Posts Tagged buku

Three cup of tea

tree-cup-of-tea1 Sebuah buku yang luar biasa….

Sahabat… apakah pernah terpikir.. manusia dapat menjadi    begitu mulia…. jika ia melakukan perbuatan bajik… yang tulus.. yang tanpa membawa niatan terselubung???

Buku ini mengangkat cerita seorang anak manusia.. yang berasal dari kehidupan modern Amerika.. dapat meleburkan diri.. dalam tindakan berlandaskan keinginan memberi…

Ia Berjuang… sendiri.. dan tidak mengatas namakan suatu golongan ataupun… dengan tidak mengusung misi kelompok agama tertentu..  berhasil membuktikan… kekuatan dan kemampuan seorang manusia untuk bersikap dengan sikap terpuji adalah segalanya.. .Mengalahkan.. kekuatan segolongan besar manusia..  Mengalahkan.. sejumlah uang..

Sekolah demi sekolah… dibangung… persoalan-persoalan umat.. dapat terpecahkan satu demi satu…

Ya.. hanya karena rasa terima kasih yang tulus… Rasa syukur yang tak ternilai… Rasa ingin berarti bagi umat manusia… terbukti dapat menembus dinding pembatas.. yang dibangun dengan menggunakan.. bahan bangunan… agama, suku, golongan, warga negara.. politik.. batasan negara..dsbnya.

Semakin indah… ketika kalimat Allah ditegakkan….

Tiada rasa saling tersinggung… ketika sang pemeran utama… di beri julukan “Kafir yang berhati lembut”.. karena ucapnya dengan dibarengi pujian.., terucap dari bibir-bibir muslim merupakan ungkapan rasa syukur dan terima kasih terhadap sang kafir.  Dan tindakan sang Kafir untuk meningkatkan kesejahteraan  yang merupakan ungkapan terima kasih pada kaum muslimpun diterima dengan demikian indahnya… tanpa ada syak wasangka.

Buku ini juga mengungkap kisah tenggang rasa saling menghargai… antara 2 agama. Yang selama ini sudah dianggap sebagai hal yang tidak akan pernah mungkin terjadi. Membuat orang beropini baru… tentang pola hidup bermasuarakat,… berdampingan… saling hargai.. diantara umat beragma.

Sayapun setuju jika buku ini menjadi buku “BEST SELLER” dari New York Times.

Comments (3)

Ibu Kiswanti

Wahai Ibunda

Walaupun… hari-harimu sangat bersahaja

Tanpa kenal lelah.. kau kayuh sepedamu… menabur ilmu hingga ke sudut desa

Apakah Surga… mampu menolakmu…

Apakah malakaikat dapat menuliskan amalan buruk di buku kiri…, padahal amalan baik yang akan ditulis buku kananmu begitu banyak… seolah berpacu dengan tangan malaikat yang menulis…

Ya Allah… Engkau adalah dzat yang Maha Adil..

Ya Allah… Engkau adalah dzat yang Maha Kasih

Engkau akan memberikan derajat tinggi dan kemuliaan pada orang-orang yang mau memperjuangkan agamaMU…

Orang-orang yang sering tidak diperhitungkan dan dipandang walau sebelah mata..

JanjiMu pasti…JanjiMu telah terwujud pada ibunda yang Agung… Ibu Kiswati.. pemilik “WARABAL” dari desa parung…

Anak Lebak Wangi Mimpi Ke Monas
http://gawtama.multiply.com

Ada yang pernah mendengar Kampung Lebak Wangi? Wajar jika Anda belum pernahmendengarnya. Mungkin nama tersebut tidak tertulis di peta Jawa Barat, dan ini bukan daerah bernama Lebak di Banten yang sudah kadung kesohor lantaran satu wilayah dengan kawasan baduy. Bukan, sekali lagi bukan. Sebab daerah kecil ini hanya berjarak tempuh kurang lebih setengah jam dari Jakarta Selatan, atau setengah jam dari Kota Bogor.

Kampung Lebak Wangi, sebuah kampung di wilayah Parung, Bogor, Jawa Barat. Jika berkesempatan melintasi daerah tersebut, singgahlah di Jl. Kamboja, RT. 001 RW. 01 Kampung Lebak Wangi, Desa Pemagarsari, Kecamatan Parung. Ada sebuah rumah yang dijadikan Taman Baca, bernama WARABAL (Warung Baca Lebak Wangi). Kiswati,
seorang ibu rumah tangga yang gundah melihat anak-anak kampung yang lebih gemar bermain playstation atau menonton tayangan-tayangan televisi dan film yang tidak mendidik, tergerak untuk merogoh kocek pribadinya untuk membeli buku. Tentu saja, cita-citanya hanya satu, agar anak-anak kampung Lebak Wangi gemar membaca. “Bagaimana kampung ini bisa maju, jika anak-anak kami tidak cerdas?” resah Kiswati.

Kiswati bukanlah orang berada, ia bukan sosok yang memiliki banyak harta sehingga berani mengeluarkan sejumlah uang untuk membuat taman bacaan di rumahnya. Sosok Kiswati di lingkungannya dikenal sebagai ibu rumah tangga, namun yang membedakan ia dengan ibu rumah tangga lainnya, adalah kegundahannya akan masa depan anak-anak dan kampung tercintanya. Karena itu, 4 Desember 2003, berdirilah Taman Baca WARABAL, sebuah nama yang sangat sederhana, dirangkai oleh seorang ibu yang juga sederhana. Koleksi bukunya pun tidak banyak, hanya sekitar 180 buku, sebagian merupakan koleksi pribadinya, sebagian lainnya dibeli dari uangnya sendiri.

Bukan hal mudah bagi seorang Kiswati merintis usaha mulianya mencerdaskan anak-anak kampung Lebak Wangi. Mulanya, Taman Baca-nya tak dilirik sama sekali oleh anak-anak. Namun Kiswati pantang menyerah, jika di kampungnya tidak banyak anak-anak yang mau membaca, maka ia bersepeda belasan kilometer setiap hari untuk bertandang ke kampung lainnya. Setiap hari, di sore hari Kiswati mengayuh sepeda dan singgah di berbagai kampung. Yang ditawarkan hanya satu, buku-buku yang disusun di rak sepedanya. Sebagai seorang manusia, tentu saja ia punya rasa lelah. Terlebih bila tidak banyak anak-anak yang mau membaca buku-buku yang dibawanya. Padahal, ia harus menggadaikan banyak hal untuk melakukan perjuangan mulia tersebut. Namun, senyum Kiswati langsung mengembang tatkala ada satu-dua anak yang menghampiri sepedanya untuk membaca-baca. Ya, mulanya hanya satu-dua anak saja di setiap kampung yang dikunjunginya, itulah yang senantiasa menjadi energi tambahan perempuan sederhana ini untuk terus mengayuh hingga puluhan kilometer setiap hari.

Kerja kerasnya berbuah hasil. Dari 180 koleksi bukunya, kini Taman Baca WARABAL sudah mengoleksi 1714 buku yang terdiri dari buku bacaan anak, komik, majalah dan beberapa bentuk mainan anak-anak. Semuanya ia usahakan sendiri, bekerja sama dengan Komunitas 1001buku dan berbagai pihak donatur yang terkesan dengan perjuangannya. Memang, Kiswati tidak pernah berhenti meminta bantuan siapa pun yang tergerak untuk menyumbangkan buku untuk taman bacanya. “Anak-anak yang baca, tidak satu pun yang dimintai bayaran. Semuanya gratis,” tegas Kiswati

Hingga hari ini, Kiswati masih terus mengayuh sepeda belasan kilometer setiap hari untuk singgah di kampung-kampung lain yang jauh dari taman bacanya. Meski jumlah anak-anak yang sering singgah ke taman bacanya saat ini pun sudah semakin banyak. “Ada sekitar 60-an anak, tapi saya kasihan sama anak-anak kampung lain yang tidak bisa datang ke sini. Makanya saya masih harus terusmembawakan buku ke kampung mereka,” tambahnya.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan bertemu lagi dengan Kiswati di sebuah forum para pecinta buku di Pertamina. Masih seperti dulu, Kiswati tidak pernah bosan membawa serta flyer, foto-foto, dan berbagai liputan berita mengenai taman baca dan profil dirinya. Bukan bermaksud menyombongkan diri, Kiswati hanya ingin lebih banyak orang tahu tentang Taman Bacanya, tentang Kampung Lebak Wangi, dan yang pasti tentang kebutuhannya akan buku yang lebih banyak untuk anak-anak. “Buku-bukunya cuma segitu, anak-anak sudah mulai bosan, setiap kali datang tidak ada buku yang baru. Bisa bantu ya mas…” harapnya. Sesaat sebelum berpisah dengan Kiswati, ia berpesan, “Mas, kalau ada teman-temannya yang kelebihan uang. Anak-anak kampung saya sesekali diajak ke Monas ya, mereka kepengen tahu Monas. Selama ini cuma lihat di televisi saja” Duh, anak Lebak. Monas sebenarnya tidak lah jauh dari kampung mereka. Namun mereka hanya bisa menikmati gambarnya di buku dan di televisi. Di saat anak-anak di kota tak lagi melirik tugu kebanggaan Jakarta itu, justru anak-anak di Lebak Wangi masih harus memendam mimpinya untuk menjejakkan kaki di Monas. Ada yang ingin membantu mewujudkan mimpi mereka?

Gaw
jika ada yang mau membantu, mari bersama kita mewujudkannya. hubungi saya di email [EMAIL PROTECTED] atau hp: 0815 105 35 424 (0852 190 68581 baru akan berfungsi hari jum’at, 16 feb 2007)

Comments (1)

The True Love Story of Muhammad saw by Abdul Mun’im Muhammad

Awalnya…Saya… hanya tahu… “permaisuri” pertama Nabi saw adalah Khadijah ra… Hmm…. begitu saya menamatkan buku ini…, tulisan-tulisannya seolah tertanam didalam hati… Membuka mata saya… kenapa Allah memilihkan seorang Khadijah untuk pemuda…. Nabi Muhammad saw. Dan.. betapa… besar cinta diantara kedua manusia yang mulia ini….. Sungguh bahagia mereka yang diberi kesempatan untuk saling mengasihi seperti kasih diantara beliau berdua….

Comments (1)