Orde Baru.., Atau. orang-orang yang memilih menikah siri karena perbedaan status kewarganegaraan.. , Ataukah karena usia yang terlalu belia sehingga tidak cukup syarat diakuinya.. pernikahan ini oleh negara. dsb-dsbnya.

Jadi menurut saya.. selain menikah secara Hukum Agama, seorang perempuan sangat membutuhkan adanya pernikahan yang diakui keberadaannya oleh Negara melalui adanya bukti-bukti otentik dan tertulis.

Bagaimanapun juga, kita (para wanita) mempunyai kewajiban untuk menjaga harkat dan martabat kita sebagai seorang muslimah.. yang dewasa dan bertanggungjawab. Disisi lain, sang suamipun punya kewajiban untuk menjaga dan melindungi istri dan anak-anaknya dari segala hal yang dapat menjatuhkan harkat dan martabat mereka. Ini adalah salah satu hal yang menyebabkan perkawinan akan sakinah, mawadah warahmah… Insya Allah

Seandainya.. setiap orang memahami akan hal ini… Subhanallah… Tidak akan ada lagi pernah adaanak-anak yang terlantar… istri-istri yang terdzolimi… dsbnya (Ya Allah hindarkan kami semua dari cobaan yang semacam ini… )


Kebenaran hanya datang dari Allah…

Comments (8)

Finger Test Print

Seorang Sahabat.. dengan bahagia.. menceritakan tentang bakat anaknya yang Autis.. Sang Anak telah melakukan sebuah “penyelidikan” tentang bakatnya… Nama test ini “Finger Test Print” Sahabat itu kini merasa yakin dan tenang dengan masa depan sang anak. Maklumlah… “mengarahkan” seorang anak autis bukan main sulitnya… sehingga untuk mengetahui mana minat dan bakatnya.. sudah pasti sangat sulit juga.

Cara test ini adalah dengan melakukan “Scanning”.. terhadap tangan sang anak.. kemudian dengan bantuan Komputer beserta softwarenya.. akan dilakukan analisa.. dalam waktu yang singkat (bervariasi,… antara 1 hari hingga 1 minggu) akan didapat sebuah laporan yang mengulas tentang bakat dan minat sang anak.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di : “Finger Test Print”

Hmm.. untuk saya, hal ini adalah sebuah pertanyaan besar…  Apakah Finger Test Print ini sama dengan “ramalan”.. karena…..

Dari : Panduan Serena Tentang Ramalan

Sebenarnya banyak cara untuk membuat ramalan. Ramalan melalui tangan telah dilakukan sebelum tercatitnya sejarah manusia. Lihat Ramalan melalui tangan Cina dan Ramalan melalui tangan India juga. Ramalan melalui tangan dapat dilihat melalui bentuk tangan, rajah retak tapak tangan dan kuku. Perkembangan baru dalam kepandaian ini sudah mencapai tahap analisis tangan melalui dermatoglifik (cap jari dan rajah kulit).

Dari kesimpulan-kesimpulan bacaan diatas.., bahwa cara kerja dari Finger test print adalah dengan mengandalkan “guratan-guratan” di tangan untuk “memperkirakan masa depan” dan minat bakat seseorang, sayapun menjadi ragu untuk mengikut sertakan Aini dalam Test (kebetulan kok biayanya… mahal juga ya.. 1,5 juta). Dan karena….

Dalam Islam yang namanya Ramal-meramal itu sangat berat hukumnya..

Nabi Muhammad SAW telah mengingatkan kita semua akan praktik-praktik semacam itu, beliau bersabda : “”Barangsiapa yang mendatangi seorang peramal (termasuk tukang ramal lewat tangan, membaca kartu tarot dll) lalumempercayai apa yang dia ramalkan, maka ia telah kufur terhadap wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .”
(HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Beliau juga bersabda, “”Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal lalu
bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima sholatnya selama 40 hari (Hadist Riwayat Muslim).”


Subhanallah.. dalam kebingungan ini,  apakah saya ikut atau tidak mengobservasi aini dengan sistim ini, Aini diobservasi oleh ahli NLP (NLP= Neuro-Linguistic Programming adalah model komunikasi interpersonal dan merupakan pendekatan alternatif terhadap psikoterapi yang didasarkan kepada pembelajaran subyektif mengenai bahasa, komunikasi, dan perubahan personal). Cara observasinya adalah dengan mengamati kegiatan Aini sehari-hari.. baik disekolah maupun dirumah..

Subhanallaah.. secara garis besar.. apa yang disampaikan dalam laporan NLP hampir sama dengan laporan yang diterima oleh sahabatku (hasil FingerTest Print) putranya….

Sampai sekarang Saya memang belum berani memastikan apakah Fingertest Print sama dengan meramal ataukan tidak sama. Tapi.. saya lebih memilih selama masih ada jalan yang lain.., saya tidak akan melakukan hal ini.

Dan yang paling menarik adalah… kalimat sang ahli NLP.., bahwa orang tua, sebagai seseorang yang terdekat, punya perhatian dan mempunyai akses selama 24 jam untuk berdekatan dengan putra/inya… sebetulnya lebih berpeluang untuk dapat “membaca” masa depan anak-anaknya… asalkan.. rajin mencatat… setiap kegiatan yang dilakukan oleh sang anak, menganalisanya dengan bening hati… Subhanallah. Tidak perlu menggunakan bantuan… siapa dan apapun, kecuali Allah Azza wa Jalla

Comments (1)

Aini Menghadapi Lomba Antar Sekolah

Waktu Aini kujemput dari pulang sekolah… Ibu Kepala Sekolah memintaku untuk berbicara sebentar dengan beliau..

Dag.. dig.. dug.. walah.. apa-an  Yah… positif thingking aja dan…

بِسْمِ الله الرَحْمنِ الرَحِيْمِ

Ternyata.. dengan sangat hati-hati.. dan begitu lembut si Ibu minta “kerelaanku”.. karena akan ada lomba antar sekolah TK.. Aini diikut sertakan tidak dalam kapasitasnya sebagai penari…seperti diacara Halal Bihalal kemarin tapi dalam kelompok bola keranjang.

Subhanallah… Hati ini jadi haru biru… Biruku.. karena aku juga harus “legawa” benar-benar menyadari dan menerima “kekurangan” Aini… (see in Aini pentas tari) Haru.. karena begitu indahnya sekolah ini.. “menjaga” perasaanku.. perasaan seorang ibu yang anaknya berkebutuhan khusus.

Ya Allah.. sungguh saya sudah cukup bersyukur dengan segala apa yang didapatkan Aini melalui sekolah ini.. semua yang hampir tidak berani saya impikan.. Lalu.. apakah.. saya harus merasa kesal dan tidak mau menerima… penyampaian ibu kepala sekolah…

Alhamdulillah… Wa syukurillah.. hanya itu yang terucap.

Kalau boleh… ya.. sebenarnya.. jujur saya ingin Aini.. diterima apa adanya.. tidak diistimewakan.. sehingga apa-apa yang ternyata dia “tidak berhak” karena keterbatasannya.. tidak diberikan.

Saya berani bilang begitu karena… untuk orangtua-orang tua yang jujur dengan kondisi anaknya sejak awal mula masuk…  dari pihak sekolah.. (jika memang mau menerima) pasti sudah bisa “pasang kuda-kuda” dan merancang strategi untuk mendidik. Bandingkan ini dengan anak-anak yang notabene normal.. begitu sekolah berjalan.. baru ketahuan kalo selalu “pecicilan”.. atau “tulalit”…misalnya….

Strategi yang umumnya dilakukan di sekolah-sekolah.. saat ini, ada yang namanya :

1. Visit (kunjungan kerumah untuk melihat kondisi anak dirumah.. agar dapat disingkronkan dengan pelajaran dan cara mengajar disekolah) -Alhamdulillah Aini mendapatkan perhatian ini… langsung dari perancang kurikulum sekolah-

2. Remedial.. (pelajaran tambahan).. untuk membantu anak dalam mengatasi kesulitan belajarnya (Karena rumahku yang cukup jauh jaraknya dari sekolah.. sedang guru disekolahnya pada muslimah… ini agak sulit ya.. karena pasti ini harus berkesinambungan.. hmm saya cukup paham dan sangat bisa menerima) Alhamdulillah… Aini ikut terapi… setiap pulang sekolah… jadi… anggap saja remedialnya ditempat terapi.

3. Komunikasi yang baik antara guru, dan orang tua. Sehingga sejak awal.. sudah akan dapat diantisipasi segala hal yang mungkin terjadi… ataupun untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul kemudian. Sekali lagi alhamdulillah… Aini sudah mendapatkannya.. saya dan guru-guru di TK Al Marjan.. terutama 2 orang guru kelasnya.. bu Yanti dan bu Lia.. sangat komunikatif… 2 arah lagi.. subhanallah kan…

Sekali lagi….saya sampaikan bahwa… memang sayapun sangat menyadari anak-anak berkebutuhan khusus ini.. (jika sang orang tua/ wali sudah jujur.. sejak awal pendaftaran) membutuhkan penanganan yang sangat istimewa.. dukungan yang luar biasa.. terutama dari guru kelasnya.. paling tidak 2 kali lipat dari murid yang lain. Sehingga diakhir semester.. aini (kalau bisa) sudah dapat bersaing dengan teman-temannya. Dan sebaiknya.. cara pengajaran ini sudah diprogramkan sejak awal.. berdasarkan kompromi orang tua, guru dan pihak sekolah.

(Wo alah… ini benar-benar… ibu yang keterlaluan ya…. maksa tuh… Ampuni aku Ya Allah)

He he he… Wajar lah.. kalau ada yang berkomentar “kok uenak men.. kalau ngomong…” maaf ya bu… maaf ya pak… semoga ini gak dimasukin “konteks” gak tau diri.. dan mau nuntut lebih apalagi kalau dimasukkan dalam kelompok orang yang gak bisa mensyukuri… sungguh ini cuman sekedar pengen jujur..  (saya yakin ini juga jadi damba-an.. banyak orang tua dari anak-anak berkebutuhan khusus karena itu saya ingin mewakili mereka)

Lalu… setelah usaha yang maksimal.. ternyata tetap jika tidak tercapai…

Ya.. saya sih… legawa aja… saya percaya…betul.. setiap manusia punya tugas masing-masing.. jadi “bekal” kearah sana juga harus berbeda satu sama lain… masak iya.. koki restaurant terkenal gak harus cuman ngapalin resep masakan tapi.. juga harus bisa bikin rumusan kayak einstein…  he he he..bisa-bisa kalau makan direstauran itu.. saya nunggunya laaammmmaaaa karena sang koki sedang mencoba membuat rumusan ion + reaksi atom dari setiap bahan makanan hingga proses pemasakan dan menghidangkannya…. Siapa yang tahaaan???

Yah.. yang penting usahanya dulu….

Kembali ke masalah lomba… Buat saya (insya Allah untuk hampir semua orang tua anak berkebutuhan khusus).. gak masalah.. Aini.. ikutan lomba apa.. yang penting Aini proposional disana.. dan selalu diberi kesempatan yang sama.. syukur alhamdulillah kalau pihak sekolah.. menganggap aini berhak mendapatkan “perhatian dan bantuan lebih” untuk berusaha lebih keras, berjuang lebih lama..

Jazakumullah khairan katsiran guru-guru dan seluruh bagian dari TK Al Marjan…

Komentar dimatikan

Aini pentas nari…

Alhamdulillah… saya gak pernah berani kepikiran, saya gak pernah berani berharap, jika ternyata… hari ini Aini pentas tari..

Saya baru tahu hari kamis… waktu wali kelasnya bilang… Aini diminta nari hari sabtu ini dalam rangka Halal bihalal… Gak percaya… tapi mau nanya-nanya kayaknya kok gak pantes… takut ke PD-an (Percaya Diri) eh.. ke GR an (ke-gedhen Rumangsa = kebesaran harapan).  Masak iya sih… Aini “boleh” pentas nari. Walah….Kata-kata yang keluar cuman “Bajunya apa bu?”

Baru ini Aini “masuk hitungan”… disekolah-sekolah sebelumnya… Aini selalu tidak lulus tahapan “seleksi” karena dianggap akan jadi perusak keindahan… Huff (ya… saya nyadar… jujur emang gitu sih… tapi orang tua.. ya… mana ada yang gak pengen lihat anaknya “bisa”… gitu deh… emang dasar…)

Jum’at… ditas sekolah Aini ada baju nari… Wah cakep… warnanya kuniiing… Tapi… gitu kubuka… Masya Allah.. Ya Allah… bahannya.. Brokat!!! (tahu sendiri… anak-anak ini Sensor Integration alias.. “rasa-rasa”nya.. sensitif banget…) Walah… jangankan… brokat… label baju ditengkuk aja bisa jadi masalah besar… Waduuuuhhhhh. Anak-anak ini indera perabanya (kulit) sangat-sangat sensitif… gak bisa kena “rasa” diiikkkkiiit aja. Ini bisa jadi hal yang “menyakitkan”. Dan gak jarang bikin tantrum (ngamuk yang luar biasa)

Saya coba SMS gurunya… kali aja ya… ada baju yang lain…

Yeah… saya kecewa…. kagak ada!!!!! hanya itu satu-satunya baju yang “harus” dipakai…. Hufff. Ditengah kecewa ada yang bikin aku terharu… gurunya bilang…” Walaupun gak ada pilihan, baju nari yang lain Ma.., saya doakan.. Aini besok baik hatinya… mau pake baju nari dan nari dengan baik”… Ya Allah… Saya sungguh-sungguh “berhutang” pada guru-guru Aini

Malam… baju nari kugantung, kubujuk-bujuk dengan melihat baju dan membawa tangan mungilnya untuk “meraba” dan “memegang” baju, cerita tentang bagaimana senangnya menari.., bagaimana warna-warna baju kawan-kawannya, saya sampaikan berkali-kali. Semangat sih… malah dia memperagakan beberapa gerakan tariannya. Eh.. tapi waktu mau coba baju nari… (takut kegedean, kan masih ada waktu untuk nge-soom) Aini bilang: “Gak mau!!!! Geli” katanya… Waduh…. Ya Allah… aku coba untuk berserah diri padamu. Ya sudah… biar aja kugantung.

Hari H. Bismillah…. sepanjang perjalanan dari rumah ke sekolaj saya cuman bisa berdoa-dan berdoa…

Alhamdulillah… jam 7an sudah sampai sekolahan Al Marjan. Alhamdulillah Aini mau pake baju nari… Alhamdulillah… mau bedak-an.. tapi gak mau pake lipstik apalagi eye shadow…. Ini juga… subhanallah… Jazakumullah khairan katsiran… ibu-ibu guru TK Al-Marjan… sabar… banget ibu-ibu itu… mau diskusi, mau membujuk, mau ngasih penjelasan, dan mau menenangkan hati Aini. Subhanallah…. Alhamdulillah.

Ennnngggg …. iiiinnnngggg…. eeeennnngggg.

Akhirnya… tiba juga saatnya… dengan iringan lagu “assallaammualaikum”  Aini + kawan-kawan naik ke panggung.Bismillah… Bismillah… juga dzikir… aku coba “ucapkan dalam batin”… doa untuk putri cantik Aini… Ya Allah.. berilah kemudahan untuknya… Ya Allah…

Lalu… walah… belum juga 1 menit pertama.. Aini sudah bikin “skenario” sendiri… maju dan berdiri paling depan.. liaaattt kiri dan kanan.. kepenonton.. sambil bengong… (“deg”  Hiiiiikkkkk… I’am Crying)…. Eh.. la.. (subhanallah) kok ada “keajaiban”….. penonton ketawa… ngakak-ngakak… mereka pikir… aini luuuccccuuuu banget… (mukanya kan emang inocent yaaaa) dan berlanjut disetiap tingkah aini… penonton.. riuh ketawa…setiap kali aini bertingkah  diatas panggung (setelah itu aini juga “mencoba” ikut nari lagi… mesti sering… “telat”.. dan “bengong”… ) Hiiiikkkkk Hiiiikkkk makin deras airmata yang “dleweran” dipipi ini…. kali ini jadi penuh rasa syukur… bahwa… mereka (para penonton) “menerima” Aini. Tingkah polah yang penuh “kesalahan” dianggap sebagai… “yah… gitulah anak-anak” “lucu”.. “ngemesin”..  bukan sebagai “distroyer pentas”…. Subhanallah… Alhamdulillah… (weh… kayaknya… malah ibunya yang aneh nih… masak semua ketawa.. si ibu malah… seguk-seguk… payah deh…)

Diakhir pertunjukkan… sicantik ini bikin cerita lagi… “gak mau turun panggung”… Wa kak kak kak… (he he udah bisa ketawa ya… si-ibu) padahal teman satu tarian udah turun… dan panggung mau dipakai oleh kelompok penari berikutnya…. Akhirnya… subhanallah… sekali lagi jazakumullah khairan katsiran guru-guru TK Al Marjan… yang sungguh-sungguh penuh Rahmaan dan Rahiiim, 3 guru datang membujuk…. ikut naik kepanggung… menghampiri Aini. Alhamdulillah ia nurut.

Ya Allah… ini mungkin hal tidak berarti… untuk orang tua anak-anak normal (ehmm malah ada yang jadi jengkel ya… ngerasa di “permalukan” anaknya).. Tapi buatku… ini Karunia… Ini Hadiah yang sangat Indah.. Ini.. sesuatu yang gak pernah berani aku inginkan.. bahkan untuk memimpikannya. Bagaimana beraninya naik panggung, Bagaimana kesan spontan dari penonton, bagaimana telaten dan penuh cintanya para guru, bagaimana teman-teman Aini… dgn kebingungan menerima Aini, yang bikin “skenario” baru dadakan. Subhanallah… alhamdulillah.

Diakhir ceritapun… saya masih harus katakan lagi… betapa “besar hatiku”.. “hati Aini”… “hati sang Imam”… ketika para guru… beberapa orang tua… menghampiri Aini… memberi selamat dan kagumnya… untuk “keberhasilan” Aini pentas tari….. Subhanallah… mungkin.. kalau boleh saya berkata.. “inilah… seujung surga untukku”.. “surga dunia.. disebuah sekolah inklusi, untuk putri cantikku.. penyandang autis” (walahh… mulai deh… ngomongnya… rada ngawur… norak ya… lagi “melambung-lambung” sih)

Saya berharap… anak-anak dengan berkebutuhan khusus seperti aini… selalu mendapat kesempatan dan penanganan yang tepat… seperti yang Alhamdulillah.. hari ini ia rasakan… Sehingga dapat cukup “menghantarkannya” ke masa depan yang baik.. Yang dapat menjadikannya sebagai pribadi mandiri dan mampu bertanggungjawab atas segala tindakannya dalam masyarakat… sebagai manusia dan sebagai hamba Allah. Amin…

Teriring ucap : Jazakumullah khairan katsiran untuk guru-guru TK Al Marjan

Komentar dimatikan

Older Posts »