Posts Tagged putri

Alhamdulillah….

Kemarin, tanggal 17 Agustus 1945, Hari Kemerdekaan Indonesia. saya diberi kesempatan Allah untuk melihat putri sulungku… melakukan baktinya yang pertama pada negara Indonesia… Ya.. dari begitu banyak putra-putri Indonesia.., anakku diperkenankanNYA berada diantara barisan pengibar bendera pusaka…

Sungguh saya bersyukur…, bahwa Allah berkenan memberikan saya dan Imamku… untuk sekali lagi membuktikan.. bahwa muslimah muda (sangat muda malahan ya… anakku baru berumur 15 tahun) dan berkerudung juga mempunyai kesempatan yang sama dan mampu bersaing dalam roda modernisasi dan globalisasi dunia….

Ya Allah… semoga Engkau terus memberikan kelapangan bagi kami semua untuk tetap teguh berada dijalanMU sekaligus dapat menjadi orang-orang yang akan menggenggam dunia tanpa berniat untuk memasukkannya dalam hati. dan jauhkan pula kami dari rasa riya’ dan sombong. Sungguh kami tidak akan pernah berarti dan dapat melakukan apapun tanpa ridhoMU. Amin.

Iklan

Comments (16)

Kesabaran itu Kunci Kesenangan

Kutipan Nasihat-nasihat dari seorang ibu… untuk muslimah….

Dengan tersenyum haru dan meneteskan air mata, Ummu Mu’ashirah, menasehati putrinya sebagaimana berikut :

Wahai putriku, engkau akan menghadapi sebuah kehidupan baru. Yaitu sebuah kehidupan yang tak ada tempat bagi bapakmu, ibumu dan saudara-saudarimu untuk mencampuri urusanmu. Dalam kehidupan barumu itu engkau akan menjadi teman setia bagi suamimu. Suamimu tidak akan rela ada orang lain yang ikut campur dalam urusanmu dangan suamimu, sedekat apapun hubungan darahnya denganmu. Maka jadilah Engkau seorang istri dan ibu baginya. Buatlah dia merasa bahwa engkau adalah segala-galanya dalam hidup dan dunianya. Ingatlah seorang suami adalah “bocah besar” yang cukup bahagia hanya dengan sedikit ungkapan kemanjaanmu padanya. Janganlah engkau membuatnya merasa bila pernikahannya denganmu merupakan sebab terpisahnya dirimu dari keluarga dan orangtuamu. Perasaan seperti ini juga dirasakan olehnya. Dia telah meninggalkan rumah kedua orangtuanya dan keluarganya demi kamu. Akan tetapi, perbedaan antara kamu dan dia adalah perbedaan antara laki-laki dan wanita. Seorang wanita selalu merindukan keluarga dan rumah dimana dia dilahirkan, tumbuh dan belajar didalamnya. Tapi dia harus membiasakan dirinya untuk hidup dalam suasana baru. Dia harus menyesuaikan diri dengan seorang laki-laki yang telah menjadi suami, pelindung dan ayah bagi anak-anaknya. Inilah duniamu yang baru.

Wahai putriku, itulah kehidupan yang akan engkau hadapi dan bahtera keluarga yang akan kalian bangun berdua. Aku tidak mengharapkan engkau melupakan ibu, ayah, saudara-saudarimu karena merekapun tidak akan melupakanmu, wahai putri kesayanganku. Lagipula, bagaimana mungkin seorang ibu melupakan buah hatinya? Namun, aku memintamu untuk mencintai suamimu dan hiduplah dengan bahagia bersamanya.

di sunting dari La tahzan for Smart Muslimah… by Dr. ‘Aidh Abdullah Al-Qarni

Komentar dimatikan

“Maafkan saya…. bila Durhaka”

Waktu ku kecil…..

Maafkan saya ibu… jika saya terlahir sebagai perempuan.. padahal yang engkau dan bapak inginkan adalah seorang anak- laki-laki.

Maafkan saya ibu.., jika saya menyesalimu… karena tidak ada air susumu untukku karena kau ingin selalu sexy

Maafkan saya ibu… jika saya tidak bisa diam… dan selalu ingin tahu sehingga membuatmu kewalahan

Maafkan saya ibu… jika saya lebih suka membaca dirumah bila kau ajak untuk belanja.

Maafkan saya ibu… jika saya lebih suka “bergaul” dengan anak tukang ketika kau suruh aku untuk berteman dengan tetangga sebelah.

Maafkan saya ibu… jika saya merasa tertekan… karena engkau malu “membawaku” dengan kulitku yang legam, tersengat matahari

Maafkan saya ibu.. jika badanku penuh dengan goresan dan berbau anyir.. bukannya putri cantik seperti harapanmu.

Maafkan saya ibu… jika saya selalu minta kau belikan buku,… karena rumah kita jadi penuh buku… dan ini menyesakkan mu… membuatmu marah dan tidak ada lagi buku baru untukku.

Maafkan saya ibu… ketika saya kehilangan dan kesepian disaat engkau sibuk ke salon, shopping, dan bergaul dengan orang-orang penting

Sekarang

Maafkan saya ibu… jika saya merasa kau beda-bedakan… karena kau lebih suka berlama-lama dirumah saudaraku dan “berjalan-jalan”.. ketimbang menenggokku yang hanya bisa mengajakmu nonton tv dirumah

Maafkan saya ibu… jika saya merasa sedih ketika… engkau lebih mendahulukan saudara -saudaraku… sedangkan saya lebih membutuhkan uluran tangan

Maafkan saya ibu… jika saya merasa marah… ketika kau ingin saya mengalah untuk saudaraku yang salah dalam tuntunan Islam

Maafkan saya ibu… jika saya hingga sekarang tidak dapat kau banggakan.. dengan kondisiku yang pas-pasan… beda dengan saudaraku yang bisa “menikmati dunia”

Maafkan saya ibu… karena sulit rasanya untukku… merasakan hubungan yang tulus denganmu dari dalam batinku

Maafkan saya ibu… saya tidak ingin jadi anak durhaka

Maafkan saya ibu .. saya sungguh ingin berbakti dan membahagiakanmu dihari tua dan Sungguh saya takut akan “teguran” Allah bila saya tidak mentaati perintahNYa… Tapi… tetap saja… maafkan saya ibu….

PS :… Dalam buku “Agar Anak Tidak Durhaka”… memberi kita wawasan… mendidik anak adalah hal yang utama… jangan harap anak-anak akan berbakti tulus… pada kita… bila kita tidak membuat “jembatan” dengan mereka sejak awal mereka ada dalam kandungan.

Semoga kita dianugrahi… kehidupan keluarga yang sakinah mawadah warahman dan saling tolong menolong menuju rido Allah.

“Akan tiba masanya… dimana setiap manusia akan menjadi demikian egoisnya… saling tuduh dan menyalahkan…(ayah dengan anak, ibu dengan anak, anak dengan anak, suami dengan istrinya… dsbnya) ketika diminta pertanggungan jawab di hari akhir…

Tulisan terkait :

http://www.dakwatuna.com/2008/empat-kejahatan-orang-tua-terhadap-anak/

Comments (11)