Posts Tagged Tentang Aini

“Pemaksaan Anak”

Makan malam…., 2 Mei 2008

Malam ini… kebetulan menu yang ada diatas meja… ayam bakar + lalapan dan sambal…
Hmmm anak-anak… sangat suka menu ini….
Karena satu dan lain hal… saya tidak mendapat banyak daun selada sebagai bahan lalapan… lagian saya pikir….toh masih ada teman-teman selada (timun, daun kol dan daun kemangi….)

WElah…. ternyata… hari ini daun selada jadi “bintang”…. (he he he… emang seringkali kami “bersaing” sama keluarga kelinci… suka daun-daunan”….) Dipiring Aini… daun selada sudah habis…, hmmm enak aja dia ambil daun kemangi (sama hijaunya… kali ya…) Otomatis… saya ambil lagi.tu dau kemangi dari piring Aini… sambil bilang itu… “dek…daun yang ini gak enak nak… ini bukan daun yang tadi… ..”

Ya… protes deh Aini sekeras-kerasnya… mungkin yang ada dipikirannya.. cuman… Kenapa??? Aku gak boleh makan yang aku suka. Aku tetap minta daun itu…… Dan… saya tetap bersikeras…. harus-harus harus… wa wa wa wa….

My Imam… langsung negur saya… “Bu… biarin aja… nanti kan dia tahu sendiri, kalau sudah tahu rasanya gak sama…, gak usah diribut-in… apalagi… ini bukan hal “berbahaya”….”
Hmmm bener juga… waktu sudah masuk mulut… digigit, dirasa dan…. langsung deh dikeluarin lagi……
Gak itu saja….Aini kasih semua… daun kemangi yang ada di piringnya… dipindah ke piringku… Terus… melanjutkan makannya tanpa daun-daunan lagi… (daun selada… sudah gak bersisa diatas meja….)

Yang kedua… habis makan… gak tau ada angin apa… putraku… ambil roti tawar (padahal saya beli untuk sarapan besok pagi) dilipat… dan dimakan gitu aja…. (Otomatis lagi… nih…) saya komentar… Bang kasih… selai aja… ada coklat tu… atau mau selai strawberri, ada juga lo….. Putraku… diam aja… dan terus makan… kayaknya nikmat banget…

Ha ha ha… (Walah… si bapak… ketawa sampe ngakak)… Ibu ini…kok gak nyadar-nyadar si… seneng banget… ngatur-ngatur… Mbok biarin aja…. si abang… kan dia emang lagi pengen ngerasain makan roti tawar… yang “murni”….Tuh… liat wajahnya…. bahagiakan…..????? Biarpun makan roti tawar tanpa apa-apa.

Hmmm saya baru ngeh… Iya… emang seringkali jadi ibu…,jadi orang tua… saya sering banget… meninjau kondisi anak-anakku dari “kacamataku”… Hmmm padahal yang baik dan yang saya suka… belum tentu adalah yang baik dan mereka suka…

Tugasku sebagi ibu mereka hanya “memfasilitasi” mereka dari yang masih bayi merah… menjadi manusia ikhsan yang mulia….. Untuk itu mereka perlu belajar…, perlu jatuh…, perlu berlari…, perlu berkeringat…, perlu terus berjuang…. ikut dalam “sekolah Kehidupan”.
Kalau saya terussss denga kebiasaan saya seperti itu…,anak-anak gak pernah tahu artinya “memilih”, gak pernah tahu “apa itu tanggungjawab”… gak pernah tahu nikmatnya mendapatkan “sesuatu dengan perjuangan keras”….. “gak pernah menghargai… hal-hal sederhana”

Memang si…(kadang kala) yang jadi alasanku adalah… “kasian” “Masak si… anakku harus begitu” “saya bisa menahan mereka supaya tidak perlu mengalami hal-hal yang tidak nyaman seperti itu” dsb-dsbnya… Padahal ini bisa jadi bumerang untuk anak-anak. Lihat saja… anak-anak orang berada… biasanya… tidak “setangguh” anak-anak dengan keterbatasan… ya.. orang tuanya dapat memberikan segala fasilitas apapun yang mereka minta…. mereka mampu untuk itu…, sedang orang tua dengan ekonomi terbatas… seringkali hanya dapat mengelus dada ketika mendengar permintaan anaknya… (pahit memang… tapi..ternyata Allah punya maksud tertentu dengan hal ini ya)

Ini juga… yang suamiku minta… untuk diterapkan dalam hal pemberian uang saku… Suamiku minta anak-anak dikurangi uang sakunya… sedikit… dari kebutuhan standratnya… dengan demikian…, mereka akan berjuang untuk memperoleh kekurangan dari uang saku tersebut… Dan sukar dipercaya… anak-anak sangat kreatif… Putraku… pernah “berjualan” stiker…, dia beli stiker yang satu lembar besar dan dijualnya dalam bentuk potongan kecil… (ha ha ha berhenti karena dimarahi guru…. jualannya jadi… laku.. dan bikin teman-temannya… heboh dikelas….. ha ha ha) Gak papa… ini namanya belajar strategi berdagang…. sekarang… putraku… punya “usaha” yang lain lo….Kalau putri sulung…. dengan ajaib… dia belajar untuk “menyesuaikan pengeluarannya dengan pemasukan”… Sekarang tiap bulan… dia masih punya uang sisa untuk ditabung… walaupun uang sakunya sudah minimun…..

Oya bagaimanapun juga… dalam menentukan sikap-sikap seperti ini…, kita harus berhati-hati dengan pengamatan dan pengarahan berdasarkan Aqidah dan hukum fiqih yang benar… jangan sampai… akhirnya… malah menjadikan anak mendewakan materi….menghalalkan segala cara untuk bisa mencapai tujuan Ya… itu kali ya… gunanya… kita harus sering ngobrol sama… muslimat dan punya pengetahuan di bidang tersebut. Atau paling tidak dengan orang-orang tua… (ada kan disekeliling kita??? nenek di rumah tetangga…, kakek-kakek dikereta api… atau pada saat pertemuan keluarga besar… masih ada kan… saudara orang tua kita…, yang sering kali cuman duduk disudut ruangan… tanpa ada yang mau menemani….. he he he… pengalaman jadi orang tua yang dicuekin…… ha ha ha)

Ya… saya memang banyak belajar dari anak-anak… bagaimana memperlakukan diri saya dan diri manusia-manusia lain disekelilingku….. Jazakumullah anak-anakku… Kehadiran kalian… membuat ibu berkesempatan untuk melangkah maju… mencari RidhoNYA.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”
QS Al Baqarah (2) : 216

Iklan

Comments (1)

Hari Autis Sedunia

has.jpg

Hai… Brunie… Hai… Ryan…nice to find your blog…. our-unique-raiyan.blogspot.com

Hai… ASA (Autism Society of America)

Hai… Julia van Tiel (org Indonesia yang kebetulan banyak merasakan kehidupan autis di negeri orang….)

Hai… Indonesia

Autis… dengan segala “kekuatannya” telah “menyatukan” perpedaan suku, perbedaan agama, perbedaan negara, perbedaan idealisme… dsb… sungguh ini adalah satu lagi dari Hikmah Allah untuk autis. Sehingga PBB pun dengan saran dari “utusan negara Qatar”… mendeklarasikan… Hari Autis Sedunia tanggal 2 april 2008.. dan bulan autis untuk bulan april 2008…

Semoga sukses dan dapat “diterima” semua harapan penyandang autis didunia

Komentar dimatikan

Satu lagi Realitas di Kehidupan Autis

“Anak yang Hilang telah Kembali”

 

Kami tak mampu berkata sepatahpun hanya ada kesedihan di pelupuk mata, ketika mengetahui ada anak autis yang hilang.

Ilham, namanya. Usianya 13 tahun. Ia hilang sejak 16 Oktober 2007. Tulisan ini ditulis ketika ia baru saja ditemukan di sekitar Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Sekitar 30 kilometer dari rumahnya di Bintaro dan setelah 8 hari lamanya. Tulisan ini merupakan bentuk rasa bahagia dan syukur kami atas ditemukannya Ilham.

Ilham yang cenderung hiperaktif dan tak mampu berkomunikasi ini keluar dari rumahnya, ketika kebetulan ibunya lupa mengunci pintu. Ia leluasa keluar dan mampir ke tetangga sebelah rumahnya.

Sungguh, bagi kami orang tua yang memiliki anak penyandang autis, kejadian ini membuat kami ikut bersedih. Seakan-akan yang hilang itu anak kami sendiri. Kami hanya bisa membayangkan sulitnya menemukan anak yang hilang. Lebih sulit lagi, anak yang hilang ini merupakan anak autis yang sangat kurang, dan cenderung tak mampu berkomunikasi dua arah.

Mencari anak hilang yang normal saja, dalam arti bisa berkomunikasi dan bisa berbicara, sulitnya minta ampun, apalagi jika anak yang dicari ini tak mampu berkomunikasi dan berbicara. Bagaikan mencari jarum di dalam tumpukan jerami.

Yang membuat kami lebih sedih. Ternyata Ilham pergi, setelah sebelumnya sempat mampir ke rumah tetangga. Sejenak kemudian, Ilham diusir oleh tetangganya, karena Ilham mengganggu kenyamanan mereka yang sedang menonton film dari VCD.

Memang, biasanya anak autis senang kepada televisi. Jika melihat televisi ia akan menekan tombol-tombol saluran yang ada di televisi ini dengan tidak beraturan. Mungkin ini yang membuat kesal tetangganya, dan kemudian mengusir Ilham.

Kejadian ini membuat kami teringat anak perempuan kami, Tita. Ia penyandang autis juga. Sudah banyak kemajuan yang mampu dilakukannya pada usianya yang menginjak sembilan tahun. Tetapi tetap saja ciri-ciri autisnya tetap ada.

Dulu, kejadian seperti ini pernah kami alami beberapa kali. Hanya saja tetangga-tetangga kami sudah sangat mengerti. Sehingga biasanya jika kejadian seperti Ilham terjadi, Tita pasti diantar langsung ke rumah kami.

Maklumlah, keluarga kami hanya keluarga kecil dan tidak berkelebihan. Kami tak mampu mengupah orang lain untuk menjaga Tita. Kepada ibunda-nya saja Tita dipercayakan pengasuhannya.

Namun begitu, kami menyadari suatu saat bunda-nya Tita pasti lengah. Sebab, urusan rumah tangga kami yang ditanganinya sendiri, pasti membuatnya sering mengalami kesulitan. Belum lagi urusan terapi Tita sepanjang hari, ditambah lagi adiknya yang membutuhkan perhatian juga.

Untuk mengatasinya, kami sering beranjangsana ke rumah tetangga sambil membawa Tita di waktu senggang. Saya sendiri, kadang bersama istri perlahan-lahan mengenalkan Tita pada keluarga yang menjadi tetangga kami, juga tetangga-tetangga sekeliling komplek.

Biasanya kami berterus terang dengan kondisi Tita kepada mereka, dan selalu memohon pengertian akan kondisi anak kami. Serta kami akan berusaha menjadi tetangga yang baik kepada mereka. Dan berusaha mengurangi konflik dengan tetangga seminimal mungkin, agar mereka bisa membantu kami, bila ada kejadian seperti Ilham terjadi.

Setelah itu, ada tetangga yang bilang pada kami, aib keluarga kenapa diberitahukan kepada orang banyak. Kami menjawab, anak kami bukan aib. Dia titipan dariNYA. Dan kami bangga ketika Tita menjadi salah satu bagian dalam episode kehidupan ini. Berkat Tita, kami menjadi makin sadar akan kelebihan dan kekurangan orang lain.

Setelah itu, banyak kemajuan penting buat Ayahnya Tita, sejak Tita terdiagnosa autis. Karir serta penghasilannya terus meningkat seiring waktu, meski bermodalkan ijazah seadanya.

Semua itu tak terbayangkan, bahkan sesaat sempat putus asa mengetahui anak kami autis di tahun 2000.

Di waktu-waktu terakhir ini banyak pertanyaan dari keluarga dan rekan-rekan. Mereka menanyakan, ada sebuah buku mengenai seorang ayah, yang anaknya autis, terpajang di toko buku. Nama penulisnya sama dengan nama Ayahnya Tita.

Satu pertanyaan yang banyak mereka tanyakan kepada kami, sejak kapan menjadi penulis. Kami hanya tersenyum saja mendengarnya.

Jelas mereka tak pernah tahu, bahkan Bundanya Tita pun tidak pernah tahu, sampai naskah itu sampai ke tangan penerbit. Lembar demi lembar buku harian yang bertaburan air mata sudah ditulis, untuk menghilangkan kesedihan dan keputus-asaan memiliki anak autis. Tulisan yang ada dalam buku itu hanyalah beberapa diantaranya.

Pada akhirnya, hanya rasa syukur yang dapat kami panjatkan atas rahmat illahi, sehingga kami memiliki kesempatan untuk mengabdi padaNYA lewat kekurangan anak sulung kami ini.

Sungguh begitu berat memiliki anak yang berbeda. Apalagi sering mendapat perlakuan yang tidak layak dari lingkungan sekitar, dan tentu saja keluarga yang paling dekat sekalipun.

Yang kadang tidak mengerti dan tidak tahu situasi, lalu menjelma menjadi sosok ahli yang kadang lebih sok tahu dari kami, yang telah berusaha bertahun-tahun mengatasi kesulitan ini.

Dulu, di lingkungan kami, seringkali orang sulit memahami. Dan biasanya langsung mengambil kesimpulan anak autis itu sama dengan orang yang sakit jiwa. Ungkapan ini pernah kami rasakan serta dengar langsung, di tahun-tahun yang lalu. Kini keadaannya sudah lebih baik.

Padahal kalau mereka mau berfikir sedikit saja, tidak akan pernah kita menemukan orang sakit jiwa yang berusia balita. Semua penyandang penyakit jiwa pasti terjadi setelah masa anak-anak atau remaja lewat.

Sedih, melihat masyarakat kita terlalu mudah memberikan stigma kepada orang lain yang berbeda dengan manusia kebanyakan.

Pagi ini, kami bersyukur kepadaNYA, pernah berkenalan dan berteman dengan para ibu dan bapak yang peduli serta terpercaya, yang telah dipersatukan oleh milis di situs www.puterakembara.org sehingga kejadian yang menegangkan selama 8 hari ini, mampu diatasi bersama dan berakhir bahagia.

Tulisan ini, tidak bermaksud menggurui atau menasehati, hanya sekedar curahan hati yang galau mendengar ada anak autis yang hilang berkali-kali di negerinya sendiri. Semoga ini yang terakhir terjadi.

Sudirman@102007

Itu tadi… sebuah e-mail yang saya terima…. ini adalah satu lagi realitas yang harus dihadapi keluarga penyadang autis… Salah-satu “ketakutan” yang mengancam….

Saya mengangkatnya dalam postingan… karena…. di “Bulan Autis” ini… ,kami ingin sebanyak mungkin memberikan informasi kepada banyak orang yang belum paham apalagi… dapat bersimpati dan membantu anak-anak penyandang autis… Pls…We need you… as a friend, as a neighbour, as a man who’s cares… untuk bersama-sama menjadikan dunia ini lebih terbuka menerima mereka….. They have right to be a world citizen, like the other kids…. (the normal one)

Jazakallahu khairan katsiran.

Comments (2)

“Peran Pembantu” dalam “Autis’s movie”

“Rain Man”, “Forrest Gump”, “Fe-mo”, dan……(satu lagi… saya lupa judulnya tentang seorang bapak tua penyadang autis yang dirawat oleh putrinya) Film-film yang mengisahkan tentang kehidupan orang-orang autis.

Hmmm….. waktu melihat semua film itu, putri kecilku belum lahir… saya belum tahu benar…. dan saya tidak “terbawa” dalam arus film, ketika menyaksikannya. Hmmm….Memang ada perbedaan antara “melihat” dan “menjalani”…. terakhir saya lihat salah satu film itu setahun yang lalu… saya menagis…tersedu-sedu.

Tidakpernah terbayangkan kalau akhirnya…saya akan bergabung dengan film-film itu, berperan dalam “ibu sebagai peran pembantu” di film kehidupan nyata putri kecilku… “Aini’s life movie”… tanpa penawaran peran dan persetujuan, tanpa skenario yang harus saya hapalkan, tanpa persiapan untuk “mempelajari peran” apalagi untuk meminta perubahan alur cerita… saya harus jadi “pemeran pembantu terbaik”.

Kontraknya… seumur hidup pula…….. he he he

Ini yang kadang-kadang “luput” dari pemantauan para pemerhati autis. Karena konsentrasi penuh pada kebutuhan anak autis (sebagai peran utama di film) para peran pembantu ini terabaikan. Syukur Alhamdulillahnya… rata-rata yang jadi peran pembantu ini, sangat ikhlas… dan gak mengenal lelah.. apalagi menuntut”kenaikan gaji” ha ha ha tidak pernah terlintas. Yah… memang yang tidak mengalami sendiri, tentunya tidak akan paham, saat anak-anak “tantrum”, saat anak-anak hampir tidak tidur dalam 24 jam, 7 hari seminggu, saat kelelahan mengantar anak terapi kebeberapa tempat dsb-dsbnya. Dimana semua itu menguras tenaga, tanpa dapat beristirahat ataupun makan cukup. (red.. tidak semua anak autis berperilaku seperti diatas, ada yang malah sebaliknya…) kalau ada yang menawari “mengasuh” sementara pasti… Nikmat…..

Dalam kesempatan Hari Anak Autis sedunia ini, saya ingin mengetuk hati… orang-orang atau lembaga yang berada disekeliling tempat tinggal para penyandang autis, untuk mau meringankan… tugas “para pemeran pembantu” ….. (Ini juga berarti untuk kesuksesan perkembangan anak autis lo… ) Seperti yang dikatakan oleh seorang pembicara di Oprah Winfrey Show ketika membicarakan tentang autis… “Pls… help me to take care my kid.. not only for 1 or 2 hours but for one night”… (ha-ha-ha ini karena si”nyonya” tersebut gak pernah punya kesempatan untuk “date”)

Kalau saya refer pada pujaan hatiku… Nabi Muhammad saw. Beliau sungguh manusia yang sangat penuh perhatian dan suka menolong. Hmmm seandainya… tetangga-tetanggaku berakhlaq seperti beliau… hmmm …. hmmmm.

Eh… tapi untuk para “peran pembantu utama” saya percaya juga.. yang namanya “sutradara kita” Allah swt, sangat peka dengan kebutuhan kita… kalau kita lelah, pasti akan diberinya istirahat (dulu saya “sering” masuk rumah sakit dengan mendadak… di”charge” dulu kali ya….) dan alhamdulillah disaat saya hopeless banget dengan kemajuan-kemajuan aini, Allah selalu memberiku “jalan” atau “sahabat” yang memudahkan urusanku. That’s always… always happen. Alhamdulillah Allah memang Maha Besar.

So… mari kita lalui episode-episode dari film ini dengan “gagah”, “penuh keyakinan” dan saling bergandengan tangan…. Gak lama lagi… bila kita terus istiqomah kita masing-masing akan dapat piala citra… sebagai Hamba Allah… dalam peranan pembantu terbaik ataupun dengan peran tetangga terbaik.

Pls get up…, its must be a window or a hole as an exit door.. to get out from this situation. Haqul Yakin. Insya Allah.

Komentar dimatikan

“Autis di Oprah Winfrey Show”

aini.jpgSenin 30 maret 2008, jam 11.30 setelah melihat acara “Oprah Winfrey Show”

(Anda sempat menyaksikan???) Ini memang sudah siaran ulangan. Tapi saya tetap saja terkesan sambil sesekali tersenyum kelu dan meneteskan airmata melihatnya..

Cerita sesungguhnya… cerita tentang perjuangan para orang tua penyandang autis… (tipikal walau dari sisi manapun di seluruh dunia…) Cerita tentang tekanan emosi, tentang tekanan fisik, tentang tekanan finansial, tentang tekanan lingkungan, tentang keputus asaan… dan tentang “keberhasilan”

Tidak banyak keluarga-keluarga di dunia yang sanggup melaluinya dengan mulus…, perceraian orang tua dan anak autis yang akhirnya terabaikan adalah 2 hal, diantara banyak hal lain, yang membumbui perjuangan anak-anak ini.

Tahun-tahun awal saya menyadari adanya “karunia” Allah pada putri bungsupun tidak jauh berbeda. Waktu itu ketidak tahuan tentang autis menimbulkan banyak ketegangan dalam rumah. Terlebih ketika harus membayar biaya terapi dan pengobatan, keseimbangan arus keuangan keluarga sampai dititik minus yang sangat rendah.

Sempat saya pertanyakan pada Allah tentang “nasib buruk” saya sebagai seorang hamba Allah…. Hmmmmm……

Hingga…….“Nikmat Allah yang manakah yang kau dustakan?”… Adalah ayat surah Ar Rahmaan , yang diulang hingga 29 kali…, dimalam ramadhan 3 tahun yang lalu… dengan berurai airmata…. saya membacanya dan menyadari betapa kufurnya saya atas nikmat-nikmat Allah. Banyak… orang bernasib lebih… dari saya… dan mereka masih mempunyai syukur tak terhingga.

Apakah pantas bila saya… meragukan Kasih Allah padaku? …, Aini Allah berikan kepadaku untuk melatih sabarku (orang-orang yang sabar adalah kekasih Allah) untuk mengguruiku tentang arti cinta (alhamdulillah orang tuaku dulu cukup berada sehingga mampu membayar, 4 orang pembantu + 1 sopir + 1 tukang kebun, untuk meladeni dan “mencintai” kami 4 bersaudara, yang ternyata menyisakan “ketidak mengertian” kami akan cinta yang tulus) selalu berusaha dengan tekun dan diatas itu semua… Aini mengajarkan saya tentang “kepasrahan”… Pasrah yang total, karena saya (akhirnya), yakin bahwa hanya Allahlah satu-satu tempat ku bergantung untuk “kesembuhan” Aini.

(Mungkin) Itu sebabnya juga… saat ini makin banyak anak-anak autis, ya… orang perlu kembali belajar arti cinta tulus (“ketulusan” adalah barang langka didunia ya…..) mengajarkan sabar (tuntutan hidup menyebabkan orang selalu ingin tergesa-gesa) Tekun… dimana pola hidup serba instan adalah pola hidup modern. Yang penting dan terpenting membuat kita sadar ada “kekuatan terbesar” yang tidak dapat kita “kalahkan” atau “atur” dengan apapun. Allah swt.

Ya Allah, Engkau sungguh Maha Kasih……

Anak-anak kami adalah “cahaya kami”. Penerang yang Kau berikan agar kami belajar tetap berjalan dijalanMU

Ijinkan saya tetap merasakan kasih sayangMU,….. Juga orang tua-orang tua yang lain, …

Ampuni kami, bila kami kurang mensyukuri nikmat-nikmatMU.

Sungguh tanpa kehendakMU ya.. Allah……, kami bukan siapa, kami bukan apa, kami tak mampu melakukan apa-apa.

(Kepada seluruh orang tua penyandang autis…, there’s must be a window… as a exit door. Haqul Yakin. Insya Allah)

Comments (1)

Aini berenang.

November 2007, Aini berenang dgn pelampung.

Kami, Ibu dan bapakmu… menitikkan air mata melihatmu “bisa” Ya Allah kami yakin ini baru langkah awal, awal dari anugrah untukmu. Alhamdulillah wa syukurillahdsc00037.jpg

Comments (1)

Dear Parents

(dari yayasan kita dan buah hati)

Karena kita tidak ada yang sekolah untuk menjadi orang tua…….
Kita hanya dipersiapkan untuk menjadi ahli di bidang masing-masing melalui bangku pendidikan formal, menjadi insinyur, dokter, psikolog atau profesi yang lainnya.

Akhirnya… saat kita telah menjadi ayah atau ibu, kita banyak sekali menemukan kesulitan dalam mendidik anak. Segudang permasalahan anak selalu kita temui, mulai dari anak yang susah makan, malas belajar sampai mogok sekolah karena dimusuhi oleh teman-temannya. Belum lagi, permasalahan yang mereka hadapi menjelang masa puber.

Selain masalah anak, ternyata kita juga sering menemukan masalah dengan pasangan. Seringkali kita merasa bahwa pasangan kita tidak dapat mengerti perasaan dan harapan kita kepadanya. Karena sesungguhnya, laki-laki dan perempuan memang diciptakan dengan kondisi yang berbeda!

Simak program ” DEAR PARENTS ” bersama Bunda ELLY RISMAN, Psi :
* Rabu, 13.00 – 14.00 WIB, di Radio DELTA, 99.1 FM
* Program ini juga direlay ke 21 kota lain di Indonesia

1. Medan : Delta FM 105.80 FM
2. Makasar : Delta FM 99.2 FM
3. Bandung : Delta FM 94.4 FM
4. Surabaya : Delta FM 96.8 FM
5. Manado : Delta FM 99.3 FM
6. Semarang : FeMale Radio 96.1 FM
7. Jogya : Female Radio 103.7 FM
8. Palembang : Real Radio 97,5 FM
9. Padang : Sipp 105,8 FM
10. Bandar Lampung : Yudhistira 103.5 FM
11. Pekan Baru : Clapita Emas 103.4 FM
12. Balikpapan : Simasida(swaramedia) 101.30 FM
13. Banjarmasin : Music Channel 96.00 FM
14. Pontianak : Primadona 100.00 FM
15. Cirebon : DB 90+ 90.80 FM
16. Samarinda : Gema NIrwana 105.1 FM
17. Solo : Karavan 107,3 FM
18. Serang : Radio Harmoni 98.1 FM
19. Tasikmalaya : Radio Nafiri 96.2 FM
20. Banda Aceh : Bintara 89.4 FM
21. Langsa, Aceh Timur : Global 99.4 FM batasan2.jpg

Komentar dimatikan

Older Posts »